
Sesampainya di rumah Neta langsung menghubungi temannya yang bekerja di rumah sakit, sebagai seorang Psikolog Klinis, ia bersedia datang ke rumah Neta setelah ia selesai praktek di rumah sakit nanti.
Neta meminta Kiki untuk beristirahat terlebih dahulu, Si Kembar pun mungkin karena merasa lelah mereka tertidur selama perjalanan pulang hingga sekarang. Neta yang dibantu oleh Dika menidurkan Nala dan Nathan di kamar.
Kiki ia istirahat di kamar nya tidak di kamar Si Kembar, Neta pun khawatir dengan keadaan Kiki jika ia satu kamar dengan Si Kembar.
" Yang.. aku ke kantor ya, kamu hati-hati di rumah " ucap Dika.
" Iya Mas .. kamu juga hati-hati ya " balas Neta.
" Hmm.. " Dika mengecup kening Neta sekilas.
" Oya, teman kuliahmu yang Psikolog itu jadi kesini ? " tanya Dika seraya berjalan keluar kamar Si Kembar.
" Hmm.. jadi Mas.. " Neta mengekori suaminya keluar kamar.
" Oke "
Disaat yang bersamaan terdengar suara ponsel Dika berbunyi. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Lalu melihat id pemanggil pada layar ponselnya.
" Siapa Mas ? " tanya Neta.
" Bian " jawab Dika.
" Angkat " ucap Neta.
Dika hanya mengangguk. Lalu ia berbicara dengan adik iparnya melalui sambungan telepon, Neta tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, pastinya membicarakan seseorang tadi yang berniat tidak baik kepada Kiki.
Neta masih memperhatikan suaminya. Tidak lama Dika memutuskan sambungan teleponnya.
" Yang.. Mas berangkat ya.. " ucap Dika.
" Hmm.. iya Mas hati-hati " balas Neta.
" Oya kamu kembali aja ke kamar Si Kembar, gak perlu anter aku, khawatir kalo mereka kenapa-kenapa " susul Dika.
" Iya Mas.. " Neta tersenyum sekilas.
__ADS_1
Dika berjalan menuruni anak tangga, meninggalkan Neta yang masih berdiri di depan kamar Si Kembar, Neta memperhatikan punggung suaminya sampai tidak terlihat lagi dari pandangan nya.
Neta membalikkan badannya kembali masuk kedalam kamar Si Kembar, ia masih tidak habis pikir dengan kejadian yang menimpa Kiki, ia pun merasa khawatir dengan keadaan Kiki sekarang.
" Aku khawatir banget sama Psikologis Kiki sekarang, dia pasti trauma banget " gumam Neta.
Saat Neta melihat kembali kedua anak nya yang sedang tertidur pulas, terdengar pintu kamar diketuk.
Neta berjalan perlahan agar tidak menganggu Si kembar yang sedang tertidur, lalu membuka pintu kamar. Terlihat Mbok Sum dengan wajah khawatir sudah berdiri di depan kamar.
" Mbok.. ada apa ? " tanya Neta.
" Mbak, Kiki... Kiki teriak-teriak histeris " jawab Mbok Sum.
" Ya Tuhan... Mbok tolong Mbok disini jaga Si Kembar, saya ke kamar Kiki ya " ucap Neta seraya berjalan setengah berlari keluar kamar menuruni anak tangga menuju kamar Kiki.
Mbok Sum sudah tahu perihal kejadian yang menimpa Kiki, ia pun merasa khawatir akan keadaan Kiki.
Samar terdengar suara teriakan, semakin lama semakin jelas, saat Neta sudah berada di depan kamar Kiki, Neta membuka kamar Kiki sudah sangat acak-acakan.
" Ya Allah.. Ki... " Neta mengahampiri Kiki lalu memeluknya.
" Ki, kamu jangan kaya gini " ucap Neta.
" Bu Kiki tidak tau nasib Kiki kalo Ibu dan Pak Dika tidak cepat-cepat menemukan Kiki Bu, mungkin sekarang Kiki sudah kehilangan kehormatan Kiki, atau mungkin Kiki sudah ditemukan tidak bernyawa Bu " ucap Kiki terisak.
" Suutttt.. kamu jangan bicara seperti itu Ki, kamu tenang ya.. kamu tenang .. " ucap Neta menenangkan.
" Laki-laki kurang ajar !!! " ucap Kiki berapi-api.
Kiki terlihat meluapkan emosi nya, Neta membiarkan agar Kiki merasa puas. Disaat yang bersamaan ponsel Neta yang ia simpan di saku celananya berdering, ia segera mengambil ponsel itu lalu melihat id pemanggil ternyata temannya.
" Halo Din " ucap Neta.
" Halo, Net aku udah sampe depan rumahmu, rumah cat putih pagar hitam kan ? nomor nya euuhh F2 " ucap teman kuliah Neta bernama Dina.
" Iya betul Din, kamu masuk aja, ke arah samping ya, pintu samping gak aku kunci kok, kamu masuk aja, aku ada di belakang pojok kanan, dikamar pengasuh anak ku " balas Neta.
__ADS_1
" Gak apa-apa nih aku masuk ? " tanya Dina
" Gak apa-apa masuk aja, aku khawatir ninggalin Kiki, Din "
" Oke.. permisi aku masuk ya " ucap Dina.
Klik telepon ditutup.
Dina pun masuk ke dalam rumah sesuai perintah Neta, tidak lama terdengar suara langkah kaki dari luar kamar.
" Net.. Neta ? Assalamu'alaikum " ucap Dina saat berada tak jauh dari kamar Kiki.
Neta yang sudah melihat Dina tidak jauh dari kamar Kiki lalu memanggil nya.
" Din.. Dina.. sini " Neta melambaikan tangannya.
Dina pun menghampiri Neta yang sedang berada di kamar Kiki. Neta menyambut nya.
" Apa kabar gengs ? " ucap Dina karena itu sapaan biasa mereka dari semenjak kuliah dulu.
" Alhamdulillah kabar baik gengs.. bantu pengasuh anakku ya Din " ucap Neta.
" Oke.. aku ajak ngobrol dulu ya, kamu mau disini atau ... " susul Dina.
" Aku keluar aja ya ? " balas Neta.
" Tapi.. aku rasa kamu disini aja " ucap Dina.
" Hmm oke .. "
Dina berjalan menghampiri Kiki, ia melihat Kiki diam seperti melamun, Dina mulai menyapa Kiki, dari sorot matanya Dina mengetahui jika ada ketakutan dalam diri Kiki.
" Ini kejadiannya kapan ? " tanya Dina kepada Neta.
" Siang tadi Din " jawab Neta.
Dina hanya mengangguk lalu kembali fokus ke Kiki. Dina kembali mengajak ngobrol Kiki, Neta pun memperhatikan apa yang ditanyakan oleh Dina dan apa jawaban yang diberikan oleh Kiki.
__ADS_1
Sedikit membuat Neta terhenyak kaget dengan apa yang diucapkan oleh Kiki.
" Ya Allah.. Ki... jadi selama ini ... " batin Neta.