
Setelah pertemuannya dengan Binar, Bian lebih banyak memikirkan apa langkah yang ia ambil sudah tepat. Tapi ia pun tidak ingin di cap sebagai laki-laki pecundang yang kalah sebelum berperang.
" Ya.. mungkin aku harus memberanikan diri berbicara kepada kedua orangtua Binar " batin Bian.
Ia sesekali melihat ke arah laptop di hadapannya, beberapa laporan bulan ini belum ia selesaikan padahal komandannya sudah menunggu.
Saat Bian masih menerawang jauh dengan pikiran-pikiran nya Dika menghampiri dirinya, sebetulnya Dika hanya lewat saja keruangan nya yang pintu nya terbuka sedikit, namun saat ia melihat Bian, Bian sedang dengan laptopnya tapi tidak fokus ada laptop dihadapannya, Bian malah fokus pada objek lain yang membuat Dika mengharuskan untuk menemuinya.
" Ehem.. " Dika berdehem duduk di kursi depan Bian.
" Eh Mas.. " Bian terkerjap, ia tidak sadar akan kehadiran Kakak Iparnya.
" Ngelamun ? kenapa ? ada masalah ? " Dika langsung menodong.
" Oh.. nggak Kok Mas.. ini aku lagi mikirin beberapa minggu kemarin ada giat apa aja, mau aku masukkan kedalam laporan " Bian berdalih.
" Hmmm... " Dika manggut-manggut tapi ia tidak sepenuhnya percaya, pasti ada yang lain yang sedang Bian pikirkan.
Dika masih duduk di depan Bian, ia pura-pura sibuk dengan ponselnya, namun ia sesekali melirik ke arah adik Iparnya.
"Ian.. apa yang kamu pikirkan ? " Dika tetap pada pertanyaannya.
Seperti nya percuma saja berbohong kepada Dika, karena Dika terus menyelidik.
Bian menghela nafas panjang.
"Jangan kamu begini karena perempuan Ian ? " Dika kembali menyelidik.
Tuhaann.. punya kakak ipar gini banget.. gak pernah muda apa ? batin Bian.
" Siap betul Mas " balas Bian.
Dika tetap santai belum ngeh dengan jawab Bian. Lalu.. Dika mendekatkan tubuhnya ke arah Bian.
" Gimana.. gimana maksudnya gimana ? siapa nih Binar ? " tanya Dika.
" Hmm.. " Bian mengangguk.
" Memang nya Binar kenapa ? " tanya Dika semakin Kepo.
" Mas rencananya sabtu besok saya mau datang untuk menemui orangtua Binar " ucap Bian.
" Ide bagus.. memang kalo kamu merasa serius dengan Binar lebih baik temui kedua orangtuanya " balas Dika.
__ADS_1
Bian kembali terdiam.
" Kenapa ? " tanya Dika melihat Bian kembali dengan wajahnya semula.
Bian pun berpikir, sepertinya ia harus menceritakan perihal yang ia hadapi dengan Binar sekarang.
" Mas.. hmm.. Binar ternyata sudah dijodohkan oleh kedua orangtuanya " ucap Bian.
" Hah.. dijodohkan ? " Dika ikut berpikir.
" Lalu hubungan kamu ? " sambung Dika.
" Tadinya aku mau mundur Mas " ucap Bian.
Dika mebelelak.
" Kok mundur Ian ? Jangan kalah sebel berperang, sebelum janur kuning melengkung masih banyak kemungkinan terjadi, perjuangan kan kalo memang kamu rasa Binar pantas diperjuangkan " ucap Dika.
Bian terdiam.
" Seperti Mbak Mu.. dia pantas untuk diperjuangkan, makanya saya berjuang pada saat itu " sambung Dika.
Bian pun menjadi teringat perjuangan Kakak Ipar nya ini, saat Ayah merasa kecewa dan membatalkan lamaran Mas Dika, namun Mas Dika tidak patah semangat ia memperjuangkan Mbak Neta sampai bisa diterima oleh Ayah. Begitu cerita Ibu pada Bian, karena pada saat itu Bian sedang menjalani pendidikan kepolisian sehingga ia tidak tahu kegaduhan yang terjadi di rumahnya.
" Gimana apa nya Mas ? " jawab Bian balik bertanya.
" Ya usaha kamu buat Binar " susul Dika.
" Hmm.. ya.. aku akan memperjuangkan Binar dengan mendatangi kedua orangtuanya " ucap Bian.
" Perlu ditemenin gak nih ? " Dika menawarkan.
Bian tersenyum kecil.
" Tidak usah Mas.. saya mampu kok sendiri " ucap Bian.
" Nah gitu dong.. semangat... Mas hanya bisa mendoakan semoga Binar memang jodohmu ya.. mau sejauh apa kalian berpisah kalo sudah takdir berjodoh akan menemukan jalannya sendiri " balas Dika.
" Terima kasih Mas " Bian mencerna ucapan kakak iparnya.
" Oke.. kalo gitu, gak usah galau-galau dan banyak melamun.. tenang aja.. Mas ke sebelah dulu " Dika beranjak dari duduknya lalu menepuk pundak adik iparnya.
...****************...
__ADS_1
Rumah Binar.
Binar , Ibu dan Ayahnya sedang duduk di ruang televisi. Binar terus diajak ngobrol oleh Ibunya tentang Dito. Binar sedikit malas mendengar kata Dito, belum lagi Ibunya selalu membanggakan Dito.
" Bin.. gimana Dito ? Oke kan ? pasti dong, Ibu yakin kamu jg pasti tidak akan menolak kan ?? " ucap Ibu.
" Hmm.. Bu Binar gak mau di jodohin " balas Binar.
" Binar.. kamu mau cari yang kaya gimana lagi sih ? Dito sudah lulus sarjana bisnis di luar negeri sekarang ia sedang mengambil kuliah s2 di luar negeri juga, kalo kamu nikah sama Dito, kemnungkinan besar nanti kamu tinggal di luar negeri,emang nya kamu gak mau tinggal di luar negeri ? " Tanya Ibu menekankan.
" Ya mau Bu, tapi bukan sama Dito " jawab Binar sekenanya.
" Ckk.. kamu ! " Ibu berdecak.
" Bu, Yah, Binar ke kamar dulu ya " ucap Binar.
" Bin ... ibu belum selesai bicara " ucap Ibu agak meninggi.
" Bu.. Bu... sudah.. jangan jadi malah berdebat dengan Binar " ucap Ayah menengahi.
Ibu akhirnya terdiam, menuruti apa kata suaminya.
Didalam kamar Binar sedang melakukan sambungan video call dengan teman-teman kampusnya.
Sasa : " Bin balik ke asrama kapan ? "
Binar : " Hmm.. minggu sore deh "
Ifa : " Jangan minggu sore dong, kita kan mau nongki dulu minggu pagi atau siang nya "
Sasa : " Sabtu sore deh Bin kamu sampe asrama "
Binar teringat janji Bian ia akan menemui kedua orangtuanya pada hari sabtu besok.
Binar : " gue gak bisa kalo sabtu, diusahain minggu siang gue udah di asrama "
Ifa : " Beneran ya "
Binar : " Oke "
Setelah melakukan panggilan video dengan teman-temannya, Binar teringat kembali ucapan Bian.
Mas Bian.. beneran ya besok aku tunggu kamu di rumah ketemu Ibu dan Ayah batin Binar.
__ADS_1