
" Lis.. udah siap kan semua ? " tanya Neta menghampiri Lisa ke meja kerjanya.
" Oh sudah Bu " Lisa membawa beberapa map file yang dibutuhkan.
" Pak Tio, saya pergi dulu ya sama Lisa, titip perusahaan kalo ada yang cari saya, nanti saya kembali sekitar 2 jam lagi " ucap Neta kepada Tio.
" Siap Mbak Neta " balas Tio.
Neta dan Lisa berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dasar dimana supir perusahaan sudah menunggunya. Mereka berdua naik mobil yang sudah di persiapkan menuju Restoran dimana Neta akan bertemu dengan klien.
Dalam perjalanan Neta banyak ngobrol dengan Lisa, Neta merasa ada teman, karena usia Neta dan Lisa yang tidak terlalu jauh, sehingga Lisa bisa mengimbangi Neta, ia merasa Lisa seperti adiknya sendiri.
Neta kembali fokus menikmati perjalanan nya, ia melihat keramaian kota di siang hari, jalan-jalan terlihat basah karena sisa diguyur hujan tadi. Sampai akhirnya ia terfokus pada salah satu mobil yang berhenti di halte sebelum lampu merah, Neta memperhatikan dengan seksama.
" Seperti mobil Mas Dika " batin Neta.
Neta masih terus memperhatikan, tidak lama seorang wanita muda turun dari mobilnya, ia tidak begitu jelas dengan wajahnya hanya saja ia sudah memastikan jika itu adalah seorang wanita, ia sedikit berlari karena di luar masih sedikit gerimis, lalu ia naik mobil lagi yang di depannya.
" Hah.. siapa itu ? duhh " Neta sedikit gusar, ia belum sempat melihat siapa yang mengendarai mobil suaminya, karena jalur yang akan ditempuh Neta berbeda.
Lisa yang sadar jika bos nya sedang gelisah menjadi heran, ia berniat untuk menanyakan kepada Neta.
" Bu.. Bu Neta kenapa ? Mau buang air ? kita bisa berhenti dulu di pom bensin " ucap Lisa.
" Oh.. ng..ngak kok Lis.. " Neta tersenyum dipaksakan.
" Oh.. baik Bu " Lisa tidak kembali bertanya, ia pun tidak begitu berani jika harus kembali bertanya kepada Bosnya.
Neta mengeluarkan ponselnya ia memberanikan diri untuk menghubungi Dika, namun tidak ada jawaban.
Neta masih terlihat gusar, dalam pikirannya, Dika pergi dengan siapa, lalu siapa wanita itu, bukankah tadi ia sedang berada di kantor saat sedang menghubungi dirinya.
Sampai akhirnya lamunan Neta di buyarkan oleh Lisa karena ia sudah sampai di restoran yang dituju.
" Bu.. kita sudah sampai " ucap Lisa menepuk sedikit pundak Neta.
" Oh ya.. Lis ayo turun "
" Sebentar Bu diluar masih gerimis saya ambilkan payung dulu " ucap Lisa.
" Makasih Lis "
Neta membuka pintu mobil sudah ada Lisa disana sambil memegang payung untuk Neta. Neta turun dipayungi oleh Lisa. Mereka berdua masuk kedalam restoran, Lisa menanyakan tempat yang sudah reservasi sebelumnya.
__ADS_1
Lisa mengajak Neta untuk masuk kedalam, karena menurut resepsionis restoran, klien yang ingin bertemu dengan Neta sudah tiba sekitar 15 menit yang lalu.
Neta berusaha untuk tetap tenang, walaupun hati dan pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Wanita tadi yang turun dari mobil Dika yang terus berputar-putar di otak Neta.
Seorang pria dewasa tinggi tegap dan juga tampan, sedang menunggu Neta selaku presiden direktur MGM Grup, dari kejauhan ia sudah melihat Neta, hanya Lisa yang merespon sedangkan Neta ia tidak fokus.
" Selamat Siang Bu Neta " ucap Pria itu presiden direktur perusahaan Nusadua Corporindo yang bernama Jonathan.
Neta masih berdiam saja, ia tidak menyambut uluran tangan dari Jonathan. Lisa yang melihat sedikit berbisik kepada bosnya.
" Bu Neta maaf, ini Pak Jonathan " ucap Lisa berbisik.
" Oh ya maaf.. mohon maaf sekali Pak Jonathan " lamunan Neta dibuyarkan oleh Lisa.
" Oke tidak masalah, silakan duduk "
" Terima kasih, oya Pak ini sekretaris saya " ucap Neta.
" Ya.. "
Lisa hanya mengangguk pertanda hormat. Neta duduk tepat di depan Jonathan. Ia banyak merilekskan tubuhnya, jangan sampai pertemuan ini memalukan karena sikap dirinya yang tidak bisa mengontrol emosinya.
" Bu Neta mohon maaf, sepertinya ada yang sedang anda pikirkan ? " tanya Jonathan.
" Oh tidak Pak tidak sama sekali.. saya hanya teringat anak saya di rumah " ucap Neta berbohong.
Neta hanya membalas tawa Jonathan dengan senyum.
" Oya Pak Jonathan bagaimana ? " Neta memulai pembicaraan ia mengambil beberapa map yang tadi dibawa oleh Lisa.
" Panggil saja saya Jo " ucap Jonathan
" Oke baik, Pak Jo ya.. " balas Neta menegaskan.
" Ya Bu, saya tertarik dengan program dari perusahaan MGM Grup, saya ingin mengajukan kerjasama, oya ini profil perusahaan barangkali Bu Neta ingin mengenal lebih jauh, atau mungkin jika berkenan Bu Neta bisa mengunjungi dulu perusahaan kami " ucap Jonathan.
" Hmm.. baik Pak, kami pun sangat berterima kasih kepada Pak Jo sudah tertarik dengan program yang sedang kami garap sehingga membuat perusahaan yang Bapak pimpin ingin bekerjasama, kami sangat membuka peluang kerjasama dengan para perusahaan, agar kita bisa sukses bersama " balas Neta.
" Ya.. semoga saja Bu itu yang saya harapkan " susul Jonathan.
Neta dan Jonathan banyak berbincang mengenai perusahaan sampai akhirnya, kerjasama dan beberapa aturan perusahaan MGM Grup dapat di sepakati, hanya saja untuk penandatanganan kontrak kerjasama akan di laksanakan di kantor MGM Grup.
" Terima kasih Bu Neta atas waktunya, mungkin besok atau lusa saya akan mendatangi perusahaan MGM Grup " ucap Jonathan.
__ADS_1
" Baik, sama-sama Pak, terima kasih juga sudah bersedia bekerjasama " balas Neta.
Neta dan Jonathan juga Lisa berjalan meninggalkan restoran, sesampainya di lobby restoran Jonathan berpamit karena mobil ia parkir di belakang restoran.
Lisa pun sudah menghubungi supir perusahaan untuk segera menuju lobby restoran. Neta dan Lisa masuk kedalam mobil, mobil melaju kembali menuju perusahaan.
...****************...
Ruangan Presiden direktur MGM Grup
Neta sedang duduk di kursi kerjanya, ia terus mencoba menghubungi suaminya, namun tidak ada jawaban. Neta semakin kesal hatinya sudah tidak karuan.
" Ck... tumben banget Mas Dika gak angkat telepon aku, apa jangan-jangan.. ah.. gak gak mungkin.. dia gak mungkin gitu... " batin Neta berkecamuk.
Neta masih terus menghubungi suaminya, ia ingin segera menanyakan perihal apa yang ia lihat tadi.
" Aku tidak mungkin salah lihat, aku tahu mobil Mas Dika, bahkan nomor polisi nya pun aku hafal dan ingat, itu pasti mobil Mas Dika, tapi.. "
Sampai akhirnya Neta terperanjat kaget, lamunannya dibuyarkan oleh dering telepon, ia langsung meraih ponsel nya berharap Dika yang menghubungi namun ternyata bukan, Lisa menghubungi Neta karena ad yang harus di tandatangani.
" Lisa.. kok menghubungi ke ponsel ? " tanya Neta.
" Saya sudah menghubungi via interkom namun tidak diangkat oleh Ibu " jawab Lisa.
" Oh.. oke " Neta merasa heran apa karena ia sedang melamun sehingga telepon kantor saja ia tidak mendengarnya.
Tidak lama Lisa datang membawa map untuk ditandatangani Neta, setelah Neta membubuhkan tandatangan nya ada surat, Lisa kembali keluar ruangan Neta.
Lisa merasa aneh dengan sikap Neta hari ini.
" Ada apa ya dengan Bu Neta jadi banyak ngelamun " batin Lisa. Ia lalu berjalan menghampiri Tio.
" Pak Tio.. "
" Kenapa Lis ? " tanya Tio.
" Hmm.. Bu Neta kenapa ya, kok jadi suka ngelamun " jawab Lisa.
" Ngelamun gimana maksudnya ? " tanya Tio lagi.
" Apa sebelumnya suka begitu ? Satu hari ini Bu Neta jadi kurang fokus " ucap Lisa.
" Hmm.. setau saya sih enggak ya, mungkin sedang ada yang dipirkan " balas Tio.
__ADS_1
" Hmm.. sepertinya " Lisa kembali duduk di kursi kerjanya.
Mereka berdua sedang heran dengan sikap bos nya hari ini, biasanya Neta selalu terlihat ceria, ia selalu menyapa seluruh karyawan jika berpapasan dengannya, namun berbeda dengan hari ini, Neta terlihat kurang fokus dalam segala hal, untung saja Lisa sigap selalu mengingatkan bosnya disaat Neta sedang tidak fokus.