Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 116


__ADS_3

Neta sudah melupakan kejadian tadi, ia melupakan kekesalan nya, karena Dika membawanya kemana saja yang Neta inginkan.


" Ayo abisin sate nya " ucap Dika.


Karena Neta menginginkan sate walaupun Dika sebetulnya melarang namun daripada Neta semakin bad mood akhirnya Dika mengalah mengikuti kemauan istrinya.


" Engga ah Mas .. cuma aku liatin doang juga kenyang kok " ucap Neta.


" Hah... sayang loh Yang.. "


" Kamu aja ya yang makan Mas.. plisss.. anak kamu yang mau " ucap Neta dengan wajah menggemaskan.


" Hemm.. ya udah sini " Dika mengambil piring berisi sate itu, ia pun merasa mubazir jika makanan yang sudah dipesan tidak dimakan.


Dika memakan sate nya, berarti ini adalah porsi yang kedua setelah tadi ia memakan satu porsi pesanannya dan sekarang satu porsi sate yang Neta pesan namun tidak Neta makan.


Neta memperhatikan suaminya makan sate. Dika yang merasa diperhatikan menoleh ke arah istrinya.


" Kenapa liatin ? " tanya Dika.


" Nggak apa-apa, makasih ya Mas.. kamu baik banget tau, walaupun kadang-kadang ngeselin " ucap Neta memangku pipinya dengan kedua tangannya.


" Hahahahha " spontan Dika tertawa, sehingga memancing orang-orang sekitar Dika yang sedang makan sate juga.


Neta tersenyum canggung, lalu sedikit mencubit tangan suaminya.


" Mas.. ihh... ketawanya keras-keras " ucap Neta.


Dika kembali dengan sate yang tinggal beberapa tusuk lagi, setelah sate nya ia habiskan Dika langsung meneguk beberapa tegukan teh tawar hangat.


" Alhamdulillah.. " ucap Dika.


" Kenyang Mas ? " tanya Neta.


" Belum " jawab Dika datar.


" Hah.. dua porsi sate loh Mas " Neta heran.


" Aku belum kenyang, karena belum makan kamu " Dika kembali tertawa namun kali ini tidak sekeras tadi.


Neta yang akan mencubit Dika kembali, namun Dika dengan sigap menghalau tangan istrinya.


" Gak kena " Dika menggoda istrinya.


Neta sudah memasang wajah yang tidak bersahabat.


" Jangan gitu Yang.. ini di tempat umum, nanti di rumah ya.. " bisik Dika santai lalu ia berjalan menuju tempat pembayaran sate.


Setelah membayar semua pesanan nya, Dika dan Neta kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan nya.


...****************...


Dalam perjalan pulang Neta melihat Billboard besar iklan perlengkapan bayi, Neta baru teringat ia belum persiapan apa-apa untuk menyambut kelahiran bayi kembarnya.

__ADS_1


" Mau kemana lagi ? " tanya Dika.


" Mhh.. pulang aja deh Mas.. udah malem juga " jawab Neta.


" Oke " balas Dika.


Hening sesaat didalam mobil, Dika fokus dengan kemudinya, sampai akhirnya Neta mengutarakan keinginannya kepada Dika.


" Mas "


Dika menoleh ke arah Neta.


" Kenapa ? " tanya Dika.


" Hmm.. kamu ada waktu luang kapan ? " tanya Neta balik.


" Maksud nya waktu luang gimana ? libur gitu ? " tanya Dika lagi.


" Hmm.. " Neta mengangguk.


" Aku sabtu minggu ini libur " ucap Dika.


" Beneran ? " Neta membetulkan posisi duduknya.


" Hmm " Dika mengangguk tersenyum.


" Kamu mau kemana ? Mau aku ajak kemana ? " ucap Dika.


" Ya ampun iya.. maafin Papa ya Nak.. " ucap Dika mengelus-elus perut istrinya.


" Iya itu, aku rencana nya pengen beli-beli gitu Mas.. buat adik bayi " Neta tersenyum mengusap-usap perutnya.


" Oke kalau gitu, aku libur sabtu minggu ini ya " ucap Dika.


" Hmm.. Makasih ya Mas " Neta kepada Dika.


" Iya sayang.. aku minta maaf ya.. kalo gak kamu ingetin mungkin aku juga bakal santai aja " balas Dika.


" Papa nya mikirin kerjaan terus sih.. ya Nak " Neta berbicara ke perutnya sendiri.


" Maafin yaa anak-anak Papa " Dika kembali mengusap-usap perut istrinya.


Dika kembali fokus dengan kemudinya, Neta menikmati perjalanan nya, langit sudah berubah menjadi hitam, beruntung sebelum makan sate tadi Neta dan Dika sudah melaksanakan shalat Maghrib terlebih dahulu.


Neta melihat ke arah samping kiri kaca mobil, melihat lampu-lampu hias malam yang berkelap-kelip, dari kejauhan terlihat kedai martabak spesial dengan menu favorit full topping.


" Mas.. mas.. stop " ucap Neta.


Dika dengan spontan memberhentikan mobilnya. Tiba-tiba bunyi klakson bersahutan dari belakang mobil Dika.


*aba-aba dong Pak


nge rem ngedadak*

__ADS_1


" Maaf Pak Maaf ya " Dika membuka sedikit kaca mobilnya.


Dika memarkirkan mobilnya.


" Ada apa ? " tanya Dika.


" Hehe.. aku mau martabak itu dong " ucap Neta.


" Oke.. tapi lain kali jangan ngedadak ya, aku kan jadi kaget " ucap Dika.


" Hmm.. maaf ya "


" Ya udah gak apa-apa "


Neta sudah bersiap untuk turun dari mobil, namun di cegah oleh Dika.


" Mau kemana ? " tanya Dika.


" Beli martabak kan ? " jawab Neta.


" Aku aja yang turun, kamu tunggu disini ya " balas Dika.


" Hmm.. iya " Neta mengangguk.


" Mau yang topping apa ? "


" Topping keju yang tebel ya Mas " ucap Neta.


" Oke "


Dika membuka pintu mobil berjalan menuju kedai martabak. Neta memperhatikan suaminya, sedang memesan martabak keinginannya. Sekitar 30 menit menunggu, Dika kembali dengan kantong putih berisi martabak pesanannya.


" Udah Mas ? " tanya Neta.


" Udah, nih.. " Dika menyerahkan bungkusan berwarna putih.


" Hmm.. wangi banget " Neta mengendus-endus dus berisi martabak itu.


" Makan aja Yang.. enak loh kalo masih anget " ucap Dika seraya menyalakan mesin mobil.


" Mas .. baru nyium aroma nya aja udah bikin aku kenyang, kamu aja ya yang makan .. " Neta tersenyum ke arah suaminya.


" Haahhh ! Lagi.. ? " Dika menoleh ke arah istrinya.


Neta tertawa renyah, Dika hanya menggelengkan kepalanya, malajukan mobil untuk kembali pulang ke rumah.


" Kalo gini terus diet ku bisa gagal nih " gumam Dika.


" Kenapa Mas ? " tanya Neta.


" Ng..gak.. gak apa-apa " Dika tersenyum sekilas.


Neta kembali duduk memandang lampu-lampu jalan dan kendaraan yang berlalu lalang di depannya.

__ADS_1


__ADS_2