
Darren membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang. Ia tampak mendambakan keintiman mereka setelah seminggu tak diberi jatah. Saat hendak kembali melabuhkan bibirnya di bibir manis itu, tangan Karen langsung menahan dadanya.
"Kamu lupa kalau kita enggak boleh gituan selama sebulan?"
"Kenapa gak boleh? Apa kita udah buat kesepakatan? Itu cuma keputusan sepihak dari kamu, kan?"
Seakan tak sabar, pria itu mulai mengangkat ujung baju istrinya ke atas. Karen berusaha kembali menahan tindakan suaminya. Bola matanya bergerak ke samping seolah enggan bertatapan langsung dengan pria itu.
"Setidaknya, biarin aku mandi dulu! Badanku lengket dan bau kopi."
Darren mengendus tubuh istrinya dan melihat rambutnya yang lembab. Ia juga memerhatikan jika baju yang dipakai Karen sekarang telah berbeda.
"Kamu kenapa? Ini kayak bukan baju kamu!"
Bukannya menjawab pertanyaan Darren, Karen malah mengangkat kepalanya lalu mendaratkan kecupan singkat. "Aku mandi dulu, ya?"
Ia lalu beranjak dari ranjang, meninggalkan Darren yang terpaksa harus sabar menunggu.
Sekitar lima belas menit kemudian, Karen duduk di depan meja rias, sementara Darren berdiri di belakangnya seraya mengeringkan rambutnya yang basah dengan hairdryer. Ia baru saja selesai mandi usai menunda berhubungan intim. Karen juga telah menceritakan tentang kejadian sial yang dialaminya tadi di mana ia disiram dan dijambak oleh pacar Chalvin.
"Tumben, Chalvin pacaran sama gadis muda. Biasanya selalu sama cewek dewasa yang selevel sama dia. Lagian dia tuh enggak pernah jalani hubungan yang serius," ucap Darren heran sambil terus mengeringkan rambut Karen.
Karen tampak tak ambil pusing lagi tentang kejadian di mall tadi. Ia malah sangat menikmati perlakuan manis suaminya malam ini. Darren juga tak tergesa-gesa untuk segera menunaikan aktivitas panas mereka di ranjang. Tiba-tiba mata Karen mendadak melotot saat teringat sesuatu.
"Kenapa?"
"Aku lupa kerjakan tugasku! Mana besok batas waktunya lagi!"
Darren meringis seketika. "Kebiasaan, deh! Ngumpulin tugas pakai sistem kebut semalam!"
Karen menoleh ke belakang, menatap suaminya yang berwajah masam. Ia tersenyum lebar hingga matanya menyipit seraya menangkup kedua tangannya.
"Terus gimana, dong!"
"Ya, dikerjakan sekaranglah! Mau tunda-tunda sampai tuh rasa malas gak mau lepas dari kamu?"
Darren langsung mematikan hair dryer, sementara Karen bergegas berpindah tempat ke meja belajar yang juga digunakan sebagai meja kerja suaminya. Ia menghidupkan laptop, lalu mengambil buku tugasnya. Darren yang ikut berpindah tempat, telah lebih dulu duduk untuk menemani istrinya mengerjakan tugas.
Karen hendak mengambil kursi lain untuk didudukinya. Namun, Darren langsung menariknya hingga perempuan bertubuh ramping itu terduduk di pangkuannya.
Karen mematung sesaat ketika sebelah tangan Darren melingkar di pinggangnya. Bau harum dari sabun dan sampo yang dipakainya, rupanya malah memancing gairah pria berprofesi dosen itu. Ia mengecup kepala istrinya, kemudian mengembuskan uap hangat ke telinganya. Bibirnya lalu bergeser lembut menuju leher jenjangnya memberi kecupan-kecupan singkat di sana dan berlanjut hingga ke bahunya yang mulus.
"Darren, kalau kayak gini gimana aku bisa ngerjain tugas?" protes Karen menahan geli, "sekarang aku dah tahu kenapa kamu lebih milih bimbingan belajar di perpustakaan daripada di rumah. Pasti karena kamu gak bisa nahan kalau lagi dekat-dekat kayak gini," ketusnya.
"Pede banget!" sangkal Darren yang langsung menghentikan tingkah nakalnya, "mana tugas kamu!"
__ADS_1
Pada akhirnya, mereka pun menghabiskan quality time di depan meja belajar dan melupakan kegiatan olahraga ranjang yang telah direncanakan sebelumnya. Darren tersenyum tipis menatap istrinya yang terlelap berbantalkan buku. Saat mengelus rambut istrinya, ia langsung teringat dengan cincin berlian yang dibelinya beberapa hari lalu. Ia pun mengambil cincin berlian itu, lalu memasangkan di jari manis istrinya.
...----------------...
Hari baru membuka kisah baru. Begitulah kata kutipan bijak. Nyatanya, kita hanya mengulang aktivitas sama di hari yang berbeda. Itu versi kata mahasiswa gabut.
Karen berjalan di koridor gedung fakultas dengan santai. Tiba-tiba Nadya datang mengejutkannya dari arah belakang.
"Ih, ngagetin, tahu!" Karen memegang dadanya.
"Gimana kabarnya, nih, Nyonya Darren," sahut Nadya sambil cekikikan.
"Ssstt!" Karen menutup mulut kawannya.
"Kar, kamu dekat sama sepupu pak Darren yang semalam itu, gak? Kalau iya deketin ke aku juga, dong!"
"Maksud kamu Chalvin?" Karen melebarkan matanya seketika, "Jangan bilang kamu suka sama dia!"
Nadya malah senyam-senyum tak jelas. "Ya, habis ... dia mirip Taehyung BTS, sih!"
Karen mendadak teringat saat ia memergoki Chalvin yang sedang berciuman dengan sekretarisnya.
"Jangan, deh! Pokoknya jangan suka sama dia!"
"Please ...." Nadya malah memelas.
"Gimana caranya coba!"
"Ajak kencan ganda kek. Kamu sama pak dosen, aku sama Chalvin. Gampang, kan?"
"Emang mereka mau!" Karen menyibakkan poninya ke atas.
Nadya langsung menangkap tangan Karen ketika melihat sesuatu yang berkilau indah di jari manisnya. "Cantik banget!"
Mata Karen mendadak membeliak melihat sebuah cincin bermatakan berlian melingkar di jarinya. Lebih mengejutkan lagi, itu adalah cincin yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. Seketika, lengkungan senyum terbit di bibirnya. Lelaki itu selalu saja seperti ini, melakukan sesuatu yang membuatnya salah paham, tetapi pada akhirnya justru itu adalah hal yang mengharukan.
"Nad, aku pergi dulu, ya! Entar kita bicarain lagi tentang Chalvin."
Karen bergegas lari menuju ruang penelitian karena setahunya pria itu sedang berada di sana. Ia membuka pintu ruangan tanpa mengetuknya terlebih dahulu sehingga membuat Darren terkejut.
"Ngapain kamu ke sini? Kan aku dah pernah bilang gak usah ke sini lagi. Bentar lagi ada mahasiswa bimbinganku datang konsul."
Tak peduli dengan apa yang ia katakan, Karen malah langsung memeluknya. "Makasih atas cincinnya."
Tak cukup semenit, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu sehingga membuat keduanya kelabakan. Karen terpaksa bersembunyi di kolong meja kerja suaminya. Setelah cukup aman, Darren mempersilakan mahasiswa bimbingannya masuk.
__ADS_1
Seorang gadis berkacamata pun masuk sambil membawa beberapa susunan skripsi yang baru saja dikoreksi oleh Mr. Ribet sebagai dosen pengujinya.
"Pak, saya nyerah! Skripsi saya dikritik habis-habisan sama pak Budi Luhur. Dikatain sampah dan udah gitu disuruh revisi total. Saya nyerah buat ikut sidang skripsi!" ucap gadis itu sambil menahan tangis.
"Kenapa kamu takut dikritik? Dosen mana mungkin mempersulit kamu kalau emang tulisan kamu udah memenuhi standar kaidah baku karya ilmiah."
"Saya gak takut dikritik kalau isi kritikannya itu membangun, Pak! Bukan nyelekit kayak gitu."
"Di mana-mana kritikan itu emang keras dan tajam. Gak ada yang lembek atau lemah lembut! Istilah kritik membangun itu populer di jaman orba untuk membungkam masyarakat yang ingin mengkritisi pemerintah. Kemudian istilah itu diwarisi oleh orang-orang yang juga anti dikritik. Apa kamu mau jadi bagian dari orang yang berlindung dari istilah kritik membangun?"
"Tapi mental saya gak kuat, Pak!"
"Kalau gak punya persiapan mental, gimana kamu bisa menghadapi dunia pekerjaan yang begitu keras? Gimana kamu bisa masuk di lingkungan masyarakat dan membawa manfaat bagi mereka?"
Mahasiswi tingkat akhir itu hanya bisa tertunduk.
"Bertanggung jawablah untuk menyelesaikan apa yang telah kamu mulai! Kalau sekarang skripsimu gak kelar-kelar, bukan salah siapa-siapa. Tapi kamu sendiri yang enggak berani menyelesaikan. Kalau kamu lelah, kamu boleh istirahat untuk sementara waktu. Setelah itu, kembalilah dan mari kita perbaiki bersama-sama!"
"Makasih, Pak, atas waktunya." Mahasiswi itu kemudian pamit dari ruangan.
Darren menghela napas kemudian menunduk ke bawah seraya menatap Karen yang sedari tadi menyandarkan kepala di lututnya.
"Mau di situ terus?" tanya Darren datar.
Karen tersenyum manis lalu keluar dari kolong meja.
"Kalau aku dah sampai di tahap skripsi, entar kamu yang jadi dosen pembimbingku, ya?"
"Ogah!"
Karen cemberut, tapi langsung tersenyum di detik berikutnya. "Kalau gitu jadi dosen pengujiku aja, biar pas sidang lancar tanpa hambatan," ucapnya terkikik.
"Gak mau juga!"
"Ih, kok gitu!" ringis Karen, "takut gak bisa objektif, ya?"
"Enggak juga. Aku malah takut kamu jadi bergantung penuh sama aku. Udah sana cepat keluar, masih ada mahasiswa bimbingan yang mau konsul!"
Karen berjalan riang menuju kelasnya. Tanpa ia sadari, teman-teman Feril baru saja melihatnya keluar dari ruang penelitian yang dipegang oleh Darren.
.
.
.
__ADS_1