DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 119 : Makan Malam


__ADS_3

Berbeda dengan Chalvin, Oma Belle dan Nadya yang tengah menghadiri pesta, Darren dan Karen malah sibuk membagikan oleh-oleh pada para asisten rumah tangga, satpam, dan juga tukang kebun di rumah itu. Setelah itu, mereka menuju kamar yang telah dipersiapkan. Kamar baru yang terletak di lantai atas itu lebih luas dari kamar yang sering mereka tempati jika bermalam di rumah ini. Terdapat balkon yang menghadap langsung ke area kolam renang di pekarangan samping.


Karen membuka pintu balkon, berdiri sambil memegang terali besi. Ia terhenyak saat tangan Darren melingkar di pinggangnya, memeluk dari arah belakang dengan erat.


"Ini sudah seminggu pasca terapi, seharusnya kita sudah bisa, kan?" bisiknya mesra sambil memberi godaan dengan menggigit cuping telinga Karen. Ia sudah terlalu lama menunggu momen intim mereka.


Karen bergidik saat Darren meniupkan napas di telinganya. "Kamu gila, ya? Ini masih pagi, loh!"


"Justru kalo malam agak susah. Kalo sekarang mumpung sepi. Oma lagi ke pesta, kakek lagi main golf. ART juga lagi sibuk di dapur jam-jam segini. Apa kamu gak sadar? Kamu paling berisik kalo kita lagi gituan."


Dikatakan seperti itu tentu membuat wajah Karen memerah padam. Namun, perempuan itu langsung melepaskan diri dari pelukan sambil melangkah mundur menjauhi dari suaminya. Bahkan kembali masuk ke kamar.


"Ih, dasar! Gini nih kalo lagi gak ngajar, otaknya malah dipakai buat mikir yang ngeres!"


"Sangat tidak menyenangkan. Bintang satu!" ketus Darren dengan wajah yang berlagak cemberut.


Melihat Darren yang tampak merajuk dengan hendak membuka pintu kamar, Karen pun gantian memeluknya dari belakang. "Jangan sekarang, ya! Entar malam aja, please .... Soalnya aku belum nge-waxing. Aku gak pede."


Ya, selama mengetahui penyakitnya, Karen tak pernah lagi perawatan luar dalam.


"Aku jamin deh, entar malam pasti bakal memuaskan," bujuk Karen dengan suara yang genit.


Darren terdiam sejenak seraya mengangkat sebelah alisnya. "Oke ... kita lihat berapa bintang yang bakal aku kasih ke kamu. Kalo gak memuaskan jangan berharap dapat lima bintang.


"Kamu juga. Lihat aja berapa bintang yang bakal aku kasih ke kamu. Kalo baru sekali tanding udah K.O, langsung aku kasih satu bintang!" Karen malah menantang balik dengan dagu yang terangkat tinggi. Namun, di waktu yang sama ia malah terkesiap saat tubuhnya terangkat tinggi dan langsung dibaringkan ke tempat tidur.


"Panjar dulu gak papa, kan?" ucap Darren menindiih Karen dan siap untuk melabuhkan bibirnya.


...****************...


Di tempat pesta, Chalvin dan Nadya masih melanjutkan akting mereka sebagai sepasang kekasih. Keduanya diperkenalkan Oma Belle ke para sahabatnya yang masuk dalam golongan ibu-ibu pengusaha dan pejabat.

__ADS_1


Chalvin mengajak Nadya menepi ke meja prasmanan sejenak untuk berbicara.


"Pokoknya kamu yang harus nolak mati-matian pernikahan ini. Alasan apa gitu. Bilang aja bokap kamu gak ngijinin nikah muda atau nyokap kamu lagi di rumah sakit," bisik Chalvin.


"Ih, ucapan adalah doa, tahu! Kalo mama aku sakit beneran gimana?"


Sedang pusing memikirkan alasan yang tepat, mata Chalvin melebar saat melihat Oma Belle menuju ke arah mereka.


"Oma datang, cepet suapin aku!" perintah Chalvin.


"Hah?" Nadya malah terbengong.


"Suapin aku! Biar Oma gak curiga sama kita," ucapnya dengan mata tertuju pada piring berisi makanan yang dipegang Nadya.


Nadya bergegas menyuapinya. Bahkan, belum habis dikunyah makanan tersebut, gadis itu malah kembali menyuapinya hingga mulutnya penuh.


"Duh, duh, duh, Nak Nadya ... ternyata kamu keibuan sekali! Gak kebayang, kalo punya anak nanti pasti bakal sangat terurus. Oma jadi gak sabar buat nikahin kalian berdua," puji Oma melihat Nadya yang terus menyuapi Chalvin.


Chalvin tersedak seketika. Pujian Oma malah seperti sebuah anak panah yang melesat langsung pada dirinya. Kiamat kecil seakan menghampirinya kala oma Belle semakin yakin untuk menikahkan mereka.


Seolah tak puas mengajak mereka ke pesta bersama, Oma Belle meminta mereka untuk ikut makan malam bersama keluarga besar Bratajaya. Kini, Nadya diperkenalkan juga ke kakek Aswono.


"Pacar Chalvin yang sekarang ini teman karibnya Karen dan mahasiswanya Darren juga," jelas Oma Belle.


"Kadang-kadang dunia emang sempit seperti cerita di film-film. Ketemunya sama orang-orang sekitarnya." Kakek terkekeh.


"Kita harus datang ke rumah orangtua Nadya buat melamar, Mas," kata Oma dengan penuh antusias.


"Loh, memangnya mau cepat-cepat nikah?" tanya kakek meragu.


"Iyalah! Tujuan pacaran kalo bukan untuk nikah, ngapain?" semprot Oma.

__ADS_1


"Gimana dengan kalian sendiri?" tanya kakek Aswono pada Chalvin dan Nadya.


"Ngikut aja, Kek," ucap Chalvin pasrah dengan wajah yang kelabu.


Kakek Aswono malah kaget. "Tumben langsung nurut sama Oma."


"Apa sih yang enggak buat nyenangin hati Oma. Disambar petir pun aku rela, asal gak kena!" desis Chalvin tapi dengan nada menggerutu.


"Kamu emang ahlinya dalam kandangin buaya." Kakek Aswono memberi sanjungan tepat di telinga Oma Belle.


"Jelas itu!" sahut Oma Belle.


"Tahu gini seharusnya kita buka kebun binatang aja. Itung-itung punya penjaga gratis," tutur kakek Aswono sambil tergelak. Namun, tak berlangsung lama ketika Oma Belle menatapnya dengan memasang mata serigala.


Begitu makan malam telah siap dihidangkan, Oma Belle meminta salah satu ART untuk memanggil Darren dan Karen makan bersama.


Saat hendak turun ke lantai bawah, tiba-tiba Darren mendapat telepon. Melihat nama pemanggil di layar ponselnya, ia bergegas menjauh dari istrinya dengan langkah buru-buru. Karen mengernyitkan dahi. Pasalnya, Darren tak pernah menghindar darinya saat sedang menerima panggilan telepon. Sekalipun itu dari dekan atau petinggi kampus.


Setelah menjawab telepon, Darren kembali dengan ekspresi berbeda dan langsung berkata, "Aku mau keluar dulu. Ada urusan mendadak. Kamu gabung aja sama mereka, ya?"


"Eh, emangnya mau ke mana?" tanya Karen.


Sayangnya, pertanyaan ini belum sempat terjawab dan terabaikan begitu saja. Suaminya mendadak seperti memiliki kemampuan teleportasi yang menghilang sekejap dari hadapannya dan telah keluar dari rumah dengan tergesa-gesa. Dari gelagatnya, terlihat jelas jika ada urusan mendesak yang harus ditanganinya dengan segera.


Karen menuruni anak tangga lalu berjalan menuju ruang makan. Ia terkejut saat mengetahui Nadya masih ada dan ikut bergabung dengan mereka.


"Karen, Darren mana?" tanya Oma.


"Mas Darren barusan keluar, Oma. Katanya gak bisa gabung karena ada urusan mendadak."


"Oh, iya? Gak biasanya dia pergi tanpa pamit lebih dulu," gumam Oma Belle heran.

__ADS_1


Karen menarik kursi di samping Oma Belle lalu mendudukinya. Ini membuat posisinya berhadapan dengan Chalvin dan juga Nadya. Sikap kalem Nadya yang berbeda dari biasanya, mengundang kecurigaannya. Gadis itu bahkan menghindari kontak mata dengannya.


Sebaliknya, tatapan Chalvin malah terpaku padanya selama beberapa detik. Sebenarnya, pria itu hanya sedang menantang dirinya sendiri. Apakah benar, ia memiliki perasaan berbeda pada istri sepupunya itu. Sialnya, aksinya ini malah terpantau oleh Oma Belle.


__ADS_2