
Karen memarkirkan mobil di jalanan yang sepi. Ia mengusap pipinya yang basah, lalu mencoba menengadahkan wajah dan menggigit bibir agar buliran air dari sudut matanya itu bisa berhenti membelai pipinya. Sia-sia! Seberapa kuat ia berusaha menahan, tetap mengalir jua.
Sungguh tak disangka ia akan mendapatkan kejutan seperti ini. Mulai dari gadis yang tiba-tiba menginap di rumah tanpa sepengetahuannya, kemudian video suaminya yang beredar di tempat dugem bersama gadis itu, hingga sikap Darren atas tindakannya. Benar-benar di luar nalar! Ia menganggap dirinya sangat bodoh karena memercayai suaminya.
Karen turun dari mobil, lalu melangkah lemah ke suatu tempat. Berdiri di depan pintu yang tertutup, ia kembali menyeka air matanya sebelum mengetukkan punggung jari tangannya. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka dan menampilkan sesosok perempuan yang terkejut melihatnya.
"Nadya," panggil Karen dengan nada suara bergelombang.
"Karen? Tumben sepagi ini kamu datang ke sini." Nadya tersentak ketika sahabatnya itu terisak di pelukannya, "apa ini tentang video pak Darren?" tanya Nadya pelan. Ternyata, ia pun telah melihat unggahan Feril.
Karen mengangguk sambil mengeluarkan suara tangisan tertahan.
Tangannya mengusap pelan punggung Karen yang terguncang. "Kamu gak usah percaya dengan video itu. Gak mungkinlah itu pak Darren. Mungkin itu cuma orang yang mirip dia," kata Nadya mencoba menenangkan Karen.
"Tapi kali ini aku harus dipaksa percaya. Karena Darren bawa pulang cewek itu ke rumah kami saat aku milih tinggal di rumah Oma," ucap Karen dengan lelehan bening yang masih terus turun bak air terjun.
"Serius, Kar?" Mata Nadya membulat tak percaya.
Karen mengangguk dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kesedihan. Kepada Nadya, Karen bercerita tentang semua yang terjadi. Bagaimana dirinya lepas kontrol lalu menyerang gadis itu hingga membuat Darren marah dan terlihat tak berpihak padanya.
"What?! Dia pulang larut semalaman terus bawa cewek itu ke rumah kalian? Berarti, video yang beredar itu baru terjadi semalam dong. Bener-bener, ya ...." Nadya tampak menahan geram mendengar cerita Karen. "Aku masih speechless! Sumpah ... enggak ngerti lagi! Aku pikir pak Darren tuh tipycal suamiable.
"Tadinya aku pikir aku perempuan beruntung karena dapat suami yang setia. Bahkan di saat aku sakit, dia beri dukungan penuh ke aku. Ternyata tuh semua cuma kamuflase!"
"Kalo yang pernah aku dengar sih, ada dua macam tipe pria yang selingkuh. Ada yang tiba-tiba berubah jadi gak peduli, kasar bahkan mukul. Tapi ada juga yang malah berubah menjadi sangat baik dan romantis hanya untuk menutupi perselingkuhannya dan rasa bersalahnya pada pasangan yang udah dia selingkuhin."
"Dan gilanya lagi, Nad. Tuh cewek nantangin aku! Nyesel banget aku gak cekek dia sampai mati!"
"But, sorry to say, Kar. Kita gak bisa cuma salahkan sepihak. Karena perselingkuhan itu dilakukan oleh dua orang. Bisa jadi, nih, suami kamu lebih dulu yang ngasih love bombing¹ ke dia. Mungkin suami kamu pakai trik-trik yang sering dipakai suami-suami lain, kayak suka jelek-jelekin istrinya gitu sama cewek yang jadi incarannya, terus bikin narasi menjadi suami yang gak bahagia di pernikahannya atau pernikahannya lagi di ujung tanduk."
"Kalo emang Darren sebangsatt itu, aku gak akan berpikir dua kali untuk minta cerai."
"Ini cuma berandai-andai doang! Soalnya selama ini aku nyimak kasus-kasus perselingkuhan cuma ceweknya doang yang disalahkan. Entah itu cewek selingkuhannya karena dianggap merebut, atau istrinya karena dianggap gak bisa jaga dan layani suami."
"Iya, emang. Tapi untuk kasus ini, ada alasan kenapa aku kesel banget sama tuh cewek. Bayangin, dia nginap di rumah dan tidur di kamar aku sama Darren which is itu ranjang yang dipakai kami. Ada foto kami di samping ranjang. Dia sadar kalo Darren punya istri. Tapi dia malah gak masalah dijadiin simpanan! Dan kamu tahu, pas Darren datang dia bilang apa? Dia nyuruh aku minta maaf sama tuh cewek. Gila, kan?"
"Udah gak bisa berkitty-kitty lagi aku, Kar." Nadya turut berdecak kesal. "Aku woman support woman, tapi aku gak bisa berdiri di belakang perempuan yang dengan kesadaran penuh memilih jadi selingkuhan. Mau alasannya dia butuh duit, anak korban broken home, kena love bombing, atau alasan klise lainnya yang sering dipakai perempuan-perempuan di luar sana. Gak ada alasan untuk menyakiti sesama perempuan!" ucapnya yang juga ikut gemas.
__ADS_1
...****************...
Di sisi lain, Darren masih berusaha menghubungi Karen. Sayangnya yang terdengar hanya suara operator yang memintanya meninggalkan pesan suara.
"Karen, kamu di mana?" gumam Darren dengan sorot hampa.
Sejenak, ia teringat saat Karen mengatakan kalau dia tersakiti. Ia menyesal tak sempat menjelaskan apa pun pada istrinya sehingga malah menimbulkan kesalahpahaman. Dalam keadaan yang kalut, ia turun ke bawah menghampiri kakek dan Omanya yang telah menunggu di meja makan.
"Loh, Ren, terus mana istri kamu?" tanya Oma Belle.
Darren menarik kursi lalu duduk lemah dengan ekspresi suram yang tercetak jelas di wajah tampannya. "Kayaknya ... Karen marah sama aku, Oma."
"Hah? Kalian bertengkar?" Oma melongo lalu saling memandang dengan kakek Aswono.
"Apa istri kamu ngambek gara-gara semalam?" tebak kakek.
Darren mengangguk saru.
Oma yang tak tahu apa-apa, lantas cepat-cepat bertanya. "Emangnya kenapa semalam?"
Oma Belle lantas terbelalak. "Apa? Jadi Karen mukulin Sheila gara-gara lihat dia ada di rumah kamu?"
"Iya, Oma."
"Kenapa Karen gak ngajak-ngajak Oma? Biar Oma bisa bantuin dia hadapi anak gak tahu adab itu!" geram Oma Belle.
Darren dan kakek Aswono tercengang mendengar respon Oma Belle.
"Oma kok gitu? Yang dilakukan Karen salah loh terlepas dia tahu Sheila itu adik aku atau gak!"
"Emang yang kamu lakukan itu sudah benar?" Oma mulai melakukan serangan skakmat.
Darren terbungkam sesaat. "Aku akui aku salah enggak pernah cerita ke dia tentang Sheila. Gak pernah ngenalin juga."
"Kalo bagian yang itu kamu udah benar. Toh kamu sama dia gak ada hubungan darah," ketus Oma bernada sengit.
"Oma! Sampai kapan Oma gak terima kehadiran keluarga baru ayah!"
__ADS_1
"Sudah! Sudah! Gak baik berdebat di depan makanan!" ujar Kakek menjadi penengah, "Darren, terus Sheila sekarang udah pulang ke rumahnya atau masih di rumah kamu?"
"Masih di rumah aku, Kek. Dia kabur selama dua hari. Dan gak sekolah-sekolah juga."
"Kamu cari istri kamu, jelasin baik-baik ke dia yang sebenarnya! Untuk Sheila, ajak dia tinggal di sini sementara waktu," titah kakek Aswono dengan tenang.
"Apa?!" Oma Belle tentu saja langsung bereaksi tak terima. "Kamu mau nampung anak itu di rumah ini? Kamu pikir rumah kita ini yayasan panti sosial, Mas!"
"Ya, gak papa. Dia juga udah cucu kita."
"Gak. Cucu kita cuma Darren sama Chalvin!"
"Meskipun bukan cucu kandung kita, tapi dia sudah menjadi bagian dari keluarga Bratajaya. Ingat, anak tidak membawa kesalahan orangtua! Lagian, anak ABG yang sedang memberontak gak boleh semakin dibiarkan, harus dirangkul dan diajak berdiskusi dari hati ke hati," ucap kakek.
"Pokoknya enggak! Enggak setuju saya!" Oma Belle tetap kekeh menolak.
"Kamu ini kadang-kadang kayak anak remaja juga, keras kepala!" Berdebat dengan Oma Belle yang memiliki sifat keras, membuat kakek Aswono hanya bisa menghela napas.
Kakek Aswono lantas memandang Darren. "Kamu sudah tahu toh gimana rasanya berumah tangga itu?" tanya kakek, "Berumah tangga itu lebih banyak sukanya dibanding duka. Suka bikin darah tinggi!"
"Nyindir kamu, Mas? Pokoknya saya tidak setuju anak itu dibawa ke rumah ini! Lihat, dia yang punya masalah sama orangtuanya, eh malah ikut nularin masalah ke Darren," ketus oma sambil menoleh ke arah Darren. "kamu cepat antar pulang anak itu sama orangtuanya. Terus, cari Karen dan ajak pulang."
.
.
.
Catatan kaki 🦶🦶
Love bombing: tindakan yang dilakukan seseorang dalam hal hubungan dengan lawan jenis, yang mana memberikan perhatian, kasih sayang, dan pujian yang intens kadang-kadang disertai pemberian berbagai hadiah, tetapi memiliki maksud dan tujuan tertentu.
Love bombing ini sering ditebarkan laki-laki yang udah beristri kepada perempuan-perempuan single.
__ADS_1