
"Nadya?"
Nadya terkesiap mendengar Karen yang menyapanya setelah ia terdiam beberapa saat. "Ah, Kar, aku tunggu di Jakarta, ya! Aku sama Vera dah kangen banget sama kamu, nih."
Akhirnya, Nadya memutuskan untuk tak menceritakan kesepakatan yang dibuatnya bersama Chalvin. Sebab, sepupu Darren itu memintanya untuk merahasiakannya dari siapapun.
Setelah menutup telepon, Karen kembali menoleh ke arah Darren. Pria itu baru saja menghabiskan makanan yang sempat membuatnya menelan liur.
"Aku mau itu, bisa beliin terus ceritakan rasanya ke aku gak?" Karen menunjuk ke tempat jajanan lainnya.
Darren langsung mengajaknya berpindah tempat dan membeli jajanan yang dimaksud. Begitu makanan itu masuk ke dalam mulutnya, sensasi terbakar langsung ia rasakan. Tangannya refleks bergerak di depan mulut, mengibas-ngibas sambil meminta air mineral.
Karen tertawa puas. Tampaknya, ia sengaja meminta suaminya mencicipi makanan pedas. Ia tahu suaminya sangat lemah dengan makanan bersensasi pedas. Ia lalu membelikan es krim untuk suaminya.
Sementara itu, di kediaman besar Bratajaya, Oma Belle mengeluhkan tentang Chalvin yang enggan berkumpul di rumah ini seperti Karen dan Darren. Mendengar Omelan istrinya, kakek Aswono malah terkikik.
"Buaya kok mau dikandangin."
"Kenapa enggak? Toh aku udah pernah kandangin satu buaya dan langsung jinak." Oma Belle malah menyindir kakek Aswono.
"Bukan jinak, tapi kemampuan predatorku langsung lenyap begitu ketemu kamu," balas kakek menggoda sambil mengangkat sepasang alisnya yang telah memutih.
"Ah, gombal kamu, Mas." Oma Belle membelakangi suaminya sambil tersipu.
...****************...
Minggu yang dinanti-nanti pun tiba. Chalvin tengah berjalan mondar-mandir di depan gang sempit yang menjadi tempat kos-kosan Nadya. Selang lima menit kemudian, Nadya muncul dengan penampilan yang berbeda dari biasanya. Dia yang selalu memakai kaus dan celana jeans, kini tampil memukau dalam balutan dress putih polos yang Chalvin belikan untuknya. Sebab, rencananya Oma Belle juga akan mengajak mereka ke pesta pernikahan temannya.
"Ingat, jangan asal bicara! Oma aku kalo nanya ngalahin penyidik. Bakal dikupas secara tajam. Perhatikan cara ngomong kamu, ingat ... kamu itu di sini sebagai keturunan keraton. Harus lembut dan halus. Jangan seperti air keran yang ngisi ember kosong." Chalvin memberi aba-aba sebelum mereka turun dari mobil.
"Kok harus bohong pake bilang keturunan keraton segala. Begitu syulit, tahu!" Nadya tampak tak setuju harus berlagak seperti gadis keraton.
"Aku dah terlanjur spill kalo aku punya pacar keturunan keraton. Soalnya Oma aku tuh orangnya agak primordialisme¹."
"Yakin nih bakalan berhasil ngecohin Oma Kakak?"
"Semua tergantung kamu."
Nadya mengulum bibirnya sendiri. "Tapi yang kita lakukan ini gak bener, loh!"
"Mau gimana lagi. Kalo gak kayak gini, aku bakal dipaksa nikah sama oma. Mana gadis pilihannya horor semua lagi."
Saat Chalvin mengatakan hendak dijodohkan dengan gadis pilihan Omanya, ada semacam ketidakrelaan di hati kecil Nadya. Hal ini juga yang memotivasinya untuk membantu pria itu.
Chalvin menautkan jari-jemari mereka selayaknya pasangan kekasih. "Don't be kittens!" ucapnya dengan sorot mata yang melembut.
(Dont be kittens: jangan gugup)
Mereka melangkah bersama dengan kedua tangan saling menggenggam. Begitu masuk, mata Nadya merasa dimanjakan. Rumah mewah yang halamannya begitu luas dengan nuansa klasik itu, seperti sebuah museum. Ada banyak taburan benda-benda antik di dalamnya. Belum lagi, lukisan-lukisan bernilai seni tinggi hasil goresan tangan Oma Belle yang terpampang di setiap dinding.
__ADS_1
Tak lama kemudian, sesosok wanita tua yang anggun menuruni tangga seraya menyapa keduanya. Nadya pun langsung menebak kalau itu adalah Oma Belle.
"Oh, jadi ini pacar Chalvin yang sering diceritain. Masih muda sekali ternyata. Sepantaran sama cucu mantu saya. Nama kamu siapa?" tanya Oma Belle menyambut Nadya dengan ramah dan penuh antusias.
Gadis bersurai panjang itu bergegas mengambil tangan Oma Belle untuk sungkeman. "Nadya, Oma," jawabnya setelah itu.
Oma Belle memerhatikan Nadya secara saksama. Meski sudah sepuh, tapi penglihatan wanita itu masih tajam dan jelas. Ia bisa melihat gadis yang dibawa Chalvin kali ini memang benar-benar berbeda. Meski tak secantik dengan kekasih-kekasihnya terdahulu, tapi Nadya memiliki wajah manis khas Indonesia. Senyumnya indah, karena terdapat lubang samar di pipi. Benar-benar terlihat menawan dengan kesederhanaan.
"Nadya memang orang Jakarta atau ...." Oma Belle memulai sesi tanya jawab.
"Saya orang bo—"
"Boyolali!" potong Chalvin cepat.
Nadya lantas menoleh kaget ke arahnya. "Sejak kapan Bogor jadi Boyolali?" gumamnya sambil berbisik kecil.
"Udah, ikut aja! Biar Oma percaya kamu emang keturunan keraton," balas Chalvin.
"Oh, jadi kamu wong Jowo? Sama dong kayak kakeknya Chalvin. Keluarga besar kakeknya juga ada di Boyolali!"
Nadya kembali berkata, "Tapi mama saya orang su—"
"Surakarta. Ya, mama kamu orang Surakarta, kan?" Chalvin menatap tajam Nadya dengan sepasang alis yang terangkat. Ia khawatir Oma Belle akan curiga jika sampai apa yang pernah ia katakan berbeda dengan apa yang diucapkan gadis itu.
Nadya yang tadinya sebenarnya ingin mengatakan kalau ibunya orang Sunda, hanya bisa mengangguk seraya melengkungkan senyum selebar mungkin hingga matanya menyipit.
"Saya orang Jawa tapi ada campuran USA," imbuh Nadya yang sontak membuat Chalvin dan Omanya terkejut.
"Oh, jadi kamu punya darah blasteran juga?" Oma Belle terlongong-longong.
Nadya mengangguk sungkan sambil tersenyum kaku.
Chalvin lantas berbisik dari belakang. "Emang bener kamu blasteran USA? Kok gak ada tampang bule-bulenya."
"USA yang aku maksud itu Urang SundA. Alias Jawa campur Sunda." Nadya balas berbisik sambil menyengir.
"Wow, mind blowing!" gumam pria itu dengan wajah yang mengetat.
(Mind blowing: slang word untuk merespon sesuatu yang mencengangkan atau bikin terkejut)
"Kalo boleh tahu, orangtua kamu kerja apa?" tanya Oma lagi.
"Bapak saya tukang Mabel," jawab Nadya polos.
"Hah?" Kening Oma Belle membentuk lipatan.
Chalvin cepat-cepat meralat. "Maksudnya pengusaha yang bergerak di dunia furniture, Oma. Perabotan gitu. Dia terlalu merendah!"
"Apa lo gak bisa pakai bahasa yang kerenan dikit?" ketus Chalvin kembali berbisik di belakang telinga.
__ADS_1
"Terus Nadya sendiri kerjanya apa?" tanya Oma kembali.
"Saya ...." Nadya melirik sejenak ke arah Chalvin karena takut salah berucap lagi.
"Dia masih mahasiswa, Oma," imbuh Chalvin.
"Jadi masih mahasiswa? Gak nyangka selera calon Chalvin sesuai kriteria Oma yang masih muda nan perawan."
Kata terakhir yang Oma Belle lontarkan membuat wajah Nadya menggelap. Secara refleks, ia tertunduk dalam.
"Sepupunya juga punya istri yang masih mahasiswa juga, itu Oma loh yang jodohin," imbuh Oma penuh semangat.
Merasa Oma tak berhenti bertanya, Chalvin pun segera berkata, "Oma, sebaiknya kita ke pesta sekarang aja. Takutnya entar kena macet. Ngobrolnya di jalan aja."
"Ah, iya, ya?"
Chalvin dan Nadya lantas bersiap-siap pergi. Pasangan palsu itu menghela napas sesaat karena Oma tampak memercayai mereka. Bahkan bisa dikatakan sandiwara ini berjalan mulus dari yang mereka bayangkan.
"Nadya!" panggil Oma tiba-tiba.
Nadya berbalik. "Ya, Oma ...."
"Nanti tolong hubungi orangtua kamu kasih tahu kalau Chalvin dan keluarganya mau datang ke rumah kamu."
"Mau ngapain, ya, Oma?" tanya Nadya yang langsung terhenyak dengan bola mata yang bergeser ke samping.
"Ya ... mau datang melamar kamu. Kalian berdua Oma restui. Sekarang, giliran minta restu sama orangtua kamu."
Ucapan Oma Belle membuat Chalvin yang sedang meneguk minuman kaleng yang dibawanya lantas tersedak hingga menyembur keluar dari mulutnya.
"Chalvin, jangan lupa entar pesan tiket pesawat ke Boyolali," perintah Oma Belle padanya.
Bersamaan dengan itu, Karen dan Darren tiba di kediaman tersebut, membawa kejutan bagi mereka semua.
.
.
.
jejak kaki 🦶🦶🦶
Primordialisme adalah pandangan yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik tradisi, adat istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di lingkungan pertamanya. (pengertian menurut KBBI)
Jadi Oma Belle itu sosok primordialisme, ya. orang kayak gini biasa nasionalisnya tinggi.
__ADS_1