
Hari berganti waktu berlalu, semakin hari Neta merasa semakin kepayahan apalagi si kembar masih terus begadang, pola tidur si kembar belum normal mereka masih tidur lama disiang hari dan bangun di malam hari. Hari ini tepat 1 bukan usia si kembar.
Neta sudah pernah mengkonsultasikan hal ini kepada Dokter Intan, selaku dokter anak yang menangani si kembar saat lahir, dokter Intan mengatakan jika hal ini wajar terjadi karena bayi baru lahir 1-3 bulan pola tidurnya belum teratur, walaupun sebetulnya mereka bisa menghabiskan waktu tidur sekitar 14-16 jam per hari.
Asi Neta pun yang dirasa menjadi berkurang padahal apapun makanan pemicu produksi Asi sudah Neta konsumsi, baik makanan alami maupun suplemen.
" Kenapa ya.. Asi ku kok seret sih.. kasian si kembar walaupun memang terlihat cukup, tapi perjalanan si kembar masih panjang " batin Neta.
Ia bertekad untuk memberikan asi eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun, tapi baru satu bulan saja, Neta sudah dibuat stress karena Asi nya serasa berkurang.
Neta mencoba menghubungi Ibunya, untuk menanyakan perihal yang ia rasakan.
Neta : " Halo Bu "
Ibu : " Iya sayang.. bagaimana kamu Nak ? anak-anak gimana ? maaf Ibu belum sempat ketempatmu lagi "
Neta : " Iya Bu tidak apa-apa, Alhamdulillah baik dan sehat-sehat, oya Bu aku mau nanya dong "
Ibu : " Gimana ? apa yang mau kamu tanyakan ? "
Neta : " Hmm.. Bu kok Asi ku seret ya, apa dulu ibu mengalaminya ? aku jadi kepikiran loh Bu "
Ibu : " Sayang.. mungkin teknik menyusui nya yang kurang tepat, ibu memaklumi karena kamu baru memiliki bayi kan ? Jangan stress karena ini ya justru bisa memperburuk keadaan, jika kamu selalu berpikiran negatif justru akan mempengaruhi produksi Asi mu, yakin kamu bisa dan Asi mu cukup untuk si kembar "
Neta : " Hmm.. begitu ya Bu ? Iya sih aku jadi stress hanya gara-gara ini Bu "
Ibu : " Tetap berpikir positif sayang.. banyak makan dan minum "
Neta : " Baik Bu kalau begitu, terima kasih ya "
__ADS_1
Neta mengakhiri sambungan teleponnya dengan Ibu. Setelah menghubungi Ibu ia kembali melihat kedua anaknya yang sedang terlelap tidur.
" Sayang.. Maafin Mama ya.. Mama terkadang merasa pesimis untuk mengurus kalian, padahal Mama sangat menunggu kehadiran kalian " Neta sedikit berkaca-kaca entah mengapa hatinya terasa tidak karuan.
Disaat yang bersamaan pintu kamar Neta diketuk, Mbok Sum masuk dengan segelas jus mangga dan kue.
" Mbak.. Mbok Sum bikin jus mangga, diminum ya.. Mbak kan sedang menyusui pasti akan haus terus " ucap Mbok Sum.
" Hmm.. terima kasih ya Mbok " Neta tersenyum sekilas.
Neta meraih gelas berisi jus itu, lalu piring yang berisi kue ia simpan diatas meja.
" Mbok kembali ke dapur ya Mbak.. kalau si kembar sedang tidur, Mbak Neta ikut tidur aja, istirahat Mbak karena biasanya nanti malam si kembar masih suka begadang kan ? " ucap Mbok Sum kepada Neta.
" Hmm.. iya Mbok "
Mbok Sum mengerti apa yang dirasakan oleh Neta sekarang, maka dari itu Mbok Sum selalu mengajak komunikasi majikannya, selalu memantau jika majikannya sedang sendiri, selalu membantu jika kebetulan pekerjaan nya di dapur selesai.
...****************...
Dika kembali pulang larut, Malam ini si kembar terlelap tidur tidak biasanya, membuat Neta sedikit tenang ia sesekali melihat si kembar di box bayinya. Setelah membetulkan posisi Nala yang sedikit tengkurap ia kembali berjalan menuju kasur, Neta duduk di pinggiran kasur melihat jam sudah menunjukkan pukul 22.30 malam.
" Mas Dika kembali pulang larut " batin Neta.
Ia mengambil ponselnya, melihat layar ponsel khawatir ada pesan masuk dari suaminya, karena terakhir Dika menghubunginya tadi siang. Namun tidak ada pesan dari Dika yang ada hanya beberapa pesan dari grup kantor dan beberapa grup lainnya.
Neta kembali menyimpan ponselnya diatas nakas, Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, mencoba untuk memejamkan matanya namun tidak bisa, lagi-lagi ia kembali terjaga.
Neta duduk menyender ke senderan kasur, kembali melihat jam dinding yang terpajang di kamarnya. Ia merasa Dika akhir-akhir ini sangat sibuk, selalu memikirkan pekerjaan nya, pulang larut, padahal ia sangat membutuhkan suaminya saat ini. Tidak lama terdengar pintu kamar terbuka. Dika berjalan masuk kamar.
__ADS_1
Neta hanya menoleh sekilas, membuat Dika sedikit heran padahal Neta masih terjaga. Biasanya Neta langsung menyambutnya, memeluk dan langsung membicarakan keluh kesahnya di rumah, namun tidak untuk malam ini.
" Sayang kamu gak tidur ? anak-anak tidur ? " tanya Dika menghampiri istrinya.
" Iya Mas.. " jawab Neta singkat.
" Hmm.. " Dika hanya tersenyum menyimpan ponsel dan kunci mobil diatas nakas mendekati Neta, menyodorkan tangan.
Neta meraih tangan Dika lalu diciumnya.
" Aku bersih-bersih dulu ya " Dika berjalan sambil melihat sekilas kedua anaknya di box bayi.
Neta hanya mengangguk memperhatikan Dika berlalu menuju kamar mandi.
Neta masih terdiam duduk di pinggiran kasur. Terdengar suara gemericik air, terkadang ia merasa kasihan kepada suaminya, berangkat pagi pulang malam karena pekerjaan, namun entah mengapa hati dan pikiran Neta sedang tidak sejalan.
Tidak lama terdengar suara dering ponsel Dika, membuat Neta sedikit terperanjat, mungkin tadi ia sedikit melamun, Neta berjalan mendekati ponsel, terlihat di layar ponsel hanya nomor id pemanggil saja tanpa ada nama, Neta ragu untuk mengangkat sesekali ia melihat ke arah pintu kamar mandi, namun terus saja ponsel Dika berdering hingga akhirnya Neta memberanikan diri untuk menggeser tombol hijau.
" Halo.. " ucap Neta pelan.
" Halo.. Pak Dika " ucap seorang wanita diujung telepon sana.
Neta terdiam, seorang wanita menghubungi suaminya malam-malam. Hati Neta semakin berkecamuk tidak lama Dika keluar kamar mandi, melihat Neta sedang memegang ponselnya.
" Kenapa Yang ? " tanya Dika menghampiri Neta.
Tanpa berkata Neta menyerahkan ponselnya. Dika mengernyitkan dahi melihat id pemanggil di layar ponsel, ia sedikit menjauh dari istrinya lalu berbicara dengan seseorang di telepon.
Sesekali Dika melihat ke arah istrinya, Neta masih terus memperhatikan suaminya, hatinya terasa panas, banyak pertanyaan dalam pikiran Neta.
__ADS_1
" Siapa wanita itu ? beraninya menghubungi suamiku tengah malam seperti ini.. ada apa dengan suamiku ? apa ini penyebab ia selalu pulang larut ? apa jangan-jangan.. " batin Neta berkecamuk.