Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 41


__ADS_3

Kabar pertikaian antara Neta dan Prisilla sudah sampai ditelinga Pak Arman. Pak Arman belum memanggil Neta dan Prisilla, sebelum nya ia ingin menghubungi Dika terlebih dahulu karena Dika bagian yang mengurusi hal-hal seperti ini.


" Hemmm... " Pak Arman menghela nafas panjang ia memijat-mijat pelipisnya.


" Kemana sih Dika, dihubungi susah sekali " batin Pak Arman. Ia terus mencoba untuk menghubungi anak nya, jika ia sedang tidak sibuk Pak Arman akan meminta Dika untuk ke perusahaan sekarang juga.


Namun sepertinya Dika tidak mengangkat sambungan telepon dari Pak Arman, Pak Arman tidak tahu jika Dika sedang tidur pulas di rumahnya.


...****************...


Dirumah Dika, Dika sedang sedang menikmati alam mimpi dalam tidurnya, saking pulas nya ia tidak terganggu dering telepon yang beberapa kali masuk.


Mungkin karena beberapa hari kemarin Dika kurang tidur karena beberapa kegiatan yang menguras energi nya dan lagi permasalahan dengan Neta yang membuat energi dia semakin terkuras. Walaupun pada akhirnya Dika bisa tidur nyenyak dengan hati dan pikiran yang tenang.


Setelah beberapa kali terdengar nada dering di ponselnya, akhirnya Dika terbangun dari tidurnya, ia duduk lalu menyender kesenderan kasur, ia melirik ke arah nakas sebelah kanan kasurnya, ia melihat ponselnya menyala lalu ia ambil ponsel itu, terlihat di layar ponsel id pemanggil adalah Ayah nya. Dika langsung mengangkat sambungan telepon dari Pak Arman.


Dika : " Halo Yah.. " suara serak khas bangun tidur.


Ayah : " Dik, kamu dimana ? "


Dika : " Dika di rumah Yah "


Ayah : " Kamu sedang tidur ? Apa kamu tidak bekerja ? "


Dika : " Dika bebas tugas hari ini, tadi sepulang kantor Dika ngantuk yang amat sangat, karena semalam Dika berjaga di kantor "


Ayah : " Hmm.. ya.. "


Dika : " Ada apa Yah ? "


Ayah : " Bisakah kamu ke perusahaan sekarang ? "


Dika : " Apa ada sesuatu yang penting ? "


Ayah : " Ya.. mengenai calon istrimu "


Dika : " Ada apa dengan Neta Yah ? "


Ayah : " Segeralah ke perusahaan, lebih baik kita berbicara disini "


Klik telepon ditutup.


" Ada apa nih ? " batin Dika, ia langsung bangun dari tidurnya menuju kamar mandi, Dika mandi dan bersiap menuju perusahaan.


...****************...


45 menit berlalu Dika telah sampai di perusahaan MGM Grup. Dika bergegas turun dari mobil, menuju lobby berjalan menaiki lift menuju lantai 14.


Sesampainya di ruangan Pak Arman, Dika langsung menanyakan perihal apa yang terjadi di perusahaan mengenai Neta. Pak Arman menceritakan kejadian pertikaian yang terjadi antara Neta dan Prisilla.


Pak Arman memutar video cctv saat kejadian pertikaian antara Neta dan Prisilla. Yang membuat Dika menjadi geram, terlihat memang Prisilla yang lebih dulu berbicara lalu mendekati Neta. Entah apa yang mereka bicarakan tidak lama Neta memukul pipi Prisilla.


" Nah.. bagus Net, lawan terus ! " gumam Dika.

__ADS_1


" Dikaa... " Pak Arman menoleh ke arah anaknya.


" Eh iya Yah.. hehe " Dika tersenyum kecut.


Sebelum nya Pak Arman sudah tahu jika Dika sudah menyelesaikan kesalahpahaman nya dengan Neta dan keluarganya.


Dika menghela nafas kasar.


" Yah.. sudah lah tidak perlu di pertahankan si Prisilla itu "


Pak Arman hanya manggut-manggut.


" Sekarang Ayah akan memanggil Prisilla dan Neta " ucap Pak Arman.


Dika hanya menganggukkan kepalanya, ia duduk di sofa rungan Ayah nya, sambil memikirkan mengapa Neta dan Prisilla bisa berselisih.


" Tio ..tolong panggil Neta dan Prisilla untuk segera ke rungan saya " Pak Arman menghubungi Tio melalui interkom perusahaan.


" Baik Pak " balas Tio.


Tio mengabari Neta dan Prisilla melalui interkom khusus karyawan, untuk segera datang ke ruangan Pak Arman.


Tidak lama Neta datang terlebih dahulu ke ruangan Pak Arman disana sudah ada Dika, Pak Arman dan Tio.


Tok..tok..tokk


" Masuk "


" Masuk Net "


Neta masuk kedalam ruangan. Ia merasa kaget seperti nya ia akan disidang hari ini, ia sekilas melihat Dika, namun Dika menatap Neta dengan tatapan intimidasi.


" Duh.. apa Dika marah ya, aku berantem sama Prisilla " batin Neta.


Neta masih diam berdiri di tempatnya.


" Neta silakan duduk " Pak Arman mempersilakan.


" Terima kasih Pak " Neta mengangguk. Dika masih tetap dengan posisi yang sama menatap Neta penuh arti.


Neta memilih duduk di dekat Tio, karena ia sepertinya tidak akan sanggup berlama-lama duduk di dekat Dika. Tio yang tidak menyangka Neta akan duduk di dekatnya menjadi salah tingkah, ia merasa tidak enak kepada Dika.


Dika pun tidak menyangka jika Neta akan duduk di dekat Tio, ia menduga jika Neta akan duduk di sampingnya. Tidak lama pintu diketuk kembali, Pak Arman mempersilakan untuk masuk, Prisilla masuk kedalam ruangan.


Pak Arman memulai pembicaraan nya, ia menanyakan satu persatu kepada Neta dan Prisilla, apa penyebab pertikaian itu terjadi.


Neta menjelaskan versinya dan Prisilla pun menjelaskan versinya.


" Tadi saya setelah menyerahkan map dari Bu Angel untuk Pak Tio, saya kembali akan ke ruangan saya Pak, hanya pada saat saya memencet tombol lift khusus karyawan, tombol seperti tidak berfungsi pintu lift lama tidak terbuka, akhirnya saya memutuskan untuk menuruni tangga melalui tangga darurat menuju ruangan saya di lantai 5, pada saat saya sampai di lantai 7, Prisilla memanggil saya dengan sebutan ' Heh ' lalu saya menoleh, saya tanya ' ada perlu apa ' namun Prisilla mendekati saya lalu berkata dengan perkataan yang tidak baik " Neta menjelaskan.


Pak Arman, Dika dan Tio menyimak apa yang Neta jelaskan. Prisilla hanya terdiam mendengarkan Neta berbicara.


" Memang nya apa yang dikatakan Prisilla" tanya Dika penasaran.

__ADS_1


" Euh.. boleh saya bicarakan disini ? " tanya Neta.


" Utarakan saja, jangan ada yang dikurangi atau ditambahi " susul Pak Arman.


Neta menghela nafas dalam ia melihat ke arah Dika, lalu Pak Arman lalu ke Prisilla.


" Euu... Prisilla mengatakan jika.. sa..saya.. menggunakan sesuatu yang tidak-tidak untuk mendekati Pak Dika "


" Apa ? " Dika mengernyitkan dahi nya ia mengerti apa yang dimaksud oleh Neta.


" Apa maksud nya ? " tanya Pak Arman.


" Eu... tidak.. Neta bohong.. saya tidak berbicara seperti itu ya ! " Prisilla berkilah.


" Stop, Prisilla ! Neta belum selesai bicara " bentak Dika, Dika pun terlihat sangat kesal bisa-bisanya Prisilla berpikiran seperti itu.


Prisilla langsung terdiam.


" Lanjutkan Neta " ucap Pak Arman.


" Saya tidak terima atas tuduhan Prisilla Pak, akhirnya terjadilah.. yang sudah terjadi " Neta kembali menjelaskan.


" Tidak.. bukan kaya gitu ceritanya.. tidak seperti itu " Prisilla tetap berkilah.


Dika yang sudah amat sangat kesal, berjalan mendekati Neta. Dika langsung menggenggam tangan Neta membuat jantung Neta seperti akan loncat.


" Ya Tuhan.. jantungku mau loncat " batin Neta.


" Berani-beraninya ya kamu, menuduh sembarangan kepada calon istriku ! " Dika kepada Prisilla.


Neta kaget, ia baru melihat Dika semarah itu, begitupun Prisilla ia pun tak kalah kaget Dika akan semarah itu kepadanya.


Neta masih di tempatnya ia tidak berkutik sedikitpun, Dika sangat menyeramkan jika sedang marah menurut Neta.


" Tio, tolong segera urus surat pemecatan untuk Prisilla, tertanggal hari ini dia sudah bukan karyawati MGM Grup, lalu surat pemecatan nya berikan ke HRD " Dika kepada Tio.


" Baik, Pak Dika "


" Apa ? saya di pecat ? Pak mohon ma..maaf Pak.. sa.. ya tidak bermaksud.. to..long jangan pecat saya " Prisilla memohon.


" Pak saya mohon " Prisilla kepada Pak Arman.


" Saya rasa.. ini keputusan yang tepat, mohon maaf.. terima kasih atas dedikasinya untuk perusahaan selama ini, hak setiap pegawai yang di rumahkan, akan kamu dapatkan juga, silakan kamu keluar dari ruangan saya " Pak Arman kepada Prisilla.


" Hemm.. ini gak adil ! akan aku laporkan kalian ke orang tua ku, agar ia mengambil kembali saham yang sudah ditanam di perusahaan ini ! " Prisilla beringsut keluar membanting pintu ruangan Pak Arman.


Pak Arman hanya tersenyum, ia kembali memijat-mijat pelipisnya.


" Wah.. bar-bar pintu ruangan Presdir dibantingnya, gak ada takut-takut nya dia ! " gumam Dika melihat kearah pintu ruangan Ayah nya.


" Kamu pun sama, gak ada takut-takut nya kamu Dik ! " Pak Arman ke Dika, lalu melirik ke arah tangan Dika yang menggenggam tangan Neta.


Tio yang melihat adegan itu, hanya bisa senyum senyum sendiri salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2