DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 47 : Pertengkaran


__ADS_3

Karen terdiam. Kaku. Hanya bisa menunduk. Melihat mata Darren yang berpendar bagai bola api sudah membuatnya takut lebih dulu. Pasalnya, pria itu tak pernah menampilkan ekspresi seperti itu sebelumnya.


"Kamu tahu enggak kalau nilai UTS di beberapa mata kuliah kamu rendah? Bukannya belajar lebih giat lagi, ngerjain tugas yang belum selesai, malah hedon-hedon ke kelab malam terus mabuk-mabukan kayak gini! Sadar enggak, kamu itu udah nikah bukan single lagi! Pantas enggak seorang istri pulang mabuk-mabukan tanpa sepengetahuan suaminya?" serang Darren dengan gaya tegasnya yang khas sebagai seorang dosen.


Karen makin menunduk. Ia masih tergugu-gugu. Namun, sikapnya seperti itu malah membuat dirinya semakin salah di mata Darren.


"Berlagak pingin jadi asisten dosen, tapi belajar aja malas, ngerjain tugas diundur-undur waktunya, malah nyantai kayak gini! Apa kamu gak malu dapat nilai rendah! Kalau kamu enggak lulus, gimana?" Darren semakin keras terhadap istrinya.


Setelah cukup lama terdiam dan menerima semprotan berapi dari suaminya, Karen pun menyerang balik suaminya. "Kenapa? Kamu malu punya istri kayak aku? Kamu malu karena istri kamu gak secerdas mantan kamu? Bukan mahasiswa yang menonjol? Kalau aku cuma bikin malu kamu, ngapain juga nikah sama aku!"


Reaksi Karen yang seperti tak mau disalahkan dan menolak dinasihati, membuat Darren berkata dengan nada yang tak kalah sengit. "Kamu dinasihati demi kebaikan, bukannya langsung evaluasi diri malah bersikap kayak gini! Gak ada yang ngebandingin kamu sama siapapun! Yang sedang aku bahas itu kamu, jadi gak usah disangkutpautkan sama orang lain! Kamu bebas hangout sama teman-teman, tapi jangan lupa tugas kamu sebagai mahasiswa. Dan satu lagi, kebiasaan buruk yang doyan clubbing dan mabuk-mabukan pas masih gadis jangan dibawa-bawa sampai sekarang!"

__ADS_1


Kata-kata Darren bagaikan timah panas yang masuk ke telinga Karen. Bukan hanya menyakiti pendengarannya, tapi juga hatinya. Ia baru saja mendapatkan kekerasan dan pelecehan, tapi harus kembali dihadapkan dengan murka suaminya. Sejujurnya, ia masih syok dengan apa yang baru saja dialaminya dan berniat menceritakannya pada Darren. Namun, bagaimana dia menceritakan kejadian itu, jika Darren langsung menuduhnya yang bukan-bukan seperti ini.


Karen menatap penuh suaminya, dengan bibir yang bergetar menahan tangis. "Kamu pikir aku doyan clubbing? Kamu pikir dugem itu gaya hidup aku? Kamu pikir aku emang tukang mabuk-mabukan?! Cuma karena kamu tahu aku baru pulang dari kelab malam, terus kamu udah nyimpulan kayak gitu? Apa kamu tahu yang barusan aku alami?"


Setelah berkata, Karen langsung berlari dan masuk ke kamar ganti. Mengunci diri di dalam sana.


Darren masih mematung di tempat usai perdebatan sengit terjadi di antara mereka. Ia beringsut ke sofa, duduk bersandar untuk menenangkan dirinya yang sempat tersulut emosi. Bisa dikatakan, ini menjadi pertengkaran pertama mereka selama pernikahan. Tertegun sesaat, ia kembali mengingat kalimat terakhir yang terlontar dari mulut perempuan itu.


Darren segera beranjak dan menyusul Karen ke kamar. Dari balik pintu, ia dapat mendengar suara isakan tangis yang tertahan dari perempuan itu. Ia membuka pintu dengan pelan lalu melangkah masuk ke dalam sana. Matanya melebar melihat perempuan itu tengah mengemas pakaiannya ke dalam koper.


"Kamu mau ke mana?"

__ADS_1


"Mau pulang ke rumah orangtuaku! Mending kamu cari aja istri yang sepadan sama kamu. Jangan sama aku yang bodoh, pemalas, dan hobi dugem!" ucap Karen dengan lelehan bening yang menyeruak dari sudut matanya.


Karen menarik kopernya sambil melewati Darren. Namun, pria itu langsung menahan pergelangan tangannya.


"Pipi kamu kenapa?" tanya Darren begitu melihat tanda kemerahan di wajah istrinya yang mulus.


Karen terdiam. Adegan pemaksaan, pelecehan, percobaan pemerkoosaan, serta kekerasan fisik yang terjadi di kelab malam kembali berputar di ingatannya. Kejadian itu membuat dirinya makin merasa tak pantas berada di sisi Darren. Ia langsung melepas paksa tangan Darren yang memegang pergelangannya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2