
Keesokan harinya, sepasang suami istri itu duduk berhadapan di meja makan. Darren mengernyit menatap wajah Karen yang memberengut sejak bangun tidur. Bagaimana tidak, semalam pria itu benar-benar mengabaikannya dan hanya serius menonton bola. Belum lagi masalah cincin yang masih misterius.
"Kamu kenapa? Dari tadi kok mukanya asam gitu?" tanya Darren heran.
"Gak papa!"
"Gak papa kok mulutnya dower gitu!"
Karen langsung berdiri. "Aku mau bawa mobil sendiri," ucapnya bergegas keluar dari rumah.
Begitu masuk mobil, perempuan itu langsung memukul-mukul setir. "Ih, bikin salty banget! Udah semalaman dicuekin, terus tuh cincin dia sembunyiin lagi. Sebenarnya untuk siapa sih tuh cincin?"
Ya, pagi tadi, Karen kembali mengecek cincin yang ditemukannya kemarin. Sayangnya, cincin itu malah sudah tidak ada ditumpukan barang-barang yang belum sempat dibereskan. Ini sungguh aneh, jika cincin itu bukan untuknya. Lalu untuk siapa?
Kekesalan Karen terbawa hingga di kampus. Ia terus memikirkan misteri cincin yang dibeli Darren. Ingin menanyakan langsung, tapi tertahan oleh gengsi. Terus berspekulasi malah membuatnya memikirkan yang tidak-tidak.
Terdiam mematung di dalam kelas, tiba-tiba ia tersentak saat Nadya dan satu kawannya datang mengejutkannya dari belakang.
"Kok bengong sendirian!" tegur Nadya yang duduk di sampingnya.
"Kar, lu kok gak bilang-bilang kalau jadi brand ambassador dari produk lipstik Belleria terbaru?! Keren banget!" sahut temannya yang bernama Vera sambil menunjuk postingan iklan lipstik terbaru Belleria.
Karen terdiam sambil menahan senyum. Itu artinya, segala bentuk iklan lipstik Belleria yang memuat dirinya telah diluncurkan.
"Wah, bakalan tinggi dong tarif endorse kamu. Secara ... dah jadi brand ambassador produk ternama." Nadya terlihat ikut senang.
"Harus dirayain dong. Iya, gak, Nad?" desak Vera.
"Yass!" sambung Nadya cepat.
(N: yass slang word dari kata Yess)
"Iya ... iya ... bakal aku rayain. Gimana kalau kita nongkrong entar sore? It's on me," ajak Karen.
(N: its on me\=aku yang traktir/bayarin)
"Boleh juga! Ini baru double keren!" sahut keduanya kompak.
"Eh, eh, lihat, deh, ini! Aku barusan foto pak Darren pas lagi jalan. Cool banget, kan!" ucap Vera sambil menunjukkan foto Darren hari ini. Vera memang satu dari mahasiswi yang tergila-gila padanya. Ia jugalah yang sering mengirim foto-foto Darren ke grup WhatsApp kelas mereka.
__ADS_1
Dalam foto tersebut, Pria itu memakai kameja lengan panjang yang digulung hingga batas siku dipadu dengan celana denim berwarna cokelat khaki. Potongan rambut yang bergaya undercut, menambah kesan maskulin pada pria lulusan universitas London itu.
"Mau ke mana, tuh?" tanya Nadya sambil melihat foto yang diambil Vera.
"Gak tahu. Ganteng banget, kan? Bikin gue meleyot!" jawab Vera sambil mengelus perutnya.
"Sadar, woi! Saingan lo banyak!" cetus Nadya.
Karen hanya bisa bergeming melihat tingkah temannya yang selalu mengkhayalkan suaminya. Bunyi pemberitahuan pesan masuk mengalihkannya sejenak. Ia membuka pesan dari aplikasi chat yang ternyata dari Darren.
Darren: kok gak ke perpus? Biasanya udah duluan datang.
Karen menutup aplikasi chat tanpa membalas pesan suaminya. Ia masih kesal dan tak berniat datang ke sana. Namun, tak lama kemudian ia tertegun. Bukankah dia berjanji belajar giat dan menargetkan mendapat IP tertinggi? Apalagi, Darren mau meluangkan waktu membimbingnya di tengah kesibukan mengajar dan membuat penelitian.
"Eh, aku pergi dulu, ya!" Karen mengambil tasnya lalu keluar kelas terburu-buru meninggalkan dua temannya.
Begitu memasuki perpustakaan, Karen dapat melihat Darren telah duduk di tempat biasa. Pria itu benar-benar mengefisiensi waktunya yang luang untuk memeriksa susunan skripsi dari mahasiswa bimbingannya. Ia menoleh sebentar, melihat Karen yang berjalan bagai siput. Sejujurnya, perempuan itu masih kesal dan enggan menemuinya.
"Orang yang bergerak lambat akan kehilangan satu kesempatan di dalam hidupnya!" sindir pria itu sambil mencoret-coret skripsi yang diperiksanya.
Karen lantas berjalan cepat dan memosisikan duduk di hadapan pria itu seperti biasa. Matanya langsung tertuju pada secarik kertas bertuliskan sebuah pesan.
Hanya membaca kalimat sederhana itu, semburat merah muda langsung merebak di pipinya. Yang membuatnya senang bukan karena kalimat manis penuh rayuan, tapi karena kepekaan suaminya yang mengerti dengan suasana hatinya saat ini tanpa harus dijelaskan.
Karen menatap jari-jari tangannya sendiri, sambil bergumam dalam hati. "Bisa jadi tuh cincin dia beliin buat ibu sambungnya, kan? Siapa tahu aja ibunya lagi ulang tahun."
Suasana hati bisa memengaruhi pikiran seseorang. Buktinya, Karen akhirnya dapat berpikir positif tentang cincin yang dibeli suaminya itu. Ia mulai belajar dan mengerjakan tugas yang telah disediakan Darren.
Kali ini, pria itu memberinya latihan soal essai dari mata kuliah hukum bisnis. Soal yang dikerjakan berkaitan dengan hukum dalam bisnis, perikatan dan perjanjian, dan bentuk-bentuk badan usaha. Seperti biasa, mereka berinteraksi lewat kolong meja.
Darren berdecak seraya menggeleng-geleng kepala membaca jawaban-jawaban yang ditulis Karen. "Ini kok jawaban kamu kayak anak SMP! Singkat-singkat banget, udah gitu gak dapat intinya!"
"Habis ... gak tahu mau jawab apa lagi!"
"Mahasiswa tuh enggak boleh punya pemikiran sederhana. Kalau siswa hanya berpikir 'apa itu?' Maka mahasiswa seharusnya berpikir 'mengapa' untuk semua yang ada di kehidupan ini lalu melihat esensi dan tujuannya."
Karen menggaruk-garuk kepala. "Iya, deh, sini aku perbaiki lagi."
...----------------...
__ADS_1
Tak terasa, waktu telah menapaki sore hari. Karen tengah memakai lulur untuk persiapan nongkrong dengan Nadya dan Vera. Sedari tadi, mereka bertiga saling berbalas chat.
Nadya: jemput aku dong, Ver.
Vera: Ok, otw.
Karen: eh, kalian dah mau pergi ke sana? Tungguin aku donk. Masih luluran, nih.
Vera: yaelah, telat banget sih, lo! Ya, udah abis jemput Nadya. Kita ke tempat lo aja, sekalian jemput lo biar barengan.
Mata Karen membeliak seketika. Pasalnya mereka tentu tidak tahu kalau dia sudah tidak tinggal di rumah orangtuanya alias sudah menikah.
Karen: eh, eh, aku dah pindah. Udah tinggal sendiri di perumahan, gak tinggal sama ortu lagi.
Vera: Ya, udah, sini kasih alamatnya. Biar kita ke situ.
Nadya: hah? kok kamu gak kasih tahu, sih. Aku kan bisa sering bermalam di situ!
Karen menggigit bibirnya saat Nadya dan Vera terus mendesaknya memberi alamat rumah.
"Aku kasih tahu aja kali, ya! Lagian Darren lagi gak di rumah. Gak papa, kan, kalau mereka ke sini," pikir Karen sesaat. Ia pun mengirim alamat rumahnya, kemudian segera menyelesaikan luluran.
Sekitar dua puluh menit kemudian, sebuah mobil terparkir di depan garasi rumah. Namun, yang datang bukanlah Nadya dan Vera, melainkan Darren yang pulang lebih cepat. Mendapati rumah yang tak terkunci, pria itu masuk begitu saja dan melenggang lurus ke kamar. Ia sengaja tak bersuara untuk memberi kejutan karena jarang-jarang ia bisa pulang lebih awal.
Aroma harum cokelat yang kuat dari lulur yang dipakai Karen memenuhi ruangan itu. Suara gemericik air shower terdengar dari balik kamar mandi mereka, tanda bahwa Karen tengah mandi. Ia memungut pakaian daalam istrinya yang berserakan di lantai, lalu membuka kameja yang dikenakannya saat ini.
Di waktu yang sama, Nadya dan Vera baru saja tiba.
"Yang ini rumahnya bukan, sih?" Nadya membaca kembali alamat rumah yang Karen kirim lalu mencocokkannya.
"Iya, tuh, ada mobilnya Karen. Lah, mobil satunya lagi, punya siapa ya?"
"Punya maminya kali!"
Setelah yakin itu rumah Karen, mereka turun dari mobil lalu masuk ke halaman rumah dan menekan bel. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Namun, yang berdiri di hadapan mereka, bukanlah Karen melainkan Darren yang hanya bertelaanjang dada. Sontak, mata Nadya dan Vera terbelalak kaget diikuti mulut yang ternganga.
.
.
__ADS_1
.