
Seseorang yang tak mau dituliskan namanya pernah berkata, jadilah seperti kopi yang tak perlu bening untuk bisa disukai banyak orang. Ya, cairan pekat yang pahitnya mirip dengan sindiran mertua ini, juga telah menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan. Bisa dilihat dengan maraknya coffee shop yang menyebar di seluruh ruas jalan. Tidak salah kalau paman Nadya ikut mengambil peluang dengan membuka bisnis ini berdekatan dengan salah satu kampus besar di Jakarta.
Chalvin duduk di depan meja bartender sambil memerhatikan Nadya yang sibuk meracik kopi layaknya seorang barista. Gadis itu tampak elegan memakai kameja putih yang dalam balutan appron. Belum lagi, rambutnya disanggul rapi sehingga menonjolkan sisi femininnya.
Tak lama kemudian, secangkir kopi tersuguh lengkap dengan ukiran lambang hati di atasnya. Ada juga versi es kopi dengan topping cream di atasnya. Untuk sejenak, keduanya terlihat canggung satu sama lain.
"Silakan coba!" ucap Nadya dengan nada sungkan.
"Okey, kopi yang nikmat tergantung dari skill penyeduhnya. So, kalo aku kasih saran dan kritikan, boleh, kan?"
Nadya mengangguk. "Sebenarnya aku belum berpengalaman di dunia kopi. Makanya om aku masukin barista profesional ke sini. Cuma belom datang. Jadi, tolong Kak Chalvin rasa dulu, apa racikan aku pas atau enggak."
Chalvin mengambil cangkir putih, menghirup aromanya dengan mata terpejam kemudian mulai menyeruput kopi tersebut.
"Manisnya pas. Kekentalannya juga. Untuk ice coffee-nya, ini gak jauh berbeda sih sama brand yang terkenal itu," puji Chalvin.
"Masa, sih? Di mana-mana jelas setarbak yang unggul."
"Jangan salah, di Vietnam setarbak malah gulung tikar, loh. Padahal Vietnam salah satu negara pengonsumsi kopi tertinggi."
"Kok bisa gitu?"
"Ya, karena warga di sana lebih memilih minum kopi lokal asli negara mereka. Gak cuma di Vietnam, di Australia juga. Puluhan gerai mereka tutup karena salah strategi pasaran. Mereka gak bisa menyesuaikan selera masyarakat sana yang kurang suka dengan rasa manis yang ditawarkan. Jadi, berbisnis itu penting banget buat melihat selera pasar. Kayak tempat kamu ini yang dekat dengan kampus, berarti pasarannya mahasiswa, kan? Kamu harus tahu selera ngopi mahasiswa di kampus kamu."
Ponsel Chalvin yang tiba-tiba bergetar, membuat obrolan asyik mereka terpotong. Chalvin pun terpaksa menepi untuk menerima panggilan.
"Oke, saya segera ke sana!" Chalvin menutup telepon lalu menatap Nadya dengan penuh sesal.
"Sorry banget, Nad. Aku udah ditunggu di kantor. Aku bawa yang ini aja, ya!" Chalvin mengambil ice coffee. "Eh, iya, lupa ... berapa semuanya, ya?" tanyanya sambil merogoh dompet.
"Gak usah, Kak. Itu gratis untuk Kakak."
"Loh, kok gitu?"
"Teman-teman aku juga tadi dah aku gratisin," ucap Nadya beralasan.
"Nah, ini keliru. Bisnis, ya, bisnis. Baru mulai usaha aja kamu udah bakar modal dengan gratisin orang, itu gak baik loh untuk pembukuan. Seharusnya cukup kasih harga promo buat awal. Ya, udah aku kasih ini aja, ya! Aku anggap kamu kasih aku harga diskon," ucap Chalvin sambil meletakkan lembaran seratus ribu di atas meja.
"Eh, Kak, ini kebanyakan!"
Chalvin yang terburu-buru bergegas ke pintu keluar. "Hari Senin, kan, launchingnya? Jangan lupa, ingatin aku, ya?" ucapnya seakan menjadi sebuah jawaban kalau dia akan kembali ke tempat itu.
__ADS_1
Nadya menatap kepergian Chalvin dalam diam. Matanya sontak tertuju pada sisa kopi panas yang sempat diteguk pria itu, di mana ia menyisakan gambar setengah hati di atasnya.
***
Berbeda dengan Chalvin, Darren dan Karen telah pulang ke kediaman Bratajaya. Salah satu tukang masak di kediaman Bratajaya terkejut melihat Darren tengah mengobok-obok isi kulkas. Rupanya, pria itu mengambil beberapa potongan strawberry, sebungkus yogurt, dan susu UHT.
"Mas Darren lagi ngapain siang-siang gini?"
"Ini, Bi, lagi mau buatin Karen minuman dingin. Katanya lagi pengen yang seger-seger soalnya mulutnya terasa pahit," ucap Darren sambil mengambil blender.
"Jangan-jangan ... mba Karen ngidam, Mas?"
Darren terperanjat. "Emang kalo orang hamil gitu?"
"Iya, kalo lagi ngidam emang suka minum yang seger-seger. Biasanya sering meludah, gak suka cium aroma yang menyengat, dan gampang pusing. Apalagi saya perhatikan mba Karen akhir-akhir ini sering kurang enak badan, ya?"
Darren mengangguk mengiyakan dengan wajah berseri-seri. Ternyata dugaannya sama seperti ART itu. Hanya saja, dia ragu untuk menebak setelah sebelumnya Karen sempat mengaku ke dokter kandungan dan mengatakan kalau dirinya tidak hamil. Mengajaknya untuk kontrol ke dokter pun, malah khawatir membuatnya tersinggung seperti waktu itu.
Darren membawa segelas strawberry smoothies yang baru saja dibuatnya ke kamar. Ia berdiri mematung sejenak, sambil memerhatikan istrinya yang tampil polos di depan cermin. Perempuan itu tampak mengamati tubuh telanjangnya sendiri dari berbagai sisi. Tampaknya, ia masih terpengaruh dengan omongan Vera siang tadi yang mengatakan tubuhnya kini lebih berisi.
Menyadari Darren tengah memerhatikan dirinya, Karen pun segera memakai kembali handuk piyamanya. Ia lalu duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi. Darren meletakkan strawberry smoothies di atas nakas, kemudian mendekati istrinya dan merebut hairdryer dari tangannya.
"Iya, gerah sih!"
"Malam ini kita jalan-jalan, yuk!" ajak Darren sambil mengeringkan rambut Karen.
"Tumben ngajakin jalan-jalan!"
"Ya, mumpung aku lagi ada waktu. Kalo dah masuk kampus nanti kan kita berdua bisa sama-sama sibuk."
"Betul juga, sih! Terus kita mau jalan-jalan ke mana?" tanya Karen seraya menoleh ke belakang. Ia begitu semringah karena ini pertama kalinya Darren berinisiatif lebih dulu mengajaknya kencan.
"Ke mana, ya? Ada, deh!" ucap Darren sambil mengecup singkat bibir Karen yang ranum.
"Mau ajak makan-makan, ya?" tebak Karen sambil terus memutar kepala ke arah pria itu.
Darren menggeleng sembari meluruskan kepala Karen dengan menekan kedua sisi pipinya hingga membuat mulutnya maju ke depan. Melihat ekspresi istrinya di pantulan cermin yang begitu lucu, membuat pria itu tertawa geli. Tak mau kalah, Karen menengadah sembari mengulurkan tangan ke atas, mengapit dagu Darren kemudian menarik wajah pria itu mendekat ke wajahnya. Seolah mengerti, Darren langsung menunduk dan kembali mengecup bibir istrinya. Berkali-kali. Tak hanya bibir, pria itu juga mengecup punggung istrinya.
"Tumben habis mandi gak harum?"
"Aku ganti sabun yang gak ada aromanya."
__ADS_1
Spontan, Darren langsung teringat dengan perkataan ART-nya tentang ibu hamil yang tak suka mencium aroma menyengat.
Ketika malam mulai hadir, Karen bergegas mempersiapkan diri untuk pergi kencan bersama Darren. Tak seperti biasanya, kali ini Darren sendiri yang memilihkan baju untuk dipakai sang istri. Karen kembali berdiri di depan cermin seraya mengerutkan kening dan memiringkan bibirnya ke kanan-kiri secara bergantian. Ia merasa lucu dengan busana pilihan suaminya yang membuatnya terlihat seperti ibu-ibu.
Di tempat yang sama, Darren tengah merapikan rambutnya sendiri lalu mengambil parfum andalannya. Baru saja hendak menyemprotkan ke seluruh tubuh, tangannya langsung meletakkan kembali botol parfum tersebut.
Malam ini, Darren mengajak Karen berkeliling ke kawasan street food yang sedang viral saat ini. Hal ini tentu membuat Karen senang karena Darren telah membebaskannya untuk mencicipi makanan apa pun yang dikehendakinya. Sayangnya, meski diizinkan memakan apa pun, beberapa jajanan dan stand makanan yang dilewatinya tidak membuatnya berselera dan malah membuatnya mual. Ia malah memilih untuk membeli es teh murah meriah.
Puas mencoba berbagai jenis makanan, Darren kembali mengajak Karen jalan-jalan di sekitar Jakarta Selatan. Dahi Karen mengernyit ketika mobil Darren tiba-tiba berbelok masuk ke sebuah tempat. Perasaan was-was muncul begitu mengetahui tempat yang dimasuki mereka adalah sebuah klinik praktek dokter kandungan yang melayani 24 jam.
"Loh, kok ke sini?"
"Kita kontrol kesehatan kamu, yuk? Kebetulan dokternya teman lama aku. Aku udah bikin janji juga sama dia sore tadi," ucap Darren sambil melepas sabuk pengaman.
"Aku gak papa, kok. Kan dah kubilang aku cuma kelelahan aja akhir-akhir ini." Karen berusaha menghindar. Sebab, ia masih trauma dengan vonis penyakit yang sempat dideritanya. Ia pun khawatir jika penyakitnya mungkin belum sembuh total dengan kesehatannya yang menurun akhir-akhir ini.
"Iya aku tahu kamu sehat kok. Cuma ... dokter di Malaysia pernah ngasih tahu aku supaya kita rutin kontrol tiap bulan ke dokter kandungan setempat untuk memastikan tumornya benar-benar hilang."
Ucapan Darren berhasil mematahkan keraguan Karen. Mereka akhirnya masuk ke klinik tersebut dan ikut mengantre di ruang tunggu. Karen memerhatikan ke sekelilingnya. Ada banyak ibu hamil dengan perut yang membesar. Mungkin hanya dia satu-satunya yang masih muda dan berperut rata.
Begitu mendapat giliran masuk, dokter tersebut langsung menyambut Darren dengan heboh.
"Darren, lama gak ketemu ya kita. Tahu-tahu udah nikah aja. Enggak ngundang-ngundang lagi."
"Sorry, nih, kita emang belom adain resepsi." Darren mengedipkan sebelah mata seraya mengedikkan dagu ke arah Karen. Sepertinya sudah ada pembicaraan antara mereka sebelumnya.
Asisten dokter tersebut langsung mengarahkan Karen berbaring di brankar pasien untuk bersiap melakukan USG. Guratan tegang tampak jelas di wajah suami istri itu.
"Nih, kantungnya udah kelihatan! Usianya udah masuk lima Minggu," ujar dokter sambil fokus ke layar monitor.
Darren sontak berdiri, mendenguskan napas kasar lalu mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Maksudnya apa, ya, dok?" tanya Karen bingung.
Dengan wajah yang terpancar rona bahagia, pria itu menggenggam tangan Karen sambil berbisik, "Kamu hamil, Sayang. Kita bakal jadi orangtua."
.
.
.
__ADS_1