
Hari demi hari berlalu, Neta menikmati masa kehamilan di rumah menunggu kelahiran anak kembar nya, ia sudah mulai merasakan ketidaknyamanan di trimester 3 kehamilannya. Sudah mulai sulit mencari posisi tidur yang nyaman, disaat sedang duduk ia sulit untuk bangun dari duduknya karena perutnya yang sudah semakin membesar.
Dika yang pola kerja nya mulai teratur, karena tidak banyak pekerjaan yang mendadak dan mendesak, walaupun ada biasanya sudah di handle oleh rekannya yang lain, sehingga Dika bisa banyak waktu menemani istrinya di hari-hari menjelang persalinan.
Sesuai janji Dika, ia akan mengantarkan Neta untuk membeli keperluan anak-anak nya untuk persiapan kelahiran nanti, Neta melihat sekilas ke arah suaminya yang kembali masuk kedalam selimut selepas shalat subuh tadi.
" Mas.. " Neta menghampiri suaminya.
" Hmm.. " Dika membuka sedikit selimut yang menutup kepalanya.
" Kamu gak kerja kan hari ini ? " tanya Neta.
" Nggak sayang.. " ucap Dika dengan suara parau khas bangun tidur.
" Hmm.. jadi kan hari ini anter aku "
" Jadi dong.. 5 menit lagi ya.. " Dika berbicara sambil tetap memejamkan matanya.
" Iya.. santai aja, lagian masih pagi " ucap Neta.
Dika membuka selimutnya.
" Ya udah sini kalo masih pagi, temenin aku " Dika meraih tangan, langsung memeluk istrinya.
Neta tidak menolak, ia pun merasa masih pagi dan udara sangat dingin, akhir-akhir ini pun ia merasa sering lelah, padahal ia tidak banyak melakukan aktifitas. Dika mengusap-usap perut istrinya teraba gerakan dari perut Neta.
" Sayang... " Dika kembali mengusap-usap perut istrinya.
" Dia seneng loh.. pagi-pagi gini Papa nya ada di rumah " ucap Neta.
" Biasanya ? " tanya Dika.
" Biasanya udah sibuk buat pergi ke kantor " jawab Neta.
Dika hanya tersenyum.
" Oya.. kontrol lagi kapan ? " tanya Dika.
" Minggu depan Mas "
" Hmm.. " Dika mengangguk kembali memejamkan matanya, Neta pun jadi terbawa suasana, ia memejamkan matanya lalu terlelap tidur.
...****************...
Terdengar suara ketukan dari balik pintu kamar, membuat Neta terbangun.
" Iya sebentar " Neta berusaha bangun dari tidurnya perlahan, ia melihat Dika masih terlelap dengan suara dengkuran yang khas.
Neta beranjak dari tempat tidur, melihat sekilas ke arah jam dinding di kamar nya sudah pukul 9 pagi, Neta berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Terlihat Mbok Sum sudah berada di balik pintu.
__ADS_1
" Kenapa Mbok ? " tanya Neta.
" Mbak Neta maaf Mbok mengganggu "
" Gak apa-apa Mbok "
" Itu barusan ada yang dateng tetangga sebelah, ia memberikan ini, katanya oleh-oleh dari Yogyakarta " ucap Mbok Sum menyerahkan kantong berisi oleh-oleh Yogyakarta.
" Oh ya, Mbok makasih ya.. " Neta mengambil kantong itu.
Neta menutup pintu kamar.
" Mbak.. Mbok sekalian mau nanya, Mbak dan Mas Dika belum sarapan " ucap Mbok Sum seraya berjalan menuruni anak tangga disusul oleh Neta.
" Iya Mbok sebentar lagi aja " ucap Neta.
Neta menyimpan bungkusan plastik berisi oleh-oleh dari tetangganya di meja makan, ia mengambil air minum lalu duduk di meja makan.
Meneguk air minumnya, lalu membuka bungkusan plastik itu.
" Ada bakpia, ada salak pondoh, ada bakpia kukus juga, baik banget ya padahal kita belum pernah ketemu " gumam Neta membuka kotak bakpia kukus lalu memakannya.
" Mbok.. "
" Iya Mbak "
" Sini Mbok, mau gak ? "
" Ini tetangga yang sebelah mana sih Mbok ? " tanya Neta.
" Itu yang sebelah banget Mbak, waktu itu kan Mbok kasih tahu isi, dia bilang tahu isi nya enak beli dimana, gak lama tadi dia kirim itu buat Mbak Neta " jawab Mbok Sum.
" Baik banget ya.. padahal kita cuma kirim tahu isi.. matematika Allah gak pernah salah " balas Neta.
Mbok Sum ijin kembali ke belakang, Neta masih menikmati Bakpia kukus nya, disaat yang bersamaan Dika bangun dan sudah berada tepat di belakang Neta.
Dika mengecup sekilas pipi istrinya. Membuat Neta sedikit terperanjat.
" Mas.. udah bangun " tanya Neta.
" Kamu kok gak bangunin sih ? " Dika mengambil air minum lalu duduk tepat disamping istrinya.
" Kamu tidurnya ngorok Mas.. "
" Masa sih ? gak mungkin " ucap Dika tidak percaya.
" Yah.. masa bohong.. kan aku yang denger "
" Iya deh, itu kamu makan apa ? " tanya Dika.
" Mas tau gak ini dari tetangga sebelah kata Mbok Sum, dia kirim ini oleh-oleh dari Jogja katanya " jawab Neta.
__ADS_1
" Oh.. ya.. yang persis sebelah rumah berarti, dia memang suaminya orang Jogja setau aku sih, dia punya anak gadis kalo gak salah " ucap Dika santai.
Neta langsung menghentikan makannya, padahal ia sedang asik mengunyah bakpia kiriman dari tetangganya.
" Berarti sebenernya tetangga itu udah sering dong kirim-kirim makanan kesini " ucap Neta.
" Nggak juga, malah baru sekarang "
" Bohong ! "
" Kok Bohong sih ? "
" Itu buktinya kamu sampe tahu, tetangga yang ngasih ini orang Jogja punya anak gadis juga " ucap Neta.
Dika yang memperhatikan Neta berbicara menjadi tertawa sendiri.
" Ya masa kita gak tau sama tetangga sendiri, lagian juga aku dulu itu jarang di rumah Yang.. "
Neta terdiam, ia sedikit menekukkan wajahnya.
" Kenapa sih Yang ? " tanya Dika menggoda istrinya.
" Kamu tau banget kalo urusan cewek " ucap Dika.
" Hah ? maksud nya ? " tanya Dika.
" Ya itu "
" Sayang.. gimana aku gak tahu, orang dia tiap hari lewat depan rumah, ya aku pasti liat dong pake mata aku " jawab Dika.
" Makanya jangan di liat, tundukin pandangan kamu nya "
" Ya Allah sayang... apa salah nya sih tetangga kita punya anak gadis "
" Ya gak salah .. yang salah itu kamu merhatiin banget " ucap Neta keukeuh.
" Salah ngomong.. runyam.. runyam .. runyam... " gumam Dika menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Udah yuk mandi yuk.. kita kan mau pergi, aku mau anter kamu sekarang buat beli perlengkapan anak-anak kita nanti ya.. " Dika mencoba merayu istrinya.
" Ya udah ayo " Neta mencoba bangun dari duduk nya namun terasa sulit, Dika yang melihat Neta menjadi senyum sendiri.
" Sini.. sini aku bantuin, pelan-pelan Yang.. " Dika membantu Neta berdiri.
Neta berjalan menaiki tangga meninggalkan suaminya.
" Ya Allah.. ada apa ini " gumam Dika menyusul istrinya menaiki tangga.
Neta hanya melihat sekilas ke arah suaminya. Dika mengekori Neta yang berjalan menaiki tangga secara perlahan.
" Kalo gak lagi hamil udah aku gendong nih " batin Dika, tetap setia berada di belakang istrinya.
__ADS_1