DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 51 : Lewat Kolong Meja


__ADS_3

Karen kemudian masuk ke perpustakaan kampus. Tempat itu tak seramai biasanya, mungkin karena sudah hampir memasuki waktu istirahat pada umumnya. Hanya ada segelintir mahasiswa yang tengah mencari bahan referensi untuk skripsi mereka. Sebenarnya ia bertanya-tanya kenapa suaminya mendadak hendak membimbingnya belajar di perpustakaan.


Karen mengedarkan pandangan ke setiap seluk beluk perpustakaan. Tampaknya, Darren belum tiba di sana. Ia lalu memilih deretan tempat duduk yang berada di pojok ruang, di mana posisi meja itu terhalang dengan rak buku dan orang tak akan melihat mereka kecuali sengaja mendekat. Duduk di paling ujung, ia menopang dagunya dengan mata yang terus siaga di pintu masuk perpustakaan.


Selang lima menit kemudian, pintu perpustakaan terbuka, diikuti Darren yang melangkah masuk. Karen langsung berdiri sambil melambaikan tangannya penuh semangat. Sayangnya, ia lupa kalau posisi tempat duduknya terhalang oleh rak buku.


Karen berinisiatif pindah posisi agar Darren bisa melihatnya. Namun, baru saja berdiri, perhatiannya mendadak teralihkan pada sosok Marsha yang ikut muncul di belakang Darren. Tampaknya, kedua orang itu datang bersama. Itu dapat terlihat saat Darren menoleh ke belakang seraya berbicara santai dengan perempuan yang telah menjadi mantan pacarnya. Tak hanya itu, mereka malah menuju rak yang memuat deretan buku ekonomi.


Kebersamaan mereka, seolah memercikkan api di hati Karen. Sungguh, ia tak bisa mentolerir ini! Darren memintanya bertemu di perpustakaan, tapi pria itu malah datang bersama mantan kekasihnya. Bahkan seakan lupa dengan ajakan yang dibuatnya sendiri. Tak tinggal diam, Karen menguntit keduanya dengan mengendap-endap di antara rak-rak, lalu mengintip di sela-sela buku yang berjejer tak beraturan.


Posisinya saat ini, membuat Karen hanya bisa melihat Darren dan Marsha dari belakang. Dalam pantauannya, pria dan perempuan yang pernah merajut kasih itu tak saling bicara dan hanya sibuk menelisik buku satu per satu. Saking seriusnya, lengan mereka sampai bersenggolan sehingga terciptalah adegan saling berpandang-pandangan seperti di sinetron. Namun, itu tak berlangsung lama karena tak ada soundtrack lagu yang mengiringi pertemuan mata keduanya. Mereka kembali fokus mencari-cari buku.


Karen masih memantau melalui rak sebelah sambil turut berpura-pura mencari buku bacaan. Ia mengambil setiap buku yang menghalangi pandangannya, hingga tak sadar telah menampung banyak buku di sebelah tangannya. Bola matanya tak bergeser sedikit pun, seolah takut lengah mengawasi keduanya. Hidungnya kembang kempis sedari tadi diikuti dengan mulut yang mengerucut berkumpul menjadi satu, menjadi bukti tersirap hatinya.


"Ah, itu tuh!" Marsha menunjuk sebuah buku yang berada di rak paling atas. Ia berjinjit ketika hendak mengambil buku tersebut.


"Biar aku ambilin!" Darren menawarkan diri untuk mengambil buku tersebut.


Belum habis kegusarannya, Karen malah harus kembali melihat perlakuan manis Darren terhadap Marsha. Matanya semakin membelalang diikuti wajah yang memerah seperti puncak gunung berapi yang siap memuntahkan lava.


"Tuh, kan, apa aku bilang, nih, buku ada di perpustakaan kampus. Aku lihatnya seminggu yang lalu." Mata Marsha tertuju pada buku yang dipegang Darren.


"Thanks, ya! Aku dah cari keliling buku ini sampai cek di internet juga, tapi karena terbitan lama jadi udah gak dijual lagi. Nih buku cocok banget buat Karen, biar memudahkan dia pelajari dasar akuntansi," ucap Darren semringah sambil membuka tiap-tiap lembar buku.


Karen terkesiap sekaligus lega. Ternyata, yang dilakukan Darren dan Marsha adalah mencari buku bimbingan belajar untuk dirinya sendiri. Mendengar apa yang baru saja diucapkan suaminya, hatinya mendadak seperti mentega di wajan panas. Meleleh!


Saking terharu, ia sampai menjatuhkan tumpukan buku menggunung yang dipegangnya. Buku-buku yang terjatuh itu menimbulkan suara yang cukup keras sehingga membuat Darren dan Marsha kompak menoleh ke belakang. Untungnya, Karen segera berjongkok seraya menutup mulutnya.


"Aduh, aku hampir lupa udah mau masuk kelas, nih!" ucap Marsha seraya menengok jam tangannya.

__ADS_1


"Ya, udah, duluan aja!"


"Oke. Aku balik, ya!" Marsha segera keluar dari perpustakaan. Saat membuka pintu, ia sempat menoleh kembali ke arah Darren. Lelaki itu benar-benar menganggapnya sebatas teman kerja. Meski begitu, terasa cukup baginya dibanding harus menerima kebencian karena pernah meninggalkannya.


Sementara, Karen masih sibuk memungut buku-buku yang berserakan di lantai. Namun, gerakannya mendadak terhenti saat menyadari ada sepasang mata yang tengah memandangnya dari celah rak yang kosong. Saat menoleh, ia langsung beradu pandang dengan pemilik mata itu yang ternyata adalah Darren. Ya, pria itu turut berjongkok dengan kepala yang dimiringkan.


"Dasar tukang ngintip!" ketus Darren diikuti tarikan kecil di sudut bibirnya.


Karena malu ketahuan, Karen langsung meletakkan empat tiga buku sekaligus untuk menutup celah kecil yang menampakkan wajah suaminya. Ia bergegas menuju bangku yang didudukinya semula.


Darren ikut menyusul ke tempat tersebut. Namun, alih-alih duduk di samping Karen, pria itu malah duduk di hadapannya yang mana mereka dibatasi oleh sekat triplek. Posisi duduk ini akan membuat orang-orang menganggap mereka tak saling berurusan.


Darren menyodorkan buku tadi lalu berkata, "Ya, kita mulai aja, ya?"


"Duh, kenapa sih belajarnya mesti di sini kalau modelnya kayak gini!" Karen memberengut sambil memandang Darren yang terhalang sekat triplek.


"Kalau di rumah kamu banyak ngelesnya. Udah pokoknya kerjain tugas yang barusan aku kirim. Pakai buku panduan tadi! Waktunya cuma lima belas menit dari sekarang!" perintah Darren.


Karen menggaruk-garuk kepalanya seraya membuka setiap lembaran buku. Dua puluh menit kemudian, ia menyenggol ujung sepatu Darren sambil mengibas-ngibas kertas jawabannya di kolong meja. Seakan mengerti, tangannya langsung terulur ke bawah untuk mengambil lembar latihan yang telah diisi oleh Karen. Tampaknya, kolong meja menjadi interaksi mereka saat ini seperti anak SMA zaman dulu yang saling berbalas pesan atau surat menyurat.


Darren menatap lembaran tugas yang baru diisi Karen. Ia tersenyum tipis saat membaca catatan paling bawah yang ditulis oleh istrinya.


"Tulis simbol love penuh kalau benar, tulis simbol love setengah jika kurang tepat dan tulis simbol love retak jika salah."


Darren mengoreksi jawaban Karen, kemudian mengembalikan lembaran itu lewat kolong meja. Karen terkejut melihat setiap jawabannya hanya mendapatkan simbol love retak, menandakan apa yang dikerjakannya itu salah semua.


Kesal, ia mengambil kertas kosong, lalu mencoret-coret kertas itu. Ia kembali menyenggol kaki Darren seraya mengibas kertas itu di kolong meja. Darren segera mengambil kertas tersebut. Ternyata Karen menggambar sosok pria berwajah sangar dengan tanduk yang terpasang di atas kepala, seolah hendak meledek kalau itu adalah suaminya.


Darren menulis sesuatu di belakang gambar kemudian mengembalikan kertas tersebut. "Cepat revisi jawaban! Kalau gak sampai benar semua, gak usah pergi pemotretan produk!"

__ADS_1


"Idih ... mode ngancam!" Karen memberengut. "Kayaknya aku gak perlu lanjut kuliah, deh! Udah nikah juga, kan!" Karen mulai kumat dengan sifat malasnya dan gampang menyerah.


"Kartini nangis kalau dengar kata-kata kamu ini. Percuma dia berjuang buat ngelawan stereotip kalau perempuan gak perlu ngejar pendidikan!" ketus Darren, "bukannya baru tadi pagi kamu bilang mau belajar sungguh-sungguh dan raih IP tertinggi," singgungnya kembali.


Karen membuang napas kasar, lalu bergumam, "Kenapa juga, ya, aku ambil jurusan ekonomi akuntansi. Padahal waktu masih kecil cita-citaku pingin jadi dokter."


Darren tertawa kecil. "Itu cita-cita sejuta anak kecil. Sayangnya, cita-cita mulia itu sirna gara-gara orangtuanya sering bawa profesi dokter buat nakut-nakutin mereka."


"Maksud kamu?"


"Ada dua profesi yang sering dikambinghitamkan sebagian besar orangtua Indonesia. Kalau bukan dokter, ya polisi," jelas Darren, "nanti kalau kamu gak makan disuntik dokter, loh! Nanti kalau kamu nakal ditangkap om polisi, loh," lanjutnya lagi sambil menirukan gaya bicara emak-emak.


"Pasti dulu Oma juga sering ngomong gitu ke kamu!" tebak Karen.


Darren hanya tersenyum, kemudian memerintahkan Karen untuk segera memperbaiki tugasnya. Sebab, dua jam lagi Chalvin akan menjemputnya untuk kembali melakukan pemotretan iklan produk.


Karen mulai mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Ia juga menyimak dengan baik setiap penjelasan dari Darren. Tampaknya, ia mulai menunjukkan sedikit usahanya untuk berubah agar bisa memantaskan diri berada di samping pria itu.


"Mulai bulan depan, kamu yang kelola gaji aku. Tapi, kamu harus atur dan kontrol pengeluaran tiap bulan. Buatin jurnalnya, catat tiap transaksi secara rinci dan ditotalkan berapa per bulan biaya pengeluaran kita. Biar kamu bisa belajar memanage keuangan Rumah Tangga. Minggu depan kan kita udah pindah ke rumah, itu mengurangi pengeluaran per bulan juga," ucap Darren yang mulai memberi kepercayaan penuh ke istrinya untuk memanage keuangan Rumah Tangga mereka. Sebagai seorang profesor, ia memiliki gaji yang lebih tinggi, serta berbagai jenis tunjangan.


Di waktu yang sama, Feril telah mendapatkan akun Instagram Chalvin saat menelusuri orang-orang yang difollow oleh Karen. Ia juga telah mengetahui kalau perempuan itu menjadi Brand Ambassador di perusahaan tempat Chalvin bekerja.


Feril mengirim foto-foto Karen yang tengah bersama dua pria asing di kelab malam ke akun Instagram Chalvin dengan memakai akun bodong agar tak ketahuan identitasnya.


"Rasain, lu! Siap-siap lu bertengkar sama cowok lu!" lontarnya dengan mulut yang mengapit sebatang rokok, setelah berhasil mengirim foto via DM.


"Kenapa gak sekalian lu kirim itu foto di perusahaannya aja, biar sekalian bikin malu tuh cewek! Apalagi cowoknya punya jabatan bagus di perusahaan itu. Pasti tuh cowok bakal ninggalin dia karena lebih menjaga nama baiknya," ucap Farel yang datang memprovokasi saudaranya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2