
Di dalam hutan.
" Do, ponsel kamu " ucap Gino.
" Oh ya.. " Aldo melihat layar ponsel, Alfarezy menghubungi nya.
Aldo : " Siap Bang "
Al : " Posisi ? GPS selalu aktifkan "
Tuut.. Telepon terputus.
Al yang menghubungi Aldo belum sempat tahu posisi Aldo dan kawan-kawan karena sinyal yang hilang timbul. Al mengeluarkan mini tracker, untuk melacak keberadaan Aldo.
Aldo langsung melihat GPS di ponselnya yang selalu aktif hanya saja mungkin karena sinyal sehingga Al dan lainnya tidak dapat langsung melihat keberadaan Aldo dan kawan-kawan.
" Siapa ? " tanya Gino.
" Bang Al " jawab Aldo.
" Syukurlah.. "
" Bang saya rasa Bang Kevin dan Bang Dika, mereka melakukan pengejaran kepada ketiga pelaku yang berhasil kabur, karena sepengetahuan saya disaat mereka menyerang kita itu ada 10 orang, sedangkan yang tertangkap hanya 7, disaat yang bersamaan Bang Dika dan Bang Kevin juga Surya tidak ada " Bian menganalisa.
" Hmm.. bener Ian.. " ucap Gino.
" Kalau hanya melakukan pengejaran ya gak apa-apa, tapi saya khawatir terjadi sesuatu, kamu tahu target kita ini kan ? Bandit narkoba, yang sudah siap dengan segala sesuatu nya yang akan terjadi, saya khawatir mereka akan balas dendam dan mengancam jiwa abang-abang kita " ucap Aldo.
Bian sedikit terhenyak dengan apa yang diucapkan Aldo. Ia pun memulai berpikir ke arah itu, bagaimana jika benar apa yang dikatakan oleh Aldo, bagaimana dengan kakak nya yang sedang hamil besar.
Tidak terasa jam menunjukkan pukul 12 siang, mereka bertiga masih saja berkeliling di hutan.
" Udah dzuhur ya ini ? " tanya Gino.
" Iya " jawab Aldo.
" Kita masih muter-muter aja disini, ckk... seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan " ucap Gino.
" Bang, ada mata air disana, bagaimana kalau kita shalat dzuhur dulu " ucap Bian.
" Oke.. "
Mereka bertiga menghampiri sumber mata air, mereka bergiliran mengambil air wudhu, disaat yang bersamaan ponsel Aldo yang di pergunakan untuk melacak keberadaan seseorang, berbunyi dengan kerasa menandakan target yang ia cari tidak jauh dari tempat ia berdiri.
" Sebentar-sebentar apa nih ? " Aldo mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
Bian dan Gino melihat kearah Aldo.
" Bang Dika.. ada di sekitaran sini, sinyal full disini, banyak Panggilan tak terjawab dari Bang Al " ucap Aldo.
" Ya udah kita tunggu aja disini, karena daerah sini signal full kan " balas Gino.
" Oke "
Tidak lama terdengar suara orang berjalan kaki di semak-semak, mereka bertiga menoleh ke sumber suara, dari kejauhan terlihat perawakan seniornya berjalan ke arah mereka, dituntun oleh mini tracker yang dibawa oleh Al.
" Bang.. " ucap Aldo.
Alfarezy menoleh, lalu mempercepat jalannya menghampiri juniornya.
" Gimana ? " tanya Al.
Mereka bertiga hanya menggelengkan kepalanya.
" Ckk... " Al berpikir.
" Bang.. Bang Dika disekitar sini menurut tracker yang saya pegang " ucap Aldo.
" Oke.. "
" Oke.. kalian shalat duluan kita berjaga, nanti gantian kalian menjaga kita yang shalat " ucap Al.
" Siap Bang "
Mereka bertiga melaksanakan shalat dzuhur, sekalian memohon keselamatan dan kelancaran dalam bertugas, selesai shalat, giliran Tim Alfarezy yang shalat mereka dijaga oleh Aldo, Gino dan Bian.
Setelah semua selesai shalat, Tim Alfarezy yang berjumlah 6 orang ditambah mereka 3 orang, menjadi 9 orang, berjalan kembali menyusuri hutan, terdengar suara notifikasi tracker dari ponsel Aldo semakin keras dan semakin cepat pertanda target tracking sudah dekat.
" Bang.. bang.. itu ada bangunan " seru Bian.
" Bian sembunyi " ucap Al
Mereka bersembilan orang, dengan sangat hati-hati mendekati bangunan itu. Perlahan mereka berpencar untuk mengepung bangunan yang ada di depannya.
Terdengar suara dari dalam bangunan, yang tidak ading ditelinga mereka terutama Bian.
" Bang.. suara Mas Dika " Bian berlari ingin segera menyelamatkan kakak iparnya.
" Bian ! " tangan Bian ditarik oleh Al.
" Tenang dulu, jangan bertindak gegabah " ucap Al.
__ADS_1
" Tapi.. Mas Dika, Bang.. " Bian mulai tidak kooperatif.
" Iya saya tahu, kita tahu.. kita atur strategi dulu" ucap Al.
Aldo dan Gino berusaha untuk menenangkan Bian.
" Bian sepertinya harus ada yang menjaga dulu, khawatir ia akan bertindak gegabah " ucap Gino.
"Hmm.. " Aldo mengangguk.
Mereka masih memantau pergerakan dari dalam bangunan.
...****************...
Dilain tempat Neta selesai shalat dzuhur, ia turun ke lantai bawah untuk makan siang, karena ia sudah merasa enak makan dan selalu merasa lapar.
Mbok Sum sudah mempersiapkan makan siang untuk Neta. Neta berjalan menuju ruang makan, lalu ia makan siang sendiri karena Mbok Sum sedang sibuk di halaman belakang.
Selesai makan seperti biasa Neta kembali merapikan meja makannya, mencuci piring dan gelas habis pakainya. Setelah itu ia berjalan menuju ruang televisi, duduk di sofa lalu menyalakan televisi, untuk menemaninya siang ini.
Neta memindahkan saluran televisi, seperti tidak ada yang menarik menurutnya nya, lalu ia kembali memindah-mindahkan saluran televisi sampai di saluran yang sedang menyampaikan berita.
' Pemirsa.. 7 dari 10 orang bandit narkoba yang pengedaran nya sudah sangat meresahkan negeri ini berhasil ditangkap, namun 3 orang pelaku masih dalam pengejaran dan dalam pengejaran nya 3 orang anggota kepolisian masih belum ada kabar dan tidak dapat dihubungi '
Neta terus memperhatikan berita itu, ia berharap ada suaminya yang sedang bersama ke 7 pelaku, namun tidak ada Dika dan Bian disana. Seorang Kasat diwawancarai dalam berita tersebut.
' Ya, 3 orang masih dalam pencarian dan mohon do'a untuk anggota kami yang semenjak penangkapan awal hingga saat ini belum ada kabar, kami lost contact, ketiga anggota kami itu adalah Iptu Mahardika, Iptu Kevin dan salah satu driver bernama Surya '
" Astagfirullah... Mas Dika.. " ucap Neta histeris.
Mbok Sum yang mendengar teriakan Neta, segera masuk kedalam rumah, ia menghampiri Neta yang sudah menangis di sofa.
" Mbak.. Mbak Neta kenapa ? " tanya Mbok Sum.
" Mbok... " Neta terisak.
" Mbak... " Mbok Sum langsung memeluk Neta.
" Mas Dika Mbok.. " Neta kembali terisak.
Mbok Sum tetap berada di dekat Neta, ia khawatir akan psikologis Neta saat ini, apalagi ia sedang mengandung.
" Mbak.. Insyaallah Mas Dika aman, tidak apa-apa, kita pasrahkan semuanya kepada Allah Mbak.. kita pasrahkan penjagaan Mas Dika hanya kepada sang pemilik alam semesta " Mbok Sum menenangkan.
Disaat Neta sudah mulai tenang, Mbok Sum menghubungi kedua orangtua Neta dan juga kedua mertuanya, setelah mendengar penjelasan dari Mbok Sum, kedua orang tua Neta segera bertolak ke kediaman Neta dan Dika, begitupun kedua orangtua Dika.
__ADS_1