
Chalvin terpaksa kembali menelepon Darren. Baru saja menekan tombol panggilan, Oma Belle malah meminta ponsel itu agar bisa bicara langsung pada Darren.
"Sini teleponnya, biar Oma yang bicara!"
Baru saja menempelkan ponsel di telinga, suara halus dari mesin operator malah menyapa dan memberitahukan nomor tersebut tidak aktif.
"Kenapa nomornya malah gak aktif!" gerutu Oma Belle.
Pipi Chalvin mengembung karena menahan tawa.
"Terus, gimana dengan proyek lipstik couple warna yang pernah Karen saranin?" tanya Oma Belle.
"Lagi proses, Oma. Bulan depan kita tes pasar dulu dengan rilis terbatas."
"Loh, kok rilis terbatas?"
"Itu strategi marketing, Oma. Perempuan akan lemah imannya kalau dengar kata limited edition!" Chalvin memetik jari sembari mengangkat keningnya.
"Ah, kamu ini emang paling tahu wanita luar dalam!" puji Oma Belle.
Ternyata malam ini seluruh dosen fakultas ekonomi tengah menghadiri acara makan malam bersama di sebuah restoran tradisional yang telah mereka reservasi. Acara makan malam ini memang diselenggarakan setiap akhir semester untuk mempererat silaturahmi sesama dosen dan juga saling memperkenalkan keluarga mereka.
"Kenapa profesor Darren belum datang, ya? Padahal aku memintanya mengajak istrinya," tanya wakil dekan.
"Biar aku hubungi." Marsha buru-buru mengambil ponselnya.
"Ah, pak Darren izin. Istrinya tiba-tiba masuk rumah sakit. Dia hubungi saya tadi siang." imbuh Pak Budi luhur.
"Emangnya sakit apa istrinya?" tanya salah satu dosen wanita.
"Enggak tahu. Kayaknya sakit serius, soalnya dia izin untuk beberapa hari ke depan," balas pak Budi Luhur.
"Semua nilai-nilai mahasiswa juga udah dia kirim," sambung salah satu kaprodi ekonomi.
Informasi dari dekan ekonomi itu membuat dosen-dosen tersebut terkejut. Mereka saling bertanya-tanya tentang sosok istrinya yang masih misterius hingga kini. Sebaliknya, Marsha yang tak kalah terkejut, tak bisa menahan rasa penasarannya mengetahui apa yang terjadi pada Karen.
Ia langsung pamit ke kamar kecil hanya untuk menghubungi Darren. Sayangnya, pria yang pernah menjalin hubungan dengannya itu masih belum mengaktifkan telepon. Marsha kembali bergabung dengan para dosen hanya untuk mengucap pamit pada mereka.
"Maaf semua, saya ada urusan keluarga yang mendadak gak bisa bergabung," ucapnya sambil mengambil tas dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Loh, jadi Bu Marsha gak ikut makan sama kita?" Salah satu dosen berceletuk.
"Iya, nih. Gak bisa! Soalnya saya harus segera pulang," jawab Marsha.
Setelah keluar dari restoran itu, ia langsung meluncur ke sebuah rumah sakit tempat Karen dirawat saat ini. Pernah berpacaran dengan Darren selama bertahun-tahun, membuatnya yakin kalau Karen dirawat di Rumah Sakit langganan keluarga Bratajaya itu.
Saat memasuki gedung Rumah Sakit, matanya tak sengaja menangkap sosok yang juga baru tiba di sana. Terlihat seorang pria memakai kaus lengan panjang yang bagian lengannya bermotif zig-zag.
"Chalvin!" panggil Marsha pada pria itu.
Pria itu lantas menoleh ke arahnya. "Marsha?"
"Hei, baru ini lagi ya kita ketemu!" Marsha menghampiri Chalvin dengan senyum yang mengembang.
"Iya, nih. Terakhir dua tahun lalu, kan, sebelum kamu nge-ghosting Darren!" singgung Chalvin yang seketika membuat wajah Marsha berubah, "oh, iya, kamu ngapain ke sini? Ada keluarga yang sakit?" tanyanya seraya melihat mini parsel buah yang dibawa perempuan itu.
"A ... tadi aku lagi ikut acara makan malam para dosen, tapi cuma Darren doang yang gak datang. Katanya karena istrinya masuk rumah sakit. Aku nelepon dia gak dijawab-jawab. So, aku langsung datang ke sini, kali aja istrinya dirawat di sini. Terus, kamu sendiri ...."
"Ya, aku pengen jengukin istrinya juga. Kalau gitu sekalian aja," ajak Chalvin.
Begitu tiba di kamar inap Karen, mereka malah mendapati Karen sendiri tanpa ada yang menemaninya. Sebaliknya, Karen terkesiap melihat kehadiran Marsha yang mengekor di belakang Chalvin.
"Loh, Darren mana? Kok kamu cuma sendiri," tanya Chalvin.
"Lagi pulang ke rumah ngambilin beberapa pakaian ganti. Tadi juga barusan papi dan mami aku pulang," jawab Karen sambil duduk bersandar di tempat tidur.
"Karen, kamu sakit apa?" Marsha mendekat, menunjukkan sikap penuh perhatian sembari meletakkan buah-buahan di atas meja nakas.
Berpikir kalau Marsha benar-benar baik padanya, Karen pun menceritakan tumor yang berada di dalam rahimnya. Mendengar hal itu, lantas membuat Marsha terkejut sekaligus mengingat sesuatu.
"Jadi kamu punya tumor di rahim? Kok sama persis dengan mendiang ibunya Darren? Yang sabar ya ... Karen. Padahal kamu masih muda banget. Semoga aja gak separah ibunya Darren. Dan semoga Darren benar-benar bisa terima kondisi kamu sekarang. Pasti berat baginya, yang seharusnya menikmati tahun pertama pernikahan, tapi malah ...." Marsha tak melanjutkan ucapannya. Sengaja membuat kalimat yang mengambang.
Chalvin yang sedari tadi memilih diam, mulai mengernyitkan dahi mendengar celotehan Marsha.
"Mungkin ini ujian pernikahan kami. Setiap pasangan yang menikah punya ujian masing-masing, kan?" balas Karen yang mengingat nasihat mami Valen tempo hari.
"Terus gimana respon Oma Belle? Kali aja Oma udah antisipasi biar Darren gak ngikutin jejak ayahnya yang nikah lagi," lanjut Marsha bernada julid.
"Marsha, shut your mouth up! Don't talk too much!" bisik Chalvin sembari menarik paksa Marsha keluar dari kamar rawat Karen.
__ADS_1
(Shut your mouth up: tutup mulut lu/bisa diam gak)
"Maksud kamu apa ngomong kek gitu di depan Karen?"
"Gak ada maksud apa-apa. Aku cuma khawatir doang."
Chalvin menggeleng pelan. "Kamu enggak khawatir! Kamu sengaja, kan?"
"Aku datang ke sini karena khawatirin Darren, kok. Aku cuma kasihan aja, Darren enggak lebih bahagia sejak menikah. Dan sekarang, dia harus sibuk dengan pengobatan istrinya kayak ngulang kejadian pas dia sibuk rawat ibunya, kan?"
Pintu yang tak tertutup rapat, membuat suara obrolan mereka cukup terdengar jelas di telinga Karen. Ia tertunduk lesu dengan tangan yang sibuk menggulung ujung selimut. Apa yang dikatakan Marsha sama sekali tak membuatnya marah, karena kenyataannya memang seperti itu. Darren bahkan telah mengambil cuti libur lebih awal hanya untuk fokus menemaninya.
"Kamu gak terima Darren nikah sama orang lain, kan?" Chalvin berkata sinis.
"Gak terima?" Marsha tersenyum ringkih sembari membuang muka, "Bisa jadi iya! Aku bakal terima Darren nikahi perempuan yang lebih baik dari aku dan hidup bahagia dengan pasangannya. Nyatanya sejak nikah, dia tuh sering kena masalah! Dunianya sekarang hanya seputar istrinya aja!"
Chalvin berdecak heran. Ia menarik tangan Marsha sehingga membuat keduanya menjauh dari ruangan itu.
"Kamu kok jadi gak punya empati gini. Ternyata kamu masih belum berubah, ya!"
"Tahu apa kamu soal aku!"
"Tahu banyak. Bahkan lebih tahu dari Darren. Apa kamu lupa aku lebih duluan kenal kamu dibanding Darren."
Pertemuan keduanya, sedikit mengembalikan ingatan Chalvin semasa sekolah. Ia, Darren dan Marsha berada dalam satu sekolah yang sama. Dulunya, ia dan Marsha sangat dekat. Bahkan ia sempat memiliki perasaan terhadap perempuan lulusan magister luar negeri itu. Sayangnya, ternyata Marsha mendekatinya agar bisa dekat dengan Darren yang dingin terhadap perempuan. Di hari saat Chalvin hendak menyatakan perasaannya, ia malah dipukul mundur dengan kabar hubungan Darren dan Marsha yang baru terjalin. Meski terpatahkan, ia turut mendukung hubungan keduanya.
"Kamu selalu menganggap perempuan manapun itu saingan kamu. Kamu selalu menganggap mereka enggak lebih baik dari kamu," cetus Chalvin.
"Wajar, perempuan manapun pasti punya rasa bersaing dengan sesama perempuan, walau cuma seujung kuku," elak Marsha.
"Ya, benar. Aku tuh gak habis pikir, kenapa para wanita kebanyakan menganggap wanita lainnya itu adalah saingan mereka? Entah merasa tersaingi dengan kekasih baru pacarnya, merasa tersaingi dengan mantan kekasih pacarnya, merasa tersaingi dengan teman atau saudaranya sendiri, bahkan ada yang ketika telah menjadi orangtua pun merasa tersaingi dengan menantunya sendiri. Perhatian dan cinta laki-laki bukan sebuah penghargaan! So, seharusnya enggak perlu saling bersaing," cetus Chalvin dengan wajah menahan geram.
"Chalvin, Marsha, kalian dah lama di sini?" Darren datang berjalan ke arah mereka. Teguran pria itu membuat keduanya terkejut.
.
.
.
__ADS_1