Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 49


__ADS_3

Kamar Presidensial Suite De Dream Hotel


Neta sudah berganti pakaian dengan pakaian rumahan yang ia bawa di koper nya, Neta memang terbiasa menggunakan daster rumahan pendek karena itu adalah pakaian ternyaman saat ia sedang kegerahan.


Neta belum menyadari jika sekarang ia akan satu kamar dan tidur dengan Dika, selama Dika mengenal Neta belum sekali pun melihat Neta membuka jilbabnya. Dika sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Neta dengan menggunakan daster duduk berselonjor di sofa dekat kaca jendela besar, membelakangi kamar mandi, ia dari jendela bisa menikmati suasana di luar hotel.


" Duh kakiku.. 6 jam berdiri tanpa duduk itu sungguh amat membuat kakiku menjadi bengkak " gumam Neta sambil mengurut-ngurut kakinya.


Tidak lama Dika keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk. Ia sedikit kaget melihat Neta yang sudah berganti pakaian dengan daster bergambar kartun lucu, rambut panjang nya ia ikat sampai atas memperlihatkan leher jenjangnya.


Dika lama memperhatikan Neta, Neta masih belum tersadar jika Dika sudah berada tepat di belakang nya. Neta masih mengurut-ngurut kakinya yang sedikit bengkak akibat berdiri terlalu lama menggunakan high heels.


Sifat jahil Dika keluar. Ia langsung mencolek leher Neta sambil berjalan kearah koper baju miliknya.


Neta langsung berteriak, ia loncat dari sofa yang ia duduki.


" Apa itu.... aaaaaa..... " Neta berteriak sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke leher.


" Kenapa ? " Dika tertawa.


" Ada binatang nempel ke leher aku " ucap Neta.


Dika semakin ketawa, ia menggunakan kaos nya lalu menghampiri Neta.


" Nih binatang nya " Dika memperlihatkan telunjuk nya ke Neta.


" Ihh kamu !! " Neta memukul tangan Dika.


Dika tersenyum, ia masih di tempatnya memperhatikan Neta.


" Kenapa ? ngeliat aku kok gitu " Neta merasa heran.


" Kamu di rumah biasa ya pakai daster seperti ini ? "


Neta melihat ke arah baju yang ia kenakan, lalu memegang kepalanya, ia langsung menarik selimut yang ada di kasur, langsung menutupkan ke tubuh nya.


" Ada apa sih ? " Dika tidak mengerti.


" Nggak, nggak apa-apa " Neta salah tingkah.


" Kenapa kamu melilitkan selimut ke semua tubuhmu ? " tanya Dika.


" O..oh.. nggak kok, aku.. salah pake baju aja " jawab Neta masih salah tingkah.


Dika mendekat ke arah Neta. Neta memundurkan tubuhnya.


" Kamu mau ngapain ? " tanya Neta sedikit gugup saat melihat Dika mendekatinya.


" Mau... hmmm... " Dika menggoda Neta.


Disaat yang bersamaan.. Bel kamar berbunyi.


Neta memberikan kode agar Dika membukakan pintu kamar nya, saat Dika berjalan untuk membuka pintu, dengan gerak cepat Neta berlari ke arah koper mengambil baju rumahan yang lebih tertutup lalu masuk ke kamar mandi, untuk mandi karena Neta merasa tubuhnya amat sangat gerah.

__ADS_1


" Permisi Pak, saya mengantarkan makanan untuk makan malam, Bapak dan Ibu "


" Oh ya.. terima kasih, simpan saja di meja makan "


" Baik Pak "


Pelayan itu masuk lalu menyimpan semua makanan untuk makan malam Neta dan Dika.


" Sudah semua Pak, permisi "


" Ya.. "


Pelayan Restoran keluar, lalu Dika kembali menutup pintu. Ia berjalan kembali kedalam kamar, ia mencari-cari Neta.


" Kok menghilang, kemana Neta .. ck " Dika bergumam.


Ia berjalan ke arah balkon kamar, tidak ada Neta disana, lalu ia berjalan ke arah kamar mandi terdengar samar suara gemericik air. Dika tersenyum kecil.


" Sedang mandi rupanya " batin Dika.


Ia lalu duduk di sofa, menyalakan televisi untuk memecah keheningan.. tidak lama Neta selesai mandi lalu keluar perlahan membuka pintu kamar mandi, ia sedikit ragu, ia baru menyadari saat mandi tadi, jika sekarang ia sudah menjadi istri dari Mahardika Bimantara. Neta perlahan berjalan melihat sekeliling, ternyata Dika sedang duduk di sofa.


Namun Dika tidak bergeming, Neta penasaran ia mendekati Dika, ternyata Dika ketiduran di Sofa sesaat setelah menyalakan televisi tadi, sedikit membuat Neta lega, selama Dika tidur ia masih bisa mempersiapkan hati dan dirinya, untuk menjalani hal-hal setelah ini nantinya.


Neta pun duduk di sofa yang berhadapan dengan Dika. Ia pun menerawang jauh, apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini.


" Aku siap.. ? belum .. ? siap.. ? belum.. " Neta terus bergumam, hingga akhirnya.


Braaakkkkkkk..


" Kamu mimpi apa ? " tanya Neta.


" Aku kok bisa jatuh ? "


" Ya mana aku tahu " balas Neta.


" Kenapa gak bangunin aku ? " Dika duduk kembali di sofa disusul oleh Neta.


" Ya kamu kaya cape banget, makanya gak aku bangunin "


" Hmm.. enggak apa-apa aku udah biasa capek kok, kerjaan ku juga capek, apalagi nanti.. kita akan lebih capek .. " Dika tersenyum nakal.


" Dih.... " Neta bergidik ngeri, lalu bangun dari duduk nya.


" Mau kemana ? makan dulu, tadi kita sudah dibawakan makan malam "


Neta berjalan menuju meja makan, lalu Dika pun menyusul nya.


" Kok kita gak ke restoran aja ? kenapa ? " tanya Neta.


" Aku yang minta, lebih baik di bawa ke kamar aja " jawab Dika.


" Hmm " Neta menganggukkan kepalanya, lalu ia duduk di kursi makan begitupun Dika.

__ADS_1


" Banyak banget loh ini, emang bakal habis dimakan berdua ? " tanya Neta lagi.


" Harus habis, agar energi kita bertambah banyak, karena kita akan melakukan kegiatan yang banyak menguras energi " balas Dika dengan senyuman yang membuat Neta bergidik.


" Hah.. " Neta memperlihatkan wajah yang membuat Dika menjadi gemas.


" Udah makan dulu, tidak usah berpikiran yang aneh-aneh "


Neta mengambil nasi, mengisi di piring Dika dan piring dirinya, lalu menambahkan lauk yang sudah disediakan. Mereka makan malam yang sudah kemalaman bersama, bukan kali pertama Neta makan bersama dengan Dika namun kali ini Neta merasa ada yang lain, ia tidak begitu menikmati makan malam nya, Dika sesekali memperhatikan Neta.


" Kamu kenapa ? makanannya gak enak ? " tanya Dika.


" Hmm.. ee..nggak kok "


" Terus kenapa ? biasanya kalo urusan makan kamu paling semangat, kalo makanannya kurang masuk dilidah kamu, aku mau minta ganti menu aja "


" nggak.. gak usah.. enak kok, enak banget malah.. " Neta berusaha menetralkan suasana agar Dika tidak curiga dengan apa yang sedang ia pikirkan.


Neta dan Dika kembali makan, hanya terdengar suara sendok garpu yang bersentuhan dengan piring. Setelah makan selesai Neta merapikan kembali meja makan dan piring-piring kotor nya disimpan agar besok pagi diambil oleh bagian restoran hotel.


Dika duduk di kasur, menyenderkan tubuhnya ke senderan kasur, menonton televisi sambil memainkan ponselnya dan melihat beberapa notifikasi pemesanan tiket untuk keberangkatan nya bulan madu besok pagi.


" Besok pagi kita langsung ke Labuan Bajo " ucap Dika.


" Besok pagi ? " tanya Neta.


" Hmm.. " Dika mengangguk, Neta lalu menghampiri Dika duduk disampingnya.


" Kita memanfaatkan waktu cuti dengan sebaik-baiknya, karena belum tentu aku dapet cuti lagi dari kantor dalam waktu dekat ini " susul Dika.


" Iya.. " Neta mengangguk.


" Kamu sudah siap ? " tanya Dika.


" Hah.. siap apa ? " wajah Neta berubah, ia terlihat sedikit panik.


Dika tertawa melihat wajah istrinya.


" Siap untuk tidur, karena besok kita pagi-pagi sudah harus check out dari hotel langsung ke bandara "


" Oh.. ya " Neta menangguk.


" Tenangkan pikiranmu " Dika kepada Neta.


" Apa kamu akan meminta hak mu dalam waktu dekat ini ? " tanya Neta.


" Tentu saja, aku laki-laki normal, tapi aku tidak akan memaksa, jika kamu belum siap "


" Hmm.. "


" Kamu siap malam ini ? " tanya Dika.


Neta menatap Dika, dengan wajah khawatir. Dika hanya tersenyum.

__ADS_1


" Sudahlah ayo tidur "


Neta menangguk, mematikan lampu menggantinya dengan lampu tidur.


__ADS_2