DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 64 : Keguguran?


__ADS_3

Di luar fakultas, Feril tampak terlihat mengejar seorang dosen untuk menyetor tugasnya selama ini. Ia hanyalah satu dari jutaan mahasiswa yang datang memelas ke dosen saat ujian akhir semester semakin dekat. Sayangnya, seluruh tugasnya itu tak diterima karena telah melewati batas waktu.


"Kenapa juga baru dikasih sama saya sekarang, hah?" tanya dosen bertubuh gempal itu dengan mata melotot. Ia masih serumpun dengan Mr. Ribet yang sering mempersulit mahasiswanya di akhir semester.


"Sebenarnya mau dikasih sejak lama, Pak. Cuma tiap mau ketemu Bapak, saya lihat Bapak sibuk. Gak enak ganggu," balas Feril mencoba ngeles.


"Kan kalian gak disuruh datang sama saya satu per satu! Apa gunanya ketua kelas, hah?" Dosen itu kembali memasang mata melotot.


"Itu dia masalahnya, Pak. Ketua kelas kami gak berguna, Pak! Gak pernah suruh ngumpulin tugas!" Feril malah melimpahkan kesalahannya pada orang lain.


"Alasan kamu saja itu! Nyatanya teman-teman kamu lainnya udah pada ngumpulin tugas!" Dosen itu lantas masuk ke mobilnya tanpa mengambil tugas Feril.


Tepat saat mobil itu melewatinya dan mulai melesat sekitar sepuluh meter darinya, Feril pun berteriak kesal. "Semoga harimu Senin terus, Pak!"


Feril kembali bergabung dengan teman-temannya yang terdiri dari persatuan MAHDI, kunang-kunang dan Jamet.


"Ditolak, Ngab?" tanya salah satu temannya.


"Bayangin, kemarin gua mendaki gunung lewati lembah kek ninja Hatori cuma buat nganterin nih tugas ke rumahnya, eh dia gak ada! Pagi ini ketemu malah dicuekin kek gitu. Gua doain tuh dosen kena azab!" geram Feril sambil duduk berjongkok di pembatas jalan.


Pria berambut gimbal lantas menimpal, "Sekarang gua paham kenapa emak gua gak ijinin gua jadi guru atau dosen. Kalo jadi guru sering didoain sakit sama siswa biar gak masuk kelas. Jadi dosen malah didoain kena azab gara-gara sering mempersulit mahasiswanya. Ngeri, Coy!"


Dua kawan Feril tiba-tiba ikut bergabung dan membawa berita yang cukup menggemparkan.


"Eh, barusan kita lihat Karen keluar dari ruangan pak Darren!"


"Yang bener?" tanya Feril cepat.


"Bener, Ngab. Gak bohong. Kayaknya tuh dosen emang keluarganya tuh cewek, deh!"


"Udah biasa lagi mahasiswa keluar masuk ruang penelitiannya. Soalnya dia dosen pembimbing cewek gua!" sahut temannya yang lain.


Feril hanya diam sambil memikirkan sesuatu. Tampaknya, ia memiliki asumsi yang berbeda dari teman-temannya.


...----------------...


Di sisi lain, Chalvin yang baru saja memimpin rapat penjualan produk, tiba-tiba teringat dengan insiden semalam saat Karen diserang mantan pacarnya. Merasa bersalah, pria itu pun berinisiatif untuk mengajak Darren dan Karen dinner bersama sebagai bentuk permohonan maaf. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Darren. Sayangnya, sepupunya itu tak menjawab telepon karena sedang mengajar. Ya, Darren selalu mengatur ponselnya dalam mode senyap ketika berada dalam kelas agar tak mengganggu konsentrasi mahasiswanya.


Chalvin kini beralih menelepon Karen. "Kar, kamu sama Darren ada waktu malam ini, gak?"


"Kenapa emang?" tanya Karen melalui saluran telepon yang terhubung.


"Aku mau ngajakin kalian dinner di salah satu resto recommended yang ada di Ashta."


"Mau banget!" Karen langsung menyetujui ajakan Chalvin.


"Ya, udah, kita ketemu di sana jam delapan malam, ya!"


Waktu yang ditentukan pun tiba. Chalvin yang telah lebih dulu di sana, lantas terperangah melihat kedatangan Karen. Yang membuat pria itu kaget, karena karen bukan datang bersama Darren, melainkan dengan Nadya.


"Darren mana?" tanya Chalvin.


"Masih di kampus. Katanya mau selesaikan penelitiannya dulu. Karena aku suka ke resto ini dan mumpung kamu traktir, jadi aku ngajakin teman aku. Gak papa, kan?"


Chalvin mengangguk kaku.


"Hai, Kak. Masih ingat aku, kan?" Nadya melambaikan tangannya.


"Ah, iya, temannya Karen yang semalam, kan?"

__ADS_1


Chalvin lalu mempersilakan keduanya duduk. Bukannya segera duduk, Nadya malah sibuk merekam keadaan resto untuk konten di instastory-nya. Ya, kapan lagi punya kesempatan makan di restoran yang bisa menghabiskan jutaan rupiah?


Seorang pelayan mendekat dan memberikan buku sajian menu. Nadya hanya bisa meneguk ludah dengan kasar saat melihat daftar menu dengan harga yang dipatok ratusan hingga jutaan rupiah hanya untuk seporsi. Maklum saja, Nadya bukan berasal dari golongan kelas atas seperti Karen dan Chalvin. Bisa makan di restoran sekelas KFC pun sudah merupakan pemborosan baginya. Untungnya ia berkawan dengan Karen yang sering mentraktirnya ke kafe-kafe kekinian.


"Kalian mau pesan menu apa?" tanya Chalvin yang juga sedang melihat buku menu.


"Aku ikut kamu, deh. Pilihkan yang recommended gitu!" balas Karen.


"Aku juga. Bingung mau milih apa. Nama-namanya asing gitu. Takut salah pilih. Gak pernah makan kek gini soalnya," sambung Nadya dengan suara seperti berbisik.


Chalvin tersenyum simpul, lalu berkata pada pelayan. "Untuk started-nya kami pesan Wood Roasted Bone Marrow. Untuk steiknya kami pesan dry 30 days, terus Hot Pastrami Reuben, dan untuk penutupnya kami pesan Truffle Mac and Cheese."


Nadya yang tak mengerti dengan menu pesanan Chalvin, lantas berbisik pada Karen. "Eh, itu pesanannya pakai nasi, enggak?"


"Ya, enggaklah! Cari nasi kok di resto western," sergah Karen.


"Kita kan orang Indonesia. Kalau gak pake nasi bukan makan namanya!" tandas Nadya terkikik.


"Mau wine?" tawar pelayan.


"Boleh juga," jawab Chalvin, "kalian mau wine, gak?" tanyanya pada Karen dan Nadya.


"Enggak, deh. Aku moktail aja," balas Karen.


"Aku mau!" jawab Nadya.


Karen menoleh pada Nadya. "Itu kadar alkoholnya tinggi, loh. Lu bisa mabuk sampai tepar."


"Gak papa. Kapan lagi aku coba wine mahal ala orang kaya, hihi."


Sambil menunggu menu pesanan, mereka disuguhkan hidangan gratis berupa complimentary bread. Tak lama kemudian, pesanan menu pembuka mereka datang, yaitu terdiri dari tiga tulang kaki, roti panggang dan selai yang terbuat dari bawang bombay.


"Hah? Tulang?" Nadya membeliak seketika, lalu bergumam kecil, "emangnya kita guk guk apa dikasih makan tulang doang!"


(N: a piece of cake\= mudah banget. Ini idiom gays, jangan diartikan per kata)


Nadya mengikuti arahan Chalvin, lalu mulai menyantap hidangan itu. "Hmmm ... enak banget! Sumpah ini enak banget!" ucapnya dengan suara tertahan.


"Gimana menurut kamu?" tanya Chalvin.


"Not so bad!" jawab Karen yang juga ikut mencicipi.


(N: not so bad\=lumayan)


Lagi-lagi Chalvin hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah Nadya. "Makannya cukup satu aja, ya! Kalau berlebihan bisa enek.


"Lah, kalau cuma makan satu doang, ngapain pesan sampai tiga porsi? Kenapa gak seporsi aja terus bagi-bagi? Dasar orang kaya!" batin Nadya yang sebenarnya masih ingin mencicipinya kembali.


Pesanan mereka selanjutnya adalah jenis steik yang di-dry eged¹ selama tiga puluh hari.


"Tap dulu ke butter-nya terus dioles ke pinggiran piring." Kali ini Chalvin mengajari Nadya tentang tata cara makan steik sesuai manner.


Karen merasa senang melihat keakraban antara Nadya dan Chalvin. Ia merasa strateginya untuk mendekatkan Chalvin dengan Nadya telah berhasil.


"Eh, aku ke kamar kecil dulu, ya. I'm bursting!" Karen berdiri, sengaja meninggalkan keduanya agar mereka bisa lebih dekat.


(N: I'm bursting\= aku kebelet nih)


"Eh, aku temani, ya!" Chalvin hendak berdiri, tetapi ditahan oleh Nadya yang kembali menanyakan cara menyantap hidangan selanjutnya.

__ADS_1


Hampir tiga puluh menit berlalu, tapi Karen belum juga kembali. Sementara, Nadya mulai merasa mabuk karena efek wine yang diminumnya. Chalvin terus menengok ke arah toilet, ia tampak gelisah karena Karen belum juga kembali.


"Nadya, aku cek Karen dulu, ya!"


Chalvin mencoba berjalan menuju toilet sambil menghubungi Karen. Sayangnya, panggilan itu hanya dijawab oleh operator. Ia berjalan lambat-lambat menuju jalur yang mengarah ke toilet. Tepat di koridor yang memisahkan toilet pria dan wanita, Chalvin malah mendapati Karen tengah bersandar di dinding dengan gawai yang melekat di telinganya. Tampaknya perempuan itu tengah mengobrol manja dengan suaminya. Ya, melihat beberapa pasangan yang bercengkerama sambil menikmati makan malam mereka di restoran itu, membuat Karen mendadak merindukan suaminya.


Chalvin langsung bernapas lega sekaligus berbalik. Namun, tak sampai sedetik, ia menoleh kembali hanya untuk melihat Karen sekali lagi.


Dua jam setelah menghabiskan waktu di restoran, Karen dan Nadya hendak ke balkon gedung yang berada di luar lantai teratas. Sebab, tempat itu menjadi spot foto kekinian karena dikelilingi gedung pencakar langit dan pemandangan malam yang luar biasa.


"Sorry aku gak bisa gabung sama kalian. Aku mesti pulang!" ucap Chalvin sambil menatap jam tangannya.


"Thanks, ya, udah traktir kita."


"Ok. I'm off. Bye."


(N: I'm off\= cabut dulu/pergi dulu)


Nadya menggenggam erat ponselnya seraya mengatup bibir rapat-rapat. Sejujurnya, ia hendak bertukar kontak dengan pria itu. Namun, tepat saat Chalvin berpisah dan telah menjauh beberapa meter dari mereka, Nadya tiba-tiba merasakan keram di perutnya. Ia membungkuk ketika keram itu berganti dengan rasa sakit dan nyeri yang luar biasa tepat di bagian perut dan punggung bawah.


"Aduh, perutku!"


"Kamu kenapa?" tanya Karen terkesiap.


"Gak tahu. Sakit banget! Gak tahan, sumpah!" Nadya kini berjongkok dengan wajah memucat. Karen yang panik lantas berteriak memanggil Chalvin yang belum jauh dari mereka.


"Chalvin, Chalvin! Tolongin dong!"


Chalvin mendengar suara teriakan Karen dan berlari ke arah dua perempuan itu. Ia dan Karen bergegas melarikan Nadya ke Rumah Sakit. Begitu tiba di sana, Nadya langsung dibawa masuk ke UGD.


"Kamu pulang aja. Biar aku yang nungguin Nadya di sini!" ucap setelah sepuluh menit berlalu.


"Gak papa kok. Aku bakal temani kamu di sini."


Setengah jam kemudian, dokter yang baru saja melakukan pemeriksaan melalui USG, memberitahukan pada Karen dan Chalvin jika Nadya mengalami keguguran di usia kehamilan yang baru memasuki lima Minggu. Mendengar itu, membuat Karen terkejut tak terkira dan langsung teringat curahan Nadya yang mengaku telah berhubungan sekks dengan mantan kekasihnya.


Jangan-jangan Nadya juga gak tahu kalau dia hamil ....


Karen malah memegang perutnya seraya mengingat hari terakhir di mana ia dan Darren melakukan hubungan intim. Saat itu, Darren tak menggunakan pengaman seperti biasa.


"Teman kamu udah nikah?" tanya Chalvin setengah tak percaya.


Bertepatan dengan itu, seorang perawat mendekat sambil berkata, "Keluarga pasien atas nama Nadya Maharani Ayu? Registrasi dulu, ya?!"


Karen langsung mendorong Chalvin sambil berkata, "Ini suaminya, Sus."


Tak ayal, bola mata Chalvin pun melebar seketika.


.


.


.


jejak kaki 🦶🦶



dry eged: proses pembusukan daging melalui bakteri. jadi dagingnya disimpan di ruang khusus gitu dalam kurun waktu tertentu dengan prosedur yang sangat ketat. gunanya untuk menghasilkan daging steik yang sangat lembut dan lebih enak. jadi seperti yang dipesan Chalvin itu di-dry eged selama 30 hari ya. itu enak banget dan tentunya muahal gays.

__ADS_1



Hayo ngaku, siapa yang lihat judul langsung nyangka Karen yang keguguran? 😂🤣 btw, ini chapternya lebih panjang, sepanjang cintaku pada kalian ❤️.


__ADS_2