Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 185


__ADS_3

Waktu dimana Binar untuk kembali ke Asrama telah tiba, pagi-pagi sekali Binar sudah bangun, sebelumnya barang-barang yang akan ia bawa sudah dipersiapkan. Semalam Ayah sudah menawarkan untuk mengantarkan sampai asrama namun Binar menolak, ia merasa kasihan kepada Ayahnya jika harus bolak balik mengantarkan nya ke Asrama.


Binar meminta ijin untuk kembali ke asrama menggunakan kereta saja, agar tidak macet dan lebih cepat sampai. Awalnya Ayah dan Ibu tidak mengijinkan karena khawatir akan Binar, namun Binar terus merayu dan memohon akhirnya Ayah dan Ibu mengijinkan.


Binar keluar dari kamarnya lalu turun menuruni anak tangga, menuju ruang makan, ia menghampiri kedua orangtuanya yang sudah menunggunya untuk sarapan.


" Sayang ayo sarapan dulu nak " ajak Ibu.


" Iya Bu " Binar menarik kursi makan lalu duduk sambil mengambil nasi dan lauk untuk sarapan.


" Kamu yakin gak akan diantar oleh Ayah ? " tanya Ibu.


" Hmm.. Iya Bu gak apa-apa kok, lebih cepet pake kereta soalnya gak akan kena macet " jawab Binar.


" Ya sudah hati-hati ya Bin " susul Ayah.


" Iya Yah " Binar menyuapkan satu sendok nasi kemulutnya.


" Oya kereta jam berapa Bin ? " tanya Ayah.


" Jam 10 Yah " jawab Binar.


" Hmm... " Ayah mengangguk.


" Gimana kalau kita antar Binar sampai stasiun Yah " ucap Ibu.


" Hmm.. ya.. lebih baik " balas Ayah.


" Oh.. gak usah Yah Bu, gak apa-apa aku naik taksi online aja, aku tuh kasian sama Ayah dan Ibu, nanti capek, besok Ayah kan sudah harus kerja, lagi pula aku udah biasa kok, aku pulang aja kan naik kereta juga Bu " susul Binar menjelaskan.


" Iya juga sih.. oke deh kalau itu mau kamu " Ibu menyelesaikan makannya.


Tidak lama Binar pun menyelesaikan makannya, setelah merapikan piring bekas makannya, Binar segera memesan taksi online karena ia akan segera menuju stasiun, lebih baik menunggu di stasiun daripada nanti ketinggalan kereta karena macet.


" Yah.. Bu.. Binar berangkat ya.. " Binar menghampiri kedua orangtuanya meminta ijin lalu bersalaman.


Setelah berpamitan Binar, membawa tasnya lalu ia keluar rumah, berjalan menuju pintu gerbang, ia pikir taksi pesanannya sudah sampai menurut aplikasinya seperti itu, namun ternyata tidak ada taksi disana, ia lalu melihat kembali aplikasi taksi online yang ia pesan.


" Dimana sih ? kok belum nyampe padahal disini udah nyampe katanya .. ck.. " Binar ngedumel sendiri sambil berjalan sampai ujung komplek siapa tahu memang taksi nya sedang mencari-cari rumah Binar.


Pada saat Binar sedang fokus dengan ponselnya tiba-tiba ada satu buah motor yang berhenti tepat di sampingnya membuat ia sedikit terperanjat.


" Binar.. mau kemana ? " tanya Bian yang dari kejauhan ia sudah melihat Binar sedang berjalan.


" Eh.. Mas Bian, aku mau ke stasiun Mas, aku besok udah mulai kuliah lagi kan " jawab Binar.


" Oh gitu, terus kamu ke stasiun naik apa? " tanya Bian lagi.


" Aku udah pesan taksi online, di aplikasi nya udah nyampe tapi aku tunggu gak ada " jawab Binar.


" Kok bisa gitu, coba kamu telepon deh driver nya, kalo emang gak bisa nganter, gak apa-apa aku yang anter ke stasiun " balas Bian.


Binar mengikuti apa kata Bian , ia mencoba untuk menghubungi driver taksi online.

__ADS_1


Driver : " Siang Mbak "


Binar : " Pak maaf disebelah mana ya ? "


Driver : " Mbak maaf, ban mobil saya pecah, jadi saya ini di ujung jalan, saya harus ganti dulu dengan ban serep, Mbak nya buru-buru gak ? "


Binar : " Aduh gimana Pak.. saya takut ketinggalan kereta ini "


Driver : " Cancel aja Mbak.. minta maaf ya "


Binar : " Oke Pak "


Klik sambungan telepon terputus.


" Gimana ? " tanya Bian yang sedari tadi memperhatikan Binar berbicara dengan Driver.


" Di cancel Mas, katanya ban mobilnya bocor " jawab Binar.


" Ya udah kamu tunggu disini ya, 5 menit nanti saya kembali " susu Bian.


" Mas.. mau kemana ? aku pake ojek di depan aja deh ya " Binar sedikit berteriak.


" Tunggu, pokonya kamu tunggu disitu ya " ucap Bian melajukan kembali motornya.


Binar menuruti apa kata Bian, ia menunggu Bian di tempat dimana Binar berdiri, benar apa kata Bian tidak lama ia kembali dengan satu buah helm ditangannya.


" Gak lama kan ? " ucap Bian tersenyum.


" Hmm.. Mas Bian dari mana dulu ? " tanya Binar.


" Oh.. " Binar mengangguk.


Bian menyerahkan helm kepada Binar, Binar langsung memakaikan namun ia masih terdiam di tempatnya.


" Kok masih diem disitu ? ayo naik " ucap Bian.


" Mas.. aku gak ngerepotin ? " tanya Binar.


" Nggak udah santai aja, aku anterin sampai stasiun " jawab Bian.


Binar akhirnya naik motor Bian, ia dibonceng menuju stasiun. Di dalam perjalanan tidak ada percakapan antara mereka berdua, Binar lebih banyak diam, entah mengapa ia menjadi canggung ini kali pertama ia dibonceng oleh Bian, walaupun tidak dipungkiri ada perasaan senang dalam hati Binar, namun ia khawatir dengan kebaikan Bian seperti ini, ini akan membuat ia memiliki perasaan lain ke Bian, sedangkan ia tahu sendiri bagaimana Ibunya, akan sulit bagi dirinya nanti.


" Ehem.. Bin..Binar " Bian memulai pembicaraan.


Binar yang ngeh jika ia dipanggil oleh Bian langsung menyahut.


" Iya Mas " susul Binar.


" Kok diem aja sih ? kamu naik kereta jam berapa ? " tanya Bian.


" Jam 10 Mas " jawab Binar.


" Sekarang jam berapa ? " tanya Bian.

__ADS_1


" Jam 8.30 Mas " Jawab Binar melihat jam di pergelangan tangannya.


" Oke, gak akan telat ya " ucap Bian lagi.


" Insyaallah nggak Mas " balas Binar.


Mereka kembali saling diam sampai akhirnya, mereka berdua sampai di stasiun. Binar turun dari motor Bian, Bian menurunkan tas tenteng Binar yang tadi disimpan di depan.


" Mas makasih banyak ya .. " ucap Binar.


" Oke.. santai aja Bin " balas Bian.


" Ayo aku anter kedalam " Bian berjalan sambil mengambil tas tenteng Binar lalu ia bawa sambil berjalan.


" Mas..Mas.. biarin aku aja yang bawa " ucap Binar.


" Gak apa-apa aku bawain " balas Bian.


Binar tidak bisa berbuat banyak hanya menuruti apa yang Bian ucapkan.


Sesampainya di dalam stasiun, jam baru menunjukkan pukul 9 kurang 10 menit.


" Masih lama loh ini sekitar satu jam lagi, yakin kamu mau nunggu ? " tanya Bian.


" Iya Mas, gak apa-apa aku nunggu aja " ucap Binar.


" Hmm.... " Bian mengedarkan pandangannya.


Binar yang melihat Bian menjadi aneh sendiri.


" Kenapa ? " tanya Binar.


" Itu disana ada coffe shop, kita kesana dulu yuk.. sambil nunggu kereta yang mau kamu naikin datang " jawab Bian.


" Hmm.. ya udah ayo " Binar menyetujui lagi pula memang jam keberangkatan Binar masih satu jam lagi.


Mereka berdua minum coffe dulu di stasiun, Bian dan Binar banyak ngobrol disana sebelum akhirnya, kereta yang akan dinaiki Binar sudah tiba.


" Mas.. sekali lagi terima kasih banyak ya, sudah mengantarkan aku stasiun, ngajak ngopi juga " ucap Binar.


" Sama-sama, sampai ketemu lagi ya.. hmm.. kalau besok aku gak dines, aku anterin kamu sampai asrama deh " balas Bian.


" Gak usah Mas aku tambah ngerepotin nanti " susul Binar.


" Ya udah kamu naik kereta sana " balas Bian.


" Aku pamit ya.. sampai ketemu lagi " ucap Binar.


Bian mengangguk sambil tersenyum, ia memperhatikan Binar sampai ia terlihat duduk di kursinya, tidak lama terdengar suara pluit tanda kereta akan segera berangkat. Bian melihat kereta melaju sampai akhirnya hanya terlihat gerbong terkhir dari pandangan Bian, Bian pun kembali keluar stasiun menuju parkiran tempat dimana tadi ia memarkirkan motor nya.


💐💐💐


Foto Bian saat di coffe shop, yang tidak sengaja di foto oleh Binar.

__ADS_1



__ADS_2