Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 108


__ADS_3

Gino, Aldo dan Bian terus melakukan pengejaran kepada 7 pelaku sindikat perdagangan narkoba, beberapa anggota pun ikut melakukan pengejaran, tepat adzan subuh berkumandang ke 7 pelaku berhasil diringkus.


" Bawa semua kedalam mobil " ucap Aldo.


" Siap "


Aldo melihat kesekeliling, tidak ada Kevin dan Dika disana. Anggota yang lain sudah membawa ke 7 pelaku kedalam mobil untuk selanjutnya dimintai keterangan di kantor.


" Bang Dika sama Bang Kevin kemana ? " tanya Aldo.


" Loh.. iya ya.. " jawab Gino ia pun merasa heran.


" Bian.. Bang Dika kemana ? " tanya Aldo.


" Saya kan dari tadi ikut Bang Aldo dan Bang Gino " jawab Bian.


" Sinyal gimana aman ? " tanya Gino.


" Saya cek dulu " jawab Aldo.


" Sambil jalan aja deh balik ke mobil " susul Gino.


Aldo, Gino dan Bian kembali menyusuri hutan menuju dimana mobil berada. Hampir sekitar 30 menit berjalan, hawa dan embun pagi mulai menyelimuti awan gelap perlahan berubah menjadi cerah. Burung-burung hutan mulai terdengar berkicauan. Dari kejauhan terlihat beberapa anggota sedang mengamankan ke 7 pelaku sindikat perdagangan narkoba.


" Maaf Bang.. didalam mobil tidak ada Surya, Komandan pun tidak ada " ucap salah satu anggota, menghampiri Aldo, Gino dan Bian.


" Hah.. gak ada ? " tanya Aldo.


" Iya " anggota itu berjalan mendekati mobil.


" Kemana nih ? " tanya Aldo.


" Coba saya hubungi Bang Dika " jawab Bian.


Beberapa kali Bian mencoba menghubungi kakak iparnya namun tidak ada jawaban.


" Tidak ada jawaban Bang " ucap Bian.


" Ck.. gimana nih ? " gumam Aldo.


" Hampir lupa, sini kita lacak nomor ponsel Bang Dika " Aldo mengeluarkan ponsel yang biasa digunakan untuk melacak keberadaan pelaku kejahatan yang akan dilakukan pengejaran.


Aldo fokus pada ponselnya, tidak ada pergerakan dari sinyal ponsel Dika, sinyal berada di sekitaran tempat mereka.


" Aku pastikan Bang Dika masih di sekitaran sini, tapi dimana ? " ucap Aldo.


" Hmm.. " Gino dan Bian ikut memutar otak berpikir.

__ADS_1


" Ri, kamu bisa bawa mobil kan ? " tanya Aldo kepada salah satu anggota.


" Siap Bisa "


" Ya udah, kamu lebih dulu ke mako, bawa ke 7 pelaku ini, tolong kabari komandan di mako jika kami bertiga masih disni, kami masih menunggu intruksi dari Bang Dika dan Bang Kevin, nanti tolong setelah mengantarkan pelaku ini, ada salah satu dari kalian yang kembali kesini, selalu kabari kami ya " ucap Aldo.


" Siap, ayo masuk " ucap Arya kepada anggota yang lain.


Beberapa anggota dan ke 7 pelaku masuk kedalam mobil, Arya mengemudikan mobil, mobil kembali melaju ke arah perkotaan menuju mako.


Di dalam hutan Aldo, Gino dan Bian masih berkeliling mencari kedua seniornya dan satu anggota yang entah kemana semenjak pengejaran semalam.


" Sinyal ponsel nya masih sekitaran sini, tapi dimana ? " ucap Aldo.


" Kita susuri saja, siapa tahu Bang Dika dan Bang Kevin menggerebek tempat persembunyian mereka " ucap Bian.


" Bener juga, ya sudah ayo kita cari ikuti peta " ucap Gino.


Mereka masih menyusuri hutan, yang terkadang kendala karena sinyal hilang timbul.


Ke 7 pelaku telah sampai di Mako, mereka langsung di mintai keterangan oleh penyidik yang selalu standby di Mako, anggota melaporkan apa yang diamanatkan oleh Aldo kepada komandan nya.


" Jadi.. mereka masih dihutan ? " tanya kepala satuan.


" Siap betul Dan "


" Saya yakin sepertinya pelaku belum tertangkap semua, tapi terima kasih 7 pelaku sudah kalian bawa kesini " ucap Kasat.


Tidak lama Kasat langsung menghubungi Alfarezy dan anggota yang lain, untuk menyiapkan Tim membantu Tim Dika di hutan sesuai dengan laporan dari anggota yang ikut bersama Tim Dika.


Tim Alfarezy telah siap, mereka langsung bertolak menuju hutan, sesuai intruksi dari anggota Tim Dika, Arya yang diminta kembali untuk ikut menemani Tim Alfarezy.


...****************...


Pagi ini setelah sarapan Neta kembali ke kamarnya, ia beberapa kali melihat ponselnya, tidak ada pesan apapun dari suami maupun adiknya. Neta masih berusaha tenang, mungkin Dika belum santai sehingga belum sempat menghubunginya.


Neta mencoba menghubungi adiknya, ia mengirim pesan, menanyakan kabar suami dan dirinya.


' Dek.. dimana ? aman kan ? gimana Mas Dika ? '


Pesan terkirim namun belum Bian terima, karena hanya ada ceklis satu berwarna abu pada pesan yang dikirim oleh Neta.


" Ckk.. ceklis sih " Gumam Neta.


Lalu ia masih penasaran mencoba untuk menelepon nya.


' nomor yang anda tuju untuk sementara tidak dapat dihubungi ... '

__ADS_1


" Ya Allah.. lindungilah suami dan adikku " batin Neta.


Ia kembali menyimpan ponselnya yang sesekali ia melihat notifikasi yang masuk, namun nihil, belum ada jawaban apapun dari Bian begitupun Dika belum ada pesan apapun yang masuk ke ponselnya.


Perasaan Neta mulai tidak karuan, ia memutuskan untuk tidak ke perusahaan hari ini, ia lebih memilih untuk diam di rumah sampai Dika atau Bian menghubunginya. Neta menghubungi Tio dan Lisa, ia menitipkan perusahaan kepada Tio dan memberitahu Lisa untuk hari ini ia tidak akan datang ke perusahaan.


Sekitar pukul 10 siang, Neta sedang duduk di balkon, Mbok Sum mengantarkan jus stroberi pesanannya ke dalam kamar.


" Mbak.. ini jusnya " ucap Mbok Sum.


" Iya Mbak.. terima kasih "


Mbok keluar kamar kembali ke dapur sedangkan Neta masih duduk di balkon kamar, menyeruput sedikit jusnya, sambil sesekali melihat layar ponselnya. Tidak lama terdengar notifikasi di ponselnya, Neta langsung membuka pesan itu lalu membacanya.


' Gebyar hadiah...... '


" Ya Allah.. aku pikir pesan dari kamu Dek atau Mas Dika gitu " gumam Neta berbicara sendiri.


Neta kembali menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi balkon ia menatap jauh kedepan, entah apa yang ia rasakan saat ini sungguh tidak karuan.


Neta kembali mengambil ponselnya mencoba menghubungi Dika, namun tetap tidak ada jawaban. Neta menyimpan kembali ponselnya diatas meja, disaat yang bersamaan kembali terdengar notifikasi pesan pada ponsel Neta.


Ia tidak segera membukanya, karena ia pastikan itu adalah pesan dari sistem atau undian berhadiah lagi.


Neta menghela nafas panjang, ia pun berusaha untuk tenang, karena dokter pun menyarankan kepadanya untuk jangan terlalu memikirkan hal-hal yang berat.


Neta melihat kearah ponselnya ia kembali mengambil ponselnya melihat layar lalu membuka pesan masuk yang ada, Neta membetulkan posisi duduknya, ternyata Bian membalas pesannya, tidak tunggu lama Neta langsung menelepon Bian.


Bian : " Halo Mbak "


Neta : " Dek.. kamu dimana ? Mas Dika dimana ? "


Bian : " Mbak.. m... hdjdkdgudjd... "


Neta : " Halo.. Dek .. Dek.. "


Bian : " Aku.. d......tan Mbak... "


Neta : " Haahhh "


Klik telepon terputus.


" Kok keputus sih ? tadi dimana ya.. tan.. hutan.. atau rutan ? " gumam Neta.


Ia berniat menghubungi Bian kembali namun Bian lebih dulu mengirim pesan kepada Neta.


' Mbak.. aku dan Mas Dika sedang di hutan.. kita aman Mbak.. Doakan kita semua ya '

__ADS_1


Bian sedikit berbohong, ia tidak ingin kakak nya kepikiran jika ia mengatakan sampai saat ini ia tidak tahu kakak iparnya ada dimana, terlebih saat ini Neta sedang hamil.


Neta sedikit tenang setelah mendapati pesan dari Bian, ia pun membalas pesan dari adiknya, lalu ia kembali masuk kedalam kamar, walaupun ia belum mendengar langsung suara suaminya namun membaca pesan dari Bian membuat Neta menjadi tenang.


__ADS_2