
"Kamu ngapain di sini?" tanya Karen yang terkesiap melihat kemunculan Chalvin.
"Ekspresi lo biasa aja, bisa, gak? Lihat gua dah kayak lihat setan!" ketus Chalvin seraya menoleh ke sekeliling seakan mencari-cari seseorang. "Lo datang sendiri ke sini?" tanyanya.
Karen mengangguk kaku. Ketegangan langsung menggelayuti dirinya. Chalvin menyipit seraya mencoba mengintip sesuatu yang Karen sembunyikan. Perempuan yang menjadi istri sepupunya itu malah menggeser posisi agar ia tak melihat hasil diagnosa dokter.
Cengiran jahil malah tersemat di bibir Chalvin. "Lo pasti datang ke sini diam-diam tanpa sepengetahuan Darren, kan?"
Karen merapatkan bibirnya erat-erat, tak berkata apa pun. Ia masih mempertahankan wajah tegangnya. Bola matanya berkeliaran tak tentu arah dengan tatapan ringkih.
Tak ada respon apa pun dari Karen, kali ini Chalvin mencebikkan bibirnya. "Biar gua tebak, keponakan gue lagi OTW, kan?" terka pria itu dengan mata yang mengarah ke perut Karen. "Hmm ... congrats, ya! Pasti Darren sama Oma senang banget, nih!"
Ucapan Chalvin itu serasa menghujam hatinya yang dirundung pilu. "Aku gak hamil kok," ucapnya yang kemudian buru-buru pergi sambil menyeka matanya yang berair.
Melihat kesedihan yang membayang di bola mata perempuan itu, membuat Chalvin berfirasat ada sesuatu yang tak beres. Ia pun membuntuti Karen yang melangkah tergesa-gesa. Ia bahkan sampai mengabaikan telepon dari mantan kekasihnya yang datang bersamanya di Rumah Sakit itu.
Langkah Karen terhenti sejenak saat teringat kembali dengan penjelasan dokter padanya. Hasil USG dan tes darah yang baru saja dijalaninya, menunjukkan jika rahimnya sedang tidak baik-baik saja. Ia disarankan untuk melakukan CT scan dan biopsi untuk bisa meneliti lebih lanjut penyakit yang dialaminya. Namun, bagaimana ia bisa melakukan itu semua, kalau saat ini saja kekhawatiran sudah melingkupi dirinya. Ia takut hasilnya mungkin akan lebih buruk dari diagnosis dokter barusan.
Karen merogoh ponsel untuk menghubungi mami Vallen. Ia hendak berkonsultasi masalah ini pada ibunya. Sayangnya, telepon itu tak kunjung terjawab. Karen menggerakkan jempol ke nomor kontak suaminya, tapi dibatalkan kembali. Beberapa kali ia terlihat menarik napas, demi menetralkan perasaan yang tak keruan. Pada akhirnya ia hanya mendongak, agar air matanya tak turun menjejaki pipi.
"Tenang Karen, semua akan baik-baik saja." Ia meminjam kalimat yang pernah diucapkan Darren untuk menenangkan hatinya.
Chalvin bersembunyi di balik tiang, seraya memerhatikan Karen. Dahinya membentuk lipatan, seiring rasa penasarannya semakin besar untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Karen lalu menuju apotek Rumah Sakit untuk mengambil obat yang diresepkan dokter padanya. Tak disangka, Chalvin yang sedari tadi mengekornya dari belakang, tiba-tiba telah berada di sampingnya.
"Ih, kok kamu ngikutin aku sih!" ketus Karen.
"Siapa juga yang ngikut. Aku kan mau ambil obat juga." Chalvin berdalih.
"Obat apa?"
"Obat tolak tua." Chalvin mengangkat keningnya sebanyak dua kali, "just kidding. Gua lagi temani mantan check up."
__ADS_1
Karen menunduk sebentar lalu berkata dengan nada yang cemas, "Jangan bilang-bilang ke Darren ataupun Oma kalau kamu ketemu aku di sini. Aku cuma datang kontrol doang kok."
Chalvin mengangguk pelan dengan kening yang berkerut. Tak lama kemudian, apoteker menyerahkan obat yang diresepkan dokter sambil menjelaskan anjuran minum.
"Aku duluan, ya!" Lagi-lagi Karen terburu-buru meninggalkan Chalvin begitu mengambil obat.
Melihat obat yang baru saja diberikan pada Karen, Chalvin segera mengambil ponselnya lalu mencari tahu fungsi obat tersebut di mesin pencarian internet. Pupil matanya melebar begitu membaca artikel yang memuat fungsi dan khasiat obat yang diresepkan dokter pada Karen. Ia berbalik, menatap punggung Karen yang belum jauh dari pandangannya.
...----------------...
Tak terasa, waktu telah memasuki senja. Darren baru saja pulang dan langsung mendapati Karen yang tengah duduk di sofa sambil menonton.
"Istriku lagi nonton apa, nih? Serius banget!" tegur Darren.
Pertanyaan itu terabaikan begitu saja. Darren menggeleng kepala melihat Karen yang terus menatap layar televisi. Perempuan itu tampak serius, sampai-sampai keripik singkong yang menjadi camilan hanya terapit di ujung bibirnya tanpa dimasukkan ke mulut. Darren berdiri di belakang sofa, tepatnya sejajar dengan posisi duduk istrinya. Ia mengarahkan wajah mungil itu ke atas, kemudian menggigit keripik yang terapit di bibir Karen.
Karen tertegun beberapa detik ketika melihat dari dekat bagaimana Darren menguyah keripik itu sambil tersenyum manis. Jujur saja, ia baru menyadari kedatangan suaminya. Itu karena sedari tadi ia hanya melamun, bukan serius menonton seperti dugaan Darren.
"Tadi Chalvin nelepon aku!" kata Darren sambil membuka kancing-kancing kameja.
"Dia bilang apa?" tanya Karen cepat dengan nada was-was.
"Dia ngajak ngopi bareng lagi. Pas aku dah di jalan, malah dibatalin karena ada urusan mendadak."
Karen bernapas lega. Dia takut kalau Chalvin akan mengatakan bertemu dengannya di Rumah Sakit.
Darren berbalik menghadap padanya. "Mau makan malam di luar, gak?"
Karen mengangguk seraya menampilkan ekspresi senang.
"Kalau gitu aku mandi dulu."
Saat pria itu hendak ke kamar, ia kembali menahannya dengan mendekap erat dari arah belakang.
__ADS_1
"Mandi bareng, yuk! Aku juga belum mandi."
Pasangan suami istri itu kini berada di kamar mandi. Berdiri di bawah pancuran, keduanya merasakan titik-titik air itu mulai jatuh membasahi tubuh mereka yang polos. Darren merengkuh pinggang kecil istrinya hingga punggung perempuan itu menempel erat di perutnya.
Karen memejamkan mata saat Darren mengecup bahunya dengan lembut dan berulang-ulang. Bibir pria itu terus menjejaki kulit mulusnya, naik ke lehernya yang jenjang, menjatuhkan kecupan-kecupan ringan di sana. Karen menggigit ujung bibirnya agar tak melenguh saat napas hangat Darren mulai menghujam telinganya.
"Darren, geli!" bisik Karen dengan suara tertahan.
"Mau yang lebih?" Darren balas berbisik sambil menarik lembut dagu Karen ke arahnya.
Karen menggeleng manja seraya menatap manik suaminya. Pandangan penuh cinta yang bercampur hasrat itu, membuatnya tak tahan untuk lebih dulu mendesakkan bibirnya ke celah bibir Darren. Bibir mereka yang basah saling bertabrakan, bergesekan lembut, mencecap satu sama lain.
Darren terhenyak ketika telapak tangan Karen menyentuh dadanya, lalu mendorongnya dengan lembut sehingga membuat ciuman mereka terlepas.
"Kamu kenapa?"
"Kamu ... jangan tinggalin aku, ya?" ucap Karen dengan suara serak.
Daren mengulas senyum lalu kembali meraih wajah istrinya dan hendak kembali mempertemukan bibir mereka. Namun, Karen malah menahan lengannya.
"Apa pun yang terjadi ... kita tetap suami istri, kan?"
Kening Darren mengernyit bingung. Untuk beberapa detik, mata mereka bersirobok tajam.
"Kamu kenapa?" tanyanya lagi.
Aku pengen banget ceritain ini sama kamu. Tapi ... kalo aku berkata jujur, apa kamu masih mau bertahan denganku?
.
.
.
__ADS_1