DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 184 : Pasti Akan Berlalu


__ADS_3

Mata kuliah berakhir dengan kondusif seperti biasa. Begitu Darren keluar kelas, para mahasiswi di kelas itu membentuk kelompok-kelompok kecil hanya untuk membahas kembali yang telah diungkapkan Darren sebelumnya. Meski mereka tampak berbisik-bisik, tapi Karen bisa merasakan tatapan sinis yang dihujamkan ke arahnya.


Kebalikan dari mahasiswi yang bergosip di belakangnya, para mahasiswa malah tak segan melempar kalimat sarkas padanya.


"Kirain masih gadis padahal dah istri orang, cuaakss!" kata mereka diiringi gelak tawa.


"Kasihan Feril sampai kena mental kek gitu, pasti syok berat ternyata yang dikejar selama ini bini orang!"


Salah seorang perempuan malah menyindir terang-terangan, "Terpaksa dinikahi pak Darren karena hamil duluan kali!"


"Eh, iya, ya! Jangan-jangan pak Darren kena jebakan! Secara ... pas pak Darren baru masuk di kampus ini, kan, belom nikah!"


Vera yang emosi mendengar prasangka buruk mereka, lantas hendak melabrak mereka. Namun, tangan Karen lebih dulu membentanginya.


"Apa pun yang mereka bilang, gak bisa mengubah kalo aku emang istrinya pak Darren. Anggap aja mereka lagi menghibur diri karena kecewa dosen idola mereka ternyata suami teman sekelas! Selama ini aku milih sembunyiin pernikahan karena aku tahu kalian bakalan heartbreak atau gak denial kek gini!" balas Karen santai tapi dengan kalimat yang menohok.


(Denial: menyangkal)


Ia berbalik sambil menggandeng tasnya bersiap untuk keluar dari kelas itu. Namun, tubuhnya mematung saat kembali diserang dengan kalimat yang cukup menamparnya.


"Jangan sok cantik lu! Lo tuh dah mainin perasaan kak Feril selama ini. Dengan lo menyembunyikan status pernikahan lo dan berlagak seolah masih gadis, Lo tuh udah mainin perasaan kak Feril. Lo ngasih false hope ke dia! Dia tuh sampai gak tertarik dengan cewek mana pun dan fokus ngejar lo!"


(false hope: PHP)


Karen terdiam seketika. Ingatannya pun mundur tepat saat Feril memilih keluar tanpa kata begitu Darren mengungkap pernikahan mereka. Jika ada yang paling terkejut atas terungkapnya pernikahan ini, orang itu sudah pasti adalah Feril.


Benar, kurang lebih setahun sudah Feril pantang menyerah untuk mendekatinya. Padahal sebelumnya, tujuan awal pria itu hanya untuk memenangkan pertaruhan. Meski telah kalah telak dari batas waktu pertaruhan, lelaki itu tetap memilih menaklukkan Karen. Bukan untuk memenangkan pertaruhan lagi, tapi karena ia sungguh menaruh hati pada perempuan itu.


Tak seperti Vera yang pasang badan untuk Karen dari hujatan teman sekelas mereka, Nadya malah tak ikut campur dan memilih buru-buru keluar dari kelas. Namun, kesaksiannya tadi cukup membantu Karen dari kecurigaan teman-teman. Karen memilih segera keluar dari ruang kelas menyusul Nadya.


"Nad ...."


Nadya yang memalingkan kepalanya ke belakang sontak terkejut ketika Karen langsung memeluknya dari arah belakang.


"Thanks, ya, Nad!"

__ADS_1


"Hah? Aku kan gak ngelakuin apa pun!"


"Kesaksian kamu dan Vera cukup membantu aku dan Darren."


"Toh emang kamu sama pak Darren beneran pasangan!"


"Maaf gara-gara masalah aku, kamu sempat dibully kak Feril." Karen kembali mengingatkan kasus penemuan pil vitamin sepekan yang lalu. "Aku gak tahu masalah kamu akhir-akhir ini, tapi aku cuma pengen bilang kamu tetap sahabat aku. Datang dan cerita sama aku kalo kamu butuh!" ucapnya tanpa melepas pelukannya.


"Santai aja. Lagian, akhir-akhir ini aku cuma sibuk ngurusin kedai om aku," jawab Nadya sambil mengembuskan napas.


Ya, tak bisa dipungkiri akhir-akhir ini dia memang lebih suka menyibukkan diri. Namun, sama sekali tak ada kaitannya dengan kejadian itu. Bisa dibilang, ia justru berubah setelah kembali merasa kecewa dan patah hati dengan orang yang sama. Dari situ, ia memutuskan untuk tak mau masuk ke dalam urusan dan permasalahan orang.


Vera turut memeluk Nadya dan Karen. "Nad, gua minta maaf juga sempat kambing hitamkan lo buat nutupin kehamilan Karen. Maafin gua juga kalo selama jadi teman, gua mungkin gak bisa bersikap adil dan gak terlalu peduli perasaan lo. Mau o merasa fine aja atau enggak, gua akui sikap gua salah!"


Nadya memegang tangan Karen dan Vera yang melingkar di badannya. "Mana mungkin aku marah sama kalian cuma karena masalah sepele."


Setelah berbicara dengan Nadya, Karen berjalan menelisik koridor gedung. Dampak dari pernikahan rahasianya telah sukses menggemparkan seisi kelas. Mungkin, besok akan semakin heboh lagi jika sudah tersebar ke seluruh fakultas kampus. Kekhawatiran yang dulunya ia pikirkan pun terjadi. Banyak yang masih tak percaya, menyangsikan, bahkan terang-terangan mengatakan dia menjebak Darren untuk menikahinya seolah dirinya memang tak layak sebagai pendamping pria itu.


Berdiri di depan ruang penelitian, Karen ragu-ragu untuk membuka pintu ruang tersebut. Baru saja hendak menyentuh gagangnya, pintu tersebut lebih dulu terbuka. Karen menaikkan pandangan, menatap suaminya yang seakan sudah menunggu kedatangannya dengan senyum halus yang terulas di bibirnya.


"Kata Marsha ini enak banget, loh!" ucap Darren sambil menoleh pada istrinya.


Karen hanya menunduk dengan raut gusar yang menyatu di wajahnya. Darren menggunakan ujung jari telunjuknya untuk mengangkat dagu Karen agar tatapan mereka searah.


"Kamu kenapa? Masih kepikiran yang tadi? Atau kepikiran sama omongan teman-teman kamu tentang kita?"


"Darren, gara-gara aku, kamu sampai harus ...."


Kalimat karen mengambang karena bibir Darren lebih dulu menyambar, menutupi seluruh permukaan bibirnya seolah tak mengizinkan ia bersuara.


Pria itu melepaskan kecupannya, sembari berkata, "Aku gak mau dengar permintaan maaf kamu."


"Tapi, gimana kalo nanti ...."


Darren kembali menjatuhkan bibirnya, menekan bibir Karen yang semerona buah Cherry sehingga kalimat Karen terputus begitu saja.

__ADS_1


"Aku juga gak mau dengar pikiran kamu yang enggak-enggak untuk ke depannya," ucapnya lagi sambil meminggirkan anak rambut Karen ke belakang telinga.


"Bagaimana bisa kamu nebak kalo aku pengen minta maaf dan merasa khawatir?" tanya Karen dengan pandangan yang tertancap di manik legam suaminya.


Darren tersenyum simpul seraya mengambil tangan Karen lalu menautkan jari-jemari mereka. "Kamu istri aku, pasangan hidupku. Bagaimana mungkin aku gak mengenal pasanganku sendiri? Aku udah hafal berbagai ekspresi di wajah kamu. Aku tahu setiap gerak-gerik bahasa tubuhmu. Aku mantau apa yang kamu lakukan, apa yang terjadi di sekeliling kamu, termasuk setiap kesulitan yang kamu hadapi. Mana mungkin aku gak tahu apa-apa?"


Mata Karen berbinar cerah beriringan dengan rona merah yang muncul malu-malu di wajahnya.


"Apa yang kita hadapi, entah sekarang atau nanti, pasti akan berlalu dengan sendirinya. Percayalah, semua pasti akan baik-baik saja!" Tangan yang saling bertautan itu kini diarahkan ke perut Karen. "Mending kita fokus mikirin baby yang ada di perut kamu."


"Kira-kira nanti dia mirip siapa, ya?" pikir Karen sambil memandang perutnya, "kalo cowok, pasti cakep dan pintar kayak papanya."


"Kalo cewek, semoga gak mewekan dan mageran kek mama, ya?" sambung Darren dengan mata yang tertuju pada perut Karen.


"Siapa yang mewekan!" Tampang cemberut terpasang di wajah Karen.


Darren hanya bisa menahan tawa sambil terus meledek Karen dengan kata-kata yang sama.


Setelah Karen pergi, Darren berdiri di depan jendela ruangan sambil memandang diam seseorang yang berada di seberang gedung. Dari celah tirai jendela itu, ia memantau Feril yang tengah duduk sendiri di sana.


Di sisi lain, Nadya kembali ke kafenya dan mendapati dua baristanya tengah sibuk melayani pelanggan sekaligus pesanan online. Ia ikut bergabung dan buru-buru memasang apron yang bertuliskan merek kopi mereka.


"Ini pesanan dari mana?" tanya Nadya.


"Seperti biasa. Di kantor perusahaan yang sering mesan."


Nadya tertegun. Sejujurnya, ia merasa tak enak karena Chalvin terus memborong kopinya. Ia tak mau lelaki itu membeli kopi hanya untuk membantunya mencapai target yang diinginkan pamannya.


Hingga malam tiba, kafe itu mulai sepi mendekati waktu tutup. Merasa sudah tak ada yang datang, Nadya pun meminta baristanya untuk membantunya berberes-beres. Baru saja membuka apron di badannya, tiba-tiba sebuah mobil yang sudah tak asing baginya terparkir di depan coffee shop.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2