DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 40 : Persiapan


__ADS_3

Chalvin langsung menghentikan aksinya yang tengah sibuk mendonorkan saliva pada sekretarisnya. Ia mengusap bibirnya untuk membersihkan sisa-sisa lipstik yang menempel. Sementara sekretarisnya tampak terperanjat dan langsung keluar dari tempat itu, melewati Karen yang masih syok.


"Udah selesai dandannya?" tanya Chalvin santai sambil keluar dari ruang ganti.


Karen menahan lengan pria itu, sambil berkata, "Hotel murah di Jakarta banyak!"


Chalvin tertawa tanpa suara, lalu balik berkata, "Gua cari tempat-tempat yang bikin jantung gua bersensasi!"


"Kalau gitu seharusnya kamu ajak perempuan tadi berciuman di kandang singa, biar lebih nyata sensasinya!" ketus Karen sambil menyibakkan tirai.


Chalvin tersenyum miring sambil memandang tirai yang telah tertutup. Sepertinya, sikap Karen yang blak-blakan cukup menarik perhatiannya.


Karen keluar dari ruang ganti dan siap untuk melakukan pemotretan produk selama kurang lebih dua jam. Selama pemotretan, Chalvin terus memantaunya. Keputusannya untuk menjadikan istri sepupunya itu sebagai brand ambassador tampaknya tidak sia-sia, terbukti Karen terlihat lihai bergaya di depan kamera.


"Ahhh, akhirnya selesai juga!" Karen membanting bokongnya di sofa empuk sekaligus menyandarkan punggungnya yang hendak patah.


"Good job!" Chalvin menyodorkan minuman dingin pada Karen, lalu ikut duduk di sampingnya.


"Enggak ada tanggungan makan siang, nih?" tanya Karen yang mulai merasa perutnya berdendang di dalam sana.


"Mau makan siang bareng, gak?" ajak Chalvin tiba-tiba, "ada sih tanggungan makan siang, bentar lagi juga datang. Cuma ... ya ... gak bisa dipastikan juga menunya sesuai selera kamu."


Karen terdiam seketika, lalu bertanya, "Emangnya mau makan siang di mana?"


"Ya, terserah kamu!"


Karen tampak berpikir, lalu berkata, "ke plaza Indonesia aja, deh. Yang dekat dari sini, sekalian ada yang pengen aku beli, sih!"


"Oke." Chalvin mengangguk-angguk dan bergegas berdiri.


Di sisi lain, Darren tengah mengisi mata kuliah untuk semester tujuh. Seperti biasa, tak hanya memberi materi, Darren juga menyisipkan nasihat yang bisa membuka pikiran para mahasiswanya.


"Mulai dari sekarang, cobalah berpikir, usaha apa yang akan kalian jalankan begitu keluar dari universitas ini dengan menggandeng gelar sarjana. Berhentilah untuk berpikir pekerjaaan apa yang akan kalian dapatkan dengan gelar yang kalian bawa. Zaman teknologi modern saat ini, berhentilah memiliki mindset mencari pekerjaan sebagai seorang karyawan yang digaji, tapi cobalah persiapkan diri kalian agar menjadi pengusaha yang akan membuka lapangan kerja untuk banyak orang."

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita tidak meraih kedua-duanya, Pak? Tidak menjadi karyawan dan tidak juga jadi pengusaha. Untuk perempuan seperti kita, mungkin keadaan akan membawa kita berhenti bekerja karena mengurus rumah tangga," sahut salah satu mahasiswi.


"Tidak masalah! Jika itu adalah pilihanmu dan kesepakatan antara kamu dan pasanganmu," jawab Darren.


"Tapi, Pak, bukannya percuma ngejar sarjana kalau ujung-ujungnya cuma jadi ibu rumah tangga?" sambung mahasiswi lainnya.


"Dalam menimba pendidikan, tidak ada kata percuma!" tegas Darren di hadapan seluruh mahasiswanya, "menjalankan kehidupan rumah tangga butuh ilmu ekonomi juga, agar kalian bisa memanajeman uang dan kebutuhan sehari-hari. Jadi, ilmu yang kalian raih selama di bangku perkuliahan tidak akan sia-sia."


Sedang asyik melakukan diskusi kecil, tiba-tiba ponsel Darren membunyikan perberitahuan pesan masuk yang ternyata dari Karen.


Karen. aku lagi makan di restoran Jepang yang ada di PI bareng Chalvin. Bisa ke sini juga, enggak?


Darren segera membalas pesan tersebut. Tentu saja ia tak bisa datang. Setelah membalas pesan istrinya, Darren mengirim pesan ke Chalvin.


Karen dan Chalvin duduk berhadapan sambil menyantap hidangan khas Jepang. Mendadak, ponsel Karen membunyikan pesan balasan dari Darren.


"Dari Darren, ya?" tebak Chalvin.


Karen mengangguk. "Iya, dia gak bisa gabung. Katanya lagi ngajar."


"Suamimu minta tolong ke aku katanya suruh temani kamu ke butik buat cari gaun untuk dipakai entar malam!" Chalvin menunjukkan bukti chat dari Darren. "Alasan kamu ajak aku makan ke sini karena kamu mau sekalian beli gaun juga, kan?" tebaknya lagi.


"Kamu dari tadi kayak peramal tahu! Bisa langsung nebak dengan benar!"


"Sangat gampang nebak isi hati perempuan. Kamu nge-chat Darren suruh ke sini cuma basa-basi doank, kan? Padahal kamu dah tahu kalau dia lagi hectic. Cuma kamu enggak enak aja makan berduaan dengan pria lain," tebak Chalvin kembali.


(N: hectic: sibuk sekali. Ini Inggris slang ala-ala anak Jaksel gays)


Karen terdiam dan tak menggerakkan sumpitnya. Hal itu membuat Chalvin tertawa ringan.


"Aku sama Darren tuh sepupuan. Kita bahkan kuliah bareng di luar negeri. So, kita udah saling tahu luar dalam. Anyway, Darren tuh lucu, padahal tujuan dia disekolahkan ke luar negeri biar bisa nerusin bisnis. Eh, dia malah pilih jadi dosen. Katanya, ilmu yang dia miliki sayang kalau gak dibagi-bagi."


Karen yang mendengar celotehan Chalvin hanya memilih meneruskan makannya dengan lahap.

__ADS_1


"Eh, kamu tahu enggak hari ini ulang tahunnya Darren?" tanya Chalvin tiba-tiba.


"Tahulah!" jawab Karen seadanya.


"Udah beli hadiah, belum? Kalau belum biar sekalian aku temani sekalian buat pilih-pilih hadiah yang cocok buat dia."


"Udah, kok. Udah aku siapin jauh hari," jawab Karen tersenyum seraya menatap tasnya yang mana tersimpan kado kecilnya untuk suaminya.


Setelah makan, mereka pun mengunjungi store yang menjual gaun-gaun branded. Meski tak bergandengan tangan dan sedikit menjaga jarak, keduanya terlihat seperti pasangan kekasih. Karen sibuk memilih gaun yang cocok untuknya. Pilihannya malah jatuh pada gaun hitam yang memiliki potongan dada rendah, sangat ketat di badan dan hanya sebatas paha.


"No! No!" Chalvin langsung mengambil gaun tersebut dari tangan Karen. "Pertama, kalau kamu pakai gaun ini, Oma Belle pasti bakal ngomel dan langsung protes. Kedua, Darren tuh lebih suka perempuan yang penampilannya elegan dan feminin."


Karen hampir tak memercayai ucapan Chalvin tentang selera Darren, kalau saja ia tak langsung mengingat Marsha mantan kekasih suaminya yang memiliki selera fashion seperti yang dikatakan pria itu.


Chalvin lalu mengambil sebuah gaun putih yang terlihat simple tapi tetap elegan. Ia lalu menyuruh perempuan itu untuk mencoba gaun tersebut.


Beberapa saat kemudian Karen keluar dari ruang ganti. "Gimana? Bagus, enggak?" tanya Karen ragu-ragu.


Chalvin yang tengah sibuk menerima panggilan telepon, lantas terkesima melihat penampilan anggun Karen saat ini.


"Cocok banget! Darren pasti bakal terpesona!"


Setelah itu, Chalvin langsung mengajak Karen ke sebuah salon terkenal yang bekerja sama dengan produk kosmetik mereka. Di sana, Karen kembali dirias untuk persiapan launching malam nanti. Karena Karen adalah brand ambassador lipstik terbaru mereka, maka Chalvin meminta MUA dan hairstylist untuk mengubah penampilan perempuan itu layaknya seorang bintang berkelas.


Darren mendatangi hotel berbintang tempat acara launching produk mereka akan digelar. Wajah istrinya telah terpampang di poster besar sebagai brand ambassador. Para tamu dari berbagai kalangan juga telah memenuhi ruangan. Sepasang mata Darren sibuk memantau keadaan sekitar untuk mencari keberadaan Karen.


Darren menghampiri Oma dan kakeknya. "Oma, Karen di mana?"


"Loh, emangnya enggak barengan sama kamu?" tanya Oma Belle heran.


Ketika pandangan pria itu beralih ke pintu masuk, secara bersamaan matanya menangkap sosok istrinya yang baru saja tiba bersama Chalvin.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2