
Markas Kepolisian
Dika, Kevin, Aldo dan Alfarezy seniornya sedang berada di satu ruangan setelah menyelesaikan pekerjaannya mereka bertiga akan memesan makanan untuk makan siang.
" Kalian makan apa ? " tanya Al kepada Dika, Kevin dan Aldo.
" Nasi padang aja Bang " jawab Dika.
" Sama Bang " susul Aldo.
" Hmm.. sama juga deh " balas Kevin.
" Oke nasi padang 4 ya.. " ucap Al melalui sambungan telepon.
Setelah memesan makanan Al mematikan sambungan teleponnya, mereka berempat kembali ngobrol dan bersantai sejenak di sela kesibukannya.
" Oya Bang Bian mana ? " tanya Aldo kepada Dika.
" Bian ? patroli kayanya, di penjagaan juga gak ada " jawab Dika.
" Hmm.. " Aldo hanya mengangguk.
Tidak lama ponsel Alfarezy kembali berdering, ia langsung mengangkat teleponnya. Al fokus pada teleponnya sedangkan Dika, Kevin dan Aldo pun sibuk dengan obrolannya yang sesekali disusul oleh gelak tawa mereka bertiga.
Selesai berbicara melalui sambungan telepon Al kembali bergabung dengan ketiga rekannya. Ia duduk tepat di samping Dika.
" Dik.. kamu kenal dengan pemimpin Sandyakala Corp ? " tanya Alfarezy.
" Hmm.. Pak Aksa maksudnya Bang ? " tanya Dika balik bertanya.
" Iya.. " jawab Al.
" Hmm.. kenal.. kenal baik dia rekan kerja Ayah di perusahaan, dia banyak bantu perusahaan juga Bang Alhamdulillah.. memangnya Bang Al kenal ? " tanya Dika.
" Dia teman saya semasa sekolah dulu, barusan dia telepon biasalah dia konsultasi, terus ya dia menyinggung kamu katanya titip salam, dia baru tahu kalo kita dinas di satuan yang sama " jawab Al.
__ADS_1
" Hmm.. Iya Bang wa'alaikumusalam " Dika tersenyum kecil.
" Ternyata dunia sempit ya Bang.. " ucap Aldo yang menyimak obrolan Dika dan Al.
" Ya begitulah Do " balas Dika.
Disaat yang bersamaan terdengar OB kantor datang dengan bungkusan ditangannya.
" Permisi Pak.. ini tadi ada yang kirim ini untuk Pak Al " ucap OB.
" Oh oke.. bawa sini.. makasih ya " balas Al.
" Sama-sama Pak.. saya permisi " ucap OB lagi.
" Hmm.. sebentar-sebentar, nih buat makan siang juga, pasti belum makan siang kan ? " Al mengeluarkan satu lembar uang berwarna biru.
" Oh ya.. terima kasih banyak Pak.. " ucap OB berlalu dari ruangan Al.
" Ya sama-sama " balas Al.
Al membawa bungkusan plastik berisi nasi padang lalu ia menyimpannya di meja.
" Siap Bang.. "
Mereka mengambil bungkusannya masing-masing, mereka menikmati makan siangnya berempat karena kebetulan mereka bekerja di satu unit yang sama dan mereka berempat yang kebetulan piket hari ini.
Tidak lama terdengar kembali ketukan dari balik pintu.
" Masuk.. " ucap Dika.
Pintu ruangan terbuka. Berdiri junior mereka berdua yang sedang berjaga di penjagaan.
" Ehh.. ayo makan siang " ucap Al
" Oh iya Bang, silakan ijin Bang, apa ada Bang Kevin ? " tanyanya.
__ADS_1
" Hadir .. ada apa ? " tanya Kevin yang masih sibuk mengunyah makanan.
" Bang Maaf ada yang mencari, tadi namanya Meylina kalo tidak salah "
" Meylina .. ?? ya sebentar " Kevin langsung beranjak dari duduknya ia langsung ke luar ruangan dengan juniornya tadi yang memberitahu.
" Vin, belum selesai makan nih ? maen tinggalin aja " ucap Alfarezy sedikit berteriak.
" Biasa Bang urusan cewe sih langsung cepet dia " balas Dika.
" Yahh... makan aja sampe lupa.. " ucap Aldo disusul tawa dari ketiganya.
Mereka bertiga kembali melanjutkan makan siangnya, tanpa Kevin disana yang sedang menemui seorang wanita yang mencarinya.
...****************...
Dilain tempat Binar sedang berada di rumahnya, kaki kiri nya yang terkilir sudah berangsur pulih, ia sedang duduk di ruang tengah menonton televisi, kedua orangtuanya kembali keluar rumah karena pekerjaan.
Ia baru teringat jika ia belum memberikan kabar kepada Bian. Ia langsung mengambil ponselnya lalu mencari nama Bian di kontak ponselnya.
" Ya Ampun aku kok sampe lupa ya, maafin aku Mas Bian, pasti dia udah nungguin chat aku dari semalam " gumam Binar.
Setelah menemukan nomor ponsel Bian, Binar langsung mengetikkan pesan untuk dikirim ke Bian. Namun saat tinggal memencet tombol kirim, ia mengurungkan. Teringat wajah orangtuanya tadi malam, bagaimana sikap Ibunya kepada Bian semalam.
" Duh.. Mas Bian gimana ya, dia kecewa gak ya sama aku gara-gara sikap ibu semalam, ckk.. bingung.. bingung.. bingung... kirim jangan.. kirim jangan " batin Binar berkecamuk.
Ia masih terus mengetik lalu kembali menghapus pesan, begitu terus hingga akhirnya ia memantapkan hati untuk mengirim pesan itu.
" Aku kirim aja deh, kalo misal Mas Bian gak balas pesan aku berarti ya emang dia kecewa sama aku dan Ibu kalo ternyata dia balas pesan aku.. Ya... Alhamdulillah " batin Binar lagi.
Akhirnya pesan dikirim kepada Bian, namun hanya tanda ceklis satu berwarna abu-abu pertanda sang pesan masih nyangkut diatas tower hehehe.
Binar sesekali melihat pesan yang ia kirim ke Bian, masih dengan tanda yang sama belum berubah.
" Mungkin Mas Bian sedang sibuk atau sedang di daerah yang tidak ada sinyal " gumam Binar menetralkan suasana hatinya.
__ADS_1
Ia kembali menonton televisi, ia hanya mengganti-ganti chanel tv tidak dapat dipungkiri ada perasaan tidak karuan dalam hati Binar, banyak pertanyaan dalam hati Binar tentang Bian, apalagi sampai saat ini pesan yang ia kirim belum sampai pada Bian.
" Masa iya Mas Bian ngasal nyebutin nomor ponsel sih ? Masa iya gak aktif juga " gumam Binar menyimpan kembali ponselnya diatas meja sebelah sofa yang ia duduki.