DOSA (Dosen Sayang)

DOSA (Dosen Sayang)
Bab 198 : Curhatan Nadya


__ADS_3

"Kamu masih ingat aku, enggak?" tanya Silvia begitu berhadapan dengan Darren.


Darren mengernyit sesaat sembari mengingat-ingat kembali sosok perempuan berambut panjang bergelombang dengan lekukan tubuh yang aduhai.


"Masa kamu lupa sama aku?" Silvia langsung memasang wajah memberengut sembari menoleh ke arah Oma Belle. "Oma, Darren lupain aku!" lapornya dengan gaya manja.


"Darren, kamu kok lupa. Dia yang dulu tinggal di rumah Chalvin. Waktu SD suka kamu ajarin main tenis." Oma mencoba mengingatkan.


"Silvia?" tebak Darren sambil tersenyum lebar.


"Right!" Silvia langsung memeluk Darren dengan wajah semringah.


Melihat seorang wanita yang tinggal di rumah ini dan bahkan tampak akrab dengan suaminya, membuat Karen lantas bertanya-tanya dalam hati.


"Kuman dari mana lagi, nih? Datang-datang kek ulat nangka langsung meluk-meluk suami orang," gumam Karen dalam hati dengan wajah kusut tak beraturan.


Darren melepas tangan Silvia yang melingkar di lehernya, lalu berkata dengan tangan yang mengarah pada Karen. "Silvia, kenalin ini istri aku."


"Karen, ya?" kata Silvia sambil tersenyum lebar.


"Kok tahu?" tanya Darren.


"Kan Oma udah cerita semalam. Dia sampai gak percaya kalo kamu dah nikah!" sahut Oma Belle.


Silvia dan Karen lalu saling berkenalan. Oma Belle menjelaskan kalau Silvia adalah anak kerabat lama mereka yang dulu sempat tinggal di rumah orangtua Chalvin. Ia juga mengatakan kalau Silvia akan tinggal sementara di rumah itu sembari menunggu hasil wawancara kerja.


Oma Belle yang antusias sejak semalam, kini mengajak mereka sarapan bersama. Di meja makan, Silvia tak henti-hentinya mengajak Darren mengobrol, seolah hanya mereka berdua yang ada di meja tersebut. Ia juga memberi pujian atas kesuksesan Darren saat ini yang berhasil menyandang profesor di usianya yang terbilang muda. Ini berbeda saat ia bertemu dengan Chalvin semalam, di mana mereka hanya saling membuka aib dan melempar ejekan.


Keakraban antara Darren dan Silvia yang terjalin di meja makan rupanya tak disenangi Karen. Sedari dulu ia memang tak suka jika suaminya didekati wanita manapun. Apalagi, kondisinya yang tengah hamil membuatnya lebih sensitif dan gampang tersulut api cemburu.


"Ih, sok asyik banget, nih, orang!" gumam Karen dalam hati sambil menggenggam gagang sendok dengan erat.


"Oh, iya, Karen, suami kamu dulunya gak suka makan nasi. Kalo dikasih nasi, malah dipisahin sambil dihitungin satu per satu. Kurang kerjaan banget, kan?" kata Silvia sambil menyengir.


"Aku tahu kok. Darren udah pernah cerita ma aku. Aku tahu semua tentang suami aku, termasuk luar dalamnya. Tapi sayang, soal kamu ... Darren belum pernah cerita," balas Karen dengan nada datar.

__ADS_1


Meski sikap Karen yang dingin begitu tampak, tak ada yang menyadari jika dirinya tak menyukai kehadiran Silvia di rumah ini.


"Oh, iya, kamu udah ketemu Chalvin, belum?" tanya Darren tiba-tiba.


"Udah semalam. Kan semalam orangtua Silvia juga datang ke sini," timpal Oma belle.


"Dia masih ngeselin kayak dulu, ya? Gak berubah!" keluh Silvia dengan pandangan tertuju pada Darren.


"Tapi jauh lebih tampan, kan?" celetuk Oma Belle sambil tertawa geli, "Darren, Karen, gimana menurut kalian, Silvia ini cocok gak jadi istri Chalvin?" Oma mulai membuka topik perjodohan.


"Oh, jadi nih ulat nangka mau dijodohin sama Chalvin?" gumam Karen kembali.


"Loh, Chalvin kan dah punya pacar. Gak lihat dia semalam gandeng pacarnya ke sini?" timpal kakek Aswono.


"Itu kan si Nadya kawannya Karen. Mereka itu gak beneran pacaran! Chalvin kok dipercaya!"


Mendengar nama sahabat baiknya disebut, membuat Karen terkejut. Ia bahkan tak tahu jika semalam Nadya datang ke rumah ini. Seingatnya, Nadya telah mengakhiri hubungan dengan Chalvin. Bahkan perempuan itu sempat mengaku menyerah untuk memperjuangkan perasaannya. Ya, Karen menjadi salah satu orang yang mengetahui hubungan Chalvin dan Nadya dulunya hanya sebatas status palsu.


"Kenapa Nadya datang bersama Chalvin, ya? Apa Chalvin nyuruh dia buat jadi pacar bohongan lagi?" pikir Karen dalam hati.


Silvia mendadak bereaksi kaget. "Jadi cewek yang semalam dibawa Chalvin ke sini teman Karen juga? Berarti Karen masih muda banget, ya?"


"Oma getol banget jodohin aku sama Chalvin. Emang Chalvin sendiri mau? Lagian aku sama dia kan gak terlalu dekat kayak aku sama Darren dulu." Dari respon Silvia, tampaknya ia pun tak terlalu minat dengan perjodohan ini.


"Itu karena kalian baru ketemu lagi. Makanya Oma saranin kamu duluan mepet ke dia. Kan mama kamu sendiri yang bilang, kamu udah pengen nikah di umur yang sekarang. Chalvin adalah calon yang tepat!" Lagi-lagi Oma Belle berapi-api mempromosikan Chalvin.


"Silvia, memang ada baiknya cari jodoh itu yang sepadan. Baik itu dari pola pikir, gaya hidup, selera humor dan lainnya. Biar kamu bahagia menjalaninya." Kakek Aswono memberi nasihat pada Silvia.


"Iya, sih, Kek." Pandangan Silvia terarah pada Darren yang tengah mengupas apel yang kemudian disuapi langsung ke mulut Karen.


***


Begitu tiba di kampus, Karen mengobrol dengan Nadya sembari menunggu mata kuliah dimulai. Dengan blak-blakan, Karen bercerita jika Oma Belle hendak menjodohkan Chalvin dengan seorang perempuan yang kini tinggal bersama mereka.


"Gak tahu kenapa aku salty banget lihat tuh, cewek! Aku kayak ada felling gitu kalo dia suka sama Darren." Karen meluapkan kekesalannya yang bertumpuk sejak pagi tadi. Bagaimana tidak, bahkan perempuan itu meminta Darren untuk mengantarnya ke perusahaan.

__ADS_1


"Awas, gak boleh benci orang pas lagi hamil! Entar anak kamu bakal mirip sama yang kamu benci, loh!" ucap Nadya sambil terkekeh.


"Serius?" Karen terkejut.


"Iya! Mitosnya, sih, gitu! Tapi beneran loh, Tante aku waktu hamil benci banget sama anak tetangga, eh pas lahir anaknya malah beneran mirip sama anak tetangga. Untung yang dibenci cuma anak tetangga, coba kalo suami tetangga, kan, bisa gawat?"


"Kalo gitu mulai sekarang aku harus benci Tom Holland, Chris Hemsworth, dan Lee min hoo biar anakku mirip mereka!"


"Emang Pak Darren gak cukup ganteng, ya?"


"Bukan itu masalahnya. Aku harus ngalihin rasa benci aku ke mereka." Karen tersenyum lebar.


"Ada-ada aja bumil!" celetuk Nadya geleng-geleng. "lagian tuh cewek kan mau dijodohin sama Kak Chalvin." Saat mengatakan itu, tatapan Nadya menjadi redup seketika.


Sebaliknya, Karen langsung mengintrogasi Nadya terkait hubungannya dengan Chalvin. Kepada Karen, Nadya bercerita tentang Chalvin. Ia mengatakan jika pria itu kembali mengajaknya berpacaran dua hari yang lalu. Namun, lagi-lagi ia harus menelan kenyataan pahit karena semua tak sesuai ekspektasinya.


"Awalnya aku kira kali ini dia benar-benar serius ngajakin aku pacaran. Gak tahunya dia punya maksud tersendiri buat jadiin aku pacarnya. Dia cuma manfaatin aku! Oma Belle aja tahu kalo Kak Chalvin bawa aku ke sana buat ngegagalin perjodohannya. Oma bilang, dia dari awal tahu kalo hubungan kami itu palsu karena Kak Chalvin gak pernah serius pacaran. Sial banget, kan, aku? Dua kali pacaran, tapi selalu dikelabui cowok." Nadya berucap sambil tertawa getir.


Nadya sosok perempuan yang sebelumnya menjadi korban manipulatif dan relasi toxic. Bahkan sempat berada di titik nadir hidupnya karena efek dari hubungan tak sehat yang ia jalani. Wajar saja jika hingga kini ia mengalami krisis kepercayaan pada suatu hubungan.


"Jadi Oma tahu kalau dulunya kalian cuma pacaran bohongan?"


Nadya mengangguk dengan alis menurun. "Oma minta aku supaya ngejauhin dia."


"Terus, Chalvin sendiri gimana? Siapa tahu kali ini dia beneran serius sama kamu. Mungkin aja emang sekarang dia beneran noleh sama kamu. Ingat, gak, waktu kamu berusaha ngejar dia? Bahkan apa pun yang kamu berikan ditolak langsung sama dia. Karena Chalvin itu orangnya terlalu berprinsip. Aku rasa, dia gak bakalan ngajak kamu pacaran kalo emang dia gak punya perasaan apa pun sama kamu."


"Aku gak tahu. Yang jelas semalam aku dah langsung minta putus. Bahkan ... dia sama sekali gak ada usaha buat nunjukin kalau kali ini dia benar-benar serius sama aku," kata Nadya sambil memandang ponselnya.


Ya, sejak pertemuan mereka semalam, hingga kini Chalvin tak menghubunginya lagi sekadar untuk meyakinkan dirinya. Pria itu seolah tak peduli jika hubungan mereka harus berakhir malam itu.


Karen memegang bahu Nadya. "Keputusan kamu udah benar! Kamu harus bangun batasan terhadap orang-orang perusak hati dan mental kamu. Jangan takut! Kamu gak bakal kehilangan peluang untuk dapatin cinta sejati. Justru pria-pria manipulator dan red flag yang kehilangan kesempatan untuk masuk di kehidupan kamu. Jika Chalvin benar-benar serius sama kamu, biarkan dia nunjukin effort-nya!"


Ruangan kelas mendadak bising dengan kemunculan Feril bersama geng Mahdi. Hanya selang beberapa detik, Darren pun masuk mengisi untuk mata kuliah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2