Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 167


__ADS_3

Braakkkkkkk..


Pintu toilet di dobrak, saat pintu terbuka Dika sudah menodongkan senjatanya, ia biasa membawa senjata kemanapun ia pergi khawatir kejadian-kejadian yang tidak diduga terjadi. Seperti saat ini.


" Stop !! Angkat tangan ! " ucap Dika.


" Sialan !!! " gumam Dudung.


" Pak Dika.. Alhamdulillah " batin Kiki.


Dudung langsung melepaskan cekalan tangannya ke tangan Kiki, ada kesempatan Kiki langsung berlari keluar toilet, begitupun Dika memberikan kode kepada Kiki untuk keluar.


Kiki berlari lalu menghampiri Neta, saat ia sudah keluar dari toilet.


" Bu Neta " Kiki terisak.


" Ki... kamu kenapa ? Kok bisa ada di toilet ini ? " tanya Neta.


Namun Kiki masih tetap terisak, ia masih syok dengan kejadian yang baru saja ia alami.


Seorang pengunjung menghampiri Neta dan Kiki.


" Maaf Mbak, ini minum dulu " ia menyerahkan satu botol air mineral ke Kiki.


" Oh ya terima kasih " ucap Kiki.


" Ayo Ki, kamu tenang dulu ya.. kamu tenang.. kita duduk dulu disana " ajak Neta menuju gazebo yang tidak jauh dari tempat kejadian.


Kiki dibopong menuju gajebo sedangkan Neta mendorong kereta dorong Nala dan Nathan. Dilain tempat Dika masih di dalam toilet untuk menangkap Dudung.


" Hey.. lo preman disini ? " tanya Dudung kepada Dika.


" Saya polisi ! ikut saya ke kantor ! " ucap Dika.


" Alah.. polisi apaan lo.. lo pasti bohong, masa setelan polisi kaya gini " balas Dudung meledek, karena memang Dika hanya menggunakan kaos oblong dan celana taktikal pendek.


" Tolong jaga ucapan kamu ! " ucap Dika lagi.


Sebelumnya ia sudah menghubungi Bian untuk segera membantunya.


" Jangan berontak dan ikut saya ! " ucap Dika.


" Hah... apa hak mu memerintahku " balas Dudung.


Dika semakin geram bisa-bisa nya ia di ledek oleh orang macam Dudung. Para pengunjung dan pedagang yang membantu Dika pun merasa geram dengan sikap dudung.


" Sudahlah Pak, kita habisi saja manusia tidak beradab ini " ucap salah satu pengunjung.

__ADS_1


" Betul itu.. "


" Betul.. betul .. "


" Stop.. stop .. stop " ucap Dika menenangkan.


" Jangan main hakim sendiri, ini negara hukum biarkan manusia ini urusan saya, tolong bantu saya untuk mengikat tangannya " ucap Dika.


" Ini Pak saya bawa lakban " ucap salah satu pedagang.


" Oke terima kasih " balas Dika.


Disaat yang bersamaan Bian datang menghampiri kerumunan.


" Mas .. " ucap Bian.


Dika menoleh ke arah sumber suara.


" Sini Ian, dia Anggota saya " ucap Dika.


" Siap Mas " balas Bian menghampiri.


Beberapa pengunjung sedikit memundurkan langkahnya disaat mereka tahu jika Bian polisi juga. Bian langsung menyergap Dudung, Dika masih dengan senjata untuk ancang-ancang.


Akhirnya Dudung dapat ditaklukkan. Dudung dibawa oleh Dika dan Bian ke luar toilet, banyak pengunjung yang merasa kesal kepada Dudung, mereka banyak menyoraki Dudung.


Saat Dudung dibawa berjalan keluar, ia melihat sekilas ke arah Kiki yang sedang ditenangkan di gajebo bersama Neta dan beberapa pengunjung lain.


Di halaman parkir tempat wisata, sudah ada mobil polisi untuk membawa Dudung ke kantor polisi. Tadi Dika meminta Bian untuk menghubungi kantor agar ada anggota yang segera datang ke lokasi tempat wisata.


Dudung dinaikan kedalam mobil, anggota lain telah menunggu di dalam mobil.


" Tolong bawa ke kantor nanti saya menyusul " ucap Dika.


" Siap Dan "


" Ian kamu ke kantor sekarang, saya antar Mbak mu pulang dulu, nanti Mas nyusul ke kantor " ucap Dika kepada Bian.


" Siap Mas " balas Bian.


Bian menaiki mobil pribadinya mengikuti mobil polisi yang membawa Dudung sedangkan Dika kembali ke gajebo tempat tadi istri dan kedua anaknya berada.


" Bagaimana Pak ? " tanya salah satu pedagang di area wisata yang berpapasan dengan Dika.


" Sudah aman " jawab Dika.


" Oh ya terima kasih Pak "

__ADS_1


" Sama-sama, lagipula korban pengasuh anak saya " ucap Dika.


" Oh begitu Pak, ya semoga pengasuhnya baik-baik saja Pak " ucap pedagang itu.


" Ya terima kasih, saya permisi dulu untuk menjemput istri dan anak-anak saya " susul Dika.


" Ya Pak silakan "


Dika kembali berjalan menuju gazebo disana, Neta masih ditemani oleh beberapa pengunjung.


" Yang.. " ucap Dika.


" Mas " Neta menoleh ke arah suaminya.


" Ayo pulang " ajak Dika.


Neta pun mengajak Kiki, namun ia tidak bergeming pandagannya kosong, mungkin ia masih syok dengan kejadian tadi.


" Mas.. Kiki " ucap Neta khawatir.


Dika hanya mengangguk, lalu meminta Neta untuk memapah Kiki, sedang si kembar yang berada di kereta dorongnya, di dorong oleh Dika.


Sesampainya di parkiran, Neta meminta Kiki untuk masuk kedalam mobil, ia dan Si kembar begitupun Dika masuk kedalam mobil.


" Mas.. Kiki pandangan nya kosong daritadi, aku khawatir sepertinya butuh pendampingan psikologi " ucap Neta.


" Yang.. kamu kan psikolog, kamu lupa ? " balas Dika kepada istrinya.


" Gak bisa sama aku Mas, ini harus ke Psikolog Klinis " ucap Neta.


" Hmmm " Dika hanya manggut-manggut.


" Oke deh Mas, aku hubungi temenku, dia kerja di rumah sakit sebagai Psikolog Klinis, aku mau minta dia buat ke rumah aja, soalnya sampai saat ini Mas lihat sendiri Kiki tatapannya kosong kita tanya juga dia gak fokus " ucap Neta.


" Iya Yang.. kamu yang tahu tentang itu, aku antar kamu pulang, kamu hubungi teman yang bisa bantu Kiki, aku kembali ke kantor karena Bian sudah ada disana " balas Dika.


" Siap Pak Dika " Neta dengan gaya hormat nya.


" Yang... " ucap Dika melihat tingkah istrinya.


" Mas.. kira-kira laki-laki tadi siapa ya ? kok dia bisa berniat jahat ke Kiki " tanya Neta.


" Kita gak pernah tahu isi hati orang Yang.. mau yang kenal sekalipun kalo emang niat nya jahat ya jahat, apalagi yang gak kenal kan .. kejahatan itu bukan hanya terjadi karena niat pelaku tapi karena adanya kesempatan juga " ucap Dika.


" Hmmm.. iya Mas.. " Neta manggut-manggut.


πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


Visual Dika dan Bian biar lebih semangat.. semangat weekend😍😍



__ADS_2