DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 210 : Debat Sengit


__ADS_3

Bukan hanya Nadya saja, Oma Belle dan silvia pun ikut tercengang melihat kehadiran Nadya di lantai apartemen yang dihuni Chalvin. Apalagi penampilan Nadya cukup berbeda saat ini. Di mana kameja yang dipakainya tampak sedikit kusut karena dari mesin pengering, rambut yang tak tersisir rapi dan wajah polos tanpa polesan makeup apa pun.


"Nadya? Ngapain sepagi ini ada di sini? Jangan bilang kamu dari tempatnya Chalvin!" duga Oma Belle dengan nada tak menyenangkan.


"Aku ... aku cuma ...." Nadya kelabakan menjawab pertanyaan Oma Belle. Keringat dingin tiba-tiba keluar dari pori-pori telapak tangannya. Saking gemetar, sebelah tangannya mengelus punggung leher. Namun, itu malah membuat kerah kamejanya tersingkap dan mengekspos tanda merah di bawah lehernya yang dibuat oleh Chalvin saat ciuman panjang berlangsung.


Tak ayal, Oma Belle yang sudah mengeluarkan tanduk kini bergegas keluar dari lift dan berjalan cepat menuju kediaman Chalvin. Di dalam sana, Chalvin keluar dari kamar mandi dengan buru-buru. Namun, langkahnya sempat terhenti saat mengetahui Nadya telah pergi tanpa sepengetahuannya. Bersamaan dengan itu, terdengar bunyi bel secara beruntun.


Chalvin membuka pintu apartemen dengan sebelah tangan yang sibuk mengusap rambut dengan handuk kecil. Punggungnya tertolak ke dinding saat Oma Belle langsung menyeruduk masuk.


"Kenapa sepagi ini Nadya ada di apartemen kamu? Mau ngapain dia ke sini? Kamu gak ngajak dia bermalam di tempat kamu, kan?" Oma Belle langsung membombardirnya dengan pertanyaan.


Mendengar Oma Belle menyebut nama Nadya, Chalvin pun lantas hendak keluar menyusulnya. Namun, Oma Belle langsung menghadangnya di pintu.


"Mau ngapain kamu? Gadis gak tahu malu itu udah pergi!"


"Gak tahu malu?" Chalvin mengulang perkataan Oma dengan nada tak senang.


"Apa sebutan perempuan yang datang ke tempat pria kalo bukan 'gak tahu malu'! Itu masih lebih sopan! Benar, ya, kata orang-orang. Cewek-cewek muda jaman sekarang mengerikan! Segitu pengennya punya pacar orang kaya sampai rela naik ke ranjang laki-laki!" hardik Oma Belle dengan emosi meluap-luap.


"Oma, Nadya gak seperti itu!" bela Chalvin.


"Lantas seperti apa? Hah? Enggak usah bohongin Oma! Oma udah bisa tebak yang kalian lakukan! Jadi ini yang bikin kamu mau pacaran sama dia? Biar dapat enak-enaknya gitu?" ucap Oma tanpa menyaring kata-kata.

__ADS_1


"Oma bilang apa, sih? Tuduhan Oma terlalu jauh. Aku sama Nadya gak ngelakuin hal di luar batas dan Nadya gak seperti itu!" bantah Chalvin.


"Terus ngapain kalian berduaan di apartemen? Bertapa gitu? Atau jagain lilin bareng?"


"Nadya antar aku pulang dan kita kehujanan di jalan. Aku suruh Nadya mampir karena gak mungkin dia basah-basah pulang."


"Halah! Gak usah pake alasan kayak di film-film!" potong Oma Belle, "kamu pikir Oma gak tahu tentang dia? Tadinya Oma masih gak percaya pas ada yang ngasih tahu Oma tentang dia. Tapi lihat dia berani godain kamu, sekarang Oma percaya! Ternyata cuma gayanya saja yang sok polos!"


Di luar sana, Nadya ternyata mendengar perseteruan antara Chalvin dan Oma Belle karena pintu apartemen yang terbuka. Silvia yang masih berdiri di depan Nadya lantas tersenyum sinis seraya menatap Nadya dengan pandangan remeh.


"Aku gak tahu sejauh mana hubungan kamu sama Chalvin. Tapi semestinya kamu tahu, kan, kalo Chalvin itu bakal dijodohin sama aku?" ucap Silvia sambil berjalan pelan dan berhenti tepat di samping Nadya, "kamu masih muda banget. Gap umur kalian cukup jauh. Apa kamu yakin Chalvin serius sama kamu? Atau cuma pengen bersenang-senang doang? Aku bilang ini sama kamu bukan karena aku pingin banget nikah sama Chalvin, loh. Serius, aku pun sampai sekarang masih ragu. Aku cuma ngerasa kasihan sama kamu karena Oma gak bakal merestui hubungan kalian. Kecuali, kamu juga niatnya cuma pengen uangnya aja."


Nadya menatap Silvia yang juga memandangnya. Kalimat-kalimat yang dilontarkan wanita pilihan Oma Belle itu memiliki daya pikat halus memaksa pendengarnya agar terus patuh. Hanya dengan satu mata, ia mampu mengintimidasi lawan bicara, menjadikan Nadya tampak bodoh sehingga seolah setuju pada tiap-tiap ucapannya. Ia yang sudah merasa tak nyaman kini langsung bergegas pergi.


"Apa bedanya sama aku kalo gitu? Oma juga tahu aku kayak gimana, kan? Kalo pakai logika Oma, aku juga bukan pria baik-baik."


"Jelas beda! Laki-laki dilihat dari masa depannya, sementara wanita dari masa lalunya. Makanya pria harus pinter-pinter milih pasangan, lihat dulu bibit, bebet, bobotnya!" Oma menyambar ucapan Chalvin dengan meninggikan nada bicara.


"Itu namanya standar ganda, Oma!"


"Mau standar ganda kek, mau pilihan ganda kek, pokoknya Oma gak bakal biarin kamu berhubungan sama cewek itu lagi! Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih bernilai!"


"Nilai wanita gak hanya terletak di situ aja. Jika wanita harus dihargai, maka sudah semestinya dia tetap dihargai. Bukan karena masih perawan atau tidak, bukan karena dia bisa hamil atau engga, bukan karena dia mau menjadi ibu rumah tangga atau tetap memilih berkarir, tapi karena dia seorang wanita. Jadi, berhenti menilai wanita hanya karena dia tak memenuhi satu ekspektasi masyarakat. Aku mohon Oma berhenti ikut campur kehidupan aku, pilihan aku!"

__ADS_1


Setelah berkata, Chalvin segera keluar dan bergegas menyusul Nadya. Sayangnya, hingga sampai keluar gedung pun ia tak menemukan jejak Nadya. Tampaknya gadis yang seusia Karen itu telah pergi dengan membawa luka.


***


Waktu melompat dengan begitu cepat. Berbeda dengan Chalvin dan Nadya yang tengah menghadapi rintangan dari hubungan mereka, pasangan Karen dan Darren justru tengah melangkah bersama ke sebuah hotel tempat acara gala dinner diselenggarakan.


Malam ini Karen luar biasa cantik dengan polesan makeup tipis dan tampilan rambut yang sederhana. Tak lupa gaun putih panjang semata kaki yang begitu elegan tapi tetap terlihat sopan dan formal. Penampilannya tentu sangat serasi dengan Darren yang selalu tampil wibawa dan karismatik.


 Langkah Karen terhenti seketika saat keduanya akan masuk ke ruang acara.


"Kenapa?" tanya Darren.


"Aku nervous!"


Darren tersenyum lalu mengambil tangan istrinya dan menggenggamnya dengan hangat.


"Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Kamu istri aku, mereka harus tahu," ucap Darren.


Begitu masuk, banyak pasang mata yang langsung terarah pada mereka. Mahasiswa jurusan prodi hubungan internasional yang menjadi tuan dari acara tersebut, tentu terkejut melihat kehadiran Darren sebagai salah satu dosen mereka. Tak hanya dari kalangan mahasiswa, para dosen lainnya pun demikian tak terkecuali Marsha yang juga hadir di sana. Ia benar-benar tak menyangka Darren akan hadir bersama Karen malam ini.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2