
Komplek Perumahan
Neta melihat si kembar yang sudah tidur ditemani Mbok Sum. Neta langsung menghampiri Mbok Sum yang duduk di dekat Si Kembar.
" Mbok.. " tanya Neta.
" Iya Mbak.. " jawab Mbok Sum membetulkan posisi duduknya.
" Mbok tidur di kamar aja, gak apa-apa si kembar sudah besar ini, nanti juga kalo bangun nangis pasti kedengeran ke kamar kok " ucap Neta.
" Oh ya Mbak, gak apa-apa Mbok disini aja menemani Si Kembar " balas Mbok Sum.
" Hmm.. ya udah Mbok kalo gitu, saya ke kamar dulu ya " ucap Neta.
" Iya Mbak .. " Mbok Sum tersenyum.
Neta berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga, Mbok Sum diselimuti beberapa pertanyaan, ia ingin sekali menanyakan perihal Sasa kepada Neta, namun ia belum terlalu berani untuk menanyakan nya langsung.
" Ada apa lagi ya.. ?? ada apa dengan Sasa ? " batin Mbok Sum.
...****************...
Neta membuka pintu kamar, lalu masuk berjalan menuju kasur ia melihat suaminya sudah berbaring di kasur menyamping membelakangi istrinya.
Neta menaiki kasur, terasa ada orang disampingnya Dika membalikkan badannya lalu bangun, duduk menyender ke senderan kasur.
Neta menoleh ke arah Dika, Dika hanya tersenyum.
" Mas.. " ucap Neta memposisikan duduknya.
" Hmm.. " Dika pun memposisikan tubuhnya.
" Gimana kalo udah kaya gini ? " tanya Neta.
" Ya kita harus ikhlas kalo kita kehilangan lagi pengasuh si kembar " jawab Dika.
Neta hanya menghela nafas panjang menyenderkan tubuhnya ke senderan kasur.
__ADS_1
" Si kembar kan sudah mulai besar Yang.. mungkin nanti bisa kita masukkan taman bermain " ucap Dika.
" Hmm.. iya Mas.. " Neta mengangguk.
" Tidur yuk.. nanti kita bahas lagi untuk ini " ucap Dika.
Neta hanya mengangguk tersenyum, mematikan lampu menggantinya dengan lampu tidur, Neta memejamkan mata lalu terlelap tidur.
...****************...
Kamar Hotel Presidensial Suit
" Apakah benar, Yoga bisa membawa Sasa kesini ? Sasa itu keras kepala, sama seperti ku, mungkin itu salah satu sifat yang diturunkan dariku kepadanya " batin Gabor menatap langit-langit di kamar tidurnya.
Ia masih memikirkan mengenai putri bungsunya, ia sudah meyakinkan dalam hati untuk tidak lagi membahas mengenai perjodohan dengan Sasa, yang terpenting saat ini adalah Sasa kembali pulang ke rumah menyelesaikan tugas akhir kuliahnya, karena semenjak Sasa kabur dari rumah ia pun sudah tidak masuk kuliah sama sekali.
Dilain tempat mobil Yoga memasuki parkiran hotel, ia memposisikan mobil sesuai dengan nomor parkiran yang tertera di dalam tiket parkir.
Deru mesin mobil berhenti, Yoga melirik ke arah Sasa yang tetap terdiam pada posisinya.
" Ayo.. " Yoga mengajak Sasa untuk turun.
" Apalagi Sa ? " tanya Yoga.
" Mas, kamu kan tahu aku, kenapa Mas Yoga malah seperti ini, malah mendukung Papa sih ? aku apa-apa pasti cerita ke Mas Yoga curhat apapun pasti cerita ke Mas Yoga, jangan-jangan apapun itu yang aku ceritain ke Mas Yoga, Mas Yoga sampein lagi ke Papa, aku gak mau di jodohin Mas " jawab Sasa.
" Ya terus kamu mau nya apa ? apa salah saya mempertemukan anak kepada Ayah nya, yang sudah sangat lama ingin bertemu ? jangan begitu Sa kamu itu sangat sayang sama Papa kamu, saya tahu itu " ucap Yoga.
" Bukan itu inti permasalahannya, dengan seperti ini Mas Yoga mendukung aku untuk mengikuti apa keinginan Papa kan ? padahal Mas Yoga tahu aku gak mau di jodohin ! "
Yoga menghela nafas dalam.
" Jadi gimana ? kamu keukeuh gak mau ketemu Papa kamu ? ya sudah, saya antarkan lagi kamu ke rumah Pak Dika " ucap Yoga.
Sasa hanya menggeleng kan kepalanya, dengan malas ia bangun dari duduk nya membuka pintu mobil untuk keluar, setelah keluar ia menunggu Yoga untuk menghampirinya.
Yoga pun turun dari dalam mobil lalu berjalan menghampiri Sasa.
__ADS_1
" Ayo Sa masuk kita ketemu Pak Gabor " ucap Yoga.
Sasa hanya mengangguk, mengekori Yoga mengikuti kemana pun Yoga melangkah.
Sesampainya di depan pintu kamar Presidensial Suit, Yoga mengeluarkan kartu untuk membuka pintu kamarnya, karena sebelumnya Pak Gabor berpesan untuk jangan mengganggunya hanya karena Yoga bolak balik keluar masuk kamar.
Sasa terlihat sangat malas, Yoga memaklumi karena ia sangat tahu betul karakter anak bosnya itu, tapi bagaimana pun sekeras-kerasnya Sasa, Yoga bisa mengendalikan Sasa.
Ceklek pintu kamar terbuka, Sasa masuk kedalam kamar yang cukup luas, ada 2 kamar disana, ia pastikan sepertinya Ayah nya sedang berada di kamar utama karena lampu kamar nya menyala.
" Kamu duduk dulu atau mau kamu yang langsung bertemu ke kamarnya, silakan " ucap Yoga.
Sasa pun berjalan menuju kamar yang ditunjukkan oleh Yoga, walaupun sedikit ragu, namun karena berbekal keyakinan dari Yoga, Sasa menghampiri orangtuanya ke dalam kamar.
Sasa mengetuk pintu kamar, terdengar suara laki-laki khas yang setiap pagi ia dengar untuk mengajak nya sarapan, bulir bening sedikit membahasi pipinya.
" Masuk Yog " ucap Pak Gabor ia tidak tahu jika yang berada dibalik pintu adalah Sasa.
Sasa membuka pintu kamar perlahan, terlihat Pak Gabor sedang duduk di sofa santai di kamar, menyenderkan tubuhnya ke senderan sofa.
" Pah.. " Sasa memanggil Pak Gabor.
Pak Gabor sontak menoleh ke arah Sasa.
" Sasa ! anakku " ucap Pak Gabor bangun dari duduk nya.
" Pah.. " Sasa memeluk Papa nya, ia pun tak kuasa menahan rindu, bagaimana pun ia adalah Papa nya.
" Sasa.. bagaimana kamu bisa kesini Sa.. maafkan Papa nak.. maafkan " ucap Pak Gabor.
" Aku yang minta maaf Pah.. " balas Sasa.
Setelah keduanya tenang, Gabor mengajak Sasa untuk keluar kamar, disana sudah ada Yoga yang menunggu Sasa dan Pak Gabor.
" Yog.. apa ini ulah kamu ? " tanya Pak Gabor.
Yoga hanya tersenyum salah tingkah.
__ADS_1
" Hmm... tidak salah saya memilihmu sebagai calon suami dari anak saya " ucap Pak Gabor seraya duduk di sofa.
" Apa ?! " Sasa sontak kaget sedikit membulatkan bola matanya.