Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 215


__ADS_3

Bian sedang duduk di kursi kerjanya, ia menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi, tidak biasanya Bian seperti itu lebih banyak diam dan selalu menatap tidak tentu arah.


Masih terngiang dalam telinganya ucapan Ibu Binar diujung telepon saat ia menghubungi Binar tadi.


" Ckkk... kenapa mengganggu pikiranku sih " batin Bian.


Ian.. mau cewek model apa juga lo bisa dapetin Ian, kenapa hanya karena Binar lo jadi galau gini, payah !!


Bian terkesiap, ia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang ia bayangkan.


" Tapi Binar beda, dia beda dari semua perempuan yang aku temuin ckk... " gumam Bian sambil memainkan ballpoint dihadapan nya.


Disaat yang bersamaan Aldo yang akan masuk keruangan melihat Bian sedang melamun sambil memainkan ballpoint ditangannya.


" Kenapa ni anak ? kesambet setan mana ya kok gak biasanya " gumam Aldo tertawa kecil.


" Kenape Bro ? " Aldo membuyarkan lamunan Bian.


" Eh Bang Aldo, gak apa-apa Bang.. emang kenapa ? " tanya Bian.


" Jangan bohong.. aku laporin Bang Dika ajalah kenapa nih adik ipar nya kaya kesambet " jawab Aldo.


" Nggak juga.. jangan ngarang Bang " balas Bian tidak terima.


Jujur ia pun malu jika Dika tahu, ia sedang melamun entah apa yang ia lamuni.


Aldo hanya tertawa melihat tingkah Bian. Aldo mengajak ngobrol Bian agar Bian tidak terlihat melamun terus, Aldo mengerti mungkin Bian sedang ada yang dipikirkan walaupun ia tidak tahu memikirkan apa, karena ia tidak ingin mencampuri urusan pribadi Bian, sebisa ia, ia akan menghibur Bian dengan mengajaknya ngobrol.


Disaat Bian sedang ngobrol dengan Aldo, ternyata Binar terus saja menghubungi Bian setelah membaca pesan yang dikirim Bian untuk Binar.


Namun Bian tidak sadar karena ponsel nya ia silent sehingga jika ada telepon atau pun pesan masuk tidak ada notifikasi suaranya.


Dilain tempat Binar terus berusaha menghubungi Bian. Binar pastikan ini salah paham. Bian salah paham terhadap dirinya.


" Mas Bian.. angkat dong telepon aku.. gak biasanya kamu gini, biasanya kamu akan bicara " gumam Binar.


Setelah tadi Binar menuruti apa kata orangtuanya untuk bertemu dengan Dito anak dari teman Ibu nya. Binar kembali ke kamar, setelah itu ia mengambil ponsel lalu ada pesan masuk dari Bian. Ia tidak menyangka jika Bian mendengar obrolan nya dengan Ibu nya tadi.


" Mas Bian gak angkat juga telepon aku, pasti dia marah banget sama aku, aku kirim pesan aja deh " batin Binar.


Lalu Binar mengirimkan pesan kepada Bian.


' Mas Bian, aku minta maaf.. bisa gak ketemu sekarang ? aku mau bicara.. kalo Mas Bian gak bales juga.. aku bakal nyusul Mas Bian ke kantor tempat Mas Bian kerja '


Pesan terkirim namun belum juga Bian buka membuat Binar semakin gelisah.


Ia lalu bergegas mengambil kunci motornya, keluar kamar, ia melihat orangtuanya masih bersama Dito dan Mama nya.


" Mau kemana Bin ? " tanya Ibu.


" Mhh.. Bu aku mau nyari cemilan dulu, tante aku tinggal dulu " ucap Binar.


" Euhh Bin, aku anter ya, kamu mau beli cemilan kemana ? " tanya Dito.


" Oh gak usah makasih, gak lama kok.. " Binar segera keluar rumah, walaupun ia yakin nanti pulang ia pasti akan dimarahi oleh Ibu nya namun ia tidak perduli, sekarang ia sedang memikirkan bagaimana Bian.

__ADS_1


Binar mengeluarkan motor dari garasi, ia pergi menuju kantor Bian dengan menggunakan motor, dalam perjalan hati Binar tidak karuan, ia merasa tidak enak karena Bian pasti salah paham.


Sekitar 20 menit perjalanan Binar akhirnya sampai di depan Markas kepolisian dimana Dika dan Bian bekerja.


" Permisi, selamat sore Bu, ada yang bisa kami bantu ? " tanya seorang polisi di penjagaan.


" Oh.. euhh.. maaf bisa saya bertemu dengan Pak Bian ? " tanya Binar.


" Bian ? oh ya sebentar " terlihat petugas masuk ke penjagaan, ia seperti sedang menghubungi seseorang, tidak lama ia kembali menghampiri Binar.


" Bu silakan parkir di sebelah sana, nanti Ibu bisa menunggu di ruang tunggu " ucap petugas.


" Baik, terima kasih "


Binar mengikuti perintah petugas polisi di penjagaan tadi, setelah memarkirkan motornya, Binar berjalan menuju ruang tunggu, namun belum sampai ia ke ruang tunggu Bian sudah berada di hadapannya.


" Ehem " Bian berdehem.


" Mas Bian " ucap Binar.


" Ada perlu apa kamu kesini ? " tanya Bian.


" Mas.. aku mau ngomong sama kamu " jawab Binar.


Bian menghela nafas panjang.


" Kamu ikut saya " ucap Bian mengajak Binar keluar dari Markas kepolisian.


" Motor ku ? " ucap Binar.


" Oya, ambil dulu motor kamu, aku tunggu disini " Bian menunggunya tepat di pos penjagaan tadi.


" Sini aku yang bawa kamu turun dulu " ucap Bian.


Binar menuruti, namun ia merasa aneh, Bian yang hangat, yang kadang bercanda, tidak ia temui kali ini, padahal ini adalah saat-saat yang ditunggu mereka untuk bertemu namun pada kenyataannya tidak.


Bian yang mengendarai motor Binar sekarang, sedangkan Binar di bonceng berada di jok belakang. Sekitar 10 menit perjalanan Bian membawa Binar ke salah satu cafe yang tidak jauh dari tempat ia bekerja.


Setelah memarkirkan motor, mereka berdua turun dari motor, belum ada kata-kata lagi yang keluar dari Bian dan Binar.


Mereka berdua masuk kedalam cafe langsung disambut oleh pelayan cafe, setelah memilih tempat yang Pas akhirnya mereka berdua diantar menuju ruangan yang agak privat, karena sesuai permintaan Bian, ia tahu Binar ingin berbicara kepadanya, sehingga ruangan yang dipilih Bian pun yang tidak terlalu banyak pengunjung agar mereka bisa nyaman untuk berbicara.


Setelah mereka duduk dan memesan makan, tanpa basa basi Bian langsung bertanya kepada Binar.


" Apa yang mau kamu omongin ? " tanya Bian.


" Mas Bian.. sebelumnya aku minta maaf, aku yakin pasti Mas Bian salah paham sama aku " jawab Binar.


" Terus kenapa kamu harus berbohong ? " tanya Bian lagi.


" Mas.. aku bingung " jawab Binar.


" Apa yang membuat kamu bingung " Bian menyelidik.


" Mas aku cerita ya, tapi tolong kamu jangan dulu membuat kesimpulan sendiri " ucap Binar.

__ADS_1


" Oke "


" Jadi, Ibu aku berniat untuk menjodohkan aku Mas, dengan anak teman Ibu, tapi aku gak mau kok Mas.. aku bakal nolak aku gak mau dijodohin " Binar menjelaskan.


Bian menghela nafas panjang.


" Ya.. aku juga sudah menduga kearah situ, hmm.. aku bingung Bin, kalau urusan nya menyangkut orang tua, aku kira.. perasaan aku akan mulus diterima oleh kamu, tapi.. ya sudahlah namanya juga perjalanan hidup ya.. " ucap Bian.


" Mas.. kamu kok gitu.. " Binar sudah mulai berkaca-kaca.


" Gitu gimana.. ini orangtua kamu kan yang minta.. Bin.. setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, mungkin memang dia yang terbaik buat kamu, aku mundur ya.. " ucap Bian tersenyum sarkas.


" Mas Bian kenapa jadi dukung Ibu, aku gak mau, aku mau nya sama kamu, aku sayang sama kamu tau gak Mas ! " ucap Binar meninggi, ia pun sedikit terhenyak ia keceplosan, entah bagaimana ia bisa berbicara itu ke Bian.


Bian pun sedikit kaget mendengar ucapan dari Binar. Namun Bian tetap pada posisinya. Ia tetap diam.


" Mas.. jangan diem " ucap Binar.


" Bin.. kalau emang sayang aku.. ikutin apa kata orang tua kamu ya.. bagaimana pun dia orangtua kamu.. aku belum jadi siapa-siapa nya kamu " ucap Bian.


" Mas Bian... !! Kamu gak ada usaha gitu buat aku Mas.. apa gunanya kita berkomitmen, kamu bilang kamu mau nunggu aku selesai kuliah, aku nunggu banget saat-saat kaya gini, kita bisa ketemu, berbulan-bulan aku nungguin momen ini Mas " balas Binar.


" Momen apa ? Momen kamu mau bilang kalo kamu di jodohin ? " susul Bian.


" Bukan gitu Mas.. aku juga gak tahu kalo Ibu bakal jodohin aku " ucap Binar.


" Ya.. oke.. tapi pada kenyataannya kamu emang dijodohin kan ? " Bian keukeuh.


Binar tidak tahu lagi harus berkata apa, Bian selalu membalik-balikkan perkataan Binar.


" Aku udah jujur loh Mas.. aku pengen kamu ada usaha, buat aku, aku juga bakal berusaha untuk menolak semua ini.. " Binar sudah tidak kuat akhirnya air matanya jatuh membasahi pipi.


Bian merasa tidak tega, ingin rasanya ia memeluk Binar, mengahapus air matanya, tapi gimana .. Binar belum menjadi istrinya. Bian kembali terdiam,mencerna semua ucapan binar.


" Oke.. aku bakal berusaha semampu dan sekuat aku, buat kamu " ucap Bian.


" Beneran ? " tanya Binar.


Bian mengangguk. Jujur ia pun sebetulnya berat jika harus berpisah dari Binar, namun benar apa kata Binar semua perlu diusahakan dan diperjuangkan. Biasanya usaha memang tidak akan mengkhianati hasil, bukan begitu ?


Bian mengambil tisu lalu menyerahkan kepada Binar.


" Hapus air mata kamu ya.. aku suka merasa bersalah kalo liat perempuan nangis " ucap Bian.


Binar mengambil tisu dari tangan Bian, lalu segera menghapus air matanya dengan tisu.


" Kamu sampai kapan libur kuliah ? " tanya Bian membuyarkan suasana.


" Hmm.. aku ? libur ? " tanya balik Binar karena ia belum konek dengan pertanyaan Bian.


" Iya.. kamu sampai kapan libur ? " Bian mengulangi pertanyaan.


" Minggu besok aku sudah kembali ke asrama " ucap Binar.


" Hari sabtu aku ke rumah kamu, bagaimana pun orangtua kamu ke aku, nanti aku akan datang " balas Bian.

__ADS_1


" Makasih ya Mas.. " ucap Binar sedikit menyunggingkan senyum.


💐💐💐


__ADS_2