Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 123


__ADS_3

Neta dan Dika sudah sampai di rumah, Dika meminta Neta untuk langsung beristirahat sedangkan setelah shalat isya Dika mulai merapikan belanjaannya, menurunkan dari bagasi mobil ia masukkan kedalam kamar yang sudah dipersiapkan untuk kelahiran anaknya.


Neta yang mendengar suara gedag gedug dari kamar sebelah merasa penasaran, ia lalu keluar kamar berjalan menuju kamar yang dipersiapkan untuk kedua anaknya nanti, kamar tepat berada disamping kamar Neta dan Dika.


" Mas.. " Iya melihat suaminya sedang merapikan box bayi yang mereka beli tadi.


Dika sedang memasang box bayi sambil membaca intruksi dari dalam box bayi itu sendiri.


Dika menoleh kearah Neta.


" Sayang.. kok kamu bangun.. " Dika menghampiri istrinya.


" Aku penasaran kamu ngapain Mas " tanya Neta.


" Aku lagi pasang box bayi nya, rumit juga ya " jawab Dika.


" Hmm.. Neta hanya tersenyum.


Neta duduk di sofa kamar di papah oleh Dika.


" Duduk disini ya " ucap Dika.


" Iya Mas "


Dika kembali dengan aktifitas nya Neta, memperhatikan suaminya.


Tidak lama ia meraih kantong belanjaan berisi perlengkapan bayinya, disana terlihat bill pembayaran tadi.

__ADS_1


" Ya Ampun sepanjang ini ckck " gumam Neta, ia baru sadar jika Dika mengeluarkan uang tidak sedikit untuk membeli perlengkapan bayinya.


" Mas " ucap Neta.


" Iya " Dika menoleh sekilas.


" Kamu hari ini ngeluarin uang gak sedikit loh.. hmm.. mubadzir gak ya ? " tanya Neta.


" Mubadzir gimana ? ya enggak lah kan nanti dipake semua buat anak-anak kita kan " jawab Dika.


" Iyaa.. tapi... " Neta merasa tidak enak.


" Sayang.. kalo buat anak Insyaallah ada rejeki nya ya " susul Dika.


" Mas.. kamu kan pernah bilang kalo gaji polisi itu kecil, kenapa uang sebanyak itu gak ditabung aja ya " ucap Neta.


" Sayang kamu lupa ? " tanya Dika.


" Lupa gimana Mas ? " Neta menatap wajah suaminya.


" Iya betul gaji aku memang kecil dan semua penghasilan ku sudah aku serahkan ke kamu, gaji aku selama menjadi polisi belum pernah aku ambil, kamu pegang aja ya.. buat jaga-jaga kita kedepannya, buat anak-anak juga dan untuk uang yang aku pakai belanja tadi itu kan uang gaji ku di perusahaan yang kamu kasih " ucap Dika.


" Hah.. " Neta mencerna ucapan suaminya.


" Kamu kan sekarang yang gaji aku Yang " ucap Dika tertawa.


" Bukan aku, tapi Ayah Mas.. " balas Neta.

__ADS_1


" Tetep aja kamu kan sekarang bos nya " susul Dika.


" Hmm.. jadi ini konsepnya, dari aku untuk aku gitu " Neta tertawa.


" Cerdas.. " susul Dika tertawa.


" Apapun yang aku punya, itu milik kamu juga Yang " ucap Dika.


Neta hanya tersenyum. Dika kembali merakit box bayi yang mereka beli tadi.


Neta merapikan baju-baju bayi dan perlengkapan lainnya, untuk baju bayi Neta akan meminta Mbok Sum untuk mencucikan nya terlebih dahulu sebelum dimasukkan kedalam lemari.


Dika sudah selesai merakit box bayinya, ia memposisikan box bayi berdampingan hanya di sekat oleh meja mengganti popok yang kecil.


" Sudah Mas ? " tanya Neta.


" Sudah selesai, untuk selebihnya mau disimpan dimana barang-barang yang lain kamu tinggal arahin aja, nanti aku yang rapihin, pokonya kamu duduk aja jangan ikut ribet kesana kemari " ucap Dika.


Neta hanya tertawa kecil melihat suaminya benar-benar mempersiapkan untuk kelahiran anaknya nanti.


" Mas.. besok aja yuk lanjut nya " ucap Neta.


" Hmm.. oke "


" Besok kan masih hari minggu jadi kamu masih libur kan ? " susul Neta.


" Iya sayang, ya udah ayo, eh sebentar aku cuci tangan dulu " Dika berjalan ke kemar mandi yang berada di kamar.

__ADS_1


Dika kembali lalu membantu Neta untuk berdiri dari duduknya, menuju kamar mereka untuk tidur karena Neta terlihat sudah mengantuk, mungkin efek obat yang diberikan dokter juga, agar Neta bisa terus beristirahat di rumah.


__ADS_2