
Tak tok tak tok ..
Terdengar suara high heels yang beradu dengan lantai keramik berjalan menuju lift.
" Mas ayo.. " ucap Neta berjalan dengan cepat.
" Pelan-pelan Yang.. " ucap Dika.
" Kita udah telat nih " ucap Neta lagi.
Dika hanya mengikuti kemana istrinya berjalan, ia memencet lift untuk menuju lantai 14.
Ting... pintu lift terbuka.
Neta dan Dika masuk kedalam lift. Dika hanya melihat istrinya sekilas lalu tersenyum kecil. Neta yang sadar jika Dika memperhatikan langsung bertanya.
" Kenapa Mas ? " tanya Neta.
" Kamu itu gak tenang, gerasak gerusuk.. hmmm pantesan ya sekarang aku tahu, kamu sampe hilang name tag dulu, untung aku yang nemuin kan " jawab Dika.
" Kamu masih inget aja Mas " ucap Neta.
" Aku pasti inget gak akan aku lupain, karena dengan aku nemuin name tag kamu, aku semakin yakin kalo kamu jodoh aku " balas Dika tersenyum.
" Hmm... kok aku nggak ya.. hahaha " Neta tertawa menggoda Dika.
" Nggak gimana ? " Dika menyelidik.
" Ya.. waktu aku ketemu kamu lagi, aku gak yakin kalo kamu itu bakal jadi suami aku " balas Neta.
" Hmm.. kamu sih emang gitu, gak pernah peka sama perasaan aku " Dika kembali fokus pada layar yang menampilkan nomor lantai di dalam lift.
" Hah.. duh salah ngomong nih " batin Neta melihat raut wajah Dika berubah.
" Hmm.. nggak kok.. bukan gitu Mas " ucap Neta, belum selesai ia berbicara terlihat pintu lift sudah terbuka.
Dika langsung keluar lift dengan wajah datar nya, Neta mengekori Dika.
" Duh salah ngomong apa ya.. " batin Neta lagi.
Dika menuju meja Tio. Tio saat melihat Dika sudah berada di meja kerjanya langsung berdiri.
" Mas Pak Gabor sudah ada di ruangan meeting " ucap Tio.
" Oke.. makasih Io " balas Dika lalu berjalan menuju ruang meeting tanpa mengajak istrinya.
Neta masih terus mengekori Dika.
" Selamat Siang " ucap Dika masuk kedalam ruang meeting menghampiri Gabor dan Yoga.
" Selamat siang Pak Dika, apa kabar ? " tanya Pak Gabor, ia menyalami Dika begitupun Yoga.
" Kabar baik, bagaimana dengan Pak Gabor sendiri ? " tanya Dika.
" Alhamdulillah.. sehat-sehat, oya ini Aspri saya Yoga namanya " ucap Gabor.
" Oh ya.. dan ini istri saya sekaligus CEO MGM Grup sekarang " ucap Dika memperkenalkan Neta kepada Pak Gabor dan Yoga.
" Salam kenal Bu senang bertemu dengan Anda " ucap Gabor disusul anggukan Yoga.
__ADS_1
" Sama-sama Pak.. silakan duduk kembali " balas Neta.
Mereka berempat mulai membicarakan perihal kerjasama antara MGM dengan GGC. Akhirnya didapati kesepakatan jika GGC akan bergabung untuk bekerja sama dengan MGM Grup.
" Terima kasih banyak Pak Dika dan Bu Neta, pertemuan yang cukup mengesankan hari ini " ucap Gabor.
" Sama-sama Pak dengan senang hati perusahaan kami akan sangat senang juga jika GGC bergabung " balas Dika.
Disaat yang bersamaan terdengar suara adzan ashar dari mushola perusahaan,mereka berempat menghentikan dulu pembicaraan mereka sampai adzan ashar selesai berkumandang.
Setelah adzan ashar sudah selesai berkumandang, mereka kembali melanjutkan pembicaraannya.
" Ya.. mungkin sekitar 2 atau 3 minggu lagi kami akan kembali kesini, untuk memulai membicarakan konsep proyek yang akan kita bangun bersama " ucap Gabor.
Dika dan Neta hanya mengangguk pertanda setuju.
" Seperti nya saya sangat betah disini, suasana dan memang daerahnya sejuk ya disini " ucap Gabor.
" Ya begitulah Pak.. disini memang daerah sejuk, saking sejuknya ac ruangan pun jarang dinyalakan " balas Dika disusul tawa dari keduanya.
" Oh ya.. Pak Dika dan Bu Neta maaf sudah memiliki putra ? karena saya lihat Pak Dika dan Bu Neta ini orang sibuk " tanya Gabor.
" Kami sudah memiliki 2 orang anak Pak, putra dan putri " jawab Neta.
" Alhamdulillah.. tapi bagaimana ? mereka di rumah dengan siapa ? dengan neneknya ? " tanya Gabor lagi.
" Hmm.. tidak pak kami memiliki pengasuh " jawab Neta lagi.
" Oh ya.. hati-hati loh pengasuh sekarang, harus ekstra kita pantai juga " balas Gabor.
" Hmm.. betul Pak, tapi Alhamdulillah pengasuh anak-anak kami sangat baik dan sangat telaten sehingga kami tidak khawatir meninggalkan mereka di rumah " ucap Neta.
Neta hanya tersenyum manggut-manggut, mereka ngobrol santai kesana kemari, karena obrolan serius mereka sudah selesai, sampai akhirnya Gabor pamit untuk pulang.
" Bapak langsung pulang atau bagaimana ? " tanya Dika.
" Seperti nya saya masih disini sampai besok atau lusa " jawab Gabor.
" Oh ya.. akan menginap dimana ? sudah reservasi ? " tanya Dika lagi.
" Hmm.. sebentar saya tanya Yoga dulu, tadi kami langsung kesini, awalnya saya tidak akan lama namun ada beberapa yang harus saya selesaikan tidak jauh dari sini " jawab Gabor.
" Yog, apa sudah reservasi hotel untuk kita menginap ? " tanya Gabor.
" Masih saya hubungi Pak " balas Yoga.
" Hmm.. begini Pak bagaimana saya pesankan saja di hotel yang pemiliknya masih relasi kami, itung-itung sebagai jamuan kami ke bapak " ucap Dika.
" Oh tidak perlu repot-repot, terima kasih banyak saya rasa Pak Dika tidak kurang untuk menjamu kami " balas Gabor.
" Jangan menolak ya Pak anggap saja ini adalah jalan memulai kerja sama kita " susul Dika.
" Ya kalau begitu saya tidak bis menolak " ucap Gabor.
Dika langsung memesan kamar hotel presidensial suit untuk Gabor dan Asprinya, ia meminta Tio untuk mengantarkan Gabor menuju hotel yang sudah ia reservasi.
Sebelumnya Dika, Tio, Gabor dan Yoga shalat berjamaah di mushola perusahaan. Neta ia shalat di ruangannya.
Setelah selesai Gabor diantar Tio menuju hotel yang sudah Dika pesan sedangkan Dika kembali ke ruangan Neta.
__ADS_1
Tok tok tok
Pintu ruangan terbuka, Dika masuk menghampiri istrinya, Neta sedang merapikan barang-barang nya bersiap untuk pulang.
" Mas.. sudah selesai ? " tanya Neta.
" Udah sayang " Dika seperti biasa mengambil tas Neta lalu memakai nya.
Neta yang memperhatikan tingkah suaminya sedikit tersenyum.
" Mas.. " Ucap Neta.
Dika membalikkan badannya.
" Kenapa ? ayo kita pulang udah sore, kasian si kembar " balas Dika.
" Hmm.. kamu gak marah kan sama aku Mas ? " tanya Neta.
" Marah ? karena apa ? " tanya Dika balik bertanya.
" Hmm.. nggak... " Neta menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.
" Aku gak marah, cuma kesel " ucap Dika.
" Hah.. kamu kesel sama aku Mas ? " tanya Neta.
" Nggak ! " jawab Dika singkat.
" Huft.. " Neta kembali terdiam.
" Udah ayo kita pulang " Dika meraih tangan istrinya lalu menggandengnya berjalan keluar ruangan.
Diluar ruangan terlihat Lisa masih duduk di kursi kerjanya. Neta menghampiri Lisa.
" Lis, udah sore kamu pulang ya.. saya duluan " ucap Neta.
" Oh ya siap Bu, hati-hati Pak Bu " balas Lisa.
Neta kembali berjalan dengan Dika, ia berjalan mencari perhatian kepada Dika ia khawatir Dika memang kesal karena ucapnnya tadi.
" Kamu kenapa sih Yang caper banget " ucap Dika.
" Gak apa-apa dong aku caper sama suami sendiri " balas Neta.
Dika hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
" Mas, Pak Gabor masih mau disini ? Dia tahu gak ya kalo anaknya ada sama kita, tadi Mas ngeh gak sih waktu dia nyeritain anaknya " ucap Neta.
" Hmm... aku tahu Yang.. " Dika menghela nafas panjang.
" Tapi jadi pertanyaan juga sih, kenapa dia masih stay disini, semoga emang bener dia masih ada kerjaan disini bukan mau mantau anaknya di rumah kita, mungkin gak sih Mas dia tahu anak nya ada sama kita " tanya Neta.
" Mungkin tahu mungkin nggak " jawab Dika.
" Soalnya ini bertepatan banget Mas, antara Sasa kerja di rumah terus orangtuanya mau kerjasama di perusahaan kita " balas Neta.
" Ya.. kalau pun tahu kita jelaskan sejelas-jelasnya agar tidak ada salah paham " ucap Dika menenangkan.
Neta hanya manggut-manggut, jujur ia menyerahkan semua permasalahan Sasa kepada suaminya, ia khawatir ia salah langkah jika mengambil keputusan sendiri.
__ADS_1