
" Tolong .. Tolong " Neta terus meminta tolong sambil menahan agar ia tidak dipaksa masuk kedalam mobil.
Disaat yamg bersamaan satu buah mobil menghampiri Neta yang sedang dipaksa Masuk kedalam mobil.
Dika.. ya itu Dika, ia melihat wanita berjilbab yang tidak asing baginya.
" Astagfirullah.. Neta " Dika langsung memarkirkan mobilnya segera turun dari mobil lalu berlari menghampiri Neta istrinya.
" Lepaskan ! " Dika langsung menarik tangan pria itu agar melepaskan tangannya dari genggaman istrinya.
Neta langsung menoleh ternyata benar Dika suaminya.
" Mas Dika ! " Neta sedikit berlari lalu memeluk Dika dari belakang.
" Siapa kamu ? jangan ikut campur dia pacar saya " ucap Pria itu.
" Jangan kurang ajar ya kamu ! " Neta sedikit berteriak setelah mendengar pria itu berbicara kepada suaminya.
" Diem ! " Dika menoleh ke arah Neta sedikit membentaknya membuat Neta terdiam.
" Dia istri saya dan perlu kamu tahu saya seorang polisi, saya bisa memenjarakan kamu atas tindakan yang baru saja kamu lakukan kepada istri saya " ucap Dika berapi-api.
" Eu..euh.. sa .. saya tidak tahu.. ma..maaf " Pria itu langsung berlalu meninggalkan Neta dan Dika.
Hanya tinggal Dika dan Neta di tempat itu, Neta masih saja memeluk suaminya dari belakang dan kali ini ia menangis. Ia menangis karena kaget, Dika sedikit membentaknya dan juga ia merasa takut karena kejadian itu membuat Dika menjadi marah kepadanya, karena tidak menuruti jika ia diminta tetap menunggu di restoran.
Dika membalikkan badannya melihat Neta sudah penuh dengan air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
" Sayang... " Dika menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya.
" Mas... " Neta terus terisak memeluk suaminya.
Dika pun menjadi tidak tega, ia membawa Neta masuk kedalam mobil, walaupun sebetulnya Dika pun merasa kesal kepada Neta, kenapa tidak menuruti ucapannya.
Neta sudah duduk di kursi penumpang, disusul oleh Dika masuk lalu duduk di kursi kemudi. Ia masih terus menangis, tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika Dika tidak buru-buru datang.
Dika belum melajukan mobilnya, ia masih terdiam di dalam mobil, sesekali ia melihat istrinya yang masih terisak, hati Dika sangat kesal namun ia pun tidak tega melihat Neta.
" Mas .. " Neta memulai pembicaraan sambil terisak.
" Ini akibat nya kamu kalau tidak menuruti apa kataku, apa salah nya sih kamu tunggu disana, aku tadi lewat sana masih banyak karyawan restorannya walaupun sudah tidak ada pengunjung, kenapa kamu nekat buat pergi dari restoran di saat cuaca sedang gerimis dan sudah gelap seperti ini, ini pelajaran ya buat kamu, jangan selalu menganggap bahwa kamu akan baik-baik saja, akan aman saja, kita gak tahu orang yang disangka baik menawarkan pertolongan padahal ia berniat jahat atau tidak baik " ucap Dika menasehati istrinya.
" Maafin aku Mas.. " balas Neta sambil menyeka air mata nya.
" Mas jangan marahin aku terus, aku juga gak tahu bakal kejadian kaya tadi, maafin aku gak nurut apa kata kamu, kamu jangan marah-marahin aku, kamu itu kalo marah nyeremin tau " Neta masih terus terisak.
" Iya itu karena kamu gak nurut sama aku, apa salahnya kamu ikutin apa kata suami kamu " balas Dika.
Neta semakin menumpahkan air matanya, ia pun sadar ia salah, wajar jika Dika marah, itu karena Dika khawatir kepadanya.
Dika melihat Neta semakin menangis, ia langsung mendekap erat istrinya.
" Udah, maafin aku kalo aku terlalu keras berbicara ke kamu, itu karena aku khawatir, aku gak mau ada hal yang tidak diinginkan terjadi ke kamu.. udah ya maafin aku juga, pokoknya jangan sekali-kali lagi kamu jalan sendiri kaya tadi apalagi langit udah gelap, gerimis juga " ucap Dika.
Neta masih terus menangis, ia sadar akan kesalahannya, ia membalas erat pelukan suaminya. Dika membiarkan istri nya sampai tenang, setelah dirasa tenang Dika perlahan melepaskan dekapannya. Ia memegang kedua wajah Neta lalu menyeka air mata yang masih membasahi kedua pipi istrinya.
__ADS_1
" Udah ya nangis nya, kita pulang ya.. kasian si kembar di rumah " ucap Dika.
Neta hanya mengangguk. Dika menyalakan mesin mobil, mobil melaju pulang menuju rumah.
Hening dalam perjalanan, Neta masih teringat kejadian tadi, jika ia tidak berontak sekuat tenaga entah apa yang akan terjadi, Dika pun tidak banyak bicara, jujur ia pun kaget dengan kejadian yang menimpa istrinya tadi, tidak pernah terlintas dipikiran Dika.
" Mas .. " Neta memecah keheningan.
" Hmm.. " Dika menoleh ke arah istrinya.
" Tolong kejadian tadi Ibu gak perlu tahu ya Mas, nanti aku pasti di marahin lagi sama Ibu karena aku gak nurut sama kamu " ucap Neta.
Dika sedikit ingin tertawa mendengar ucapan istrinya, ia hanya mengangguk tersenyum.
" Yang kamu tau gak, kamu itu udah nikah, udah punya anak juga, tapi penampilan kamu itu kaya anak kemaren sore tau, ya wajar kalo ada yang godain kamu kaya tadi " ucap Dika.
" Masa sih Mas ? aku juga pake baju gak aneh aneh kan ? " balas Neta.
" Ya nggak .. " balas Dika.
" Jadi aku harus gimana Mas ? " tanya Neta.
" Ya... gak gimana-gimana juga " jawab Dika bingung sendiri.
" Hmm.. " Neta kembali menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi penumpang menikmati perjalanan malam nya bersama Dika.
Semoga kejadian yang tidak mengenakkan tidak terulang lagi ya Neta, hikmahnya apa salahnya kamu menuruti apa kata suami kamu, karena Dika pun sudah memperhitungkan ia akan sampai lokasi menjemput kamu. Gara-gara pohon tumbang yang tidak dapat di prediksi hampir saja kejadian tidak diinginkan menimpa kamu Neta..
__ADS_1