DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 45 : Feril Maju tak Gentar


__ADS_3

Karen dan Chalvin pun meluncur bersama mobil mewah, meninggalkan Feril yang melongo dengan mulut ternganga. Teman-teman Feril datang mendekat, ikut melihat mobil yang mulai menjauh dari pandangan mereka.


"Sulit, nih, Bro! Udah mundur aja. Tuh cowok beda kasta sama kita," ucap salah satu temannya sambil memegang pundak Feril.


"Bersyukurlah Tuhan nyiptain nyamuk agar kita belajar ngegampar diri kita sendiri, Ngab," timpal kawan lainnya mengingatkan agar Feril sadar diri.


"Kayaknya ada yang batal dapetin Ducati gua, nih! Siap-siap lu bayar taruhan ke gua, ya!" Seorang pria yang ternyata merupakan lawan taruhan Feril datang mendekat dan memprovokasinya.


"Gua belom nyerah, kok. Lihat aja, tuh, cewek pasti jatuh ke tangan gua dan Ducati lu bakal jadi milik gua juga!" cetus Feril sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Yaelah ... udahlah! Lu sama Karen itu ibarat polisi India sama penjahat. Udah berkali-kali nembak, tapi gak pernah kena," imbuh pria itu dengan nada mengejek.


Feril tentu tak mau mundur begitu saja. Pasalnya, jika dia kalah taruhan, maka harus membayar uang puluhan juta ke temannya itu sesuai dengan yang mereka sepakati sejak awal. Lawan taruhan Feril adalah seseorang yang juga pernah ditolak cintanya oleh Karen, jadi dia menantang Feril untuk mendekati perempuan itu dengan iming-iming motor Ducati miliknya.


Di dalam mobil, Karen menceritakan pada Chalvin tentang pernikahan rahasia yang dijalaninya bersama Darren. Ia mengatakan Darren mengajukan persyaratan itu karena tak ingin orang-orang kampus mengetahui mereka telah menikah.


Mendengar curahan Karen, Chalvin akhirnya mengerti kenapa tiba-tiba Karen mengakuinya sebagai pacar di depan mahasiswa tadi.


"Gimana, ya, menurutku ... Darren itu memang jaga privasi banget. Dulu waktu pacaran sama Marsha juga enggak banyak yang tahu. Mungkin ada saatnya nanti dia umumkan pernikahan kalian," ucap Chalvin sambil tetap fokus menyetir.


"Gak papa kok. Aku juga enggak berharap diakui di depan umum," balas Karen sambil tertunduk.


Chalvin terdiam. Namun, ekor matanya menangkap raut murung di wajah Karen.


Karen malah kembali terngiang obrolan cewek-cewek tadi dan itu sedikit mengusik hatinya. Tak mau mengingat hal yang membuat suasana hatinya tak bagus, ia pun membuka grup yang beranggotakan teman-teman sekelasnya. Matanya langsung terbuka lebar ketika melihat isi obrolan grup dipenuhi foto-foto Darren yang tengah mengajar. Foto tersebut ternyata diambil diam-diam oleh salah satu temannya yang selalu mengagumi pria itu. Foto-foto itu lalu dikomentari oleh teman-temannya yang lain. Rata-rata dari mereka menulis kekaguman terhadap pria itu. Bahkan ada yang sampai berhalu hendak menjadi istrinya.


Kalau mereka tahu aku ini istrinya, kira-kira reaksi mereka gimana, ya?


Karen malah mengkhayalkan respon teman-temannya ketika mengetahui ia adalah istri Darren. Dalam bayangannya, semua kawannya tak memercayai ucapannya.


"Lu lagi demam, ya?"

__ADS_1


"Gak mungkin. Kayaknya lu butuh healing deh, halu lu dah setinggi angkasa."


"Lu apain pak Darren sampai mau nikahi lu? Jangan-jangan lu jebak pakai obat perangsang, ya?"


Entah kenapa, respon teman-temannya tergambar sangat menakutkan dalam imajinasinya. Saking menghayati khayalannya, Karen sampai menutup mata dan telinga.


"Aku juga enggak tahu!" teriak Karen yang ternyata masih di dalam mobil.


Teriakan Karen rupanya mengejutkan Chalvin hingga membuat mobilnya direm secara dadakan.


"Sorry ... sorry ... sorry ... aku lagi ngayal." Karen menangkup kedua tangannya di hadapan Chalvin.


Chalvin mengusap wajahnya dengan kasar. "Ngagetin tahu! Gua kira lu lagi kesambet!"


...----------------...


Di sisi lain, Feril menceritakan pada saudaranya—mantan pacar Nadya—tentang taruhan yang ia lakukan dan target wanita yang diincarnya. Farel tentu tahu perempuan yang dimaksud Feril, karena mereka pernah bertemu sekali di kafe dan seingatnya dia sangat dekat dengan Nadya.


"Apaan tuh?"


Farel membuka aplikasi Instagram di ponselnya. Ternyata akun Nadya masih bisa diakses lewat ponsel pria itu. Sewaktu pacaran teman Karen itu sering membuka akunnya melalui ponsel Farel, sehingga password dan email-nya masih tersimpan.


Farel kemudian mengirim pesan ke Karen seolah-olah pesan itu dikirim oleh Nadya. Karen yang baru saja selesai syuting, tiba-tiba menerima pesan dari akun instagram sahabatnya yang telah dibajak Farel.


Nadya: Kar, bisa ketemuan sekarang, enggak? Ada yang pingin aku omongin sama kamu. Penting banget!


Membaca chat Nadya yang tampak murung, Karen pun segera membalas. Apalagi isi chat tersebut memakai emoticon sedih dan menangis yang membuat perempuan itu penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya.


Karen: Ketemuan di mana?


Nadya: Aku lagi di Dragonfly sekarang. Please ... datang ke sini, ya! Aku butuh curhat ke kamu.

__ADS_1


Karen sedikit tersentak begitu mengetahui Nadya tengah berada di kelab malam. Ia semakin khawatir dan takut jika Nadya sampai bermabuk-mabukan. Ia segera mengemas barangnya dan memesan grab ke lokasi tersebut.


"Eh, sudah mau pulang? Aku antar, ya?" tegur Chalvin melihat Karen yang tampak terburu-buru.


"Enggak, aku mau ke kelab dulu ketemu teman. Udah janjian tadi. Bye," jawab Karen sambil melangkah cepat karena rupanya mobil yang dipesannya telah menunggu di luar gedung.


Feril memuji saudaranya yang bisa meniru gaya ketikan khas cewek-cewek, sehingga Karen tak mencurigai jika akun sahabatnya diambil alih mereka. Ia pun segera meluncur di tempat yang sama untuk melancarkan aksinya.


Di waktu yang sama, Darren kembali ke ruang dosen setelah selesai mengisi kelas terakhir. Saat melewati salah satu meja dosen, ia memungut lembar nilai yang terjatuh. Ternyata itu adalah hasil ujian tengah semester mahasiswa semester tiga di salah satu mata kuliah. Mata Darren langsung tertuju pada nama Karen Aurellia yang berada dalam daftar tersebut. Ia terkejut melihat nilai Karen yang sangat rendah. Jika seperti ini, ada kemungkinan istrinya tak akan lulus di mata kuliah tersebut.


Sebagai suami, tentu ia merasa bertanggung jawab atas nilai istrinya. Sepulang dari kampus, ia menyempatkan singgah ke Gramedia membeli buku-buku terkait untuk memudahkan Karen belajar. Namun, ketika sampai di apartemen, ia terperanjat melihat kediaman mereka yang begitu sepi di mana lampu-lampu tiap ruangan belum dihidupkan.


Darren menoleh jam digital yang terpasang di dinding. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi istrinya belum pulang juga. Apa mungkin syuting belum selesai?


Darren merogoh kantong celananya, mengambil ponsel lalu menghubungi Chalvin.


"Vin, syutingnya Karen belum selesai, ya?"


"Udah kok. Udah dari dua jam yang lalu."


"Hah? Kok Karen belum pulang? Masih di sana? Atau lagi di jalan?"


"Tadi sih pas kelar syuting dia buru-buru pergi. Katanya mau ke kelab ketemu temannya. Emang dia gak kasih tahu kamu?"


Mata Darren melebar seketika. Ia segera memutus telepon dan beralih menelepon istrinya. Tentu ia tak senang istrinya pergi ke kelab malam. Anehnya, meskipun telah berkali-kali menelepon, tak kunjung diangkat perempuan itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2