Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 217


__ADS_3

Hari yang ditunggu oleh Binar tiba. Bian menjanjikan ia akan mengunjungi Binar pukul 1 siang. Mau tidak mau Binar harus berbicara keada kedua orangtuanya jika Bian akan datang ke rumahnya.


Binar mondar-mandir di kamarnya ia melihat jam di nakas dekat tempat tidurnya menunjukkan pukul 9 pagi.


" Gimana aku bicara ke Ibu, ke Ayah sih mungkin oke, tapi ke Ibu.. gimana ya.. ckk.. " Binar gelisah.


Disaat yang bersamaan terdengar pintu kamar nya diketuk.


" Biin... " Ucap Ibu dari balik pintu.


" Iya Bu.. " Binar berjalan membuka pintu kamarnya.


Ibu yang melihat Binar sudah rapi menjadi bingung sendiri.


" Kamu mau kemana ? kok udah rapi ? bukannya kamu kembali ke asrama besok ya ? " tanya Ibu.


" Iya Bu.. hmm.. Bu.. ada yang mau aku omongin " Binar memberanikan diri.


" Apa ? kok tumben ? Ibu tahu pasti kamu mau jalan sama Dito kan ? ya ampun ibu seneng banget akhirnya.. " Ibu berbinar.


Binar menghela nafas dalam.


" Bukan itu Bu.. "


" Terus apa ? " tanya Ibu.


" Mhh Ayah mana ? biar aku sekalian deh ngomong nya " jawab Binar.


Ia berjalan menuruni anak tangga meninggalkan Ibu nya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


" Binaarrrrr... Ibu masih disini loh kamu main nyelonong aja " Ibu menyusul Binar.


Binar melihat Ayah yang sedang membaca koran di ruang tengah.

__ADS_1


" Ayah.. " ucap Binar.


Ayah melihat ke arah Binar dengan setengah wajahnya tertutup koran.


" Ada apa Nak ? " tanya Ayah.


" Hmm... boleh aku bicara ? " ucap Binar.


" Kok serius banget kaya nya.. tumben " balas Ayah melipat koran lalu ia simpan di meja.


Ibu yang menghampiri mereka berdua langsung duduk disamping suaminya.


" Gak tahu tuh yah.. aneh banget Binar.. " ucap Ibu.


" Ya sudah ada apa ? " tanya Ayah.


" Hmm.. Yah Bu.. nanti siang.. ada temen aku yang mau kesini " jawab Binar.


" Euh.. ii..iya Bu.. maksudnya dia temen aku laki-laki " Susul Binar.


" Hah.. laki-laki ? " Ibu sedikit meninggi.


" Laki-laki yang mana ? jangan bilang itu pacar kamu ya.. " ucap Ibu lagi.


" Bu.. Bu.. sabar dulu.. " ucap Ayah menengahi.


" Pokonya nggak ya Bin.. " jawab Ibu.


" Bu apa salah nya sih ? " tanya Binar.


" Iya Bu apa salahnya ? " susul Ayah.


" Bin.. siapa temen kamu itu, laki-laki yang mana ? seperti apa orangnya ? kamu udah tahu dia seperti apa orangnya, jangan hanya sekedar kamu suka jadi kamu bela-belain laki-laki itu sehingga kamu tidak ingin Ibu jodohkan dengan Dito " ucap Ibu.

__ADS_1


" Ya aku tahu Bu siapa dia " balas Binar.


" Kamu tahu kan Dito jelas asal usulnya, Dia juga jelas sekolahnya, kuliahnya.. sekarang laki-laki temen kamu itu dia kuliah dimana ? kamu tahu asal usul nya ? kamu tahu keluarga nya ? " tanya Ibu.


" Dia gak kuliah Bu, dia udah kerja, dia itu .. " ucap Binar terpotong karena Ibu terus saja memotong pembicaraan Binar.


" Kalo udah kerja dia kerja dimana ? pekerjaan nya aman apa nggak ? " tanya Ibu lagi memberedel pertanyaan kepada Binar.


Binar pun menjadi pusing sendiri setiap menjelaskan ia selalu di potong oleh Ibu nya. Ayah nya hanya bisa geleng-geleng kepala.


" Bu.. sudah Bu.. kalian ini selalu berdebat hal sepele saja selalu berdebat apalagi hal besar.. kalian itu Ibu dan anak, cobalah Bu, untuk menerima dulu keputusan Binar apa salahnya " ucap Ayah kembali menengahi.


" Yah.. Ayah gak pernah ngerti kekhawatiran Ibu, Binar anak kita satu-satunya Yah.. " ucap Ibu.


Binar yang sudah malas mendengar, ia beranjak dari duduknya berjalan menuju kamar meninggalkan kedua orangtuanya.


" Yah, Bu, Binar ke kamar dulu " ucap Binar.


" Kebiasaan kamu itu kalo orangtua belum selesai bicara,suka langsung pergi " ucap Ibu sedikit meninggi.


" Ya Allah.. punya anak satu susah banget nurutnya " gumam Ibu.


" Ya salah Ibu, kenapa tidak memberikan kesempatan kepada Binar, Ayah membebaskan dia untuk memilih jalan hidup nya, kita sebagai orangtua hanya mengarahkan " ucap Ayah.


" Yah.. gimana kalau pilihan dia hanya sebatas karena dia suka, gimana kalo dia hanya sekedar memanfaatkan anak kita Yah, kalau laki-laki nya semodelan Pak Dika yang disebelah rumah kita itu ya gak masalah.. sudah baik, pengertian,ke istrinya juga terlihat sangat sayang.. Ibu juga pengen Binar punya suami seperti itu Yah " ucap Ibu.


Ayah hanya menyimak sambil memijat-mijat sedikit pelipisnya.


" Bu.. masalah jodoh bukan kita yang atur, sudah ada jalannya masing-masing kita berdo'a saja siapapun itu orang nya, itu yang terbaik untuk Binar " ucap Ayah bijak.


" Ckk.. Ayah selalu belain aja anak nya " Ibu berdiri lalu pergi meninggalkan Ayah.


Ayah Binar hanya menggeleng melihat kelakuan istri dan anak perempuannya yang tidak pernah akur dalam urusan laki-laki.

__ADS_1


__ADS_2