Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 103


__ADS_3

Hari ini jadwal Neta untuk kontrol kehamilannya setelah beberapa waktu lalu ia mengadakan acara tasyakur 4 bulanan kehamilan.


" Mas.. hari ini jadwal aku kontrol " Neta kepada suaminya.


Dika sedang memakai jaket kulitnya.


" Jam berapa ? " tanya Dika.


" Jadwalnya sih jam 2 siang Mas.. "


" Hmm.. nanti aku jemput ke perusahaan ya " ucap Dika.


" Tapi.. itu juga kalo kamu gak sibuk Mas.. mungkin nanti aku minta tolong Lisa "


" Siapa Lisa ? " tanya Dika.


" Itu loh Mas.. karyawan baru yang jadi sekretaris ku sekarang " jawab Neta.


" Oh.. ya .. ya.. dia perempuan kan ? " tanya Dika lagi.


" Bukan " jawab Neta menjahili suaminya.


" Apa ! " Dika langsung menoleh berjalan mendekati istrinya.


" Iya lah Mas, namanya aja Lisa " jawab Neta memasukkan beberapa perlengkapan nya kedalam tas.


" Oke.. kirain " Dika tersenyum.


" Laki-laki yang aku percaya buat nemenin kamu cuma Tio, kalo sekarang kamu sudah punya sekretaris perempuan ya syukur deh, kasian juga Tio lama-lama dia anter kamu kesana kemari belum lagi di titipin perusahaan, nanti kalo kamu perlu apa-apa pake supir perusahaan aja ya, soalnya kan udah ada Lisa " susul Dika


" Oke Mas " Neta merapikan jaket kulit yang Dika pakai.


" Sayang.. "


" Hmm.. "


" Nanti beberapa hari kedepan aku penangkapan, keluar kota " ucap Dika.


" Berapa lama ? " tanya Neta.


" Gak pasti, bisa dua tiga hari, atau empat lima hari.. tergantung, tapi diusahakan cepet ketangkep sih " jawab Dika.


" Hmm.. " Neta hanya mengangguk.


" Kamu mau disini atau ke rumah ibu ? " tanya Dika.


" Aku disini aja deh Mas.. lagian juga ada Mbok Sum " jawab Neta.


" Oke kalau gitu.. " Dika meraih kunci mobil dan ponselnya, berjalan keluar kamar disusul oleh Neta di belakangnya menuju ruang makan.


Sejujurnya perasaan khawatir kembali menyelimuti Neta disaat ia tahu jika suaminya akan pergi beberapa hari karena tugas. Namun ia berusaha untuk menetralkan suasana hatinya, ia pun tidak ingin jika Dika mengetahui kegelisahannya, itu akan membuat Dika menjadi tidak tenang juga.


" Ini kamu yang masak ? " tanya Dika.


" Iya Mas "


" Kamu masih kuat masak, kemaren-kemaren kan nyium aroma masakan aja udah gak kuat kan ? " ucap Dika.


" Sekarang udah balik kok, penciuman aku udah normal " balas Neta.


" Pantesan sekarang udah jarang ngomel-ngomel, karena parfum yang aku pake " Dika tersenyum.


" Hmm.. emang gitu kali Mas.. aku tanya Ibu.. pembawaan setiap perempuan hamil itu beda-beda, kalo aku ya.. gitu penciuman nya jadi sensitif " Neta mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.


" Makasih.." ucap Dika saat Neta menyerahkan piring berisi nasi dan lauk untuknya.


" Hmm.. tapi sekarang kamu ndusel-ndusel terus ke aku " ucap Dika sedikit tertawa.


" Bukan kepenngen aku itu "


" Terus siapa ? "


" Anak kamu "


" Hahahaha bisa aja ngeles, bilang aja kamu itu gak bisa jauh kan dari aku, aku kan ngangenin " ucap Dika menyuapkan nasi ke mulut nya.

__ADS_1


" Nyebelin ! " susul Neta.


" Iya nyebelin, tapi ngangenin " Dika kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.


Tidak lama ponsel Dika berdering, ia langsung mengangkat teleponnya, beranjak dari tempat duduknya.


" Siap.. "


" Siap Bang "


" Siap "


Hanya itu yang terdengar oleh istrinya. Neta memperhatikan suaminya, Dika kembali duduk.


" Dari kantor ? " tanya Neta.


" Hmm " Dika mengangguk.


" Udah selesai ? "


" Udah Mas.. "


" Ayo berangkat "


Neta mengangguk, ia beranjak dari kursi makannya, lalu pamit dan menitipkan pesan kepada Mbok Sum untuk menjaga rumah.


...****************...


Neta sedang duduk di kursi kebesaran nya, ia baru saja selesai daftar secara online untuk kontrol kehamilannya nanti siang. Ia sesekali fokus kepada laptopnya untuk melihat pergerakan saham minggu ini.


Tidak lama terdengar pintu di ketuk, Neta langsung mempersilakan masuk. Lisa masuk menghampiri bos nya sekarang.


" Kenapa Lis ? " tanya Neta.


" Maaf Bu, ini saya menyerahkan laporan "


" Dari Pak Tio ? "


" Iya Bu, karena beberapa pekerjaan Pak Tio, di serahkan ke saya "


" Baik Bu "


" Oya.. nanti siang.. kamu bisa antar saya ? " tanya Neta.


" Kemana Bu, mohon maaf "


" Ke rumah sakit kontrol kehamilan saya, itupun kalau suami saya gak jadi jemput, tapi kalo suami saya jemput kamu stay di kantor aja ya "


" Oh..oh.. Iya baik Bu "


" Oke.. makasih ya laporannya "


" Sama-sama Bu, saya permisi"


Neta hanya mengangguk tersenyum. Ia kembali fokus pada laptopnya, sambil mengusap-usap perutnya yang semakin hari terlihat semakin membesar.


" Sayang.. kalian masih kuat kan kalo Mama ajak kerja " ucap Neta seraya melihat perutnya.


" Mama harus segera menyelesaikan beberapa pekerjaan Mama yang numpuk ini, soalnya Papa kalian gak akan ngebolehin Mama buat kerja lagi kalo kalian udah lahir " gumam Neta kembali.


Disaat yang bersamaan terdengar dering telepon dari ponsel Neta. Neta menghentikan pekerjaan nya lalu meraih ponsel itu dan menggeser tombol hijau dilayar ponsel.


Dika : " Sayang.. "


Neta : " Iya Mas "


Dika : " Lagi apa kamu ? "


Neta : " Aku barusan habis liat pergerakan saham, terus ya periksa beberapa laporan aja "


Dika : " Jangan cape-cape ya.. oya.. nanti siang aku jemput, aku udah ijin sama komandan, tapi aku pasti balik lagi ke kantor seudah anter kamu "


Neta : " Iya Mas.. tapi kalo kamu sibuk gak apa-apa kok "


Dika : " Buat kamu aku pasti nyempetin "

__ADS_1


Neta : " Oke kalo gitu "


Neta dan Dika mengakhiri sambungan teleponnya, Neta kembali dengan aktifitasnya begitu pun Dika. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan waktu dzuhur, Neta berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu melaksanakan kewajibannya, setelah itu ia bersiap untuk menunggu jemputan dari suaminya.


30 menit berlalu, Neta masih menunggu Dika di ruangannya, ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, tanpa terasa kantuk menghampiri Neta tertidur di sofa.


Disaat yang bersamaan Dika sudah sampai di perusahaan ia langsung menuju lantai 14 untuk menjemput istrinya. Sesampainya dilantai 14 Dika berjalan ke ruangan istrinya. Ia melihat ada seorang wanita yang duduk tepat sebelum pintu masuk ruangan istrinya.


" Mungkin itu sekretaris Neta sekarang " batin Dika.


Ia menghampiri Lisa.


" Selamat siang, Bu Neta nya ada ? " tanya Dika.


" Oh.. ya siang.. ada Pak, oya mohon maaf Bapak ada keperluan apa ? "


" Saya hanya ingin bertemu " ucap Dika santai lalu berjalan menuju pintu.


" Pak..pak.. mohon maaf sebelumnya, apa Bapak sudah ada janji dengan Bu Neta ? karena Bu Neta hanya ingin bertemu jika sudah ada janji " ucap Lisa.


Dika hanya tersenyum lalu membuka pintu ruangan Neta lalu langsung menutupnya. Membuat Lisa menjadi heran dan ia pun takut jika ia disalahkan oleh Tio atau Neta.


Karena sebelum ia bekerja menjadi sekretaris Neta, ia sudah diwanti-wanti siapapun orang luar yang akan bertemu dengan Bosnya harus yang sudah memiliki janji.


Pada saat itu Tio sedang tidak ada di tempatnya, Lisa pun belum mengetahui jika pria yang masuk keruangan Neta adalah suami dari bosnya sendiri.


Lisa sedikit gusar, ia berharap Tio segera kembali ke ruangannya. Lisa masih bolak balik di depan ruangan bosnya, ia ingin masuk untuk memastikan Neta baik-baik saja namun ia pun tidak memiliki keberanian yang besar.


Tidak lama Tio kembali ia merasa aneh dengan sikap Lisa.


" Ada apa ? " Tio sudah berada di samping Lisa membuat Lisa terhenyak kaget.


" Eh.. Pak Tio .. "


" Kenapa ? "


" I..itu Pak.. tadi ada yang datang kesini, pria tinggi tegap, menggunakan jaket kulit dan kacamata hitam, saya sudah tanya pria itu sudah ada janji atau belum dengan Bu Neta, tapi dia malah langsung masuk, saya khawatir Pak " Lisa terlihat gusar.


" Masuk kemana ? " tanya Tio.


" Ke ruangan Bu Neta " jawab Lisa.


" Oh.. " Tio santai karena dia pastikan itu adalah Dika.


" Kok Oh sih Pak " Lisa mengekori Tio ke tempat duduknya.


" Kamu harus tahu, pria itu adalah suami Bu Neta " ucap Tio.


" Itu suaminya ? " Lisa membelalakkan matanya.


" Hmm.. " Tio mengangguk.


" Pak.. "


" Apa ? kenapa kamu masih diam disitu "


" Gimana nasib saya Pak, saya baru 2 minggu kerja disini "


" Maksudnya gimana sih ? "


" Sa..saya tadi mencegah suami Bu Neta untuk masuk ke ruangan Bu Neta " wajah Lisa kembali gusar.


" Ya gak apa-apa tinggal minta maaf, berarti kamu bekerja sesuai dengan yang di perintahkan, karena kamu gak tau kalo pria itu suami Bu Neta " ucap Tio.


" Tapi Pak... saya gak berani sendiri.. temenin ya.. "


" Ck.. ada-ada aja, ya udah kembali ke tempat kamu, nanti Pak Dika keluar berabe lagi "


" Siapa Pak Dika ? "


" Iya itu suaminya namanya Pak Dika " susul Tio.


Lisa hanya mengangguk lalu ia kembali berjalan menuju meja nya.


" ada sekretaris Mbak Neta, kerjaan ku lumayan terbantu, tapi dikit-dikit Pak Tio, dikit-dikit Pak Tio.. hadeuuhh " gumam Tio.

__ADS_1


__ADS_2