Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 51


__ADS_3

Kapal Pinisi yang dinaiki Neta dan Dika mulai berlayar, Neta dan Dika menikmati perjalanan nya sambil melihat keindahan pulau-pulau yang terhampar luas yang mereka lalui. Mereka akan menuju beberapa pulau di Labuan Bajo.


Neta duduk sambil menikmati minuman dan makanan yang sudah disediakan, angin semilir membuat Neta terasa sangat rileks berada di kapal Pinisi.


Dika yang memperhatikan Neta, merasa sangat bahagia karena ia bisa mengabulkan keinginan Neta, walaupun Neta sendiri tidak meminta itu kepada Dika.


" Ka.. fotoin aku dong disini, eh.. " Neta lupa ia kembali menyebut nama kepada suaminya.


" Hmm.. " Dika berjalan mengambil kamera pocket nya untuk memfoto Neta.


" Mas..sebelah sini, biar keliatan pulau pink yang ada di depan " Neta mengarahkan Dika.


" Iyaa " Dika menuruti saja apa yang diarahkan oleh istrinya.


Dika membidik beberapa foto Neta.


" Mas gantian " Neta mengambil kamera dari tangan Dika.


" Nggak deh, aku gak biasa foto sendiri " Dika terlihat canggung.


" Sini aku arahin " Neta mengarahkan suaminya.


Jepret..


Jepret..


Jepret..


" kita belum ada foto berdua loh " ucap Neta bersemangat.


" Aku cari kru kapal dulu ya, kalo gak salah tadi ada yang ikut deh 2 orang " Ucap Dika.


Neta hanya mengangguk.


Tidak lama Dika kembali dengan salah satu kru kapal.


" Foto disini Pak ? " tanya kru itu.


" Iya.. spot yang bagus aja dimana " balas Dika.


Kru mengarahkan, beberapa jepretan foto dan Dika terlihat sangat bagus, karena pemandangan yang begitu indah juga.


" Masih ada yang bisa saya bantu Pak ? " tanya kru.


" Tidak, terima kasih banyak "


" Terima kasih "


Kru kembali ke tempatnya, Neta dan Dika duduk kembali lalu melihat beberapa foto hasil jepretan nya.

__ADS_1


Kapal terlihat menepi, kru kapal menghampiri Neta dan Dika.


" Pak, Bu, sekarang kita berada di pulau pink, silakan bagi Bapak dan Ibu jika ingin menikmati terlebih dahulu keindahan di pulau ini atau ingin bersua foto "


" Oh ya.. baik "


Neta dan Dika turun dari kapal Pinisi, Neta berlari-lari seperti anak kecil. Dika hanya bisa menggeleng kan kepalanya.


" Mas.. sini.. kita disini dulu ya " Neta duduk di tempat yang agak teduh ia melihat hamparan pulau berwarna pink, pantas saja pulau ini disebut dengan pulau pink.


Dika menuruti saja apa yang diinginkan oleh Neta.


Setelah puas bermain-main di Pulau Pink. Neta dan Dika kembali ke kapal Pinisi untuk melanjutkan perjalan karena masih banyak kegiatan di beberapa pulau yang akan Dika dan Neta jalani.


Waktu sore menjelang, terlihat langit sudah mengganti warnanya dengan warna jingga. Neta meminta Dika untuk mengajaknya ke Dek kapal paling atas, karena di Dek paling atas pemandangan akan lebih indah.


Di Dek kapal paling atas telah disediakan kursi santai, jadi Neta dan Dika bisa duduk santai sambil menikmati keindahan langit saat matahari terbenam.


...****************...


Setelah melaksanakan shalat maghrib Dika dan Neta menuju tempat makan yang sudah di dekor dengan sangat romantis untuk makan malam mereka berdua. Para kru kapal mempersiapkan itu semua untuk Neta dan Dika. Begitupun untuk makan malam yang disiapkan oleh Chef khusus dengan menu Nusantara sesuai permintaan Dika.


Karena Dika sebetulnya lebih menyukai makanan nusantara.


" Mas.. ini semua disiapin untuk kita ? " tanya Neta.


" Iya.. ada siapa lagi di kapal Pinisi ini hanya ada kita berdua, kru kapal dan Chef yang memasak untuk kita " jawab Dika.


Dika menghampiri istrinya, berdiri tepat di belakang istrinya. Neta tersadar saat Dika memegang tanya.


" Mas.. kalo kaya gini kaya di film-film ya.. " Neta tertawa


" Hmm.. " Dika pun ikut tertawa.


" Ayo makan dulu " Dika mengajak istrinya.


" Oke Mas.. "


Dika memegangi Neta, lalu berjalan ke arah meja yang sudah dihidangkan beberapa makanan disana.


Neta dan Dika mulai menikmati makan malam nya. Kali ini Neta dan Dika banyak bercengkrama, mereka saling terbuka mengenai perasaan masing-masing.


" Jadi.. yang naksir duluan aku atau kamu nih ? " tanya Dika


" Hmm.. siapa yaa ? " Neta menggoda Dika.


" Aku dulu deh " susul Dika.


" Hmm boleh deh kamu dulu aja " balas Neta disusul dengan tawa dari keduanya.

__ADS_1


" Kamu kok ngilang sih setelah kita lulus sekolah ? " tanya Neta.


" Aku kan sebenernya waktu acara kelulusan, mau ngomong serius ke kamu, tapi ya.. aku masih gak yakin kalo kamu mau nunggu aku setelah aku lulus jadi polisi, makanya aku gak jadi ngomong, ya aku pasrah aja sih kalo memang kita berjodoh aku yakin kita bakal ketemu lagi, mau sejauh apapun jarak kita " Dika sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.


" Hmm.. " Neta manggut-manggut.


" Kenapa ? " tanya Dika.


" Kamu nya nyebelin sih " jawab Neta.


" Hahahhaha " Dika tertawa.


" Kamu kan udah tahu alasan nya kenapa aku kaya gitu, padahal aslinya aku gak nyebelin kan, tapi.. "


" Tapi apa ? " Neta mengehentikan makan nya.


" Tapi.. ngangenin " Dika tersenyum.


" Dih.. geer banget " Neta kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.


Dika tertawa kecil.


" Aku bersyukur, Tuhan menjawab doa-doa ku, aku berharap banget kamu cinta pertama dan terakhir nya aku " Dika tersenyum lalu menggenggam tangan istrinya.


Neta menatap Dika, terlihat ada genangan air di ujung manik indah Neta, Dika menyadari itu.


Ia langsung berpindah posisi duduk tepat di samping Neta.


" Kamu kenapa ? aku salah ngomong ya ? " Dika menyeka bulir bening yang jatuh ke pipi Neta.


" Aku sedih aja, ternyata kamu .. maafin aku ya, aku gak peka sama kamu "


" Udah, tadi katanya mau diceritain, aku ceritain kamu malah jadi nangis gini, gak asik ah.. jangan nangis dong aku suka merasa bersalah kalo bikin nangis cewek " ucap Dika.


" Emang nya cewek mana yang pernah kamu bikin nangis ?! " tanya Neta penuh intimidasi.


" Gak ada cewek mana-mana, gimana aku bisa ke cewek mana-mana kalo yang ada dipikiran aku itu cuma kamu "


" Bohong ! " Neta memajukan bibirnya.


" Ya Allah... begini nih kalo cewek " Dika mengusap kasar wajahnya.


" Sayang.. kita kan ceritanya lagi makan malam romantis nih.. diatas kapal.. ditengah pulau kaya gini, janganlah kamu mikir yang nggak-nggak" Dika merayu Neta.


" Yah.. aku mau mikir yang iya-iya aja kalo gitu " Neta mengambil gelas berisi minuman lalu meminumnya.


" Nah gitu dong.. sampai mana tadi kita ? " Dika kembali berusaha menetralkan suasana.


Neta dan Dika kembali menceritakan masa-masa sekolah dan sampai mereka akhirnya bertemu kembali, setelah makan malam Neta dan Dika kembali menuju Dek kapal bagian atas, karena disini spot yang paling indah menurut Neta. Dika mengikuti saja apa yang diinginkan Neta. Mereka berdua kembali bercengkrama.

__ADS_1


Tak terasa malam semakin larut, angin malam pun terasa mulai berbeda, Dika mengajak Neta untuk kembali turun dari Dek menuju kamar utama. Kapal Pinisi yang di khususkan bagi Neta dan Dika bagaikan hotel bintang 5 yang mengapung di atas air dengan berbagai fasilitas mewahnya, membuat Neta dan Dika sangat nyaman menikmati bulan madu mereka.


__ADS_2