Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 111


__ADS_3

Rumah Sakit Bhayangkara


Dika terbaring di kasur ruangan perawatan Rumah Sakit Bhayangkara, setelah berhasil membekuk para tersangka di akhir-akhir sisa tenaga yang ia punya, Dika langsung dibawa oleh ambulans menuju Rumah Sakit untuk diberikan perawatan.


Bian sang adik ipar yang setia menunggu Kakak Iparnya, duduk disamping kasur dimana Dika sedang terbaring, Bian sedang memperhatikan cairan infus yang tiap detik menetes, sesekali ia menoleh ke wajah Kakak Iparnya yang terlihat kembali sembab karena pukulan benda tumpul sepertinya.


Ia teringat akan kakaknya yang sedang mengandung di rumah, ia pasti sudah tahu karena dari pihak kantor sudah menghubungi keluarga di rumah.


" Mas Dika.. aku tahu kamu suami yang sangat menyayangi keluarga, kamu sangat menyayangi Mbak Neta dan kamu juga sangat loyal dan bertanggungjawab atas pekerjaanmu " batin Bian menatap nanar kakak iparnya.


Tidak lama terdengar suara pintu ruang perawatan di ketuk, Bian sedikit terperanjat, ia berjalan membuka pintu ruang perawatan, terlihat kedua orangtuanya, kedua orangtua Dika dan Neta sudah berada di balik pintu.


" Bian " Ibu sontak memeluk anak bungsunya.


" Mas Dika mana ? " ucap Neta gontai.


Bian hanya melihat sekilas ke arah Dika yang sedang terbaring di kasur.


Tanpa menunggu lama Neta langsung berjalan setengah berlari menghampiri Dika, jika tidak ingat akan perut nya yang sudah semakin membesar mungkin Neta akan berlari cepat untuk segera melihat kondisi suaminya.


Neta langsung memeluk Dika, yang pada saat itu Dika pun sedang tidur karena efek obat yang diberikan oleh dokter. Kedua orangtuanya dan kedua orangtua Dika berniat untuk menghampiri Neta dan Dika, namun melihat Neta yang sedang menumpahkan air matanya, Pak Arman mencegah istri dan kedua besannya untuk mendekati Neta dan Dika.


Pak Arman ingin memberikan ruang kepada Neta terlebih dahulu, ia memberikan kode untuk keluar ruangan dan yang lain pun menyetujuinya.


" Mas Dika.. " Neta terisak.


Dika yang merasakan ada sesuatu yang lain mencoba membuka matanya, ia baru merasakan tubuhnya sangat sakit pasca kejadian kemarin.


Dika mengangkat tangannya, membelai kepala istrinya, membuat Neta menjadi sedikit kaget. Neta mendongkakan wajahnya ke arah Dika. Terlihat Dika tersenyum dengan lebar.


" Mas.. "


Dika hanya tersenyum mengangguk.


" Apa yang kamu rasain Mas ? kamu pasti sakit banget " ucap Neta kembali menumpahkan air matanya


" Nggak.. biasa lah ini " ucap Dika santai.

__ADS_1


" Kamu selalu seperti itu, aku liat kondisi kamu Mas.. tangan kiri kamu di perban, ini kenapa ? kaki kanan kamu juga dibalut perban, belum lagi wajah kamu Mas " Neta kembali terisak.


" Sayang udah jangan nangis.. kasian anak-anak diperut kamu, nanti dia ikut stress juga " ucap Dika.


" Kita udah stress dari kemarin Mas.. " balas Neta.


Dika hanya terdiam.


" Aku gak apa-apa sayang, justru yang aku khawatirin kamu " ucap Dika.


Sekarang giliran Neta yang terdiam, ia mengusap-usap wajah suaminya yang sedikit sembab dan memar.


...****************...


Dilain tempat, Bian sedang menceritakan kejadian kemarin yang menimpa dirinya dan Kakak Iparnya, karena bagaimanapun orangtuanya dan orangtua Dika ingin mengetahui kejadian sebenarnya.


" Begitu Yah Bu kejadiannya, Kita tidak tahu kalau Mas Dika dan temannya dibawa oleh pelaku, karena pada saat itu saya kan ikut pengejaran dengan yang lain " ucap Bian.


Kedua orangtuanya dan kedua orangtua Dika manggut-manggut mendengar cerita dari Bian. Tidak lama pintu ruang perawatan terbuka, Neta berada di balik pintu, ia merasa heran mengapa kedua orangtuanya dan mertuanya tidak masuk kedalam ruangan.


" Yah Bu.. kenapa disini ? " tanya Neta.


" Tidak apa-apa Nak, Ayah Ibu dan Ayah Ibu mu juga ingin mendengar dulu cerita dari Bian " ucap Pak Arman.


" Iya betul sayang " susul Ibu Dika.


Tidak lama mereka semua masuk kedalam ruangan perawatan, disana Dika sedang santai memakan buah potong yang sudah disiapkan oleh rumah sakit sambil menonton televisi.


" Mas.. kamu kalo mau apa-apa minta tolong aku " ucap Neta menghampiri suaminya disusul oleh kedua orangtua dan mertuanya juga Bian.


" Gak apa-apa aku bisa kok, lagian aku laper banget " ucap Dika.


" Ini kan ada nasi " balas Neta.


" Nasi rumah sakit gak enak ah " susul Dika.


" Ya terus mau makan apa ? kamu nya juga lagi sakit " ucap Neta.

__ADS_1


" Siapa bilang aku sakit ? "


" Dik.. apa salahnya kamu makan makanan yang di sediakan rumah sakit " susul Ayah Dika.


" Nggak Yah.. gak seger makanan rumah sakit " ucap Dika lagi.


" Kamu mau nya makan apa Mas ? " tanya Neta.


" Nasi padang aja, pake kikil ya, sambel nya yang banyak " ucap Dika memelas.


Belum juga dijawab oleh Neta, Bian berkata..


" Siap Mas.. saya beliin ya " ucap Bian.


" Siip mantap " Dika mengacungkan dua jempol kepada adik iparnya, membuat seisi ruangan tertawa.


Neta masih terdiam, ia hanya sedikit menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir kepada suaminya, dia dan hampir semua orang rumah sangat khawatir dengan keadaannya, namun Dika nya sendiri begitu sangat santai, menikmati keadaanya.


Dika terlihat tidak bisa diam, ibunya yang melihat anaknya tidak bisa diam menjadi kesal sendiri.


" Dika.. kamu itu lagi sakit, gak bisa diam " ucap Ibu.


" Gak enak Bu, Dika maunya di rumah aja, istirahat di rumah, tidur nya juga enak di temenin sama Neta kan " balas Dika.


Sontak seisi ruangan tertawa mendengar ucapan Dika, tapi tidak bagi Neta ia sedikit membelalakkan matanya, spontan Neta mencubit pinggang suaminya.


" Aww.. awww.. "


Neta menatap suaminya dengan tatapan intimidasi.


" Sayang sakit dong " ucap Dika mengusap-usap pinggangnya.


" Tadi katanya gak sakit, mau pulang aja "


" Ya kalo kamu cubit jadi sakit lah, tapi mau pulang " balas Dika dengan memelas.


Neta hanya memutar bola matanya. Kedua orangtua Dika dan Neta sudah mengetahui jika Neta dan Dika memang seperti itu.

__ADS_1


" Hmm... belum berubah " ucap Ibu Dika kepada Ibu Neta dengan sedikit tertawa.


Ibu Neta hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.


__ADS_2