DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 10 : Feril Belum Menyerah


__ADS_3

"Udah, Nad. Gak guna kita ladeni orang sirik, nanti kita jadi musyrik.


"Itu mah syirik bukan sirik! Lagian kamu kok bisa santai aja dikatain gitu!" protes Nadya.


"Aku gak merasa, kok. Ngapain tersinggung? Toh kita gak bisa ngontrol ucapan setiap orang, tapi yang terpenting kita bisa mengontrol diri sendiri untuk tidak melakukan hal yang sama," tandas Karen sok bijak.


"Tumben omonganmu berfaedah dikit. Ya, sudah kalau begitu."


Setelah tidak ada jam mata kuliah, Karen pun memutuskan kembali ke rumah. Maklum, dia termasuk kelompok mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang). Namun, ia tak mungkin pulang bersama Darren karena pria itu masih memiliki jadwal mengajar. Akhirnya, ia memutuskan pulang dengan menumpang di kendaraan Nadya.


Saat menuju tempat parkir, sebuah mobil merah melintas dan berhenti tepat di hadapan mereka. Tak lama kemudian, si pemilik mobil keluar dan langsung membuat Karen terkejut. Pasalnya itu adalah Feril. Ia lalu menghampiri Karen sambil membawa buket bunga tadi.


Karen menghela napas. Ia tak mengerti kenapa kakak tingkatnya itu akhir-akhir ini rajin menghampirinya. Kadang-kadang datang untuk menawarkan tumpangan, mengajaknya jalan-jalan, mentraktir makanan, hingga membawakan barang-barang untuknya. Jujur saja, siapa yang tidak senang mendapatkan perhatian dari cowok keren se-fakultas? Tapi, ini sudah sangat berlebihan tingkat provinsi.


"Kar, ada yang pingin aku omongin ma kamu. Tapi sebelumnya tolong buka pintu belakang mobil aku!" pinta Feril dengan wajah serius.


Karen mengernyit heran bercampur tak paham. Sekilas ia menoleh ke arah Nadya yang juga kebingungan.


"Udah, buka aja," bisik Nadya.


Karen menatap Feril, lalu berjalan pelan ke belakang mobil pria itu. Dengan ragu, ia membuka pintu belakang mobil. Saat pintu terbuka, sebuah banner yang melintang dalam bagasi mobil langsung menyapa pandang matanya. Tak hanya itu, sekeliling bagasi didekorasi dengan sangat manis. Ada banyak kelopak bunga mawar merah yang berserakan, balon gas serba pink berbentuk love dan boneka teddy bear yang turut menghiasi bagasi itu sehingga menambah kesan romantis. Banner yang melintang itu berisi tulisan, "Karen, aku suka sama kamu."


"Kalau kamu terima pernyataan cinta aku, kamu gak perlu jawab, cukup ambil cincin yang ada di tangan boneka Teddy bear," ucap Feril yang kini berada di samping Karen.


Tentu saja semua ini membuat Karen terkejut. Terlebih lagi, Feril melakukannya di depan umum sehingga menarik perhatian banyak pasang mata.


Semua orang yang melihat tampak takjub dengan pernyataan cinta romantis dari Feril. Termasuk sahabat Karen sendiri. Nadya menepuk-nepuk bahu gadis itu dengan riang sambil memintanya agar menerima pernyataan cinta dari Feril.

__ADS_1


"Udah terima aja. Ih, so sweet gitu. Coba aja dulu jalanin!" bisik Nadya yang juga ingin diperlakukan romantis oleh lelaki seperti Feril.


"Terima! Terima! Terima!" Terdengar sorakan dari orang-orang yang berada di sekitar situ.


"Jadian! Jadian! Jadian!" Bagai suporter bola, orang-orang itu terus berisik sambil bertepuk tangan mendukung Karen dan Feril agar menjadi pasangan.


Cewek-cewek teman sekelas Feril yang melihat semua itu dari kejauhan, hanya menatap sinis dan saling berbisik. Sementara adik junior mereka merasa iri pada Karen karena mendapat perlakuan seperti itu oleh Feril.


Karen semakin merasa tak nyaman. Sementara Feril tersenyum percaya diri karena ia yakin kali ini ia pasti bisa menaklukkan hati Karen. Cewek mana sih yang berani menolak cintanya? Apalagi dia merupakan mahasiswa populer di fakultas mereka.


Karen menutup pintu bagasi itu dengan keras sehingga membuat orang-orang yang tadinya bergemuruh menjadi hening seketika. Senyum yang menggantung di bibir Feril pun secara bertahap menghilang. Begitupun dengan Nadya yang tak paham dengan sikap sahabatnya saat ini.


"Maaf, Kak. Aku gak bisa pacaran sama Kakak. Maaf banget." Karen berjalan mundur, lalu berlari meninggalkan Feril yang terkesiap atas penolakannya.


"Kar, tunggu dulu!" Feril berusaha menahan gadis berambut sebahu itu, tapi tetap tak dihiraukan. Itu tentu saja memancing reaksi orang-orang yang melihat mereka.


"Huuuuu ... jual mahal banget sih lu cewek! Berasa cantik banget, ya?" teriak kawan-kawan Feril yang tak terima.


Karen tak menghiraukan celaan itu. Ya, mungkin di mata orang-orang dia adalah cewek sombong. Padahal mereka tidak tahu saja jika dia yang sekarang telah berstatus sebagai istri orang. Apalagi suaminya adalah dosen di kampus ini.


Nadya yang bingung, memilih menyusul Karen. Namun, sempat terbesit rasa kasihan juga pada Feril.


Feril dihampiri teman-temannya yang memintanya mengalah dan menyudahi semua ini.


"Udahlah, Sob! Gara-gara pengen menang taruhan, image lu sekarang jadi hancur! Seorang Feril gitu ... ditolak mentah-mentah!" Teman Feril menggeleng-geleng kepala tak percaya.


Salah satu temannya yang memiliki warna rambut ngejreng ala kemoceng ikut menimpal. "Lu, mau gua kasih saran biar tuh cewek balik ngejar-ngejar lu, enggak?"

__ADS_1


"Apaan?" tanya teman-teman Feril penasaran.


"Lu kejar dia sekarang, lu tempelin taii ayam di pipi dia terus lu lari sekencang-kencangnya. Dijamin, dia bakal kejar balik lu!" ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Kampret, lu! Ide apaan tuh!" umpat mereka.


Feril tak menggubris nasihat teman-temannya. Penolakan Karen barusan, justru membuatnya semakin tertantang untuk menaklukkan gadis yang duduk di semester tiga itu. Apalagi Karen menjadi yang pertama melakukan hal ini padanya.


"Lihat aja nanti, dia pasti bakal jadi milik gua!" ucapnya sambil menekuk sudut bibir ke atas.


Karen berjalan masuk ke koridor fakultas sambil memegang ponselnya. Ia bimbang antara ingin menghubungi Darren atau tidak. Sejenak, masih teringat hujatan orang-orang yang mengira ia doyan om-om hanya karena tak menerima pernyataan cinta dari Feril. Sedang ingin mengetik pesan, tiba-tiba lewat gerombolan cewek-cewek semester lima yang sedang bergosip.


Eh, eh, tahu enggak, ada selebgram kampus yang perusahaan ortunya bangkrut tapi masih doyan pamer di sosial media. Ih, itu barang-barang yang dia pamer apa yang dipakai buat nolongin perusahaan bokapnya aja?" ucap salah satu perempuan.


"Barang endorse kali!" imbuh temannya.


"Masih mending barang endorse, gimana kalau ternyata barang-barang dari suggar Daddy?" sahut si pembawa gosip diiringi tatapan menjijikkan.


Teman-temannya ikut serempak tertawa mengejek. "Pantesan aja sekelas Feril ogah dia terima, palingan juga udah terikat kontrak sama om-om, hahahaha."


Rupanya, Karen menyadari perkataan kakak seniornya itu ditujukan padanya. Ya, memang ia terkenal sering memamerkan barang-barang branded di akun media sosialnya. Namun, itu adalah kiriman dari mami Valen. Meski perusahaan yang dipimpin ayahnya bangkrut, tapi tak serta merta membuat mereka jatuh miskin, kan? Apalagi sekarang perusahaan itu bergabung dengan perusahaan keluarga Darren.


Tak kuat mendengar sindiran mereka, Karen memutuskan beranjak dari tempat itu. Namun, ia terkejut ketika Nadya tiba-tiba menghampiri para Kakak senior itu.


"Heh, calon ibu-ibu kompleks bermulut besar! Jaga, ya, omongan kalian!" sambar Nadya mendorong salah satu di antara mereka.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2