DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 134 : Reaksi Darren dan Oma Belle


__ADS_3

"Iya, aku dengar—" Sheila kembali menelan kalimat yang hendak dilontarkan. Ia pikir, jika mengatakan dirinya menguping pembicaraan antara Chalvin dan Nadya, Darren pasti akan memarahinya. Jadi, ia memutar otak untuk menguatkan pernyataannya barusan. "Aku lihat sendiri, Kakak ipar deket banget sama Kak Chalvin. Mereka juga sering tatap-tatapan di meja makan."


Darren malah menyembulkan tawa halus. "Kamu ini ada-ada aja. Mereka emang dekat karena Karen itu Brand Ambassador produk kosmetik Belleria. Lagian pacarnya Chalvin itu temenan sama Karen."


Darren menggeleng-geleng kepala seraya hendak berlalu, tapi Sheila langsung berkata, "Cewek itu cuma pacar bohongan yang diminta tolong sama Kak Chalvin!"


Darren berbalik kembali ke arah Sheila. "Hush, kamu ini ...."


Melihat wajah Darren yang hendak memarahinya, Sheila lantas buru-buru menjelaskan, "Serius, Kak. Aku gak sengaja dengar Kak Chalvin ngomong ke tuh cewek di pekarangan samping. Intinya hubungan mereka itu cuma bohongan karena sebenarnya yang Kak Chalvin suka itu istri Kak Darren. Terus, pas di meja makan tadi aku lihat Kak Karen kek gak terima Oma bahas soal pernikahan Kak Chalvin. Padahal kalo dengar temannya nikah seharusnya dia senang, kan?"


Sheila masih berusaha meyakinkan Darren. Ya, memang saat di meja makan tadi Sheila sempat memerhatikan wajah Karen yang mendadak murung dan tak bersemangat. Namun, itu karena Oma menyinggung tentang dirinya yang belum bisa memberi keturunan untuk keluarga Bratajaya.


"Kamu jangan mengada-ada. Kakak lebih kenal Chalvin dan Karen dibanding kamu sendiri. Masalah Chalvin mau berpura-pura pacaran atau gak, itu urusan dia. Dia punya alasan sendiri, tapi bukan berarti dia suka sama Karen seperti apa yang kamu tuduhkan. Jangan gampang menyimpulkan apa pun hanya karena penglihatan dan pendengaran yang sekilas!" ketus Darren sambil melangkah meninggalkan Sheila.


"Justru Kak Darren gak boleh terlalu percaya ma orang meskipun itu keluarga sendiri."


Langkah Darren terhenti seketika, lalu menoleh ke arah Sheila. "Termasuk gak boleh terlalu percaya sama kamu juga, kan?"


Sheila menggerakkan kakinya di lantai sambil menatap punggung Darren yang mulai menjauh dengan wajah cemberut. "Ih, diperingati karena aku peduli sama dia, eh dia malah gak percaya."


Gadis itu menggeronyotkan bibir saat melihat Karen menghampiri Darren dengan riang, lalu mendorong punggung pria itu sambil mengarahkan ke ruang makan. Terdiam sebentar, arah pandangan Sheila malah berubah ke tempat lain.


Sheila menyunggingkan senyum tipis sembari bergumam, "Eh, lupa, masih ada Oma Belle. Keknya bakalan lebih heboh kalo tuh nenek-nenek tukang ngomel yang tahu."


Begitu berada di depan meja makan, Darren melihat hidangan yang Karen sajikan khusus untuknya. Ia menarik kursi makan, kemudian mengambil tas kerja dan meminta suaminya duduk. Perempuan itu bercerita dengan antusias kalau dirinya seharian ini belajar memasak aneka menu favorit rumahan bersama Nadya dan juru masak rumah.


Karen mengambil piring dan menyendokkan nasi untuk suaminya. Ia juga menanyakan lauk dan sayuran mana yang akan dicicipi suaminya.

__ADS_1


Darren melihat hidangan yang disimpan khusus untuknya. Ia menunjuk semangkok sayur lodeh yang berada tepat di depan piring makannya.


"Aku pilih ini deh! Ini pasti dibuat langsung dari tangan istriku."


"Kok tahu?" Karen terkejut sekaligus merasa senang dengan tebakan suaminya yang benar.


"Soalnya potongan sayurnya amburadul gini," jawab Darren sambil terkikik, "Lihat nih, potongan kacang panjangnya ada yang panjang banget, ada yg pendek. Potongan tempe sama sayur lain juga ada yg kegedean ada yang kekecilan," ucapnya sambil menyendok kuah lodeh yang memperlihatkan potongan sayur tak beraturan.


Merasa hasil masakannya diledek, Karen lantas menunjukkan wajah merajuk sambil hendak meninggalkan meja. Namun, Darren dengan sergap menahan lengannya, lalu menarik tubuh perempuan itu ke sisinya hingga jatuh terduduk di pangkuannya.


"Temani aku makan!" pinta pria itu dengan sebelah tangan yang melingkar di pinggang Karen.


"Darren, malu tahu dilihatin Chalvin sama Nadya!" Karen menunduk tersipu.


Darren memalingkan wajah. Tampak Chalvin dan Nadya baru saja masuk setelah jalan-jalan di pekarangan rumah. Mata mereka langsung tertuju pada sepasang suami istri itu. Karen pun segera berdiri dari pangkuan Darren. Sebaliknya, melihat Chalvin dan Nadya bersama, secara spontan ingatan Darren terkilas pada ucapan Sheila beberapa saat lalu. Untungnya, Chalvin terlalu pintar untuk menutupi perasaannya di depan Darren dan Karen. Meski hatinya pedih sempat melihat kemesraan pasutri tersebut.


"Kayaknya Oma dah masuk kamar." Karen mengedikkan dagu ke arah kamar Oma Belle.


"Oh, iya, biar deh. Sampaikan salamku aja."


Chalvin merangkul pinggang Nadya sambil membawanya keluar dan tentu saja mengantarnya pulang ke kos.


Di sisi lain, Sheila berubah haluan dengan berniat memberitahukan apa yang didengarnya barusan pada Oma Belle. Ia tahu betul sebagai sang pemegang tahta tertinggi di keluarga Bratajaya, Oma Belle sangat peduli dan sayang pada cucu mantunya. Inilah yang membuatnya penasaran untuk mengetahui reaksi dari perempuan tua itu.


Dengan keberanian yang mencapai level tertinggi, ia menghampiri Oma Belle yang ternyata masih berada di ruang khusus melukis.


Dengan modus awal berpura-pura menawarkan bantuan membersihkan ruangan itu, Sheila pun mulai melancarkan aksi provokator.

__ADS_1


"Oma, Oma berasa enggak kalo hubungan Kak Chalvin sama pacarnya itu cuma bo'ongan doang?" tanya Sheila yang sengaja mengubah tutur bahasa agar tak terlihat frontal seperti saat berbicara dengan Darren.


"Maksud kamu apa?" tanya Oma Belle tanpa melihat ke arahnya.


"Kalo yang Sheila terawang Kak Chalvin tuh gak ada rasa sama pacarnya. Ya, kali aja Kak Chalvin dan pacarnya cuma status palsu doang. Jangan-jangan Kak Chalvin malah suka ...."


"Yang palsu itu sikap kamu sekarang ini," sergah Oma secepat kilat. "ngapain sok akrab datang ke sini?" sambarnya dengan berang.


"Ih, Oma, Sheila tuh cuma berniat ngasih tahu yang bener."


"Ngasih tahu yang bener, kamu aja belum bener! Masih kecil mulutnya sudah kayak presenter acara gosip. Awas, ya, sampai Oma dengar kamu bikin gosip yang tidak-tidak sama orang-orang di rumah ini, tak peras kayak kanebo basah tuh mulut," hardik Oma sambil mengarahkan jempol dan jari telunjuknya ke bibir Sheila, seolah hendak melakukan gerakan cubit.


Sheila refleks memegang bibirnya sambil memundurkan kepala. Namun, saat Oma Belle membelakanginya, bibirnya malah memperolok gaya bicaranya. Ketika Oma Belle berbalik, ia spontan mematung diam.


"Ngapain kamu masih di sini? Oma gak butuh bantuan palsu kamu!" ketus Oma Belle.


Sheila keluar dari ruangan itu dengan wajah dongkol. "Mentang-mentang gue kek gini, gak ada yang percaya sama omongan gue," gumam Sheila kesal, tapi tak lama kemudian dia tersenyum tipis, "Tapi gak papa, deh. Kayaknya lebih seru kalo Kak Darren lihat langsung istrinya dan sepupunya punya hubungan gelap."


Di dalam sana, wajah Oma Belle mendingin seketika setelah Sheila keluar.


.


.


.


Saya Aotian Yu mengucapkan selamat Natal bagi teman-teman yang merayakan. Torang samua basudara.

__ADS_1


__ADS_2