
Dipanggil kakeknya, Darren lantas berkata pada Karen, "Aku ngobrol sama kakek dulu, ya! Ini teh untuk kamu."
Karen menerima teh hangat buatan suaminya. Sejenak, ia melirik tubuhnya dalam cermin. "Pulang malam, lihat istri seseksi ini kok dia gak ngapa-ngapain," gumamnya sembari memasang wajah cemberut.
Di dalam ruangannya, tepatnya di area balkon yang menghadap langsung dengan taman dan kolam renang rumah, kakek Aswono mengajak Darren mengobrol sembari bermain catur. Sama-sama masih berpakaian piyama, kakek dan cucu itu menghabiskan waktu pagi dengan membicarakan banyak hal, terutama tentang bisnis dan resesi ekonomi.
"Semua orang gembar-gembor soal resesi ekonomi di media sosial. Banyak influencer yang gencar meminta followers-nya agar tahan cash, jangan belanja, jangan mengambil KPR, dan harus menyimpan uang karena akan ada PHK masal dan penurunan penjualan. Kalo kayak gitu, ini bisa mengakibatkan kepanikan para konsumen untuk membelanjakan uang mereka. Pada akhirnya resesi benar-benar terjadi!" keluh kakek Aswono menanggapi berita yang tengah gencar di sosial media akhir-akhir ini.
Darren tersenyum hambar. "Benar, Kek. Apalagi masyarakat Indonesia sering kena serangan panik masal. Kalo uang yang ada di tangan tidak berputar dan daya beli masyarakat semakin lesu karena kepanikan, yang ada malah terjadi stagnasi dan akhirnya PHK masal benar-benar terjadi karena perusahaan tidak mendapatkan pendapatan alias bangkrut."
"Nah, ini nih, yang gak dipikirin para influencer saham dan konten kreator penebar ketakutan! Sontoloyo memang!" Kakek Aswono menunjukkan raut kesal.
"Orang-orang tidak bisa membedakan antara makroekonomi dan bisnis. Kalo memang resesi terjadi, yang bakal susah kan orang-orang yang bergerak di bidang makroekonomi, salah satunya pemerintah. Simpan cash memang perlu karena masa depan tidak bisa diprediksi. Tapi bukan berarti kita menahan belanja, karena ekonomi harus tetap berjalan."
"Betul itu. Ini yang Kakek cemaskan! Daya beli konsumen kita jadi melemah gara-gara isu resesi global."
"Tenang aja, Kek! Dalam bisnis konsumen itu tidak rasional. Enggak semua konsumen membelanjakan sesuatu karena kebutuhan. Kadang-kadang mereka membelanjakan sesuatu karena keinginan dan sebuah branding. Bagi sebagian wanita, makeup dan skincare telah menjadi kebutuhan primer mereka. Jadi, Kakek tidak perlu khawatir! Dampak resesi itu akan terasa pada perusahaan-perusahaan yang sejak awal telah bermasalah," jelas Darren dengan optimis.
Ya, meski tidak mengambil jabatan apa pun di perusahaan kosmetik keluarganya, tapi dengan ilmu dan profesinya sebagai profesor di bidang ekonomi membuat kakek Aswono selalu mengajaknya mengobrol terkait bisnis.
Di sisi lain, Feril yang baru saja bangun tidur, tengah duduk santai di teras rumahnya. Ia mengirim rekaman video yang diambilnya semalam ke grup WA teman sekelasnya. Ia tampak tak sabar membaca respon teman-temannya begitu mengetahui dosen idola kaum hawa itu berada di tempat dugem dan mengencani anak di bawah umur.
"Lihat, tuh, dosen yang kalian puja-puja ternyata kang dugem. Udah gitu pacaran sama bocil dan ngajakin mabok. Child grooming tuh!" Tulis Feril dalam keterangan video.
Sukses mengirim video itu, Feril lantas tak sabar mengetahui respon teman-temannya. Terutama untuk cewek-cewek yang mengidolakan Darren dan untuk cowok-cowok yang menjadikannya sebagai panutan.
"Rasain lu! Gua mau lihat, sampai di mana pencitraan lu ke mahasiswa tetap bertahan!" cela Feril sambil tersenyum mengejek.
Tak sampai lima menit sejak video itu diunggahnya, berbagai tanggapan pun bermunculan dari teman-teman perempuan di grup itu.
__ADS_1
Tanggapan pertama: Bagus dong kalo pak Darren belum nikah. Itu artinya dia lajang, kan. Lajang bebas kali mau dekat sama siapapun.
Tanggapan kedua: Yes ... gak jadi patah hati berkepanjangan deh kalo pak Darren benar-benar belum nikah."
Tanggapan ketiga: Dosen bukan ustadz kali! Butuh refreshing juga ke tempat hiburan malam!
Tanggapan keempat: ke tempat dugem belum tentu minum, kan? Lagian yang kelihatan mabuk cuma cewek yang di sampingnya. Bisa jadi itu keluarganya.
Dan masih banyak lagi tanggapan dari teman-temannya yang justru bernada positif, hingga membuatnya berdecak kesal. Berharap dosen itu akan dirundung dan dicap negatif oleh mereka, yang ada malah mendapat pembelaan.
"Gila nih cewek-cewek, benar-benar penyembah visual. Giliran dosen good looking dibela, coba kalo dosen tua dan jelek, yakin deh pada bully!" geram Feril.
Sedang asyik membaca komentar, tiba-tiba sebuah sapu lidi menghantam punggungnya.
"Enak bener, ya, bangun telat langsung nongkrong sambil main hp. Contohi, noh! Abang lu Farel, setiap liburan semester dipake buat kerja. Gak kayak lu cuma ongkang-ongkang kaki habisin beras!" omel ibunya sambil memegang sapu.
"Makanya kalo gak mau diomelin, kuliah yang bener. Jangan jadi anak badung, ngedugem mulu!"
"Aye masih jadi anak jakarta, bukan anak badung! Ke Bali aja belom pernah."
(Ket. : Badung yang dimaksud ibunya\=anak nakal susah diatur, Badung yang dimaksud Feril\=anak yang tinggal di Badung tempat wisata Kuta dan sekitarnya di Bali)
"Lagian Farel juga doyan clubbing, kenapa cuma aku doang yang diomelin," sambung Feril tak terima ibunya yang kerap pilih kasih.
"Beda! Farel nilai kuliahnya bagus-bagus, skripsinya selesai tepat waktu bentar lagi wisuda dapat gelar sarjana. Udah gitu pinter cari duit. Lu sendiri gimana kuliah lu? Hah?"
"Tenang, Mak! Kata motivator, gelar itu tak menjamin kesuksesan. Jadi, gak usah terlalu serius kuliah."
"Emang kalo lu cuma gelar tikar doang, ada perusahaan yang mau terima elu, hah? Tuh, lihat sana Abang lu begitu yudisium langsung diterima magang di perusahaan besar!"
__ADS_1
Feril memilih segera masuk ke kamarnya daripada terus-terusan mendengarkan omelan ibunya yang mengalahkan kecepatan rapper Amerika.
"Sialan! Masih pagi-pagi, udah sarapan Omelan! Udah gitu pake acara banding-bandingin gua sama Farel. Perempuan mau yang muda mau yang tua kok pada sama aja, lihat laki kalo bukan liat tampangnya, ya ... lihat duitnya," gerutu Feril sambil membanting ponselnya di atas kasur.
...----------------...
Masih bersama kakeknya, Darren menceritakan sesuatu yang telah terjadi semalam. Kakek Aswono terkejut, tapi masih menyikapinya secara bijak.
"Jangan sampai Oma kamu tahu ini, bisa berubah jadi reog dia," ucap kakek memperingati Darren agar tak membicarakan hal yang baru saja ia ceritakan.
Darren mengangguk paham. Di saat bersamaan, asisten rumah tangga mereka datang memberitahukan kalau sarapan telah siap. Keduanya pun mengakhiri permainan catur yang dimenangkan oleh Darren. Sebelum turun menuju ruang makan, Darren kembali ke kamar mencari Karen. Sayangnya, hanya ada ART yang sedang membersihkan ruangan tersebut.
"Bi, istri saya mana, ya?" tanya Darren.
"Mba Karen tadi katanya mau pulang ke rumah dulu ambilin barangnya yang ketinggalan," jawab ART yang kemudian kembali mengepel lantai.
Mengetahui istrinya pulang ke kediaman mereka, mata Darren pun terbelalak. Di sisi lain, Karen baru saja tiba di rumah mereka. Ia mengambil kunci dari tasnya lalu membuka pintu rumah. Begitu pintu terbuka, pemandangan mencengangkan memasuki retina matanya. Sesosok gadis remaja baru saja keluar dari kamarnya dengan penampilan awut-awutan seperti baru bangun tidur.
"Kamu siapa?" tanya Karen kaget.
Bertepatan dengan itu, ponselnya membunyikan notifikasi chat dari aplikasi WhatsApp. Mengira itu chat dari Darren, ia segera membukanya. Ternyata chat itu dari Vera yang juga mengirimkan sebuah video.
Vera: Kar, kamu udah lihat video ini, belum? Lagi heboh banget di kalangan kakak senior. Itu bukan pak Darren, kan? Kamu dan pak Darren baik-baik aja, kan?
Pesan chat Vera yang bernada khawatir, membuat Karen buru-buru membuka video yang baru saja dikirim. Seketika, sepasang matanya melebar melihat suaminya tengah berduaan dengan seorang gadis mabuk. Yang membuatnya semakin tercengang, karena gadis di dalam video itu, mirip dengan gadis yang ada di hadapannya saat ini.
.
.
__ADS_1