
Sebuah kutipan nyeleneh mengatakan, "Jadilah orang yang tak bermanfaat agar tak dimanfaatkan orang". Seperti yang dilakukan Feril dan kawan-kawannya. Hingga menjelang semester baru, julukan mahasiswa tak berguna yang kehadirannya antara ada dan tiada, masih tersemat pada mereka. Biasanya mahasiswa akan termotivasi mengawali semester baru, tapi itu tidak berlaku untuk mereka. Hingga kini, mereka pun belum punya rencana ke depan. Meski begitu, mereka tampak semangat menghadapi awal perkuliahan karena bisa melihat para mahasiswa baru.
"Katanya roda hidup berputar, tapi kok hidup kita gini-gini aja, ya!" keluh Feril sambil berjalan santai.
"Mungkin rodanya kita bocor kali, chuaks!"
"Mana tokoh-tokoh pahlawan satu-satu minggat dari dompet gua lagi!" keluh Feril kembali.
"Sama, Cuy! Padahal gua suka sama duit, eh duitnya malah suka abis," sambung Jamet.
Tak lama kemudian, si Gimbal dengan dua orang temannya datang dan ikut bergabung setelah sempat bertemu dosen PA mereka.
"Keknya gua salah pilih jurusan, deh! Seharusnya gua ambil jurusan bahasa Rusia," gerutunya sambil melihat jadwal mata kuliah yang diambilnya semester ini.
"Ngapain ambil jurusan bahasa Rusia? Mau jadi warganya Putin lo?" tanya si Jamet terheran-heran.
"Ya, kagak! Setidaknya kalo gua belajar bahasa Rusia, nonton Marsha and the Bear gak perlu pake subtitle."
"Ya, elah, muka doang yang sangar kek Yakuza tapi tontonannya Marsha and the Bear. Jangan-jangan minumannya juga susu beruang!" cemooh kawan-kawannya.
"Kalo gua yang penting dah masuk kampus lagi. Bisa nongkrong ma kalian dan lihatin cewek-cewek bohai dah bikin gua senang," imbuh Feril, "Gua sumpek selama liburan. Ternyata duduk bengong di kelas sambil dengar dosen ngoceh lebih baik dari pada diam-diam di rumah. Gua diomelin sama nyokap mulu. Kalo ngomong ma tetangga, yang dipuja-puja cuma Farel mulu! Giliran gua, dikatain beban keluargalah, gak gunalah, cuma ngabisin beras doang!"
"Semangat, Ril! Jangan dengarkan kata orang walau yang mereka bilang itu fakta!" sahut kawan-kawannya menyemangati mereka.
"Betul, tuh, Ril. Tenang aja, Tuhan pasti ngasih jalan kesuksesan ke kita-kita, cuma mungkin belom diaspal aja," timpal si Gimbal.
"Ril, kalo kata gua nih ... jadilah diri sendiri karena gak akan ada yang mau jadi elu," ucap si Jamet berlagak bijak.
Mendengar tanggapan teman-temannya, justru makin membuat Feril kesal. "Emang, ya, dasar teman sialan kalian semua! Pokoknya gua gak mau hidup gini-gini mulu, gua harus berubah!"
"Eh, Ril, lu gak punya niat ganti dosen PA? Selama dosen PA kita masih pak Budi, kita bakal dianaktirikan mulu. Belom lagi, pas skripsi nanti susah banget ditemui," ujar salah satu kawannya.
"Emangnya bisa ganti dosen PA?"
"Ya, bisa kalo kita ajuin dan ngasih alasan tepat. Tapi masalahnya siapa yang cocok dan mau bina kita?" ucap Jamet.
Feril memetik jari seketika begitu satu nama muncul di benaknya. Ia langsung meninggalkan kawan-kawannya, berjalan seribu langkah dengan langkah tegas dan pandangan yang tajam. Teman-temannya sontak berkumpul membentuk setengah lingkaran sambil menatap punggung Feril yang meninggalkan mereka.
"Eh, tuh Feril kenapa tiba-tiba kesambet gitu?"
"Gak mungkinlah, orang dia setannya!"
Tak ada hujan, tak ada angin, Feril masuk ke ruangan dosen, lalu berjalan menuju ke meja kerja Darren.
Feril menggebrak meja kerja Darren dengan kedua tangannya sambil berkata, "Prof, saya mau Profesor yang jadi dosen PA saya!"
__ADS_1
Kening Darren berkerut seketika. Mahasiswa yang berada di hadapannya saat ini, dikenal suka bermasalah dengan para dosen, baik secara moral maupun nilai akademik. Selain itu, ia juga tahu betul kalau Feril menyukai istrinya. Sekarang, pria itu malah datang tiba-tiba dan memohon untuk menjadikannya sebagai dosen PA. Membingungkan, bukan?
"Coba kasih saya alasan kenapa harus terima kamu!"
"Kalo terima saya, bisa jadi amal jariyah buat Bapak. Lagian saya ini bukannya bodoh, Prof. Cuma kurang pengetahuan aja!"
"Kamu udah konfirmasi sama dosen PA lama?"
"Gak usah khawatir, Prof, soal itu. Yang penting Profesor mau terima saya dulu."
Darren menipiskan bibir, seraya mendengus. "Kalo gitu kamu datang lagi ke sini besok," perintahnya sambil berdiri dan keluar dari meja kerjanya.
"Loh gitu aja, Prof? Terus saya diterima, gak?"
"Besok akan jadi jawaban," jawab Darren sambil meninggalkannya. Ya, tadinya dia memang ingin menjemput Karen untuk mengajak makan siang bersama.
Masih berada di coffee shop Nadya, Karen seakan menolak saat Vera mengatakan badannya lebih berisi.
"Masa, sih?" tanya Karen ikut memerhatikan tubuhnya dari kaca jendela kafe.
"Gimana, Nad, menurut lu?" tanya Vera.
Nadya melihat tubuh Karen dari atas ke bawah. "Agak melar dikit, sih!" ucapnya sambil menyengir.
"Bisa jadi pengaruh obat-obatan juga, sih. Karen habis terapi waktu itu, kan?" pikir Nadya.
"Duh, bener gak, sih? Padahal aku kurang nafsu makan loh akhir-akhir ini!" Karen mendadak panik. Wajar saja, kegemukan adalah musuh terbesar wanita selain jerawatan.
Perkataan Vera dan Nadya sedikit memengaruhi Karen. Ya, terbukti, saat Darren mengajaknya makan siang, dia hanya memesan menu sayuran.
"Kok gak makan karbo sama protein? Entar lemas, loh!" tegur Darren.
"Lagi pengen makan sayur aja!" ucap Karen.
Darren langsung meletakkan beberapa potongan lauk di piring Karen begitu pesanan mereka datang.
"Nih, makan yang banyak biar gak gampang anemia." Ia juga menyendokkan sesendok nasi ke piring istrinya.
"Ih tapi aku mau diet!" protes Karen.
"Gak ada diet-diet!
Aku lebih suka badan kamu kelihatan montok daripada kurus," ucap pria itu.
"Ih, dasar genit!"
__ADS_1
"Loh, kok genit?"
"Iya, laki-laki yang suka perempuan berbadan montok dan semok biasanya genit tahu!"
"Jangan suka menggeneralisasi sesuatu, deh! Kamu mau kurus, langsing atau gemuk itu pilihan hidup kamu sendiri. Tapi kalo terlalu kurus atau gemuk, itu akan berpengaruh juga sama kesehatan kamu."
"Ini apaan, sih! Aku gak suka cium baunya," Karen menyingkirkan potongan salmon yang baru saja Darren berikan padanya. Gara-gara itu, dia malah tak berselera dan berhenti makan.
Melihat Karen yang menahan mual sambil menutup mulut, Darren langsung menyodorkan minuman mint.
"Hum ... ini seger banget! Aku minum aja, deh! Gak jadi makan."
Darren memicing saat teringat dengan perubahan suasana hati istrinya akhir-akhir ini.
Di sisi lain, Nadya kembali membereskan coffee shop usai kepergian Karen dan Vera. Ia mengecek ponselnya ketika terdengar suara pemberitahuan chat yang masuk. Matanya melebar seketika saat melihat pesan chat dari Chalvin.
"Oke, di mana lokasi coffee shop kamu," tulis Chalvin sebagai pesan balasan atas undangannya untuk menghadiri pembukaan cafe kecilnya.
Ia baru menyadari chat yang sempat ingin diurungkan itu ternyata telah terkirim.
"Halo ... kok belum dikirim alamatnya." Satu pesan dari Chalvin kembali masuk.
Nadya yang sempat kelabakan, terpaksa mengirim alamat coffee shop-nya. Ia mendengus sejenak sebelum kembali membereskan tempatnya. Hingga kini, ia belum pulang karena masih menunggu karyawan yang akan dipekerjakan untuk membantunya melayani pengunjung nantinya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, pintu kafenya berderit menandakan seseorang telah masuk. Berpikir itu adalah karyawan yang ditunggunya, Nadya pun buru-buru keluar dari tempat penyajian untuk datang menghampiri. Namun, ia malah terperangah ketika melihat sosok di depan sana adalah Chalvin dengan wajah bingung.
"Apa aku terlambat?" tanya Chalvin sambil memerhatikan sekeliling tempat yang begitu sepi di mana hanya ada mereka berdua.
Nadya mengernyit sesaat, lalu tersadar. "Launching-nya hari Senin, bertepatan dengan hari pertama perkuliahan."
Mata Chalvin melotot seketika. Tubuhnya tiba-tiba merosot ke belakang dengan sebelah tangan yang menepuk jidat. "Astaga, aku pikir sekarang! Pantes aja gak ada orang. Aku sampai buru-buru datang, tahu enggak!" ucapnya dengan tawa tergelitik.
Rupanya tawa pria itu menular, hingga Nadya pun ikut terkikik.
"Karena Kak Chalvin dah di sini, mau cobain kopi di kafe ini, gak?" Nadya pun menawarkan.
Chalvin mendelikkan mata ke atas, lalu menyahut, "Boleh juga! Penasaran juga mau ngerasain racikan kamu."
.
.
.
...Saya Aotian Yu, mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman Muslim. Mohon maaf jika selama menulis, ada kata-kata yang tak sengaja menyinggung kalian....
__ADS_1