
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Darren baru saja pulang ke kediaman Bratajaya setelah selesai mengisi kelas terakhir. Ia mendapati istrinya tengah duduk di sisi ranjang sambil menikmati aneka snack. Pria itu lantas menghampirinya seraya mengambil salah satu Snack yang belum terbuka, lalu membaca komposisi pada belakang kemasan.
"Kamu kok makan kayak ginian? Ini gak ada nutrisinya! Malah banyak mengandung natrium dan gula!"
"Cuma ini doang yang enak dimakan. Makanan rumah semuanya bikin mual."
"Udah minum susu belom?"
"Bosan, ah, minum susu mulu!"
"Loh, jangan gitu, dong! Kamu harus mencukupi kebutuhan kalsium untuk pertumbuhan janin kita. Kalo asupan kalsium untuk janin kurang, entar janinnya ngambil cadangan kalsium yang ada di tulang kamu. Akibatnya kamu entar jadi gampang nyeri tulang. Dah gitu, pas bayinya dah lahir pertumbuhan giginya entar jadi lambat karena dari sejak kandungan dah kekurangan kalsium."
"Cie ... ngomongnya dah kayak dokter aja!"
"Makanya buku panduan kehamilan yang dikasih dokter tuh dibaca, bukan cuma disimpan dalam laci doang!" Darren mengambil buku panduan tersebut, lalu memberikan pada Karen. "Baca, nih, baca!"
"Males, ah, baca-baca ginian!"
"Astaga!" Darren menggeleng-geleng. "Ini nih, pantes aja Indonesia masuk urutan negara yang penduduknya darurat membaca. Salah satunya kamu, nih!"
"Udah di kampus harus baca jurnal, di rumah disuruh baca lagi. Mana lagi hamil, bukannya dimanjain malah disuruh baca buku," protes Karen kesal.
Darren berjongkok di hadapan istrinya sambil menekan kedua pipi Karen hingga bibir perempuan itu maju ke depan. "Anak yang cerdas gak lahir dari ibu yang pemalas. Pendidikan pertama anak itu dari sejak kandungan, loh! Membaca buku saat hamil bisa menstimulasi dan meningkatkan kecerdasan janin. Kalo punya waktu luang, baca ini! Jangan cuma disimpan!"
"Iya, entar aku baca! Lepasin tangannya dong, keram, nih!" Karen memegang pergelangan tangan suaminya.
"Sejak hamil kok kamu jadi gemesin gini!"
Tak langsung melepas, Darren malah membenturkan dahi mereka dengan pelan hingga membuat hidung mereka turut bersinggungan. Saat hendak mempertemukan bibir mereka, pandangan pria itu malah beralih ke pakaian yang dikenakan istrinya.
"Kamu pake daster?" tanya Darren sambil menahan tawa. Sebab, ini pertama kalinya ia melihat istrinya memakai pakaian andalan ibu-ibu.
Melihat Darren yang mendekih, Karen sontak menyilangkan dadanya. "Oma yang maksa! Mana dasternya kedodoran gini! Udah kayak kelelawar!"
Berbeda dengan Karen yang tampak tak senang, Darren justru tergoda dengan pakaian yang dipakai istrinya saat ini. Meski secara tampilan hanya terlihat seperti daster biasa dengan model jadul, tapi malah membuatnya bergairah dan keinginan untuk berintim pun mulai tak bisa terbendung.
__ADS_1
Wajah Karen bersemu kemerahan saat pandangan Darren terkunci pada dirinya. Ia masih menganggap suaminya tengah mengejek busana yang dikenakannya. Namun, tak berselang lama dari itu, sebuah sentuhan hangat terasa merambat di pahanya. Ternyata tangan kekar pria itu sudah masuk menyelusup ke dalam dasternya. Mengerti apa yang diinginkan suaminya saat ini, Karen malah menahan tangan Darren yang semakin jauh berselancar di dalam sana.
"Eittss, mau ngapain? Kata Vera kalo hamil muda gak boleh gituan, entar bisa keguguran, loh!"
"Masa, sih?" Darren terbelalak seketika, "Kok gak ada di buku panduan kehamilan? Bukannya kemarin-kemarin kamu hot banget." Darren tak percaya.
"Iya, itu sebelum aku tahu. Kalo sekarang gak mau!"
"Pokoknya kamu harus bisa tahan minimal sampai lewat trimester pertama."
"Emangnya itu sampai berapa lama?"
"Ya, tiga bulanan. Sekarang kan usia kandunganku udah Sebulanan, berarti tunggu dua bulan lagi."
Darren lantas melebarkan mata. "Dua bulan lagi?"
Tak percaya begitu saja, Darren lantas mengambil ponsel untuk mengecek kebenarannya. Maklum saja, keduanya memang sama-sama minim pengetahuan tentang kehamilan. Darren lebih suka mencari tahu dengan membaca jurnal dan mencari informasi langsung ke dokter, sementara Karen lebih memercayai hal yang didengarnya dari orang lain.
"Loh, di sini boleh, asal cari posisi yang aman." Darren menunjukkan sebuah artikel seputar kehamilan.
"Ih, pokoknya jangan dulu!" Karen langsung berdiri dan berpindah tempat.
Perpindahan waktu begitu cepat, hingga tak terasa hari baru telah menyongsong menggantikan hari-hari yang telah menjadi kenangan. Karen tengah bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Ia memasukkan beberapa buku, termasuk buku catatan kehamilan. Rencananya, sepulang kampus nanti ia dan Darren akan melakukan konsultasi rutin ke dokter kandungan pilihan mereka. Ia juga memasukkan vitamin asam folat untuk diminum saat siang nanti. Sebab, dirinya sering mulai jika mengonsumsi vitamin di pagi hari.
Di kampus, Karen sangat bersemangat karena Darren akan mengisi mata kuliah pertamanya. Saking bersemangatnya, ia bergegas masuk kelas untuk mengambil posisi strategis di mana nantinya bisa menatap wajah suaminya dengan jelas.
Saat hendak mengambil tempat duduk, ponselnya yang tersimpan dalam tas mendadak berdering. Ia pun buru-buru merogoh tas untuk mengambil ponsel. Rupanya panggilan tersebut berasal dari Nadya.
"Kar, pak Darren dah ada belom? Aku masih sibuk banget, nih, di kafe! Ada orderan banyak pagi ini, mana karyawan baru satu orang yang datang."
"Pak Darren belom ada kok. Ini juga yang datang baru beberapa orang! Vera juga belom muncul."
"Oke, deh, kalo gitu. Aku cepat-cepat packing pesanan dulu." Nadya menutup telepon lalu menyelesaikan pesanannya.
Seperti biasa, setiap hari dia akan mendapatkan orderan borongan dari aplikasi kurir online. Namun, berbeda dari biasanya, kali ini orderan kopi yang masuk pagi-pagi sekali dan pesanan kopi yang biasanya dingin pun berubah menjadi panas.
__ADS_1
"Mas, boleh tahu enggak ini pesanan dari kantor mana?" tanya Nadya pada kurir pengantar.
"Dari kantor perusahaan Belleria, Mbak," jawab kurir tersebut.
"Orderan dari Kak Chalvin lagi?" batin Nadya. Ia sudah tak terkejut karena telah mengetahui lebih dulu. Namun, kini ia justru merasa sungkan karena pria itu terus memborong kopinya.
Di kelas, Vera yang baru saja tiba, langsung mengambil tempat duduk di sebelah Karen. Di waktu yang sama, Feril dan rombongan Mahdi juga masuk dengan membawa kebisingan seperti biasa. Kelas yang tadinya hening dan damai, seketika menjadi berisik seperti pasar karena kehadiran mereka. Apalagi Feril dengan gaya premannya tak segan mengusir beberapa mahasiswa yang duduk di sekitar Karen.
"Hai, Karen?" Seperti biasa, Feril mulai melakukan pendekatan pada perempuan itu.
Karen tentu terkejut melihat pria itu tiba-tiba telah duduk di sampingnya. "Kak Feril kok bisa duduk di sini?"
"Cukup Antartika yang jauh, antar kita jangan!" Feril menaikkan keningnya sebanyak dua kali.
"Perasaan tadi yang duduk di sebelah, ketua kelas deh!" Karen membersit kesal dalam hati. Ia lalu berbisik ke Vera, "Ver, tukaran tempat duduk, yuk! Aku gak mau duduk dekatan ma nih orang!"
"Percuma, Kar! Apa lo gak lihat di sebelah gua siapa?" ucap Vera ikut kesal.
Karen buru-buru menengok ke sebelah Vera. Ternyata kursi tersebut diisi oleh Jamet. Ia juga menengok ke depan dan belakang, ternyata semua kursi telah diisi para Mahdi yang membuatnya terkepung di tengah-tengah mereka.
Di waktu yang sama, tiba-tiba si Gimbal berteriak. "Woi, permennya siapa, nih, yang jatuh!"
Suara Gimbal yang menggema, membuat seisi kelas hening dan langsung memusatkan perhatian mereka padanya, termasuk Karen dan juga Feril. Mata Karen terbelalak melihat botol vitamin miliknya ada di tangan kawan Feril.
"Eh, keknya bukan permen, deh!" Gimbal malah membaca keterangan utama yang ada di luar botol dengan suara nyaring. "Multivitamin dan mineral selama masa kehamilan dan menyusui."
"Wuih, itu obat buat ibu hamil berarti. Emang siapa di sini yang lagi hamil?" Feril sontak berdiri sambil mengedarkan pandangan.
Sontak, seisi kelas menjadi ricuh karena saling bertanya-tanya siapakah pemilik botol vitamin tersebut. Ini karena setahu mereka belum ada satu pun yang menikah di kelas itu. Cewek-cewek yang berada di ruangan itu rata-rata usia sebaya yang tentu saja terdiri dari perempuan kelas atas yang mementingkan pendidikan, modeling, dan anak gaul ibukota yang anti dengan pernikahan usia muda.
Kegugupan pun melanda Karen saat itu juga. Sementara, Vera lantas menoleh ke arah Karen tanpa berbicara apa pun. Hanya dengan melihat mimik Karen saat ini, Vera sudah bisa menebak botol vitamin itu adalah miliknya.
"Ngaku woi itu punyanya siapa? Hamil kok ditutup-tutupi? Jangan-jangan hamil di luar nikah lagi!" cetus Feril.
.
__ADS_1
.
.