Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 176


__ADS_3

Bian sedang bersantai di sofa ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Ia pun tidak sadar jika kakak iparnya sudah duduk tepat di sampingnya.


" Serius banget.. " ucap Dika.


" Eh Mas.. kok tiba-tiba .. " Bian bangun langsung membetulkan posisi duduknya.


" Makan dulu yu.. " ajak Dika.


" Hmm.. boleh Mas, tapi Mbak Neta mana ? " tanya Bian.


" Oh ya, Mbak mu masih mandi, nanti tunggu dulu Mbakmu biar sekalian " jawab Dika.


" Oke Mas.. "


Dika pun sama ia fokus pada ponselnya, selain ia melihat beberapa pesan grup dari kantor nya, ia pun juga memantau perkembangan saham akhir-akhir ini dan beberapa laporan perusahaan yang selalu otomatis masuk ke emailnya.


Disaat ada waktu senggang Dika baru bisa membaca dan membuka laporan-laporan perusahaan yang ia terima melalui emailnya.


Dika cukup puas dengan pencapaian perusahaan saat ini, apalagi semenjak dipimpin oleh istrinya, Neta memang sangat potensial, ia merasa tidak salah dalam memilih istri, bagi Dika Neta sangat sempurna, apapun bisa ia lakukan dari mengurus perusahaan sampai mengurus urusan rumah tangga.


Tidak berselang lama, Neta menuruni anak tangga, dari kejauhan ia sudah melihat suami dan adiknya sedang fokus pada ponsel masing-masing.


" Ehem.. " Neta berdehem membuyarkan kefokusan Dika dan Bian.


" Mbak.. " Bian langsung menyimpan ponselnya.


" Sayang .. " Dika tersenyum masih dengan ponsel dalam genggaman nya.


" Makan yuk, belom pada makan kan ? " ajak Neta.


" Ayo.. " Dika beranjak dari duduknya lalu mengajak Bian.


" Ayo Ian.. " ajak Dika.


" Siap Mas " Bian pun beranjak dari duduknya.


Mereka bertiga makan di ruang makan, Mbok Sum sudah mempersiapkan makan sore, untuk majikannya sehingga Neta tidak harus memasak terlebih dahulu.


" Mbak.. apa Mbak gak pake pengasuh lagi untuk Si Kembar ? " tanya Bian memecah keheningan di ruang makan.


" Hmm.. ck.. Mbak sih pengen nya cepet-cepet ada pengganti Kiki, cuma ya belom juga dikirim, Mas gimana udah ada kabar dari penyalur tenaga pengasuh ? " tanya Neta.


" Ehem.. aku belum dikabarin lagi Yang.. " jawab Dika sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

__ADS_1


" Hmm... " Neta menghela nafas dalam.


Mereka kembali fokus pada makanannya masing-masing. Dika yang sesekali melihat ke arah istrinya, terlihat Neta sangat lelah dari raut wajahnya.


" Yang.. selama belum ada pengasuh si kembar, lebih baik kamu kerja kembali dari rumah aja, gak masalah kan dari rumah juga, aku yakin kamu bisa kok nanganin itu semua " ucap Dika.


" Hmm.. iya Mas.. " jawab Neta kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


Setelah selesai makan, Neta merapikan kembali piring dan gelas bekas makan mereka untuk disimpan di dapur disaat yang bersamaan terdengar suara ribut-ribut di luar rumah.


" Mas.. ada apa ? " tanya Bian.


Dika hanya mengangkat kedua bahunya.


" Coba aku liat ya Mas " Bian bergegas keluar rumah melalui pintu samping.


Neta yang penasaran pun, langsung menghampiri suaminya.


" Ada apa Mas ? " tanya Neta.


" Gak tau, ada ribut-ribut katanya di depan " jawab Dika.


" Hah.. ribut-ribut? kok aneh, biasanya disini aman damai aja " balas Neta.


...****************...


Bian yang mendengar ribut-ribut di depan rumah kakaknya langsung berjalan sampai pintu gerbang utama, untuk memastikan secara langsung apa yang terjadi di depan.


Bian melihat seorang wanita jatuh dari motor yang di kendarainya, Bian langsung menghampiri wanita itu.


" Ada apa ini ? " tanya Bian.


Seluruh mata tertuju pada Bian.


" Mbak gak ap... " Bian belum sempat melanjutkan bicaranya, wanita yang terjatuh dari motornya langsung menoleh ke arah Bian sambil sedikit meringis.


" Ka..kamu Binar, ya ampun kok bisa jatuh ? ini depan rumah kamu kan ? " Bian merasa aneh dan heran Binar jatuh dari motornya tepat di depan rumahnya sendiri.


" Aww.. aduh iya Mas.. tadi tuh aku mau belok masuk ke rumah, taunya ini.. orang itu nyalip pake motor kenceng juga " terang Binar.


" Kamu nyalip dari kiri ? ini komplek perumahan loh, ngapain juga kamu ngebut-ngebut ? " ucap Bian.


" Bukan salah saya sepenuhnya Mas, Mbak nya ini jalanin motor kaya siput, gak pake lampu sen langsung maen belok aja " balas pria yang diduga motornya bertabrakan dengan Binar.

__ADS_1


" Oke oke.. sekarang gini.... " Bian menengahi perselisihan yang terjadi, akhirnya kedua belah pihak berdamai.


" Maaf ya Mbak.. " ucap pria itu.


Binar hanya mengangguk mengiyakan, dalam hati ia masih merasa sangat kesal atas kejadian yang menimpanya. Warga yang lewat tempat kejadian langsung membubarkan diri, hanya tertinggal Binar dan Bian.


" Kamu gimana ? Bisa bangun ? " tanya Bian.


" Bi..bisa kok.. tapi... awww " Binar merasa ngilu saat kaki nya dipakai untuk berdiri.


" Sini.. sini kamu pegang ke aku aja " ucap Bian dengan spontan.


" Hah... gak apa-apa Mas ? " tanya Binar


Bian tersadar akan ucapan Binar.


" Ya mau gimana ? kamu kan lagi kesakitan, saya niat bantu kok " jawab Bian.


Binar mengangguk lalu memegang Bian menahan sedikit kaki nya agar bisa dipakai berjalan walaupun terasa sakit dan sangat ngilu.


" Kamu tunggu disini saya angkat motor kamu dulu " ucap Bian.


Binar hanya mengangguk. Tanpa ia sadari jantungnya berdegup sangat kencang, apalagi saat tadi Bian menawarkan diri untuk membantunya.


Baik juga ya Mas Bian, kenapa perasaan aku jadi aneh begini, duh... Binar.. kalo Ibu tahu.. bisa kacau ini ..


" Ini motor mau disimpan dimana ? " tanya Bian yang mendorong motor Binar ke arahnya.


" Oh...kedalem aja deh, di garasi luar " jawab Binar sambil tetap meringis.


" Motor sudah aman, oh ya.. ayo aku antar masuk ke rumah, tapi orangtua kamu kemana ? kok ada ribut-ribut di depan rumah gak keluar " tanya Bian.


" Ayah dan Ibu sedang keluar kota " jawab Binar.


" Kalau gitu, gak usah dianter ke rumah deh, gimana kamu ke rumah Mbak ku dulu aja, sekalian diliat luka kamu " balas Bian.


" Hmm.. gak usah deh Mas Bian makasih banyak, makasih banget udah bantuin aku, gak apa-apa aku coba cek di rumah aja, saya ke dalem ya.. " ucap Binar.


" Eh tunggu, jangan gitu dong, kamu kan di rumah sendiri, nanti kalo kenapa-napa gimana ? lebih baik di liat dulu lukanya sama Mbak ku ya.. " balas Bian.


Binar sedikit ragu, namun ada benarnya juga ia di rumah sendiri, jika kenapa-kenapa nanti bagaimana ia berjalan, mau minta tolong kepada siapa.


Akhirnya dengan anggukan, Binar menyetujui untuk ke rumah Kakaknya Bian, yang juga tetangga samping rumahnya.

__ADS_1


Bian membantu Binar untuk berjalan, Binar menahan tubuhnya dengan sedikit menarik baju yang Bian kenakan, ia masih belum berani jika harus memegang tangan Bian, Binar masih merasa sangat canggung, kalau tidak terpaksa, sepertinya ia tidak akan menyetujui saran Bian.


__ADS_2