
Hari yang ditunggu oleh Binar tiba. Bian menjanjikan ia akan mengunjungi Binar pukul 1 siang. Mau tidak mau Binar harus berbicara keada kedua orangtuanya jika Bian akan datang ke rumahnya.
Binar mondar-mandir di kamarnya ia melihat jam di nakas dekat tempat tidurnya menunjukkan pukul 9 pagi.
" Gimana aku bicara ke Ibu, ke Ayah sih mungkin oke, tapi ke Ibu.. gimana ya.. ckk.. " Binar gelisah.
Disaat yang bersamaan terdengar pintu kamar nya diketuk.
" Biin... " Ucap Ibu dari balik pintu.
" Iya Bu.. " Binar berjalan membuka pintu kamarnya.
Ibu yang melihat Binar sudah rapi menjadi bingung sendiri.
" Kamu mau kemana ? kok udah rapi ? bukannya kamu kembali ke asrama besok ya ? " tanya Ibu.
" Iya Bu.. hmm.. Bu.. ada yang mau aku omongin " Binar memberanikan diri.
" Apa ? kok tumben ? Ibu tahu pasti kamu mau jalan sama Dito kan ? ya ampun ibu seneng banget akhirnya.. " Ibu berbinar.
Binar menghela nafas dalam.
" Bukan itu Bu.. "
" Terus apa ? " tanya Ibu.
" Mhh Ayah mana ? biar aku sekalian deh ngomong nya " jawab Binar.
Ia berjalan menuruni anak tangga meninggalkan Ibu nya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
" Binaarrrrr... Ibu masih disini loh kamu main nyelonong aja " Ibu menyusul Binar.
Binar melihat Ayah yang sedang membaca koran di ruang tengah.
__ADS_1
" Ayah.. " ucap Binar.
Ayah melihat ke arah Binar dengan setengah wajahnya tertutup koran.
" Ada apa Nak ? " tanya Ayah.
" Hmm... boleh aku bicara ? " ucap Binar.
" Kok serius banget kaya nya.. tumben " balas Ayah melipat koran lalu ia simpan di meja.
Ibu yang menghampiri mereka berdua langsung duduk disamping suaminya.
" Gak tahu tuh yah.. aneh banget Binar.. " ucap Ibu.
" Ya sudah ada apa ? " tanya Ayah.
" Hmm.. Yah Bu.. nanti siang.. ada temen aku yang mau kesini " jawab Binar.
" Euh.. ii..iya Bu.. maksudnya dia temen aku laki-laki " Susul Binar.
" Hah.. laki-laki ? " Ibu sedikit meninggi.
" Laki-laki yang mana ? jangan bilang itu pacar kamu ya.. " ucap Ibu lagi.
" Bu.. Bu.. sabar dulu.. " ucap Ayah menengahi.
" Pokonya nggak ya Bin.. " jawab Ibu.
" Bu apa salah nya sih ? " tanya Binar.
" Iya Bu apa salahnya ? " susul Ayah.
" Bin.. siapa temen kamu itu, laki-laki yang mana ? seperti apa orangnya ? kamu udah tahu dia seperti apa orangnya, jangan hanya sekedar kamu suka jadi kamu bela-belain laki-laki itu sehingga kamu tidak ingin Ibu jodohkan dengan Dito " ucap Ibu.
__ADS_1
" Ya aku tahu Bu siapa dia " balas Binar.
" Kamu tahu kan Dito jelas asal usulnya, Dia juga jelas sekolahnya, kuliahnya.. sekarang laki-laki temen kamu itu dia kuliah dimana ? kamu tahu asal usul nya ? kamu tahu keluarga nya ? " tanya Ibu.
" Dia gak kuliah Bu, dia udah kerja, dia itu .. " ucap Binar terpotong karena Ibu terus saja memotong pembicaraan Binar.
" Kalo udah kerja dia kerja dimana ? pekerjaan nya aman apa nggak ? " tanya Ibu lagi memberedel pertanyaan kepada Binar.
Binar pun menjadi pusing sendiri setiap menjelaskan ia selalu di potong oleh Ibu nya. Ayah nya hanya bisa geleng-geleng kepala.
" Bu.. sudah Bu.. kalian ini selalu berdebat hal sepele saja selalu berdebat apalagi hal besar.. kalian itu Ibu dan anak, cobalah Bu, untuk menerima dulu keputusan Binar apa salahnya " ucap Ayah kembali menengahi.
" Yah.. Ayah gak pernah ngerti kekhawatiran Ibu, Binar anak kita satu-satunya Yah.. " ucap Ibu.
Binar yang sudah malas mendengar, ia beranjak dari duduknya berjalan menuju kamar meninggalkan kedua orangtuanya.
" Yah, Bu, Binar ke kamar dulu " ucap Binar.
" Kebiasaan kamu itu kalo orangtua belum selesai bicara,suka langsung pergi " ucap Ibu sedikit meninggi.
" Ya Allah.. punya anak satu susah banget nurutnya " gumam Ibu.
" Ya salah Ibu, kenapa tidak memberikan kesempatan kepada Binar, Ayah membebaskan dia untuk memilih jalan hidup nya, kita sebagai orangtua hanya mengarahkan " ucap Ayah.
" Yah.. gimana kalau pilihan dia hanya sebatas karena dia suka, gimana kalo dia hanya sekedar memanfaatkan anak kita Yah, kalau laki-laki nya semodelan Pak Dika yang disebelah rumah kita itu ya gak masalah.. sudah baik, pengertian,ke istrinya juga terlihat sangat sayang.. Ibu juga pengen Binar punya suami seperti itu Yah " ucap Ibu.
Ayah hanya menyimak sambil memijat-mijat sedikit pelipisnya.
" Bu.. masalah jodoh bukan kita yang atur, sudah ada jalannya masing-masing kita berdo'a saja siapapun itu orang nya, itu yang terbaik untuk Binar " ucap Ayah bijak.
" Ckk.. Ayah selalu belain aja anak nya " Ibu berdiri lalu pergi meninggalkan Ayah.
Ayah Binar hanya menggeleng melihat kelakuan istri dan anak perempuannya yang tidak pernah akur dalam urusan laki-laki.
__ADS_1