Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 122


__ADS_3

Rumah Sakit Medicare


Sesampainya di rumah sakit Neta langsung diberikan pertolongan pertama oleh perawat dan dokter jaga, dokter jaga IGD langsung mengkonsultasikan keadaan Neta kepada dokter Ramzie.


Dokter Ramzie meminta kepada dokter jaga agar Neta dipindahkan ke ruang perawatan yang penuh dengan alat-alat medis, Neta akan di pantau terlebih dahulu apakah ia benar-benar akan melahirkan atau tidak karena mengingat usia kehamilan Neta baru memasuki usia 30 minggu.


" Tolong untuk pantau gerakan janin dan kontraksi Bu Neta menggunakan Cardiotografi ( CTG ) " ucap Dokter Ramzie melalui sambungan telepon.


" Baik Dok " ucap Dokter jaga.


Setelah menghubungi dokter Ramzie, Dokter jaga menghampiri Dika yang berada di samping Neta, Dika tidak pernah jauh dari istrinya, ia terus menemani dan memberikan dukungan kepada Neta.


" Siang Pak, mohon maaf " ucap Dokter Jaga.


" Oh ya Dok "


" Ibu Neta akan di pindahkan ke ruang perawatan terlebih dahulu, untuk di cek atau dipantau melalui alat CTG atau Cardiotografi, alat ini dipakai untuk mencatat pola denyut jantung janin, dalam hubungannya adanya kontraksi yang Bu Neta alami sekarang, juga untuk memantau aktifitas janin di dalam kandungan, karena mengingat usia kandungan Bu Neta baru memasuki usia 30 minggu " dokter jaga menjelaskan.


" Oke baik Dok "


" Saya sudah konsultasi kan dengan Dokter Ramzie, nanti mungkin setelah di ruangan perawatan Dokter Ramzie yang akan menjelaskan " ucap dokter jaga lagi.


" Oke, baik Dok.. terima kasih penjelasannya " ucap Dika.


Neta sedang dipersiapkan untuk pindah ke ruang perawatan biasa. Sesampainya di ruang perawatan Neta mulai di pasang alat CTG sesuai intruksi dari dokter Ramzie tadi.


" Mas aku mau diapain ? " ucap Neta kepada suaminya.


" Tenang ya, kamu cuma mau dipantau aja kok, keadaan janin dan kontraksi di perut kamu nya " balas Dika.


" Aku mau lahiran sekarang ? " tanya Neta.


" Belum tahu, nanti kita tunggu Dokter Ramzie dulu ya " jawab Dika.


Disaat yang bersamaan Dokter Ramzie datang menghampiri Neta dan Dika.


" Selamat siang Pak Dika, Bu Neta.. " ucap Dokter Ramzie.

__ADS_1


" Siang Dok " Dika berdiri dari duduknya.


" Kenapa Bu Neta ? " tanya Dokter Ramzie.


" Perut saya kencang-kencang Dok " ucap Neta sedikit meringis.


" Oke, Buku kontrol nya dibawa ? " tanya Dokter Ramzie.


" Ada Dok, ini " Dika menyerahkan kepada dokter Ramzie.


Dika selalu mengingatkan Neta jika kemanapun bepergian buku kontrol selalu dibawa, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, seperti hari ini niatnya hanya untuk mencari perlengkapan bayi baru lahir nya, namun ternyata perut Neta kencang-kencang.


Dokter Ramzie memeriksa buku kontrol Neta.


" Harusnya jadwal kontrol minggu depan ya " ucap Dokter Ramzie.


" Iya Dok "


" Hmm... " Dokter Ramzie manggut-manggut.


Lalu ia berpindah ke alat yang sedang memantau keadaan janin dan kontraksi Neta.


" Begini Pak Dika, Bu Neta, kontraksi seperti ini normal terjadi di kehamilan kembar, biasanya tidak hanya kembar, kehamilan tunggal pun terkadang mengalami kontraksi seperti ini, yang dinamakan kontraksi palsu, bukan berarti kontraksi seperti ini Ibu akan bersalin tidak semuanya seperti itu ya, hanya kontraksi ini merupakan cara tubuh untuk mempersiapkan persalinan nanti, hanya memang di kehamilan kembar ini harus lebih waspada " ucap Dokter Ramzie.


Dika dan Neta menyimak penjelasan dari dokter Ramzie.


" Jadi untuk mengatasi kontraksinya bagaimana Dok ? " tanya Dika.


" Bu Neta perlu banyak istirahat, tidak terlalu lelah dalam bekerja agar tidak memicu kontraksi rahim, nanti saya akan berikan obat untuk relaksasi untuk mengurangi kontraksi rahimnya, Bu Neta untuk beristirahat dulu disini, saya akan memantau perkembangan nya dulu ya.. jika keadaan nya sudah membaik, baru Bu Neta saya perbolehkan untuk pulang terlebih dahulu " jawab Dokter Ramzie.


" Baik Dok "


Dokter Ramzie memberikan obat relaksasi kepada Neta, ia terus memantau perkembangan Neta dan kesejahteraan janin yang dikandung Neta dibantu oleh perawat jaga disana.


" Mas.. apa karena aku tadi jalan-jalan ya.. muter-muter Mall " ucap Neta kepada suaminya.


" Hmm.. bisa jadi Yang "

__ADS_1


" Maafin Mama ya sayang.. " Neta mengusap-usap perutnya.


Selang beberapa jam Dokter Ramzie kembali menemui Neta dan Dika. Ia kembali memeriksa Neta.


" Keadaannya sudah kembali normal ya Bu, Ibu diperbolehkan pulang dan beristirahat di rumah, ingat pesan saya jangan terlalu lelah karena itu bisa memicu kontraksi, saya berikan resep untuk diminum di rumah, kontrol 2 minggu lagi ya " ucap Dokter Ramzie.


" Baik Dok, terima kasih banyak " ucap Neta.


" Terima kasih banyak Dok " ucap Dika.


" Ya.. sama-sama, sehat-sehat ya Bu, oya Bu jika sebelum jadwal kontrol Ibu kembali merasakan kontraksi, Ibu bisa langsung datang lagi kesini, saya juga sudah menyertakan surat kontrol jadi ibu tidak perlu lama menunggu di poli, Ibu langsung ke IGD dan serahkan surat ini ya Bu " susul Dokter Ramzie


" Siap Dok " ucap Dika.


" Mulai sekarang jadi Ayah Siaga ya Pak " balas Dokter Ramzie kepada Dika.


" Siap Dok " Dika tersenyum.


" Silakan, nanti ada perawat yang akan membantu ya Pak Bu, kalau begitu saya permisi " ucap Dokter Ramzie meninggalkan Neta dan Dika.


Dika mendekati istrinya.


" Sayang.. Bisa bangun ? aku bantu ya " Dika membantu Neta untuk bangun dari tidurnya.


Tidak lama perawat datang membawakan kursi roda untuk Neta. Setelah menunggu obat yang diberikan oleh dokter Ramzie Neta dan Dika kembali pulang. Keluar rumah sakit awan sudah berubah menjadi hitam.


" Mas udah malem ya " ucap Neta.


" Iya sayang.. gimana sekarang perut kamu gak tegang-tegang lagi kan ? " tanya Dika.


" Nggak Mas " jawab Neta.


" Mulai sekarang, stop semua aktifitas ya.. kamu harus banyak istirahat, tugas kamu di rumah hanya menunggu waktu lahiran bayi kita jangan memikirkan pekerjaan apapun " ucap Dika.


" Tapi.. perusahaan gimana Mas ? "


" Kamu gak perlu mikirin perusahaan, masih ada aku, ada Tio, Ayah juga sesekali masih memantau kan, pokonya kamu informasi kan ke kantor jika kamu sudah mengambil cuti dari pekerjaan sampai batas yang tidak ditentukan " ucap Dika.

__ADS_1


" Hmm " Neta hanya mengangguk ia pasrah saja menerima keputusan sepihak dari suaminya, karena ia teringat akan ucapan suaminya dulu, ia tidak memperbolehkan ia bekerja jika sudah memiliki anak, Neta membayangkan itu membuat ia sedikit terhenyak, sejujurnya ia masih menginginkan menjadi seorang wanita pekerja.


" Semoga Mas Dika lupa akan ucapan nya dulu " batin Neta.


__ADS_2