
Dika baru saja memarkirkan mobilnya di garasi, hari ini ia cukup lelah karena pekerjaan yang tidak ada habisnya. Namun ia pun merasa sedikit senang karena cuti nya di setujui.
Bukan tanpa alasan ia mengambil cuti, pertama ia sudah lama tidak liburan dengan istrinya, kedua, bulan ini adalah bulan kelahiran istrinya, ia ingin mengajak nya untuk berlibur beberapa hari sekedar mengingat masa-masa mereka berdua sebelum memiliki si kembar.
Neta belum mengetahui jika Dika sudah mengambil cuti, Neta pun tidak tahu akan rencana Dika untuk dirinya.
Ceklek..
Pintu kamar dibuka, Dika mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan namun tidak melihat istrinya disana.
" Dimana Neta " gumamnya.
Dika berjalan masuk, lalu kembali menutup pintu kamar, tanpa ia sadari Neta berada di ruang ganti pakaian, Neta melihat suaminya masih celingak-celinguk mencari dirinya.
Neta berjalan perlahan menghampiri Dika, saat ia sudah mendekat, ia mencolek tubuh suaminya.
" Nyari siapa ? " ucap Neta berbisik.
Sontak itu membuat Dika menjadi kaget.
" Astagfirullah.. " Dika terperanjat, melihat istrinya sudah menggunakan long dress tidurnya dan rambut panjang yang digerai.
Neta tertawa melihat ekspresi wajah suaminya, yang terlihat benar-benar kaget.
" Yang.. kebiasaan ya kamu.. ngapain sih pake ngagetin, udah dulu pernah duduk di pojokan pake mukena, sekarang pake long dress gini rambut di gerai " Dika nyerocos sambil membuka kancing kemeja nya.
" Maaf Mas.. lagian kamu masuk kamar celingak-celinguk.. ngapain coba.. kaya bukan masuk kamar sendiri " ucap Neta.
" Ya aku nyari kamu " ucap Dika.
" Hmm.. tumben pulang nya malem lagi Mas ? " tanya Neta, berjalan menuju lemari pakaian membawakan pakaian ganti untuk Dika.
" Banyak kerjaan Yang.. pusing sebenernya, tapi ya mau gimana.. udah kerjaan aku " jawab Dika.
Neta yang mencerna ucapan suaminya.
" Sabar Mas.. semua kalo dilakukan secara ikhlas.. mudah-mudahan itu akan menjadi ladang pahala buat kamu " balas Neta.
" Aamiin.. kalo gitu kita cari pahala yuk malam ini " ucap Dika dengan senyum menyeringai.
Neta mulai paham dengan apa yang dimaksud oleh suaminya.
__ADS_1
" Nggak.. aku mau tidur " Neta melesat menuju kasur menarik selimut lalu memakai nya.
" Yang jangan dulu tidur ada yang mau aku omongin " ucap Dika menarik selimut yang dipakai Neta.
" Gak mau.. besok pagi aja kamu suka modus " balas Neta.
" Beneran Yang gak bohong.. suerrr " Dika mengacungkan dua jari nya.
" Beneran gak ? " tanya Neta masih menutupi tubuhnya dengan selimut.
" Sungguh Yang.. sebentar deh.. takut banget di deketin suami sendiri " ucap Dika berjalan duduk di sofa namun sebelumnya ia mengambil satu amplop besar dari dalam tas yang ia bawa.
Neta masih tetap pada posisinya. Ia melihat sedikit melalui ujung matanya jika suaminya sedang duduk di sofa sambil menyenderkan tubuhnya ke senderan sofa.
Kasian juga Mas Dika.. kayanya dia cape..
" Yang.. sebentar " Dika kembali memanggil istrinya.
" Iya Mas.. " Neta bangun dari tidur nya keluar dari dalam selimut lalu berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa.
" Rambut kamu iket dulu sih Yang.. aku jadi ngeri .. " ucap Dika.
" Emang rambut aku kenapa ? " tanya Neta sengaja mengibas-ngibaskan rambut panjang nya.
" Nah gini kan lebih oke " ucap Dika setelah mencepol rambut istrinya.
Neta diam saja pasrah atas perlakuan Dika terhadapnya. Dika lalu menyodorkan Amplop putih panjang kepada istrinya. Neta menerima amplop itu dengan heran.
" Mas ini apa ? uang ? " tanya Neta, ia merasa heran biasanya Dika memberi uang tidak pernah menggunakan amplop melainkan melalui transfer bank.
" Buka aja " ucap Dika.
" Ini uang bukan sih Mas ? kamu dapet rejeki dari mana ? ya ampun aku kaget loh kalo ini isi nya uang " Neta masih saja nyerocos sendiri.
" Uang mulu dipikiran nya " balas Dika.
" Ya gak apa-apa aku kan normal Mas, kamu tahu kalo aku emang suka uang " ucap Neta santai.
Dika hanya tersenyum kecil. Neta membuka amplop itu, ternyata berisi tiket liburan mereka.
" Mas.. ini.. ? " Neta memperlihatkan tiketnya kepada Dika.
__ADS_1
Dika hanya mengangguk tersenyum.
" Maasss.. ya ampun.. kita liburan ? " tanya Neta.
Dika kembali mengangguk, Neta sumringah melihat tiket yang ia pegang.
" Gak apa-apa ya cuma ke Bali, belum bisa keluar negeri " ucap Dika.
" Gak apa-apa Mas.. aku seneng banget malah, eh tapi kamu tadi bilang lagi banyak kerjaan, kok bisa diijinin cuti ? " tanya Neta.
" Hmm.. aku ngajuin nya udah jauh-jauh hari dan baru di ijinin sekarang, ya udah deh gas aku langsung cari tiket buat ke Bali " ucap Dika.
" Makasih ya Mas.. " Neta memeluk suaminya.
" Iyaa... biar kamu gak merengut terus aku pulang malem, sibuk sama kerjaan " ucap Dika.
" Eh tapi dalam rangka apa sih Mas ? " tanya Neta penasaran, ia pun belum sadar jika bulan ini adalah bulan kelahirannya.
" Dalam rangka ngasih adik untuk si kembar " jawab Dika santai.
" Masssss ! " Neta membulatkan matanya, memukul Dika dengan amplop yang ia pegang.
Dika hanya tertawa melihat Neta.
" Eh Mas tapi.. si kembar ikut kan ? " tanya Neta.
" Nggak.. " jawab Dika.
" Kok nggak ? " balas Neta tidak terima.
" Aku udah bilang sama Ibu " ucap Dika.
" Terus kata Ibu ? "
" Gaasssssss.... " ucap Dika santai.
" Hmm... " Neta mencubit pinggang Dika seperti biasa.
" Awww... sakit... kebiasaan.. bener-bener ya kamu, mau aku bikin kamu capek kayanya " Dika menarik tangan istrinya.
" Ampuunnn... nggak... !!!!!! "
__ADS_1
🌹🌹🌹