
Rumah Sakit Keluarga Harapan
Pak Arman sedang diperiksa oleh dokter spesialis jantung, dokter menyarankan untuk beberapa bulan ini Pak Arman agar banyak beristirahat, olahraga ringan yang teratur makan makanan yang sudah direkomendasikan ahli gizi untuk penderita penyakit jantung.
" Pak.. kondisi Bapak berangsur membaik ya.. jangan lupa ingat pesan saya " ucap Dokter.
" Iya Dok terima kasih, saya pasti akan mengingatnya "
" Jangan lupa jika sudah pulang nanti, untuk rutin kontrol kesehatan jantungnya ya Pak "
" Baik Dok, oya saya sudah boleh pulang Dok ? " tanya Pak Arman.
" Tunggu hasil rekam jantung nya ya Pak.. jika memang hasilnya sudah baik, nanti saya infokan jika Bapak sudah boleh pulang dan istirahat di rumah "
" Iya Dok "
" Kalau begitu saya permisi dulu Pak "
" Baik Dok "
" Permisi Bu "
" Iya Dok terima kasih " ucap Ibu Dika.
Disaat dokter sudah keluar kamar tidak lama pintu kamar kembali diketuk.
Ibu berjalan lalu membuka pintu kamar perawatan.
" Selamat sore Bu " ucap seorang Pria yang didampingi oleh seorang wanita.
" Sore "
" Apa benar ini ruang perawatan Pak Arman ? " ucap Pria itu.
" Be..betul.. Pak Aksa Sandyakala Corp kan ini ? " tanya Ibu Dika mengingat, karena ia teringat saat Aksa datang ke acara pernikahan Dika dan Neta saat itu.
" Betul Bu " Aksa dan Istrinya tersenyum.
" Ayo.. ayo silakan masuk, terima kasih banyak sudah datang menjenguk " ucap Ibu Dika.
" Sama-sama Bu, saya baru mendengar kabar jika Pak Arman ternyata masuk rumah sakit, sejak hari itu saya ke perusahaan " balas Aksa sambil berjalan masuk kedalam kamar.
" Jadi pada saat kejadian Pak Aksa ada di perusahaan ? " tanya Ibu Dika.
" Ya, saya sedang membicarakan proyek yang akan saya garap dengan Pak Arman saat itu " ucap Dika tersenyum sekilas.
" Siapa Bu ? " tanya Pak Arman mendengar istrinya sedang berbicara dengan seseorang.
" Yah.. ini loh Presdir Sandyakala Corp "
" O..o.. Pak Aksa " Pak Arman berusaha untuk bangun dari tidurnya dengan sigap Aksa sedikit berlari untuk membantu Pak Arman.
__ADS_1
" Pak.. lebih baik Bapak tidur saja, tidak perlu bangun " ucap Aksa karena melihat Pak Arman masih sangat lemah bahkan untuk bangun dari tidurnya.
" Tidak apa-apa " ucap Pak Arman.
" Bagaimana keadaan Bapak sekarang ? " tanya Aksa.
" Alhamdulillah sudah lebih baik dari hari kemarin, mohon maaf kejadian tempo hari ya, itu diluar perkiraan saya "
" Tidak apa-apa Pak, tidak perlu dipikirkan, jika saat itu saya tahu apa yang beliau katakan mungkin saya dan Aspri saya tidak akan lebih dulu untuk keluar dari ruangan, namun saya khawatir memang ada sesuatu yang ingin Pak Robby katakan " ucap Aksa.
" Pak Aksa tahu siapa Robby ? " tanya Pak Arman.
" Saya sempat akan bekerjasama, namun saat itu saya tidak menemui nya karena istri saya akan melahirkan, saya pun dikenalkan oleh rekanan bisnis saya, jadi kita memang belum pernah bertemu sama sekali, hanya saja saya tahu dia, karena setiap kali ada perusahaan ataupun yang akan menanam saham saya akan cari tahu dulu profil orang tersebut " ucap Aksa menjelaskan.
" Hmm .. Ya... " Pak Arman manggut-manggut.
" Saya juga sudah mendengar, akibat dari ditariknya seluruh saham Pak Robby, mungkin bagi MGM Grup itu tidak akan berpengaruh, namun bagi anak perusahaan itu akan berpengaruh Pak, tapi Bapak tidak perlu khawatir, Sandyakala Corp siap membantu, apapun itu yang MGM Grup butuhkan " ucap Aksa.
" Terima kasih.. terima kasih banyak Pak Aksa " ucap Pak Arman terharu.
" Saya sangat menyayangkan jika perusahaan besar seperti MGM Grup harus kalah hanya gara-gara satu orang Pak " ucap Aksa.
" Hmm... saya tidak tahu harus berkata apa lagi, selain terima kasih, Pak Aksa sangat tulus untuk membantu MGM Grup " ucap Pak Arman.
" Tidak perlu berlebihan Pak, Sandyakala Corp juga bisa sampai sekarang berkat rekanan Pak Arman dengan Papa saya " balas Aksa.
Pak Arman hanya tersenyum.
" Oh begitu, baiklah Pak "
Aksa dan Pak Arman sedang berbincang begitupun istri Pak Aksa ia pun berbincang dengan Ibu Dika.
Disaat yang bersamaan pintu kamar kembali diketuk.
" Sebentar ya, saya buka pintu dulu " ucap Ibu Dika
" Iya Bu silakan "
Ibu membuka pintu kamar terlihat Neta dan Dika sudah berdiri di depan pintu.
" Eh kamu Dik, Net, ayo masuk "
Dika dan Neta menyalami Ibu.
" Ada tamu Bu ? " tanya Dika.
" Iya, pimpinan Sandyakala Corp " ucap Ibu.
" Oh ya.. " Dika berjalan disusul oleh istrinya.
" Assalamu'alaikum " ucap Dika.
__ADS_1
" Wa'alaikumusalam " balas mereka berbarengan.
" Eh Dik, Net.. " ucap Ayah.
Neta menyalami Ayah lalu kepada Aksa dan istrinya.
" Waduh apa kabar ini Bapak komandan ? " tanya Aksa.
" Baik Mas Alhamdulillah "
" Alhamdulillah "
" Kebetulan ya kita bertemu disini " ucap Aksa.
" Iya Mas " ucap Dika.
Aksa dan Dika ngobrol kesana kemari begitupun Neta, istri Aksa dan Ibu mereka ikut mengobrol juga. Cukup lama mereka berbincang, sampai akhirnya Aksa pamit untuk pulang.
" Pak Arman mohon maaf jika kedatangan saya yang niatnya menjenguk malah menjadi banyak ngobrol menganggu istirahat Pak Arman " ucap Aksa.
" Tidak apa-apa justru saya senang, daripada seperti tadi sangat sepi " balas Pak Arman.
" Nanti kita sambung lagi ya obrolan kita, padahal lagi seru nih, tapi ya mau bagaimana anak di rumah sudah menunggu " ucap Aksa kepada Dika.
" Siap Mas nanti kondisikan untuk waktu nya " balas Dika.
" Oke.. kalau begitu saya permisi, Pak Arman semoga lekas membaik seperti sediakala " Ucap Aksa.
" Terima kasih, terima kasih banyak "
Setelah berpamit Aksa dan istrinya pergi meninggalkan ruangan diantarkan oleh Dika dan Neta sampai depan gedung Paviliun Anggrek.
" Terima kasih Mas, Mbak "
" Iya sama-sama kami permisi "
Neta dan Dik kembali ke kamar perawatan Ayahnya. Disana Ibu sedang membetulkan kembali posisi duduk Ayah Dika.
" Neta.. bagaimana perusahaan? " tanya Pak Arman.
" Alhamdulillah aman Yah "
" Syukurlah.. Ayah percayakan semua kepadamu, karena Ayah percaya kamu mampu Net, Dik.. bantu istri mu " ucap Pak Arman.
" Siap Yah.. " Dika dengan gaya hormatnya.
" Dik.. semakin hari walaupun kondisi Ayah sudah semakin membaik dari hari kemarin tapi yang Ayah rasakan kemampuan Ayah sudah melemah, Ayah menyadari usia Ayah yang sudah tidak lagi muda, Ayah tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput Ayah, namun sebelum itu Ayah menginginkan melihat cucu-cucu Ayah terlebih dahulu " ucap Ayah.
Deggg..
Neta yang mendengarnya sedikit terperanjat, wajar jika mertuanya menginginkan segera memiliki cucu Dika anak satu-satunya harapan hanya ada pada Dika.
__ADS_1