
Bian dan Binar berjalan menuju rumah Dika dan Neta, walaupun jarak antara tempat kejadian dengan rumah Dika sangat dekat namun mereka berjalan pelan-pelan. Bian melihat ada bercak darah dari lengan baju yang dikenakan oleh Binar.
" Binar sebentar " ucap Bian menghentikan langkahnya.
" Kenapa Mas Bian ? " Binar pun menghentikan langkahnya.
" Liat deh, kayanya tangan kamu juga luka " ucap Bian sambil menunjuk ke arah lengan Binar yang tertutup baju panjang.
" O..oh.. iya Mas.. "
" Ayo kita periksa di dalam aja " balas Bian.
Mereka berdua kembali berjalan menuju samping pintu rumah Dika.
Sesampainya di depan pintu, Binar mengehentikan langkahnya.
" Mas gak apa-apa aku masuk, nanti merepotkan Mbak Neta " ucap Binar ia merasa canggung padahal ia sudah biasa ke rumah yang ditinggali Neta dan Dika untuk sekedar memberikan oleh-oleh dari orangtuanya.
" Gak apa-apa, kamu kan tahu Mbak Neta baik kok " balas Bian.
Memang Neta baik namun bagi orang-orang yang belum mengenal Neta lebih dekat, Neta terkesan seperlunya dan sedikit jutek, mungkin itu yang di khawatirkan oleh Binar, namun ia juga tidak enak mengatakannya kepada Bian, masa iya harus menceritakan kakaknya sendiri kepada adiknya.
Perlahan Bian mengajak Binar masuk kedalam rumah.
" Mbak.. " Bian masuk lebih dulu.
" Iya.. Ian ada kejadian apa ? " tanya Neta.
" Ini Mbak.. " belum selesai Bian berbicara Neta sudah melihat Binar berada di belakang Bian sambil sedikit menunduk.
" Ada apa Ian ? " Susul Dika.
Belum sempat Bian menjawab Neta sudah kembali memberikan pertanyaan kepada adik semata wayangnya.
" Ian.. Binar kan ? " tanya Neta heran, tumben-tumbenan dia bawa cewek ke rumah pikir Neta.
" I..iya Mbak ini Binar, barusan yang ribut-ribut itu Binar jatuh dari motor karena bersenggolan dengan motor lainnya yang sama-sama lewat juga " jawab Bian menjelaskan.
Neta mendengar penjelasan Bian, ia langsung menghampiri Binar. Dika pun mengekori istrinya.
__ADS_1
" Tapi kamu gak apa-apa Bin, ada yang luka gak ? Tapi ini berdarah " tanya Neta melihat ke arah lengan Binar.
" Euh.. ini Mbak kayanya kaki saya agak ke kekilir sedikit " ucap Binar.
" Yang.. obati dulu aja coba lihat lagi, siapa tau ada luka di tempat lain " ucap Dika.
" Ya udah sini duduk dulu, kamu pelan-pelan jalannya " balas Neta kepada Binar.
Binar mengangguk " terima kasih Mbak, Mas " ia mengikuti perintah Neta untuk duduk di sofa ruang tengah.
Dika berjalan menuju lemari dimana kotak obat disimpan, ia mengambilnya lalu diserahkan kepada Neta.
" Yang.. pakai ini " ucap Dika.
" Oh ya Mas " Balas Neta sambil melihat kaki dan tangan Binar.
Terlihat luka di lengan bagian kiri Binar, luka goresan tapi lumayan dalam sehingga mengeluarkan darah yang tidak sedikit, posisi jatuh Binar memang ke arah kiri sehingga luka ada dibagian sebelah kiri dari lengan dan kakinya.
Neta sedang membebat kaki Binar yang kekilir dengan kain elastik, agar tidak terlalu nyeri jika dipakai jalan, sedang kan binar sendiri mulai merasakan perih pada lengannya yang luka, ia berusaha untuk meniup-niup luka di lengannya.
Bian yang melihat apa yang sedang di lakukan Binar segera mencegahnya.
" Bin jangan ditiup gitu, nanti kuman dari mulut kamu nempel di luka nya " seru Bian.
" Betul Bin, apa kata Bian.. nanti Mbak bersihkan pakai antiseptik ya, biar lukanya cepet kering juga " ucap Neta membenarkan perkataan Bian.
Binar hanya mengangguk sedikit menunduk, Bian tidak henti-henti terus memperhatikannya, memperhatikan luka yang sedang diobati oleh kakaknya.
" Oya orangtua kamu kemana ? " tanya Neta, karena ia pun merasa heran padahal rumahnya di samping rumah mereka tapi Bian malah membawanya kesini bukan diantarkan ke rumahnya.
" Euhh.. Ayah dan Ibu sedang ke luar kota menghadiri seminar Mbak.. kemungkinan nanti malam baru pulang " ucap Binar.
" Oh.. yaa... " Neta mengangguk sambil terus membersihkan luka ditangan Binar.
" Mbak tadi aku mau anterin Binar ke rumahnya, tapi karena Binar bilang di rumah nya gak ada siapa-siapa, jadi aku ajak kesini aja " Bian menjelaskan, ia pun tidak ingin jika nantinya ia disalahkan karena membawa Binar ke rumah kakaknya, Bian mengerti betul karakter kakaknya.
Neta mengangguk, ia pun mengerti daripada mereka berdua di dalam rumah yang tidak ada siapa-siapa lebih baik dibawa ke rumahnya saja, pikir Neta.
" Aww.. aww.. Mbak.. perih " ucap Binar membuyarkan seisi ruangan.
__ADS_1
" Mbak pelan-pelan loh kasian Binar " susul Bian spontan.
Neta langsung melihat ke arah Bian dengan tatapan yang sudah jelas Bian paham akan artinya.
" O..i..iya Mbak " Bian tertawa sedikit dipaksakan.
" Sebentar ya Bin, sedikit lagi kok.. kalo perih tahan sedikit yaa.. " ucap Neta.
Dika yang memperhatikan tingkah adik iparnya, hanya tertawa geli, ia tahu sepertinya memang Bian naksir berat kepada Binar, Dika lihat sepertinya Binar pun wanita baik-baik, walaupun Binar tetangga Dika sedari ia pindah ke rumah itu, namun baru kali ini ia bisa tahu betul jika tetangga samping rumahnya memiliki anak gadis yaitu Binar.
Neta sudah selesai mengobati luka Binar.
" Bin kalo seandainya kaki kamu bengkak, lebih baik kamu ke dokter ya atau ke ahli tulang gitu, khawatir tulang kamu kenapa-kenapa " ucap Neta.
" Oh iya Mbak, terima kasih banyak Mbak " balas Binar.
" Hmm.. santai aja.. " susul Neta tersenyum.
" Mhh.. Mbak.. kalo begitu saya pamit pulang ya, sudah hampir Maghrib juga " ucap Binar.
" Kamu mau pulang sekarang ? orangtua kamu belum pulang kan ? shalat disini dulu aja, daripada kamu di rumah sendiri kan " balas Neta.
" Iya Bin, kamu disini dulu aja, benar apa kata Mbak Neta " susul Bian.
" Emang mau nya kalo Bian sih " gumam Dika namun didengar oleh Neta dan Bian.
Neta menoleh ke arah suaminya begitu pun Bian, Dika kembali cuek seakan tidak terjadi apa-apa.
" Ya udah kamu shalat disini dulu saja ya " ucap Neta.
" Hmm.. i..iya Mbak kalo gitu " balas Binar mengiyakan.
" Oya.. kamu sudah makan ? " tanya Neta.
" Su..sudah Mbak.. terima kasih banyak " jawab Binar.
" Oke kalau gitu " balas Neta, ia merapikan barang-barang dan kembali memasukkan ke kotak obat lalu ia simpan di dalam lemari.
Neta kembali menuju sofa ruang tengah, mereka berempat ngobrol walaupun Binar terlihat sangat canggung, namun ia berusaha untuk menetralkan suasana hatinya.
__ADS_1
Jujur saja perasaan Binar pun tidak karuan saat ini, padahal ia baru mengenal Bian, namun ia sudah sangat baik kepadanya, Binar tidak akan berharap lebih dulu karena bagaimana pun ia belum tahu Bian seperti apa Ibu nya pun sudah mewanti-wanti untuk menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu.
Namun sedikit banyak dari obrolannya sore ini dengan keluarga Neta, Binar bisa merasakan jika mereka keluarga yang hangat, antara kakak dan ipar tidak ada canggung, mereka bercanda, ngobrol, sangat asyik, Binar pun sesekali dibuat tertawa oleh obrolan dan tingkah Bian dengan kakak iparnya.