DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 133 : Perasaan Chalvin


__ADS_3

Selesai sarapan, Chalvin hendak kembali ke kamar untuk mempersiapkan diri ke kantor. Saat menaiki tangga, ia menghela napasnya yang mendadak terasa berat hanya karena melihat pintu kamar Karen yang terbuka lebar. Dia berjalan menyamping dengan posisi membelakangi pintu agar tak berpikiran macam-macam tentang semalam.


"Chalvin!"


Tubuh pria itu tegap seketika begitu namanya dipanggil. Berbalik pelan, ia semakin terkesiap begitu melihat Karen telah berada di hadapannya.


"Boleh mintol, gak?"


"Kenapa?"


"Aku mau belajar masak-masak hari ini. Tadinya aku mau ngajakin Nadya ke sini buat masak bareng soalnya dia lumayan jago masak, tapi dia gak mau. Gak tahu kenapa! Kamu bisa bujuk dia biar temenin aku belajar masak, gak? Kan biar sekalian makan malam bareng nanti di sini. Oma pasti senang."


Chalvin menunjuk dirinya sendiri dengan sebelah alis yang turun. "Aku yang ngajak dia?"


"Iya, please ...." Karen menangkup tangannya di depan Chalvin. "kali aja dia cuma sungkan karena tanpa sepengetahuan kamu. Tapi kalo kamu yang minta dia temani aku pasti dia mau."


Chalvin berkacak sebelah pinggang seraya mengulum bibirnya sendiri. "Astaga, aku lupa Karen juga gak tahu soal Nadya dan aku," gumamnya dalam hati sembari menatap Karen yang masih menangkup tangan sambil menatapnya penuh harap.


Chalvin mengangguk. Ia berpikir, status palsunya dengan Nadya mungkin sebaiknya tetap dimainkan. Dengan begitu, ia juga bisa menutupi kecurigaan orang-orang di rumah ini atas perasaannya pada Karen.


Usai mengambil tas kerjanya, Chalvin menaiki mobilnya bersiap untuk meluncur ke perusahaan. Namun, baru saja membuka mobil, ia terkejut melihat Sheila yang sudah duduk manis di jok samping pengemudi.


"Ngapain kamu di sini?"


"Aku gak mau diantar supir ke sekolah soalnya mobil yang dipakai jelek, sih. Jadi, aku maunya diantar Kak Chalvin aja. Boleh, kan?"


Chalvin mendengus, lalu memanggil supir yang seharusnya bertugas mengantar Sheila ke sekolah. "Pak, bawa mobil saya antar bocah ini ke sekolah. Biar saya aja yang bawa mobil di belakang. Entar kita tukaran lagi di kantor."


Perintah Chalvin membuat Sheila terbelalak. Ia keluar dari mobil dan langsung melayangkan protes. "Ih, aku tuh maunya diantar sama Kakak! Bukan sama supir! Kalo gak mau antar, aku gak mau sekolah." Sheila malah mengancam sambil bersedekap.


"Lo mau sekolah atau enggak, bukan urusan gua!" tegas Chalvin sambil menaiki mobilnya.


Sheila pun buru-buru membuka pintu mobil. Sayangnya, Chalvin telah lebih dulu menguncinya. Malahan, pria itu bersiap untuk tancap gas sehingga Sheila harus segera mundur. Gadis itu hanya bisa melempar omelan Kekesalannya.


***


Perpindahan waktu begitu cepat hingga tak terasa terang telah berganti gelap. Tiba saatnya makan malam di keluarga Bratajaya yang dihadiri kembali oleh Nadya. Ya, menu malam ini adalah hasil kolaborasi Karen dan Nadya, tentunya tetap dibantu oleh juru masak di rumah itu. Ada yang berbeda dengan suasana makan malam kali ini. Tak ada kakek Aswono dan juga Darren. Ini berarti hanya ada oma Belle, Chalvin, Sheila dan Karen sebagai tuan rumah.

__ADS_1


"Kakek sedang menghadiri pesta pernikahan malam ini. Jadi dia gak bisa gabung bersama kita," ucap oma Belle yang memimpin makan malam tersebut. Ia lalu menoleh ke arah Karen sambil bertanya, "Gimana dengan Darren?"


"Mas Darren masih di kampus ngerjain penelitian terbaru. Dikit lagi pulang. Tapi katanya gak usah nungguin dia," jawab Karen yang kali ini harus rela duduk bersebelahan dengan Sheila.


"Ya, sudah biar kita-kita aja. Oma udah gak sabar nyicipin masakan kalian. Oma senang banget tahu pacar Chalvin ternyata akrab banget sama istri Darren," ucap Oma Belle.


Oma Belle membuka makan malam hangat itu. Seperti biasa, wanita tua nan anggun itu kembali membahas tentang pernikahan antara Chalvin dan Nadya.


"Jadi gimana Nak Nadya? Kamu udah kasih tahu orangtuamu belum kalo keluarga besar Chalvin mau datang melamar?"


Nadya terdiam kaku seraya melirik ke arah Chalvin.


"Hah? Jadi ini ya calonnya Kak Chalvin?" Sheila menyela pembicaraan oma Belle seraya menatap Nadya, "Kirain calonnya yang setara sama Kak Chalvin gitu. Eh ternyata masih muda kayak Kakak ipar."


"Oma, nanti aja bahas soal pernikahan. Masa tiap kali ketemu harus bahas itu melulu," ucap Chalvin.


"Lah, emangnya kenapa? Jangan bilang kamu mau nunda-nunda nikah. Kamu ini calon direktur perusahaan di masa yang akan datang. Butuh penerus lanjutan yang tentunya didapat dari hasil pernikahan. Kalo Karen gak sakit kemarin tuh, tentu keluarga ini masih bisa mendapatkan keturunan dari Darren. Sekarang kan Oma gak bisa berharap lagi sama Darren dan Karen," kata Oma Belle yang mulai mengoceh dengan menggunakan rumus matematika—alias panjang kali lebar.


"Hah? Jadi Kakak ipar gak bisa punya anak?" sambung Sheila kaget, "Kasihan dong Kak Darren."


Apa yang dikatakan Oma Belle serta respon berlebihan dari Sheila membuat Karen terdiam, bahkan menurunkan kembali sendok yang sudah berada di ujung mulutnya. Seakan-akan dirinya tidak bisa memberi Darren keturunan.


"Apa kamu gak sadar, kita belum punya penerus yang akan mewarisi jabatan direktur setelah kamu naik nanti."


Tak ingin Chalvin dan Oma berdebat, Karen langsung memotong pembicaraan. "Menurut aku, Kak Chalvin dan Nadya serasi banget. Aku setuju kalo kalian segera nikah."


"Nah, kan, Karen aja sependapat sama Oma!" Oma Belle merasa senang Karen berada di pihaknya.


Chalvin terdiam seketika. Hanya pandangannya yang tertuju pada Karen.


Setelah selesai makan malam, Chalvin mengajak Nadya jalan-jalan di taman pekarangan samping. Tepatnya area kolam renang dan taman anggrek koleksi Oma Belle.


"Nadya, maaf, sepertinya aku masih terus butuh bantuan kamu untuk memainkan peran ini. Sebagai imbalannya, kamu boleh minta apa sa—"


"Enggak perlu. Cukup sekali kita buat kesepakatan. Selanjutnya enggak perlu!" potong Nadya.


"Apa kamu gak mau bantu aku lagi?" tanya Chalvin cemas.

__ADS_1


"Aku akan bantu selama Kak Chalvin butuh dan Kak Chalvin gak perlu ngasih imbalan apa pun lagi," tutur Nadya dengan sorot mata yang tulus.


Chalvin tertegun. Tak berkata apa pun. Hanya mampu menatap mata jernih gadis itu.


Ditatap dengan pandangan yang menyejukkan seperti itu, membuat Nadya salah tingkah dan langsung melengos. "Kalo boleh ngasih saran, sebaiknya Kak Chalvin mulai cari pasangan yang sesuai kriteria oma atau kriteria Kak Chalvin sendiri. Yang setipe Karen gitu ...."


"Yang setipe Karen?" Dahi Chalvin membentuk lipatan halus dengan ujung alis yang terangkat kecil.


"Iya, bukannya Karen disukai oma dan juga ... Kak Chalvin sendiri?" ucap Nadya dengan pandangan menyamping, "aku bisa lihat, pandangan Kak Chalvin selalu tertuju pada Karen. Saat aku dan Karen masak-masak di dapur, Kak Chalvin diam-diam mantau dan lihatin Karen, kan? Semua yang Kak Chalvin katakan pada oma, sebenarnya untuk membela Karen, kan? Kak Chalvin pasti enggak mau bikin Karen tersinggung atau sedih."


Chalvin tertawa ringan. Tak cukup semenit, tawa itu berubah menjadi ekspresi suram. "Tadinya aku pikir rasa itu akan menghilang seiring waktu. Ternyata perasaan tidak wajar ini cukup susah dihilangkan. Semakin hari, semakin bertumpuk."


"Kalo kata orang, jangan tautkan perasaan kita pada hati yang tak bisa termiliki karena akan sulit melepaskan. Kakak harus ingat, Karen itu istri pak Darren, sepupu kakak sendiri," ucap Nadya mengingatkan. Sejujurnya, hatinya seperti terusik saat memerhatikan Chalvin diam-diam. Apalagi pria yang menjadikannya sebagai kekasih pura-pura itu, sama sekali tak pernah menatap ke arahnya.


"Aku dan Darren lahir di tahun yang sama dan dibesarkan di rumah ini. Sebelumnya kami juga pernah mencintai perempuan yang sama. Waktu itu aku lebih dulu yang mencintai perempuan itu, tapi sayangnya malah Darren yang mendapatkannya. Aku bertanya-tanya, kenapa aku yang lebih dulu tapi dia yang mendapatkannya. Tapi, aku mulai mengerti cinta tidak ditentukan oleh urutan. Sekarang, saat keadaan serba terbalik di mana dia datang lebih dulu daripada aku, apakah cinta tidak ditentukan oleh urutan itu masih bisa berlaku?" Chalvin mulai merasa serangan panah-panah cinta melumpuhkan logika hingga kesadaran diri.


Tanpa sepengetahuan mereka, ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi obrolan rahasia itu. Diam-diam, Sheila menguping pembicaraan Chalvin dan Nadya. Mata gadis itu melebar dengan mulut yang terbuka seperti gua.


"Nih cowok selalu bersikap ketus dan sok jual mahal sama gue. Gue kira dia tipe pria berkelas, ternyata malah naksir istri Kak Darren, cih! Gue emang udah curiga sih waktu dia tatap-tatapan sama Karen di meja makan," gumam Sheila dengan sudut bibir penuh cibiran.


Ketika berbalik, ia malah melihat Darren yang baru saja tiba. Dengan raut wajah yang riang, ia langsung menyambut kakak tirinya itu.


"Kak Darren, aku pengen ngomongin sesuatu sama Kakak." Sheila menarik tangan Darren lalu membawanya menepi.


"Sheila, kamu mau ngapain, sih? Kak Darren capek banget mau istirahat. Nanti besok aja ngomongnya," ucap Darren seraya hendak beranjak.


"Ini penting banget, tahu!" Sheila malah menghadangnya.


"Hum ... kamu mau ngomong apa?"


Sheila menengok ke kiri dan kanan, kemudian berjinjit dengan satu tangan yang bertopang di bahu Darren sambil berbisik, "Kak Darren harus tahu ini, ternyata Kak Chalvin sama istri Kak Darren diam-diam saling mencintai."


Mendengar hal itu, Darren lantas terperanjat. "Saling mencintai?" ulangnya dengan nada tak percaya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2