Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 129


__ADS_3

Beberapa jam berlalu, waktu Neta mulai merasakan kontraksi yang semakin menjadi, Dika yang selalu mendampingi istrinya tak kuasa menahan rasa iba, melihat perjuangan istrinya menahan kontraksi.


" Mas.. aku gak kuat kayanya aku udah mau ngelahirin " ucap Neta.


" Sabar sayang.. ikuti saran Dokter dulu yaa.. kamu miring kiri, tarik nafas buang.. tarik nafas buang.. " ucap Dika sesekali mengusap keringat yang sudah bercucuran di kening istrinya.


" Bu, bisa tolong panggilkan Dokter ? " Dika kepada Ibu nya yang selalu setia menunggu bersama Ibu Neta.


" Oya Dika sebentar " Ibu beranjak dari duduknya.


Tidak lama Dokter Ramzie kembali datang melihat keadaan Neta. Ia kembali memeriksa perkembangan laju pembukaan persalinan nya. Dokter Ramzie sudah mengetahui Neta mengungkapkan jika ia ingin melahirkan normal, walaupun Dokter Ramzie sudah menjelaskan beberapa faktor resiko melahirkan normal jika janin kembar, namun Neta tetap bersikeras ingin melahirkan secara normal.


Berdasarkan hasil pemeriksaan pembukaan persalinan nya sudah lengkap, Neta sudah dapat dipimpin untuk meneran.


" Sus dekatkan alat " ucap Dokter Ramzie.


" Baik Dok "


" Bu Neta.. Ibu akan segera melahirkan sekarang karena pembukaan nya sudah lengkap, jika ada kontraksi yang kuat dan Ibu ingin meneran, silakan meneran ya Bu " ucap Dokter Ramzie.


Perawat membantu Neta memposisikan tubuhnya, Dika pun membantu memposisikan tubuh istrinya.


" Mohon maaf Ibu, silakan menunggu di ruangan yang sudah di sediakan ya, karena Bu Neta akan segera di pimpin proses persalinan nya " ucap perawat kepada orangtua Neta dan Dika.


Ibu Neta dan Dika menunggu di ruangan yang sudah di sediakan di dalam kamar. Keduanya berdoa agar persalinan Neta lancar.


" Bu Neta.. sudah siap ya.. ayo semangat Bu.. " ucap salah satu perawat.


Neta hanya mengangguk. Disaat kontraksi datang Neta mulai meneran, Dika yang masih bingung apa yang harus ia lakukan, ini kali pertama ia melihat langsung proses persalinan, membuatnya sedikit bergidik ngeri, ia sejujurnya ingin keluar karena ia tidak kuasa melihat proses persalinan secara langsung namun ia menyadari inilah momen yang benar-benar harus ia ikuti, apalagi ini proses kelahiran anaknya.


" Ayo Bu.. semangat Bu.. dorong Bu ya.. kalo sudah cape istirahat dulu " ucap perawat lagi.


" Iya Bu bagus.. dorong lagi sedikit.. stop ambil nafas dulu Bu, Pak tolong berikan dulu minum untuk Bu Neta " ucap Dokter Ramzie.


" Baik Dok " Dika mengambil gelas berisi air lalu diberikan kepada Neta.

__ADS_1


Dika kembali memperhatikan istrinya, ia sedikit mengusap keringat di wajah istrinya.


" Sayang kamu bisa.. semangat sayang " Dika berbisik di telinga istrinya.


Dika sedikit berjongkok di samping Neta, Dokter yang melihat tingkah Dika menjadi heran.


" Pak Dika kenapa ? " tanya Dokter Ramzie.


" Oh tidak apa-apa Dok, saya hanya sedikit phobia darah " ucap Dika.


" Oh jika Bapak tidak kuat jangan dipaksakan Pak "


" Tidak apa-apa saya lebih baik begini saja atau memandang istri saya Dok " ucap Dika sekenanya membuat tangannya di cubit oleh Neta.


" Awww " Teriak Dika membuat seisi ruangan melihat kearahnya.


" Kenapa Pak ? " tanya Dokter Ramzie.


" O..oh.. ti..tidak apa-apa Dok " Dika sedikit canggung dan malu sendiri, Dokter Ramzie hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


" Ayo Bu sedikit lagi Bu, tiup.. tiup Bu.. Fuuh.. fuhh.. " ucap perawat menyemangati Neta.


Daaannn....


" Oe...oe..oe... " suara tangisan bayi pertama terdengar.


Dika langsung terperanjat melihat bayi kesatu sudah lahir.


" Alhamdulillah ya Allah.. itu bayi ke satu Dok ? " tanya Dika.


" Betul Pak Dika, jenis kelaminnya laki-laki ya " ucap dokter Ramzie.


" Alhamdulillah.. sayang anak kita pertama laki-laki " ucap Dika, Neta tersenyum menganggukan kepalanya ia melihat bulir bening membasahi kelopak mata istrinya membuat ia pun menjadi terharu.


Dika mengecup kening istrinya, tidak terasa ia pun menetes kan bulir beningnya, namun ia langsung menyeka nya secara kasar, ia berharap Neta tidak melihatnya, karena bisa-bisa Neta meledeknya habis-habisan jika Neta tahu ia pun menangis karena haru.

__ADS_1


Bayi pertama sedang dalam perawatan oleh Dokter anak, karena beberapa menit sebelum lahir tadi, perawat sudah menghubungi dokter anak untuk menangani bayi Neta dan Dika.


Sekitar 5 menit menunggu akhirnya Neta kembali melahirkan bayi kedua yang berjenis kelamin perempuan, lengkap sudah kebahagiaan Dika dan Neta mereka dikaruniai 2 orang anak kembar laki-laki dan perempuan.


" Selamat ya Pak Dika dan Bu Neta anak kembar nya sudah lahir, satu laki-laki dan satu perempuan " ucap Dokter Ramzie.


" Alhamdulillah.. terima kasih banyak Dok " ucap Dika.


" Terima kasih Dok " ucap Neta.


Bayi-bayi Neta dan Dika dibawa terlebih dahulu ke ruang perawatan bayi, untuk dilakukan perawatan selanjutnya.


" Pak Dika, diminta untuk mengadzani bayi-bayi nya terlebih dahulu " ucap perawat.


" Oya baik sus, saya liat bayi kita dulu ya " ucap Dika ke Neta.


Neta hanya mengangguk. Setelah proses pengeluaran janin dan plasenta tadi, Neta sedang dilakukan perawatan kembali oleh Dokter Ramzie yang dibantu oleh perawat disana, setelah selesai, perawat merapikan alat-alat medis yang digunakan, membersihkan daerah sekitar, berpamit kepada Neta untuk selanjutnya nanti akan dilakukan pemeriksaan lanjutan.


" Bu Neta selamat sekali lagi, nanti dua jam berikutnya saya akan kontrol lagi ya, untuk bayi-bayi Bu Neta akan ditangani oleh dokter Intan " ucap Dokter Ramzie.


" Baik Dok terima kasih banyak "


" Baik, permisi " Dokter berlalu meninggalkan Neta.


Setelah kepergian Dokter Ramzie, Ibu dan Ibu mertua Neta menghampiri, karena tahu anaknya sudah melahirkan, saat akan dibawa ke ruang perawatan tadi Ibu Neta dan Ibu Dika sudah melihat sekilas cucu-cucu mereka.


" Neta.. selamat sayang " Ibu Neta menciumi anaknya ia pun merasa haru anak gadisnya sekarang sudah menjadi seorang Ibu.


Begitupun Ibu Dika, ia merasa sangat haru dan bahagia.


" Terima kasih sayang sudah memberikan cucu-cucu yang lucu untuk Ibu dan Ayah " ucap Ibu mertuanya.


Neta melahirkan anak nya selang satu hari dengan hari kelahiran nya, ini pun di luar prediksi yang seharusnya ia melahirkan sekitar 2 minggu lagi namun lebih cepat.


Ayah Dika dan Neta sudah diberitahu jika Neta sudah melahirkan, semalam sejak Neta masuk rumah sakit, Ayah dan Mertuanya diminta untuk istirahat di rumah saja, khawatir jika ikut menunggu Neta di rumah sakit. Jadi hanya Ibu Neta dan Dika yang menunggu di rumah sakit hingga lahir cucu-cucu mereka.

__ADS_1


Dika pun sudah menghubungi pihak kantor jika ia ijin tidak masuk kantor karena istrinya akan melahirkan, informasi itu diperkuat oleh Bian. Karena Bian pasti akan memberitahu rekan-rekan Dika jika kakak iparnya atau komandan nya di kantor ijin tidak masuk karena istrinya akan melahirkan.


__ADS_2